TRAUMA LET ME TOUCH YOU

TRAUMA LET ME TOUCH YOU
#70



"Mom ... Aku ingin menginap di sini," ucap Daxon pada Willow.


"Baiklah, mommy juga akan menginap di sini bersama daddy," jawab Willow mengecup kedua pipi Daxton yang memerah karena baru saja selesai bermain.


Lalu Daxon pun kembali kepada Dillon yang menunggunya di taman. Willow tersenyum melihat Daxon yang tampak bahagia karena berkumpul dengan banyak teman dan saudaranya.


"Kapan kau pulang, Vel?" tanya Willow.


"Besok, karena Damon tak bisa meninggalkan perusahaannya terlalu lama," jawab Velvet.


"Aku akan ke New York 2 bulan lagi. Sudah lama aku tak bertemu daddy dan aunty Heidi. Dan daddy akan berulang tahun 2 bulan lagi," ucap Willow.


"Really? Aku akan menunggumu," jawab Velvet.


Keluarga besar Robert dan beberapa sahabat menikmati kebersamaan mereka seharian penuh hingga masuk waktu makan malam.


Willow dan Dillon tidur di kamar lantai 2, sedangkan Daxon tidur bersama para sepupunya di lantai bawah.


"Kau tak lelah?" tanya Dillon pada Willow yang kini terlihat sedang duduk di ranjang.


"Tidak, aku senang karena bertemu banyak orang hari ini," jawab Willow tersenyum.


Lalu Dillon duduk di sebelah WIllow dan memijat bahu serta tengkuk lehernya.


"Aaaah .. Itu enak sekali," ucap Willow.


"Berbaringlah ... Aku akan memijatmu," kata Dillon.


Lalu Willow berbaring dan Dillon mulai memijat kaki Willow.


"Seharusnya aku yang memijatmu. Kau bermain seharian bersama Daxon," ucap Willow melihat ke arah Dillon.


"Kau sedang hamil dan tak boleh kelelahan kata dokter," jawab Dillon.


"Kemarilah, aku ingin memelukmu saja," ucap Willow.


Dillon menghentikan kegiatannya memijat kaki Willow dan merebahkan dirinya di samping Willow lalu memeluknya.


"Usap punggungku," kata Willow.


"Aku suka harummu," lirih Willow sembari mengendus-endus wangi Dillon di area sekitar lehernya dan tentu saja itu membuat Dillon geli.


"Honey, kau membuatku geli," ucap Dillon menahan kepala Willow agar tak menciumi lehernya lagi.


"Kau tak suka aku menciummu?" tanya Willow mencebik.


"Bukan begitu ... Tapi itu membuatku geli," jawab Dillon tertawa pelan.


"Tapi aku suka harum tubuhmu." Willow berkeras mengarahkan kepalanya ke leher Dillon lagi.


"Yang lain saja. Jangan leherku, oke?" tawar Dillon.


"Tidak. Lagi pula biasanya kau tak pernah geli waktu aku mencium lehermu ketika kita bercinta," protes Willow memegang tangan Dillon yang menahan kepalanya.


"Itu berbeda, Honey," ucap Dillon.


"Jadi kau tak ingin aku menciummu?" tanya Willow yang wajahnya sudah sedikit kesal akibat penolakan Dillon itu karena selama ini Dillon tak pernah menolak keinginannya.


"No, of course not. Cium aku dibagian lainnya," ucap Dillon menangkup wajah cantik sang istri yang mulai akan merajuk.


"Tapi aku lebih suka mencium daerah sekitar lehermu. Baunya berbeda," kata Willow.


"Oh my ... Kau mengidam sesuatu yang lucu, Honey," ucap Dillon tertawa.


"Ini tidak lucu. Akan lucu jika aku mengidam mencium leher pria lain yang bukan suamiku. Kau mau aku seperti itu?" balas Willow.


"What???" Dillon sedikit terkejut mendengar ucapan Willow yang biasanya tak pernah berkata yang aneh-aneh seperti itu. Dan dia yakin, kini Willow mulai memasuki masa-masa rewel dalam kehamilannya.


Willow masih duduk diam dan memandang wajah Dillon dengan mata hijaunya yang tajam.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..


PENGUMUMAN...


cusss baca novel otor yang baru yaaa.. ceritanya PHOENIX ROBERT..