
Siang itu, Willow dan Dillon langsung mendatangi dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.
"Apakah bayiku kembar, Dokter?" tanya Willow ketika dokter sedang memeriksa perutnya dengan alat USG.
"Kita akan lihat," ucap dokter wanita itu dan fokus pada layar USG.
"Tidak, di sini hanya terlihat satu janin. Tapi sejauh ini kandungan anda sangat sehat. Ini sudah sekitar 9 minggu," lanjut dokter itu.
Dillon tampak memegangi tangan Willow yang mendingin karena sedikit gugup.
"Syukurlah, setidaknya calon bayi kami sehat," kata Willow tersenyum.
Dillon ikut tersenyum dan mengusap lembut tangan Willow.
Setelah setengah jam berada di ruangan dokter, Willow dan Dillon akhirnya pulang setelah menebus beberapa vitamin dan obat dari apotik yang ada di rumah sakit itu.
Sesampainya di mansion, Dillon tak kembali ke kantornya karena ingin menjaga Willow.
"Kau tidak kembali ke perusahaan? Aku bisa di sini sendirian. Bukankah banyak pelayan di rumah ini?" kata Willow seraya mengganti bajunya dengan kaos longgar dan celana pendek berbahan kaos.
"Aku hanya ingin menemanimu, Honey," ucap Dillon memeluk Willow dari belakang dan mencium lehernya.
Dillon mengusap perut Willow yang masih rata. Dan tangan Willow berada di atas tangan Willow.
"Kau sudah memberitahu mommy?" tanya Willow bersandar di tubuh Dillon sembari menatap ke arah luar balkon.
"Sudah, aku sudah mengirim pesan pada mommy. Dan mungkin kabar ini sudah sampai ke seluruh keluarga besar kita," jawab Dillon.
"Velvet pasti senang mendengar kabar ini. Aku merindukannya. Bisakah kita ke New York?" tanya Willow dan membalikkan tubuhnya menghadap Dillon.
"Hmm, nanti aku akan atur jadwalnya," ucap Dillon mengecup bibir Willow.
"Aku akan mandi dulu. Lalu kita makan malam di luar," lanjut Dillon lagi.
"Hmm," jawab Willow singkat dan melepaskan pelukannya di tubuh Dillon.
❤❤❤❤❤❤❤❤
Sebulan kemudian ...
Kehamilan Willow tak memiliki kendala apapun. Hanya fase muntah-muntah saja yang cukup mengganggunya 2 minggu kemarin.
Dillon tetap tak melarangnya bekerja karena itu membuat mood Willow menjadi baik. Dan mood Willow yang baik membuat kehamilannya menjadi sehat dan bahagia.
Setiap hari, Dillon menjemput Willow ke perusahaannya dan dia tak memperbolehkan Wilow menyetir mobilnya sendiri.
"Ada yang bisa kubantu, Honey?" tanya Dillon yang sudah ada di ruangan Willow untuk menjemputnya.
Willow menoleh ke arah Dillon yang baru saja datang dan memberikan senyum cantiknya pada sang suami.
"Honey ... Kau sudah datang? Ini masih sore," ucap Willow.
"Aku hanya ingin memastikan kau tak bekerja keras," jawab Dillon menghampiri Willow dan mencium bibirnya.
"Aku hanya duduk saja dari tadi. Jadi jangan khawatir," ucap Willow tersenyum.
"Kau tidak ingin apapun, Sayang? Apakah kau mengidam sesuatu?" tanya Dillon.
Willow tertawa mendengar hal itu.
"Kau menanyakan hal yang sama padaku setiap hari, Honey," ucap Willow.
"Aku ingin di repotkan olehmu," kata Dillon memegang tangan Willow.
"Baiklah, nanti akan kupikirkan apa yang kuinginkan saat ini," jawab Willow.
"Oh ya, malam nanti akan ada pesta. Kita akan datang sebentar saja. Aku tak ingin kau terlalu lelah," ucap Dillon.
"Pesta? Aku suka pesta," kata Willow.
Willow senang kini dirinya bisa hidup normal dan berusaha menyukai keramaian termasuk sebuah pesta. Dan Dillon cukup sering membawanya ke acara-acara seperti itu.
"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang," ucap Dillon dan menarik tangan Willow.
Willow berdiri dan mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan kantornya sembari bergandengan tangan dengan Dillon.
(Detik- Detik akan tamat yaak..jadi partnya slow slow aja...)
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..❤❤❤