
"Aku tertidur lagi?" tanya Willow yang terbangun menjelang malam.
Dillon yang ada di sampingnya tampak meletakkan ponselnya di meja nakas.
"Hmm, ayo cuci wajahmu. Setelah ini kita akan makan malam," ucap Dillon membantu Willow berdiri dari posisi duduknya.
"Bukankah hari ini kita akan datang ke sebuah pesta?" tanya Willow sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Sebaiknya kita tak usah datang. Aku takut kau ketiduran lagi," ucap Dillon.
Willow berhenti melangkah dan menoleh pada Dillon. Willow melihat Dillon dengan pandangan datar karena baru saja bangun tidur.
"Tidak, aku ingin datang. AKu sudah puas tidur barusan. Jadi aku sudah sangat segar sekarang," ucap Willow.
"Kau yakin?" tanya Dillon mengusap pipi merah Willow.
Willow mengangguk yakin. Dillon terlihat diam dan berpikir sejenak.
"Baiklah, kau mau mandi dulu?" tanya Dillon.
Willow mengangguk dan mereka pun masuk berdua ke dalam kamar mandi.
Dillon selalu membantu Willow mandi untuk menggosok paha dan kakinya. Itu dikarenakan Willow tak bisa menunduk dsn membungkuk ketika perutnya sudah mulai membesar seperti itu.
"Kau tak capek memandikanku setiap hari?" tanya Willow melihat Dillon yang begitu telaten menyabuni tubuhnya.
"Tidak, kau seperti ini juga karena anakku, Sayang," jawab Dillon.
"Tapi waktumu jadi terbuang banyak karena harus menemaniku mandi," ucap Willow.
Dillon menatap mata hijau Willow dan mengusap pipinya dengan sabun yang masih ada di tangan Dillon.
"Aku suka jika kau membutuhkanku. Dan aku tak suka jika kau terlalu mandiri karena aku merasa kau tak memerlukan aku," ucap Dillon.
"Kau terlalu memanjakanku, Honey," ucap Willow pelan.
"Itu adalah hobbyku, memanjakanmu," kata Dillon tersenyum.
Willow tersenyum dan berjinjit kemudian mengecup bibir Dillon dengan bibirnya yang basah.
"I love you," ucap Willow.
Setelah cukup lama berada di kamar mandi, mereka akhirnya keluar dan menuju walking closet. Dillon juga membantu Willow untuk memakai gaunnya.
Willow mengambil gaun hitam simple yang akan terlihat elegan di tubuhnya meskipun dirinya sedang hamil.
"Apa aku boleh memakai high heels?" tanya Willow setelah Dillon selesai membantunya memakai gaun.
"Tidak, Sayang. Kau bisa kehilangan keseimbangan dan membuatmu terjatuh," jawab Dillon.
"Hanya sandal dengan tinggi 7 cm saja," ucap Willow merayu.
"No, Honey," kata Dillon yang kini mulai memakai kemeja putihnya.
"Tapi aku merasa sangat pendek kalau memakai sepatu tanpa hak. Dan aku terlihat seperti anak kecil jika berdiri di sampingmu," kata Willow yang masih bersikeras.
"Sayang ..." kata Dillon yang tidak akan tahan melihat wajah Willow yang cemberut seperti itu.
"Please ... Kau bisa memegangku sepanjang pesta berlangsung agar aku tak terjatuh," kata Willow yang masih gigih merayu.
Dillon melihat ke arah Willow setelah selesai memakai celananya. Willow mulai mengeluarkan jurus merayunya dengan mengerjapkan mata indahnya.
"Baiklah. Jika kau lelah, kau harus bilang padaku agar kita bisa langsung pulang," ucap Dillon menyerah.
Willow akhirnya melebarkan senyumnya dan menghampiri Dillon lalu mencium bibirnya.
"You're the best," ucap Willow dan kembali ke meja riasnya untuk merias wajah cantiknya.
Satu jam kemudian, mereka pun berangkat ke pesta itu. Penampilan Willow terlihat sangat anggun dan cantik.
Rambutnya di gelung dan membuat wajahnya tampak segar. Dadanya yang membesar karena hormon kehamilan, tampak sedikit menyembul di balik gaun hitamnya.
Dillon mengecup leher Willow dan menangkup rahangnya.
"You're so beautiful," kata Dillon memandang pada wajah Willow yang semakin cantik semenjak hamil.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT ❤❤❤