
Sudah siang hari dimana waktu Acarl untuk menjumpai kliennya. Sungguh Abel terpana dengan wajah serius Acarl yang tidak pernah luntur, padahal pria itu tadi sudah bekerja di dapur tapi masih saja tampannya tidak berkurang.
"Beruntung banget ya punya pacar setampan itu," ujar Hera yang berada di sebelah Abel sembari mengamati Acarl dengan klien yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.
"Yah, aku yang beruntung. Entahlah dia merasa beruntung memilikiku atau tidak, tapi aku mau egois sampai-sampai jangan ada yang mendekatinya." balas Abel seraya menatap lekat wajah serius Acarl yang tiba-tiba membuat pandangan mereka bertemu.
Abel yang sadar, langsung berpura-pura membetulkan rambut dan apron nya. Sementara Acarl terkekeh pelan melihat Abel yang memang lucu dari awal sebelum ia menyatakan suka padanya.
"Presdir? Apakah ada yang lucu dibelakang saya?" tanya klien Acarl yang ikut melihat kebelakang tempat Acarl mengarahkan bola matanya.
"Ah, maafkan saya. Ada sesuatu yang lucu tadi." jawab Acarl langsung kembali lagi ke topik pembahasan.
Makanan datang, diantar oleh Dani dan dibantu Abel sebagai juru masak disini. Klien Acarl adalah pengusaha besar juga, jadi dia harus memberi yang terbaik demi bisnisnya dan Acarl. Maka dari itu, sekarang ia berdiri didekat meja dan membantu Dani untuk meletakan makanan dimeja kedua pria pebisnis ini.
"Selamat dinikmati hidangan ini, saya harap anda menikmati dengan rasa senang. Karena masakan ini sangat istimewa dibandingkan masakan yang lainnya." ujar Abel seraya melirik Acarl yang juga meliriknya.
Klien Acarl manggut-manggut dan mencoba masakan yang dibawa Abel dan benar saja, pria itu membelalakkan matanya dengan kagum. "Wah, ini benar-benar lezat! Sepertinya keluarga ku akan aku ajak kesini nantinya. Benar-benar Presdir Xelone memilih tempat yang sangat nyaman untuk melakukan pertemuan ini." ujar klien Acarl.
"Ya tempat ini sangat nyaman, juga saya dengar kalau kokinya belajar dari luar negri. Tapi anehnya restauran ini bernuansa rumah bukan? Seperti kita berada dalam hubungan keluarga yang harmonis." balas Acarl yang menyetujui ucapan kliennya. Sembari sesekali ia melirik Abel yang tersenyum malu karena pujian dari dua pria didepannya.
"Presdir Xelone benar-benar tau segala hal. Anda menjalankan perusahaan dengan baik, tapi juga mengerti apresiasi dunia."
Tawa bangga terdengar di telinga Abel. Memang benar kalau Acarl mendapatkan pujian seperti itu juga, karena pada dasarnya Acarl memang sepandai itu. Bahkan, Abel juga heran dengan isi kepala pria yang menjalin hubungan dengannya ini. Apa otaknya terbuat dari emas dan berlian? Kenapa sangat cemerlang sekali pemikirannya.
"Kalau begitu, saya kembali dulu. Selamat menikmati," pamit Abel yang langsung di iyakan dua pria didepannya.
...----------------...
"Apa kamu sengaja berkata seperti itu tadi?" tanya Abel pada orang yang memiliki lengan kekar yang sekarang menjadi bantal untuknya.
"Entahlah, tapi aku hanya mengatakan faktanya saja. Dan fakta itu, membuatku bangga karena ibu dari anak-anakku nanti sangat berbakat dan cantik." balas pria yang tidak lain adalah Acarl.
Keduanya sedang bersantai menikmati malam yang indah diatas mansion Acarl. Tempat ini memang banyak kenangan, dan tempat ini juga yang selalu Abel rindukan saat ia belajar di luar negri kemarin. Tempat ini juga yang membuat Abel dan Acarl menjadi sebuah cerita romansa anak SMA dengan CEO yang sama-sama sedang berjuang.
"Abelrta Gourich Guston, aku sangat ingin sekali untuk segera memanggilmu nyonya Xelone." ujar Acarl yang membuat Abel tersenyum kecut dengan apa yang didengarnya.
Siapa juga yang tidak ingin dipanggil nyonya Xelone ? Tentu saja Abel mengharapkan hari dimana ia dan Acarl dipersatukan terjadi. Bahkan Abel saja sudah memimpikan hal itu sampai ribuan kali setelah ia bertemu dengan Acarl.
Abel dan Acarl memejamkan matanya, merasakan angin malam yang menerpa wajah mereka. Disaksikan bintang-bintang dilangit malam, Abel dan Acarl sungguh berharap selalu seperti ini untuk selamanya. Sampai akhirnya waktu mereka tertunda saat sebuah panggilan telepon masuk dari ponsel Acarl.
"Apa kamu mau ikut ke kediaman Xelone?" tanya Acarl pada Abel yang juga ikut panik karena pria didepannya yang terlihat panik juga.
"Iya, aku ikut!" putus Abel yang kini membawanya kepilihan dimana dia harus tegar untuk menguatkan Acarl yang sekarang terlihat sangat cemas entah keadaan apa ini.
Terlihat dalam perjalanan Acarl sungguh panik, dan itu membuat Abel diam karena bingung harus apa. Intinya sekarang ia harus ikut Acarl dan menenangkan pria itu, padahal dirinya tidak tau apa yang terjadi pada pria yang berada disampingnya ini.
Sampai di kediaman Xelone, Abel turun terakhir karena sudah ditinggal Acarl yang lari kedalam tanpa melihat dirinya sudah turun apa belum. Dan sudah Abel duga, kalau Acarl sangat kacau sekarang. Kini Abel mengerti sekacau apa Acarl yang memeluk ibunya dengan erat, sementara ibunya menangis dalam pelukan anak lelakinya.
Abel berjalan mendekat dan dirinya terkejut saat melihat tubuh yang terbaring lemah, tidak seperti biasanya. Tuan Xelone, nama yang kini tertidur di kamarnya dengan alat dan dokter pribadi disampingnya. Dan tatapan Abel beralih pada sosok wanita tegar yang sudah ia anggap seperti ibu kandung itu menangis tersedu-sedu.
Diposisi ini, Abel ingin mengucapkan kalimat saja susah. Walaupun ia dikenal sebagai kekasih Acarl, tapi dirinya masih seperti orang lain di keluarga ini. Abel ingin mendekat lagi dan ikut memeluk wanita paruh baya itu, tapi rasanya seperti ada tembok besar yang membatasinya.
Saat Abel masih terdiam bingung, datanglah Clara bersama Eron yang mendekat ke Acarl dan nyonya Xelone. Ya, itulah keluarga sesungguhnya karena mereka ada ikatan berdasarkan nama dan juga darah. Sementara Abel?
"Kenapa kamu diam disini?" tanya Eron yang tiba-tiba sudah berada di samping Abel.
Abel mendongak menatap Eron yang lebih tinggi darinya. Abel menggelengkan kepalanya, ia bingung harus berkata apa. "Tidak ada, aku... aku juga terkejut saat mendengar kabar ini." jawab Abel tanpa menatap Eron lagi.
"Eum, tuan Xelone tiba-tiba drop karena jantung." ujar Eron membuat Abel terkejut.
"Jantung?" tanya Abel yang membuat smirk pada Eron muncul. Sesuai dugaan, kalau sebenarnya Abel tidak tau dengan apa yang terjadi. Tapi gadis ini tidak berani mendekat dengan alasan klasik yang membuat Eron geram dengan Acarl yang tidak peka.
"Ya, kata dokter itu pengaruh dari tuan Xelone yang stress berat." lanjut Eron membuat Abel dua kali lipat lebih terkejut sekarang. Karena tiba-tiba pikiran Abel melayang pada hubungannya dengan Acarl.
Melihat Acarl, Clara dan nyonya Xelone berpelukan bersama rasanya itu jawaban dari segala pertanyaan Abel selama ini. Acarl terlihat menahan dirinya untuk dijadikan sandaran ibu dan adik perempuannya. Sudah terlihat jelas sampai Abel memundurkan tubuhnya.
"Maafkan aku, boleh nitip katakan pada Acarl kalau aku ada tugas tidak? Kebetulan ada yang terlupa di restauran. Maaf ya," ujar Abel pada Eron dan langsung berlari keluar tanpa menunggu jawaban dari Eron. Dan Eron tau itu harus ia rahasiakan, walaupun Eron tau hubungan Acarl dan Abel akan berada dipucuk tanduk setelah ini. Tapi Eron juga ingin yang terbaik untuk Acarl maupun Abel, dan sepertinya ini jalan satu-satunya.
.
.
.
.
.
.
Halo semua ðŸ˜
Maaf aku terlalu late postðŸ˜
But, enjoy ya buat semua untuk part ini😊
Jangan lupa like, komen dan vote ya ðŸ¤
Dukung wajib 😂
See you next part:)