The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Utarakan! (2)



Cahaya matahari siang, masuk tanpa permisi dan memenuhi seluruh penjuru ruangan. Mata hazel yang sebelumnya tertutup, juga ikut terbuka perlahan seraya membiasakan matanya dengan cahaya yang masuk.


Selimut dan juga kasur empuk, membuat seorang wanita bermata hazel itu merasa nyaman. Tapi, disisi lain dirinya juga merasakan pening di kepalanya yang menekan membuatnya malas untuk bangun dari ranjang yang bahkan tidak ia ketahui milik siapa.


Hanya ruangan dengan aroma yang familiar menjadi keyakinan bagi wanita yang tak lain adalah Abel berpikir ini adalah kamar milik Acarl. Sudah dipastikan, apalagi sebelum pingsan tadi dirinya sedang bersama Acarl.


Kriett....


Pintu terbuka, menampilkan wajah seseorang yang Abel kenal. Sebelum orang yang datang itu melihat Abel bangun, Abel memilih untuk menutup matanya kembali. Rasanya akan ada sesuatu yang akan Abel ketahui kalau dirinya melakukan ini.


"Tak ku sangka, aku bisa melihat wajah ini lagi. Apa kau tau, aku sudah hampir gila karena mu." ujar seseorang itu yang tak bukan adalah Acarl.


Seraya menautkan jemarinya di jari-jari Abel, Acarl melihat wajah damai dengan mata yang masih tertutup. Hari ini bahkan belum selesai, tapi Acarl merasakan kalau hari ini banyak sekali hal yang ia ketahui dalam sekejap mata saja.


"Kau bilang kalau kau juga tidak menginginkan hubungan kita seperti ini, tapi kenapa hampir setahun ini kau meninggalkanku?" ucap Acarl dengan sesekali mengecup punggung tangan Abel yang terasa dingin.


"Hah, tapi aku yakin kalau suatu saat nanti aku harus melepaskan mu." lirih Acarl seraya tersenyum kecut menatap sendu masa yang belum pasti akan datang itu.


"Kalau hal itu terjadi, apa aku bisa mendapatkan satu pelukan saja darimu? Atau permintaanku ini terkesan menyulitkan mu?"


"Andai kau tau kalau kemarin aku datang ke rumah sakit, tapi pemandangan itu menguras semua keyakinan ku untuk mendapatkan mu lagi. Entah kenapa sakit melihatmu berpelukan dengan pria lain tepat di hadapanku. Apa aku akan kuat kalau melihatmu mengenakan gaun pengantin dengan pria lain yang bersanding denganmu? Rasanya aku mau mengadakan acara pemakaman bersamaan dengan acara pernikahanmu, karena aku akan ma...."


"SSTTT!!! Apa kau akan terus melanjutkan omong kosong mu itu?" yup, karena telinganya panas akhirnya Abel memutuskan untuk bangun dan membungkam mulut Acarl yang mulai melantur itu.


"Kemana Acarl Xelone yang terkesan berwibawa itu? Kenapa sekarang kau seputus asa ini? Apa ini Acarl yang aku kenal?" kesal Abel pada Acarl yang menatapnya dengan dalam.


"Melihatmu marah begini, sepertinya memang benar kalau kau sudah tidak mau bertemu denganku lagi." ucap Acarl setelah Abel melepaskan telapak tangannya dari mulut Acarl.


"ARRGHHHHH! TUHAN KENAPA KAU MENURUNKAN MANUSIA DENGAN PIKIRAN PENDEK INI DI SAMPINGKU?!!" pekik Abel yang sudah tidak mengerti lagi dengan apa yang terjadi pada Acarl. Sangat-sangat menyebalkan!


Abel langsung menatap tajam kearah Acarl, dengan tenaganya yang sedikit Abel langsung menangkup wajah Acarl dengan kedua telapak tangannya. Wajah kesal, marah, dan sebal melihat Acarl langsung Abel pampang tepat dihadapan wajah Acarl.


Napas yang naik turun karena berbicara panjang lebar dengan manusia menyebalkan, membuat kepala Abel tambah pening mengingat kebodohan Acarl yang entah sejak kapan tercipta.


"Kau membuatku terombang-ambing, Acarl. Aku tidak tau yang mana sebenernya dirimu itu. Kadang kau bersikap seolah mengizinkan ku lepas darimu, tapi disisi lain kau juga meruntuhkan tembok yang mulai aku bangun. Aku harus apa Acarl? Dua hari yang lalu kau berkata harus melupakan kejadian yang sempat meruntuhkan tembokku, padahal saat itu kau seperti memberiku harapan kalau kau menahan ku agar ada di sisimu." ujar Abel setelah dirinya mengatur napasnya. Sementara Acarl, dirinya tertunduk lemas dengan situasi sekarang ini.


Setelah Abel mengatakan semua itu, Acarl juga menimbang-nimbang sebenarnya kesalahan apa yang terjadi selama ini. Karena Acarl juga merasa terombang-ambing seperti yang Abel katakan. Dirinya juga merasakan kalau Abel menjauhinya, tapi disisi lain Acarl merasa bahwa Abel memberinya kesempatan.


"Entah kau akan percaya atau tidak, tapi yang kurasakan dengan apa yang kau rasakan semuanya sama. Aku juga berpikir mana dirimu yang sebenarnya? Kau tiba-tiba menjauh, tapi disisi lain kau juga tidak ingin begitu. Lalu kenapa kau menjauh?" ucap Acarl membuat Abel menyadari akan satu hal yang pasti. Kesalahpahaman yang fatal.


"Aku butuh waktu untuk menjawab itu, tapi sepertinya ada hal lain yang harus aku jelaskan padamu. Dan itu bisa aku jawab sekarang." ujar Abel dengan tatapan yang membuat Acarl seperti terhipnotis untuk melihat Abel lebih seksama.


Sembari membenarkan duduknya, Abel mulai berpikir harus mulai darimana dirinya bercerita. Sebelum kesalahpahaman semakin jauh, bukankah lebih baik kalau dirinya segera menjelaskannya. Apalagi dengan sifat Acarl yang selalu terlihat kekanakan jika tentang Abel.


Menghela napasnya, Abel akan memulai cerita yang sangat mengganjalnya dari tadi. "Dengan pria yang kau lihat saat dirumah sakit, dia tidak ada hubungan spesial denganku. Dia pernah menyelamatkan ku saat di Italia tiga tahun yang lalu. Kau tau kan kalau aku hampir saja mati disana, dia yang memberiku tempat tinggal dan tempat bekerja." ujar Abel dengan tenang dan Acarl yang dengan seksama mendengarkan cerita dari Abel.


"Dua hari yang lalu setelah aku pulang dari apartemen mu, aku tidak sengaja bertemu dengannya di halte bis. Bisa dibilang dia mantan bos ku kan? Dan kemarin dia yang mengantarkan aku ke rumah sakit. Saat sadar dari pingsan, aku teringat kalau aku belum memasak untukmu. Tapi dia berusaha menahan ku untuk terus beristirahat. Mungkin saat itu kau malah salah paham mengira aku berpelukan dengannya." cerita Abel yang pada akhirnya membuat Acarl merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya berpikir yang tidak-tidak setelah melihat itu.


"Apa sekarang aku sudah menjawab pertanyaan mu?" tanya Abel yang langsung mendapat anggukan kepala dari Acarl.


"Lalu untuk kau yang terus menjauh dariku? Kapan kau bisa menjawabnya?" tanya Acarl membuat Abel tersenyum seolah jawaban itu memiliki waktu yang sangat lama untuk muncul.


"Ku harap kau mau menunggu sampai aku sudah mampu untuk menjelaskannya." pinta Abel.


Cup...


"Aku akan menunggunya sampai waktu mengatakan bahwa aku harus pergi dari dunia yang mempertemukan kita ini." jawab Acarl sesudah mengecup punggung tangan Abel.


Ya, harapan ku sebenarnya bisa bersamamu. Tapi kalau tidak bisa, semoga kau paham kenapa aku menjauh darimu.~batin Abel .