
Jalanan tanah dengan dikelilingi pohon-pohon yang membuat sejuk, menjadi pemandangan indah dimata Abel. Ditambah ada yang menggenggam tangannya dan membawanya terus maju kearah yang ia sendiri tak tau dimana ujungnya. Yang pasti dirinya percaya Acarl akan membawanya ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Apa ini jalan rahasia? Kalau ini tempat wisata tidak mungkin sesepi ini?" tanya Abel pada Acarl karena rasa penasarannya.
"Ini salah satu tempat yang seharusnya aku tunjukan setelah kamu resmi jadi istriku, tapi sepertinya aku tidak bisa menunda lagi untuk memperlihatkan padamu." jawab Abel seraya menaikkan alisnya berusaha mencerna maksud dari ucapan Acarl.
Yah intinya semua ini milik Acarl dan dia percaya persiapan ini sudah dilakukan Acarl sejak lama. Terutama dengan jalanan yang rapih dan bersih ini, pasti Acarl benar-benar menjaganya dengan baik. Sampai akhirnya mata Abel menangkap bangunan putih dengan kaca di besar sebagai tembok dibagian depannya.
Seketika Abel tercengang melihat itu semua, seakan dunia fiksi yang ia pernah bayangkan saat kecil terlihat didepan matanya. Halaman hijau yang luas dan taman bunga yang indah langsung membuat Abel benar-benar yakin kalau Acarl sudah menyiapkan ini semua sejak lama.
"Yah akhirnya rumah ini sudah bertemu nyonya nya." ucap Acarl membuat Abel tak kuasa menahan senyumnya.
Tak lama muncul wanita paruh baya dengan senyuman hangat menyambut Abel dan Acarl, tak lupa juga ada pria paruh baya dengan topi dan sarung tangan yang ikut menyambut kedatangan Acarl dan Abel.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa keduanya membuat Abel tersipu. Bagaimanapun juga mereka kan belum resmi menikah, tapi panggilan nyonya sangat menantang Abel sekarang.
"Kamu bisa masuk dulu, ada yang ingin aku persiapkan diluar." ucap Acarl yang langsung mendapat anggukan kepala dari Abel.
Dibantu wanita paruh baya itu, Abel memasuki rumah itu dengan senyaman mungkin. Tapi Abel benar-benar terpukau dengan semua ini, padahal Acarl tidak perlu menyiapkan ini untuk membuat dirinya bahagia. Tapi apa daya kalau Acarl yang keras kepala membuat ini semua.
"Apa bibi yang menata ini semua?" tanya Abel sembari memasuki rumah dengan suasana yang menyejukkan ini.
"Benar nyonya, apa ada yang membuat nyonya tidak nyaman?" tanya bibi itu dengan wajah sedikit gelisah.
Abel tersenyum dan menghentikan langkahnya, menatap semuanya dengan kagum. "Tidak bibi, aku terpana dengan ini semua. Bibi sudah bekerja keras!" kata Abel dengan senyum yang tak pudar.
Nyonya benar-benar wanita yang baik seperti kata Tuan Cheiz. batin bibi penjaga rumah.
"Terimakasih nyonya, ini sudah tugas saya." ucap bibi itu dengan sopan, mengakui bahwa Abel benar-benar nyonya rumah yang sangat sesuai dengan ini semua.
Abel kembali berjalan dan melihat-lihat sekeliling rumah dengan interior yang sangat menawan. Tidak pernah ia bayangkan ada tempat seperti ini di hidupnya. Semua lamunannya terhenti saat matanya tak sengaja menangkap pria menawan dengan lengan kemeja yang di gulung dan keringat menetes diwajahnya.
"Bahkan dia terlihat menawan padahal sedang berkeringat." gumam Abel sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Acarl yang sedang mengangkat bongkahan kayu kering di belakang rumah. Dan pastinya sebelum itu Abel meminta bibi untuk melanjutkan kerjanya.
"Acarl!" panggil Abel pada prianya yang menawan itu.
Acarl yang mendengar suara Abel langsung menoleh menatap wanita yang berjalan menghampirinya. Dengan menyerahkan pekerjaan pada bapak tukang kebun, Acarl berjalan menghampiri Abel pula. Senyuman Abel benar-benar membuat hati Acarl menghangat, sampai akhirnya sekarang ia berdiri di hadapan Abel.
"Jangan mendekati aku dulu, badanku sedang berkeringat." ucap Acarl mencoba memperingati Abel supaya wanitanya itu tetap nyaman.
"Menurutku nggak begitu!" balas Abel sembari mengambil saputangan yang ia bawa dari dalam rumah. Semakin mendekat ke Acarl, tangan Abel terulur untuk mengusap keringat yang membasahi wajah Acarl.
"Thank you very much, dear." ucap Abel setelah selesai mengusap wajah Acarl. Dengan senyumnya itu, tentu saja membuat Acarl langsung terpana sampai pipinya ikut memerah.
Tanpa menunggu jawaban dari Acarl, Abel langsung putar balik dan kembali lagi ke dalam rumah saking malunya memanggil Acarl dengan sebutan "dear". Apa seperti ini kembali ke masa muda dan merasakan pacaran. Jujur jantung Abel berdetak cepat saat menemui Acarl. Tapi pilihan yang tepat karena dirinya bisa melihat wajah blushing Acarl.
Sampai akhirnya bibi datang dan menyadarkan Abel untuk segera mandi karena hari sudah hampir malam. Padahal rasanya baru saja ia tiba, ternyata waktu berlalu dengan cepat. Abel langsung mengikuti bibi sampai tiba di kamar dengan nuansa Bali yang membawanya seolah sedang honeymoon.
"Tuan yang menyiapkan ini semua nyonya." ucap bibi membuat Abel terpana. Walaupun terlihat payah dalam hal asmara, tapi Abel akui bahwa Acarl adalah kandidat calon suami masa depan yang paling unggul.
Setelah berterimakasih pada bibi, Abel masuk kedalam kamar mandi dan mulai membasahi tubuhnya dengan air. Bahkan dipikir-pikir badan Abel jauh lebih membaik saat tiba di rumah ini. Seakan semua penyakitnya sudah diusir saat dirinya memasuki rumah ini.
Setelah dirinya selesai membersihkan diri, Abel turun bersamaan dengan Acarl yang turun dari ruangan sebelah dengan wajah yang lebih segar dibanding terakhir dia lihat. Sepertinya ruangan itu adalah kamar tamu, tapi karena Acarl tidak mau mengganggunya makanya dia menggunakan kamar mandi tamu.
"Terimakasih sekali lagi," ucap Abel sembari menunjukkan pakaian yang ia pakai sekarang.
"All for you my dear." jawab Acarl sembari mengaitkan tangannya di tangan Abel sembari memandunya ke suatu tempat.
Terlihat meja makan yang sudah penuh makanan tersaji dengan nikmatnya. Abel tak percaya dirinya akan mendapatkan hal seperti ini tanpa ada hari tertentu. Mengingat makanan, Abel langsung teringat restauran yang sempat ia tinggalkan. Mengambil ponsel miliknya, Abel berusaha meminta pada orang yang ia percaya untuk menghandle restauran selama ia beristirahat.
"Padahal aku nggak semarah itu sampai kamu harus mengajakku kesini." ucap Abel seraya menyangga dagunya dengan tangan.
Acarl belum membalas Abel, namun langsung memberikan steak yang sudah ia iris kepada Abel. Abel tersenyum, setidaknya tindakan Acarl sudah menjawab semua hal. Di dalam hidup Acarl dirinya masuk kedalam kategori prioritas, dan Abel akui Abel benar-benar bahagia saat bersama Acarl.
"Hari ini kita menginap disini, and I just want to see you smile like this forever." ucap Acarl membuat Abel melebarkan senyumnya.
"Aku gatau lagi harus berekspresi seperti apalagi kalau tidak tersenyum." balas Abel sembari menusuk daging steak dengan garpunya.
"And you know what? I also want to see you smile forever. Us and our happiness." ucap Abel membawa suasana hangat di dalam setiap detik Acarl bernapas.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Hai Semua 🤗...
...Kita bertemu lagiðŸ¤...
...Jangan lupa like, komen dan vote ya 🌼...
...See you next part:)...