
Udara pagi dibelahan dunia yang baru ia pijak, membuat Abel maupun Hera sama-sama sedikit kesulitan untuk menyesuaikan susunan waktu disini. Namun kali ini, Abel dan Hera harus segera bersiap-siap untuk menghadiri meeting bersama investor yang bersedia berbisnis dengan restauran Abel.
Bukan main-main, sekarang Abel berada di Perancis yang dimana menjadi salah satu negara yang ingin Abel kunjungi setelah Italia. Pusat fashion, makanan khas perancis, pemandangan kota, menara Eiffel, semua masuk kedalam list Abel disini. Walaupun niatnya untuk berbisnis, tapi ditambah sedikit jalan-jalan tak apa lah ya?!
"Wow, kak Abel benar-benar hebat. Bukan hanya pandai memasak, tapi juga bisa fasih berbahasa Perancis."ujar Hera dengan tatapan kagum pada Abel yang kini tertawa kecil menanggapi pujian dari Hera.
"Yang penting, kita harus segera menyelesaikan tugas disini! Setelah itu kita liburan sebentar!" ujar Abel yang langsung diangguki Hera.
Abel maupun Hera, benar-benar menghabiskan waktu di Perancis dengan sangat terampil. Tak pernah terlewatkan tempat-tempat yang menjadi pusat turis di Perancis. Sampai kuliner pun, menjadikan Abel dan Hera tak selesai dengan satu makanan saja.
"L'air ici est vraiment froid." (Udara disini benar-benar sedang dingin.) gumam Abel sembari menikmati langit senja yang bersinar terang di bawah langit Perancis.
Abel memejamkan matanya, menikmati hembusan angin segar di balkon kamar hotelnya. Seharian penuh sudah Abel lewati dengan lancar, dan sekarang Abel sudah di hotel dan beristirahat. Seperti sekarang, Hera sudah menyibukkan diri untuk tukar sapa dengan sang kekasih hati yang jauh dibelahan dunia seberang.
Abel tak ingin mengganggu Hera, karena itu dia memilih menyendiri di balkon kamar hotel sembari melihat orang lalu lalang dari atas. Rambutnya yang kini mulai panjang, melambai-lambai seiring angin sore menerpanya.
Saat memejamkan mata, Abel tiba-tiba teringat kalau ini bukan kali pertama untuknya menikmati angin sore sendirian. Kemarin dirinya dengan ibunya juga seperti ini, dan sekarang Abel sudah berada di Perancis. Ngomong-ngomong Abel rindu dengan ibunya, padahal baru saja mereka akur tapi Abel sudah dikejar tugas di Perancis.
Tugas esok hari, membuat Abel memilih untuk segera membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Bukan hal mudah untuk Abel membuka usaha, tapi diakhir usaha pasti ada hasil. Dan untuk mencapai hasil makan harus ada tindakan yang benar-benar melelahkan.
...----------------...
"Êtes-vous d'accord avec ces conditions ?"(Apakah anda setuju dengan persyaratan ini?) ujar seseorang yang duduk tepat di seberang Abel.
"A en juger par le design que vous m'avez donné, je suis d'accord !" (Melihat dari rancangan yang anda berikan, saya setuju!) balas Abel dengan mengulurkan tangannya tanda deal sudah berkumandang.
Dua orang investor, sudah selesai Abel jumpai. Di negara yang masih asing ini, relasi benar-benar Abel butuhkan. Beruntung dirinya bisa bekerjasama dengan perusahaan yang ternama untuk sponsor yang kuat. Yah, benar-benar sangat menguntungkan jika dia bisa berbisnis dengan benar.
"Beruntung banget aku bisa kerja di tempat kak Abel. Banyak aku belajar dari awal sampai sekarang aku berdiri di samping kak Abel." ujar Hera dengan nada yang tulus seakan mengerti perjuangan Abel yang dirintis dari nol.
Abel tersenyum setelah mendengar penuturan Hera. Memang sejak awal merintis restauran, Hera adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang bekerja padanya. Abel juga puas dengan adanya Hera di restauran nya, karena kerja Hera yang cepat dan juga terorganisir.
"Aku juga bangga Hera bisa ikut denganku. Apalagi Hera itu cekatan, jadi aku sangat bersyukur bisa bertemu Hera." jawab Abel yang langsung mendapatkan pelukan dari Hera.
"Kalau kak Abel butuh temen curhat, boleh kok kak Abel dateng kepadaku kapanpun itu." ujar Hera yang masih memeluk Abel, dan tentu saja Abel juga balas memeluk Hera tak kalah eratnya.
"Jadi serasa punya kakak!" balas Abel dengan wajah dibuat seolah-olah terharu.
Tak lama, Abel dan Hera tertawa dan melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju tempat yang Abel dan Hera pikir akan menjadi destinasi mereka kali ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua minggu sudah berlalu, dan kini Abel maupun Hera sudah kembali ke negara asalnya. Senang juga karena sejenak mereka bisa berlibur sambil kerja. Semua urusan selesai, dan kerjasama dengan brand ternama juga sangat lancar. Sungguh Abel juga heran bisa secepat ini semuanya selesai, tapi syukurlah karena semakin cepat semakin baik.
"Nanti kamu mau menetap di Perancis atau disini?"
"Sepertinya aku akan disana kurang lebih setahun sampai semua stabil. Bakal kangen sama ibu, sama ayah, sama kak Vano!!"
"Dasar!"
"Apa ibu mau ke Perancis bareng aku?" tanya Abel seraya memotong wortel sampai berbentuk dadu.
"Lalu ayahmu? Bisa-bisa dia kangen sama ibu!" jawab nyonya Guston sampai membuat Abel terkikik dengan candaan ibunya itu.
Walaupun sangat berat meninggalkan tanah kelahirannya, tapi demi masa depan ya harus Abel jalani bukan? Walaupun harus sendiri karena disini sudah di handle Hera dan Dani, dan sekarang waktunya bagi Abel semangat lagi mengambil langkah yang sedikit berat.
"Kalau ibu ke Perancis, jangan lupa mampir! Ayah juga!" ujar Abel dengan wajah seriusnya.
"Sudah pasti dong! Apalagi kan ini anak ibu yang paling cantik , masa ibu tega banget sampai nggak mampir kalau kesana!" jawab ibunya sampai membuat Abel tersentuh.
"Tapi kapan kamu akan mencari pacar?" tanya nyonya Guston yang langsung membuat Abel menghentikan kegiatannya.
Dalam bayangan Abel, itu belum masuk ke daftar yang harus dilakukan. Fokus Abel hanya untuk kebahagiaannya dan keluarganya. "Be-belum memikirkan itu. Abel mau fokus sama kebahagiaan ayah dan ibu dulu, baru setelah itu Abel akan memikirkannya." jawab Abel.
"Ibu tau kamu masih ada rasa dengan pria itu. Tapi Abel juga berhak bahagia, bukan maksud ibu mau membuat luka pada Abel lagi." ujar nyonya Guston.
"Apasih ibu, kenapa bahas ini! Yang penting dalam hidupku itu kebahagiaan ayah sama ibu, yang penting keluargaku dulu. Abel tau maksud ibu baik, tapi Abel belum memikirkan menuju langkah itu." jawab Abel yang membuat nyonya Guston menghela napasnya.
"Baiklah, ibu yakin anak perempuan ibu satu-satunya ini bisa menjadi anak yang bijak. Ibu dukung semua pilihanmu, asal Abel ku bisa bahagia." putus nyonya Guston yang mengakhiri pembahasan yang membuka luka dihati Abel.
"Makasih ibu,"
Walaupun sudah berlalu sejak kapan tahu itu, tapi Abel belum bisa melupakan pria yang sempat mampir di hari-harinya. Benar, istilah dari ungkapan itu adalah Abel belum move on dari sosok yang benar-benar ia sayangi itu. Mungkin Abel masih membutuhkan waktu lagi untuk melupakan kenangan manis itu, sampai entah kapan waktunya itu terjadi.
.
.
.
.
.
HALLO!!!
Salam kangen semua🤭
Selamat membaca dan enjoy ya😘
Jangan lupa like komen dan vote 😊
Dukung wajib 😂
See you next part:)