
Seperti apa yang direncanakan, sekarang kedua manusia itu terlihat beriringan masuk kedalam supermarket. Walaupun dalam hati mereka sedang berdisko, setidaknya hari ini harus menjadi hari yang terbaik sepanjang masa sejak mereka berdua memutuskan untuk berdamai dan berteman.
Acarl dengan troli dan Abel dengan list belanjaan. Berjalan mengikuti setiap rak yang berisikan barang-barang yang berbeda. AC supermarket yang kurang dingin, menambah hawa panas di antara kedua manusia yang sejak tadi diam saja.
Acarl yang mendorong troli, hanya mengikuti arah Abel dan begitu juga sebaliknya Abel yang memimpin jalan dengan perasaan yang campur aduk. Sangat senang bisa merasakan sensasi belanja berdua seperti ini lagi, tapi sensasinya berbeda dengan saat Abel dan Acarl tiga tahun yang lalu.
Sampai pada kasir tempat membayar semua belanjaan mereka, Abel dan Acarl akhirnya mau tak mau angkat bicara karena harus mencari tempat antrean yang lumayan full hari ini.
"Kalau gitu, gimana kalau aku jaga sini trus kau jaga sana?" usul Abel seraya ingin mengambil alih troli yang masih di pegang Acarl.
"Kalau aku terdesak ibu-ibu disana gimana?" tanya Acarl yang seolah menolak usulan dari Abel.
Yah, memang sulit berhadapan dengan ibu-ibu yang berkuasa di seluruh penjuru dunia ini. Dan itu pun menjadi alasan Acarl yang sangat malas berurusan dengan ibu-ibu yang sedang antre juga di kasir sebelah.
"Kau takut sama ibu-ibu?" tanya Abel dengan wajah penuh terkejut melihat pria yang terlihat tegap dan berwibawa tapi nyatanya hatinya benar-benar seperti Hello Kitty.
Tanpa tau apa itu arti dari malu, Acarl mengangguk seraya menunjukkan ekspresi merinding menatap para ibu-ibu yang menatapnya kagum. Yap, sejak tadi Acarl sudah mencuri perhatian banyak ibu-ibu. Bagaimana tidak dengan wajah milik Acarl?!
Menghela napas lelah, Abel akhirnya mengalah dan membiarkan Acarl berada dibelakangnya dan ikut mengantri bersamanya. Meskipun begitu, sejak tadi Abel sudah menahan tawanya. Baru kali ini Abel melihat seorang Acarl yang merinding panik ditatap para ibu-ibu.
Belanja di supermarket sudah, sekarang Abel mengajak Acarl ke tempat yang sungguh mendamaikan hati mereka. Yah setidaknya itu yang Abel harapkan, daripada ada rasa canggung terus menerus. Dan pilihannya jatuh pada kedai gelato yang tak jauh dari taman kota.
"Aku mau gelato yang matcha!" pinta Abel langsung setelah masuk ke dalam kedai gelato. Acarl yang mengerti langsung memesankan pesanan Abel, sedangkan Abel langsung ngacir mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.
Satu gelato matcha dan gelato cheese sudah ada di atas meja. Tatapan binar dari Abel juga langsung terlihat jelas. Sebenarnya tadi Acarl sempat melarang Abel untuk memakan gelato dulu karena habis demam tinggi, tapi karena puppy eyes Abel yang mengancamnya mau tidak mau dirinya mengalah.
"Enak kan siang-siang begini makan gelato?!" tanya Abel yang hanya di angguki Acarl yang sedang memakan gelatonya sendiri.
"Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu. Aku harap sih kamu mau mengerti, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa." ucap Abel langsung membuat Acarl terfokus padanya.
*********************
Sepulang dari tempat gelato, aura Acarl yang awalnya tercanggung-canggung tetiba langsung berbinar-binar. Sepanjang lorong apartemen saja Acarl berjalan sembari melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan es krim dan balon.
Sementara Abel yang berada di depan, mengulum senyumnya karena tingkah Acarl yang sangat menggemaskan sejak keluar dari kedai gelato tadi. Sangat menggemaskan sampai-sampai Abel melupakan kalau Acarl adalah pria dewasa dengan tubuh tegap dan berat yang ideal dengan umur pria itu.
Tapi Acarl tak putus asa, dengan Abel yang selalu menghindarinya tentu saja Acarl harus bertindak dengan tindakan tentunya. Dan disinilah, Acarl menarik Abel dan membawanya ke dalam pelukannya. Sedangkan Abel terkejut dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Acarl.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi," ujar Acarl seraya mengangkat wajah Abel agar bisa dilihat olehnya.
"Kenapa menghindar? Bukannya kamu yang membuatku seperti ini?" tanya Acarl semakin mendesak Abel dan membuat wajah Abel semakin memerah.
"A-Acarl bukan seperti itu! Kan ki-kita harus bertindak sesuai status kita sekarang!" balas Abel terbata-bata karena juga harus menahan detakan jantungnya yang semakin berdebar.
Senyum manis Acarl langsung tercetak dan juga langsung melepaskan tangannya dari wajah Abel. Walaupun begitu, hari ini adalah hari terbaik menurut Acarl. Sejak mengungkapkan segala perasaan yang dirasa, Abel dan juga Acarl memutuskan untuk berdamai lalu sekarang....
"Hah, benar juga. Sekarang kita passhhshshh..." ucap Acarl tak selesai karena Abel yang sudah menyumpal bibir Acarl dengan telapak tangannya.
"Diem atau aku marah!" ancam Abel yang langsung mengundang tawa untuk Acarl.
Sudahlah, yang terpenting sekarang dirinya tidak akan takut Abel akan lari darinya lagi. Dan itulah yang terpenting saat ini dibandingkan harus mencari masalah lagi dengan Abel. Yah, nasib cowo bucin seperti ini!
"Yah, maafkan aku. Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini juga." ucap Acarl dengan wajah memelasnya.
"Kalau waktu berhenti, berarti kita juga akan membeku dengan posisi saling menatap seperti ini?!" ujar Abel dengan wajah polos serta melihat jaraknya dengan Acarl yang berada di tiga langkah didepannya.
"Sebelum waktu berhenti...Grep.. Tentu saja aku akan memelukmu dulu. Agar posisi kita saling memeluk seperti ini." balas Acarl yang langsung menarik Abel kedalam pelukannya.
Abel tersenyum, dirinya memang sangat susah untuk menahan senyumnya. Yah, setidaknya inilah yang Abel sukai dari pria yang selama ini bersamanya, menunggunya, mencarinya, melindunginya.
"Tapi kamu tau kan, kalau tugas kita masih ada satu lagi. Dan setelah itu, baru aku ingin waktu terhenti karena masalah masa depan kita sudah selesai." ucap Abel yang masih menempelkan telinganya ke dada Acarl yang saat ini terasa detakan yang kencang dari dalam.
"Yap, dan sekarang harus benar-benar kita berdua. Jangan pernah berpikir untuk mengatasinya sendiri, libatkan aku juga." pinta Acarl dengan tulus sampai mereka melupakan bahwa pintu kulkas masih belum tertutup dan mendinginkan mereka berdua yang sedang panas-panasnya.
"Aku janji."
Dalam setiap langkah, bukankah lebih bagus kalau dilakukan bersama. Dan itu menjadi keputusan mereka setelah perdebatan yang terjadi di kedai gelato tadi. Sampai akhirnya kini mereka benar-benar akan saling menggandeng tangan dan akan berjuang bersama. Setidaknya itulah yang mereka harapkan. KEINGINAN UNTUK BERSAMA (。♡‿♡。)