The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Stuck in pain



Mondar-mandir di depan pintu seraya melirik jam dinding yang hampir masuk jam setengah satu siang itu, membuat jantung Acarl benar-benar kacau sekarang. Kalau jam satu ini Abel tidak juga datang ke apartemennya, sudah pasti kalau usaha Acarl untuk menarik Abel kembali akan gagal.


Kalau Abel datang, sebenarnya Acarl juga bingung harus berkata dan memperlakukan Abel seperti apa nanti. Dan rasa cemas Acarl bertambah, saat pintu apartemennya ada yang mengetuk. Dan dibalik pintu itu, adalah Abelrta Gourich Guston yang saat ini membuat Acarl Xelone kebingungan.


Pintu terbuka, menampilkan wajah datar Abel yang tak menatap Acarl secara langsung. Kotak bekal di tangannya, sudah menandakan bahwa Abel datang untuk memberikan makan siang untuk Acarl.


"Tuan muda, maafkan saya kalau makan siang kali ini berbeda dengan selera tuan. Hari ini restauran sangat ramai, membuat saya tidak mempunyai banyak waktu untuk membuatkan healthy food dengan sempurna untuk anda." ujar Abel seraya menyiapkan piring, sendok garpu, dan air minum di atas meja makan.


Sedangkan Acarl, pria itu kini mematung melihat Abel yang tak berekspresi apapun. Padahal Acarl tidak tau kalau Abel mati-matian untuk menahan rasa yang mulai membuat jantungnya berdetak kencang.


Selesai dengan semuanya, Abel ingin cepat bergegas pergi sebelum tembok yang akan ia rangkai kembali runtuh karena Acarl. Sudah cukup kemarin dan tadi pagi saja runtuh, sekarang jangan sampai runtuh kembali. Pasti masa depan Abel dan Acarl tidak bisa terbentuk sesuai yang mereka mau lagi. Atau, akan ada orang yang tersakiti lagi karena hubungannya dengan Acarl.


Saat akan pamit, langkah Abel terhenti saat tangannya dicekal oleh orang yang tak lain adalah Acarl. Siapa lagi yang akan menyekalnya kalau disini hanya ada dirinya dan Acarl.


"Ku harap kau tidak memaksakan diri."ujar Acarl membuat Abel berpikir keras untuk segera menemukan arti dari kata yang Acarl ucapkan.


Apa dia sudah ingat kejadian kemarin malam? ~batin Abel.


"Sa-saya benar-benar ti-tidak apa-apa, T-tuan. Kejadian semalam saya tidak menganggapnya serius." balas Abel yang tak sengaja malah memberitahu Acarl kalau ada kejadian semalam saat Acarl mabuk berat.


Sementara Acarl langsung membulatkan matanya mengerti maksud Abel bahwa benar, semalam ada sesuatu yang terjadi sampai membuat Abel bersikap tidak seperti biasanya.


"Apa..."


"Ya, saya bisa mengerti kenapa anda memeluk saya semalam. Anda pasti tidak sadar karena alkohol yang anda minum. Saya tidak akan mengingatnya lagi, jadi kita anggap kejadian itu tidak ada." sela Abel cepat yang gotcha malah membuat wajah Acarl memerah karena tau kelakuan mabuknya.


"Ke-kenapa kau tidak mengatakannya dari pagi tadi?" tanya Acarl membuat Abel memasang wajah tanya sembari saling tatap dengan Acarl.


Apa yang Acarl maksud tadi? Dia tidak ingat tapi malah aku memberitahukan padanya kejadian yang sebenarnya? MATILAH KAU ABEL!!! ~batin Abel mulai berteriak dan memberontak.


Acarl kau bodoh! Kenapa juga kau harus mabuk disaat yang tidak tepat! Apa ini sudah akhir dari segala usahaku?~ batin Acarl mulai merutuki diri sendiri yang tidak pernah bisa berhati-hati.


...----------------...


Sudahlah, selama dua hari ini Abel dan Acarl bersikap biasa saja walaupun hati mereka benar-benar berdebar saat tak sengaja mata mereka bertemu. Acarl bersyukur karena Abel masih mau datang ke apartemennya, sedangkan Abel hanya berpikir untuk segera menyelesaikan perjanjian tertulis itu walaupun beban perasaan ada didalam dirinya.


"Ehem, sepertinya kita harus segera menyelesaikan masalah ini." ujar Acarl membuat Abel sedikit terkejut karena Acarl yang mendadak membahas kejadian dua hari yang lalu.


"Bagaimana kalau kita menganggap kejadian kemarin tidak pernah terjadi, apa itu bisa membuatmu tenang?" lanjut Acarl membuat hati Abel sedikit sesak, seakan Acarl sudah benar-benar tidak menginginkan Abel lagi. Padahal baru kemarin Acarl meruntuhkan pondasi yang ia bangun, tapi sekarang Acarl seperti mulai membangun tembok dengannya.


Abel mulai mengerti sekarang, kalau Acarl sendiri juga mulai menjauh darinya. Sepertinya semua akan berjalan lancar seperti yang ia harapkan sebelumnya. Tapi kenapa hati Abel sakit ya? Seperti beberapa pisau menancap di hatinya. Padahal ini yang Abel harapkan, ini yang Abel inginkan. Acarl perlahan melupakannya dan dirinya bisa memulai hidup tanpa Acarl.


Tapi sakit...


"Te-tentu saja, Tuan. Saya juga berpikir itu yang terbaik, karena saya juga tidak ada harapan apapun dengan kejadian kemarin." jawab Abel menahan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat rasa sakit yang ia tahan.


"Baiklah, sekarang ku harap kita bisa bekerja sama dengan baik selama waktu yang tersisa." ucap Acarl mengakhiri topik pembicaraan yang membuat mereka berdua sama-sama menahan sakit di dalam diri mereka masing-masing.


...****************...


Abel yang pulang dari apartemen Acarl, berjalan menyusuri kota besar di Perancis untuk kembai ke restauran nya. Keluar dari apartemen Acarl, rasanya mata Abel mulai memanas. Seakan dari sekian rasa sakit yang pernah ia derita, inilah yang paling sakit untuknya.


Melihat halte bus yang sepi, Abel memutuskan untuk mampir sebentar. Di halte bus itu, Abel tak kuasa lagi menahan air matanya yang mulai mengalir di pipinya. Semuanya kacau, semua tak sesuai harapannya, semua tak pernah pas dengan apa yang ia inginkan.


Apa susahnya untuk melupakan Acarl? Kenapa dirinya tidak pernah bisa menghapus Acarl dari hati dan pikirannya. Kenapa dirinya benar-benar terikat dengan Acarl? Tidak bisakah semuanya berakhir sesuai isi kontraknya saat pertama kali bertemu Acarl?


Dipertemukan untuk hal yang menebus kesalahannya, Abel harus terjebak di dalam kisah cinta tanpa restu dan malah membuat Acarl semakin dibenci ayahnya. Sampai pada titik dimana tuan besar Xelone terkena jantung, Abel sudah yakin disini bukanlah tempatnya. Tapi kenapa melepas semua itu sangat susah?


Perasaan Abel benar-benar sangat terombang-ambing, seperti banyak pertanyaan yang membuat dirinya bingung harus menjawab dari mananya dulu. Karena semuanya tak ada yang berhasil ia selesaikan.


Saat air mata yang ia keluarkan sudah cukup menenangkannya, Abel segera mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. Namun...


"Apa sudah cukup menangismu? Seorang wanita yang dulu datang dengan baju seksi dan sekarang menangis di tempat umum sangatlah berbeda ya vibes nya!" ujar seseorang yang membuat Abel mau tak mau mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang mengulurkan saputangan dan ocehan untuknya.


"Tuan Agam?" ucap Abel saat sudah mengamati dengan baik orang yang datang menghampirinya.


"Sudah lama tidak bertemu ya, Abel?"