The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
First day



Pagi hari yang lebih segar daripada sebelumnya, Abel berpikir untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menuju kamar mandi lebih dulu. Dan berakhir ke dapur setelah melewati dapur Acarl yang terasa dingin, mungkin karena jarang disentuh manusia. Walaupun begitu, dapurnya masih bersih sampai seisi apartemen Acarl juga bersih.


"Yah, memang dia tidak pernah bisa hidup ditempat yang tidak bersih." gumam Abel seraya mengingat-ingat bahwa dulu pernah Acarl membersihkan tumpahan kopi di mansionnya sampai menggunakan sarung tangan dan juga masker saat membersihkan nya.


Melihat isi kulkas, Abel mengambil beberapa bahan yang sudah ia pastikan akan menjadi menu sarapan hari ini. Dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi, membuat Abel masih memiliki waktu sebelum Acarl berangkat ke kantor.


Sesekali Abel mengintip ruang tamu yang menampakkan Acarl yang masih tertidur. Lelaki itu benar-benar lelah pastinya setelah kemarin mengurus dirinya tanpa lepas semenit pun.


Abel tertawa kecil sembari memikirkan hal bodoh yang pastinya hanya bisa ia masukan dalam wish list nya. Memikirkan akan seperti ini kehidupannya jika dirinya menikah dengan Acarl, dirinya akan bangun lebih dulu dan memasakan sarapan untuk Acarl.


"Okelah, sepertinya aku bisa merasakan itu sekarang sebelum aku kembali nanti. Lumayan juga memiliki pengalaman konyol seperti ini." gumam Abel kecil sembari tangannya bekerja dengan pisau yang mengiris sayuran hijau.


Aroma masakan memenuhi apartemen Acarl, sampai membuat Acarl bangun dan langsung melihat ke arah dapur yang tak jauh dari ruang tamu. Dan pandangan pertamanya adalah wanita dengan rambut dicepol sembarangan sedang mengaduk masakan yang masih berada di atas kompor.


Entah sejak kapan bibir Acarl terangkat membentuk lengkungan indah yang disebut senyuman. Perasaan hangat menyerbu hati Acarl, sampai pada akhirnya dirinya segera merubah ekspresi wajahnya saat Abel juga menatapnya.


"Kau sudah bangun? Jangan menatapku begitu! Aku sudah sehat sekarang, jadi jangan takut makananmu tertular sakitku!" ujar Abel menjelaskan sebelum Acarl berbicara.


"Kalaupun aku melarangmu, sepertinya bakal percuma. Kau memang keras kepala." balas Acarl yang kemudian bangun untuk membereskan selimut dan bantalnya dan juga beranjak ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri.


Sementara Abel, mumpung Acarl ke kamar mandi jadi dirinya bisa diam-diam menyapu sebelum Acarl melihatnya. Bisa bahaya kalau Acarl melihat Abel memegang alat bersih-bersih, karena sudah dipastikan bakal ramai lagi pagi ini.


"Nah kan, sudah ku katakan kalau aku itu tidak separah yang dia bilang!" gumam Abel dengan berkacak pinggang melihat hasil bersih-bersih nya.


Sesudah membersihkan lantai, Abel kembali melirik kamar mandi dimana orang yang berada didalamnya belum ada tanda-tanda akan keluar. Dengan begitu, Abel memilih untuk memoles tipis wajahnya dengan bedak dan lipbalm berwarna miliknya. Setidaknya ini bisa menutupi wajah yang sedikit pucatnya.


"Beres!" ucap Abel puas dan bersamaan dengan Acarl yang keluar dari kamar mandi dengan kimono yang melekat di badannya.


Untunglah dia pakai kimono, kalau hanya handuk yang dililitkan di pinggang! Entah reaksi apa yang harus aku keluarkan!~batin Abel menjerit.


Abel memilih untuk menunggu Acarl di meja makan seraya memikirkan masakan apa yang akan ia buat siang ini, dan juga bagaimana caranya untuk memberikan makanan nya pada Acarl. Apakah dirinya boleh kesana sendiri, atau malah dirinya mengirimkan makanan itu lewat ojek?


Entahlah bagaimana nanti, yang terpenting sekarang adalah menyiapkan sarapan untuk Acarl yang sudah berjalan kearahnya. Seraya membuka penutup makanan, Abel juga bersiap untuk menyendok kan nasi ke piring Acarl.


"Kalau siang nanti, apa boleh aku ke kantormu untuk mengantarkan makanan?" tanya Abel disela dirinya menyendokkan beberapa lauk di piring Acarl.


"Tidak!"


"Nggak!"


"Lalu? Apa kau akan kesini tepat saat jam makan siang lalu kembali lagi setelah makan begitu?" kesal Abel pada Acarl yang menjawabnya dengan singkat.


"Ide bagus." jawab Acarl yang benar-benar membuat Abel tak habis pikir dengan jalan pikirannya Acarl. Benar-benar sangat menyebalkan sekaligus diluar akal pikiran manusia biasa.


"Akan menyita banyak waktu kalau kau seperti itu." bujuk Abel lagi, karena setidaknya dirinya bisa keluar dari apartemen tidak terkurung terus di dalam sini.


"Banyak waktuku untukmu. Jangan khawatir!" balas Acarl lagi dengan datar yang membuat Abel seketika menyerah. Berdebat dengan Acarl, sangat-sangat menguras batin dan tenaga.


Sarapan selesai, waktunya untuk Acarl mempersiapkan diri lagi dengan memakai dasi dan juga jas kantornya. Sedangkan Abel selesai dengan mencuci piring yang habis ia pakai dengan Acarl.


"Aku akan datang sekitar jam setengah satu siang, jangan kemana-mana!" ucap Acarl yang hendak membuka pintu apartemen sebelum langkahnya terhenti karena Abel memanggilnya.


"Acarl? sebentar!" ucap Abel yang detik itu juga menghampiri Acarl yang menatap penuh tanya pada Abel.


Dengan tangan kecilnya, Abel membenarkan letak dasi yang Acarl pakai. Karena dasi dan kerah Acarl yang kacau, Abel reflek memanggil Acarl agar dirinya bisa membenarkan dasi berwarna abu-abu itu.


"Nah, begini lebih baik." kata Abel setelah selesai dengan dasi Acarl, sementara Acarl berusaha sebaik mungkin agar tidak terlihat senyuman diwajahnya.


"Terimakasih, aku berangkat dulu." ujar Acarl yang bersiap membuka pintu sebelum melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.


"Hati-hati dijalan," ucap Abel sebelum pintu apartemen tertutup sempurna.


Mengingat dirinya akan sendirian di apartemen, Abel sudah menyiapkan beberapa kegiatan yang akan ia lakukan agar terhindar dari rasa bosan karena kekerasan Acarl yang membuatnya harus berada didalam apartemennya selama tiga hari.


"Pertama-tama bersihkan debu, lalu menyapu lagi, kemudian mengepel, terus masak, nonton tv sambil nunggu, sepertinya hari ini akan padat dengan kegiatan!" gumam Abel dengan antusias mengingat dirinya akan bergerak bebas tanpa Acarl.


Sementara Acarl yang berada di mobil, masih mengontrol dirinya dari bayang-bayang kegiatan paginya tadi. Bangun tidur melihat wajah Abel yang sedang memasak, makan sarapan berdua, lalu Abel membenarkan dasi dan mengantarnya ke pintu sebelum dirinya berangkat. Apa ini yang akan dia rasakan kalau menikah dengan Abel?


Jika bisa memutar waktu, Acarl ingin sekali kembali ke lima menit yang lalu berulang kali yang ia mau. Sangat menyenangkan dan sangat menghangatkan paginya di cuaca yang sedikit mendung sekarang.


Hal itu juga membuat senyum tercipta di wajah seorang pria yang duduk didepan Acarl, melihat majikannya yang terlihat bahagia juga membuat dirinya ikut bahagia. Bagaimanapun juga kebahagiaan bos nya sudah pasti akan meringankan pekerjaannya.


Nona Abel, saya akan melakukan apapun untuk menahan anda di samping tuan Acarl. ~ batin sekretaris Cheiz dengan senang.