The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
setelah kejadian



Suasana yang cukup membuat perasaan tidak nyaman. Diwaktu yang sama, namun tempat yang berbeda. Dua manusia saling menjalani hidup masing-masing sesuai kata-kata yang terucap sebelum mereka terpaksa memilih jalan lain yang sudah pasti sulit untuk kembali lagi.


"Apa sekarang kita ada menu pasta hitam?"


"Entahlah, menu baru seperti pasta sate mungkin? Aroma bakarannya sangat kentara."


Yah, sekarang Hera dan juga Dani berada dibelakang Abel yang sedang memasak. Tapi lebih ke menggosongkan makanan lebih tepatnya, dan itu membuat Dani dan Hera mengawasi bos nya yang terlihat sangat kacau hari ini.


Bukan hanya di masakan, bahkan saat masuk kedalam dapur tadi saja sudah terlihat kalau Abel tidak fokus sama sekali. Itu dia yang menjadi pusat perhatian rekan kerja Abel selama Abel diam sejak tadi.


"Apa sebaiknya kita hentikan saja kegilaan nya? Atau mau menunggu kompornya meledak?" tanya Hera pada Dani yang mengangkat bahunya acuh.


"Yah, kita harus menghentikannya sebelum kita kehilangan pekerjaan." balas Dani yang langsung diangguki Hera dan kawan-kawan lainnya.


Dengan mematikan kompor, Hera mencegah terjadinya bencana besar pada restauran yang Abel dirikan dengan penuh keyakinan demi mengejar cita-citanya. Tentu saja Abel tersadar dan langsung menatap Hera dengan tatapan sendu nya yang sudah pasti membuat Hera juga sedikit tersentuh. Sesama wanita pasti bisa merasakan apa yang Abel rasakan sekarang.


"Kakak Abel, aku rasa kita bisa duduk sebentar untuk menarik nafas." ujar Hera yang kemudian menarik Abel dan menggiringnya ke sebuah tempat yang tidak asing untuk Abel. Yup, tempat itu adalah lantai atas dimana tempat Abel tidur berada. Tapi kini mereka memilih menikmati lantai atas ini dengan menaiki ayunan yang ada.


"Ehem! Kalau kakak ada masalah, sebaiknya ceritakan saja ke aku. Daripada kakak harus menyimpan sendiri dan malah mau menghancurkan bisnis kakak seperti tadi." ujar Hera sembari menatap Abel yang sedang melihat kosong kearah bawah.


"Tidak ada yang bisa aku pertahankan. Apapun yang aku genggam, tidak pernah bisa bertahan seperti yang aku mau." balas Abel lirih dengan masih menatap arah bawah.


Hera menghela napasnya sejenak, menatap iba juga pada bos nya yang biasanya terlihat ceria. Tapi apa sekarang? Bos nya itu bahkan tidak menarik sudut bibirnya sama sekali. Walaupun Hera tidak tau separah apa keretakan hubungan antara Abel dan Acarl, tapi Hera merasakan akan penyesalan dari sorot mata Abel.


Membiarkan segala unek-unek yang dipendam Abel keluar, membuat Hera mengerti bahwa Abel sangatlah sayang pada Acarl yang Hera tau sudah dua tahun ini bersama Abel. Betapa tersentuhnya Hera melihat hubungan antara Abel dan Acarl.


Disisi lain, wajah tanpa ekspresi membuat dingin ruangan yang berisi banyak orang penting didalamnya. Bahkan yang sedang mempresentasikan hasil kerjanya juga ikut gemetar dengan tatapan dingin dari pria bernama Acarl Xelone.


Padahal Acarl sendiri tidak tau kalau dirinya sedang menghadapi rapat, tapi semua yang berada didalam ruangan malah merasakan perasaan intimidasi yang sangat kentara. Sampai presentasi selesai, Acarl masih diam yang tambah membuat semua menelan ludah dengan susah. Tanda mereka siap mendapatkan omelan sudah berkibar, tapi yang mengomel masih diam membeku.


"Tuan? Apa anda benar baik-baik saja?" bisik Cheiz tepat di samping Acarl.


Acarl yang merasakan adanya suara masuk di sisi telinganya, akhirnya sadar dan langsung menatap seluruh mata yang juga menatapnya. Acarl berusaha mengubah mimik wajahnya, dan menghela napasnya untuk sedikit meringankan bebannya agar semua berjalan lancar walaupun hatinya menolak untuk melakukan semua ini.


Sampai akhirnya selesai sudah rapat Acarl yang tidak terduga membuahkan hasil. Dan rapat kali ini membawa Acarl yang sebagai CEO harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri untuk sementara waktu. Disitu, Acarl mulai menyadari arti kata Abel saat ini. Memang benar hubungan mereka hampir tidak pernah ada perkembangan, yang sekarang membuat Acarl merasa dirinya bodoh karena tidak mengerti perasaan Abel.


"Tuan, jadwal anda pergi ke Kanada dua hari lagi. Untuk besok anda ada waktu luang, saya yang akan mempersiapkan keperluan anda ke Kanada." ujar Cheiz.


"Hmm, terimakasih." balas Acarl dingin.


Cheiz meninggalkan Acarl yang sedari tadi terlihat tidak bersemangat. Bahkan Cheiz sudah tau sejak semalam ia menemukan atasannya itu tergeletak di lantai dapur dengan botol alkohol berceceran disamping Acarl. Cheiz datang setelah mendapat panggilan dari Emely yang mengabarkan kondisi Acarl saat itu, dengan segera Cheiz datang dan melihat atasannya tergelatak di lantai dapur. Emely juga mengatakan kalau Acarl tadi banyak bertingkah, sehingga satu mansion tidak ada yang bisa membawa Acarl ke kamarnya.


......................


Dua hari kemudian, tiba saatnya Acarl harus pergi meninggalkan negaranya. Jika biasanya sebelum pergi dia akan mendapatkan uacapan sampai jumpa, kini Acarl sangatlah pasrah dengan keadaan yang bisa jadi datang padanya. Karena apa? tidak ada yang menunggunya lagi seperti biasanya.


"Tuan, anda tidak terlupa sesuatu?" tanya Cheiz yang sebenarnya memancing atasannya.


Acarl menggeleng, padahal dirinya benar-benar tidak tahu maksud Cheiz. Dia hanya memikirkan satu hal, yakni pergi pulang pergi pulang tanpa berharap ada yang menyambutnya.


Di waktu yang sama, perasaan canggung terasa amat nyata di depan Abel. Yap, kini dirinya malah sedang berduaan dengan ibunya. Ibu kandungnya! Ya, sudah pasti ini bukanlah murni keinginan Abel ataupun nyonya Guston. Ada dalang dibalik ini semua, yang Abel duga adalah kakaknya.


Benar-benar rasanya Abel ingin segera pergi dari keadaan canggung ini. Hatinya saja belum sembuh, kenapa malah ditambah dengan beginian???


"Ehem, kita akan ke supermarket mana?" tanya Abel memulai topik pembicaraan. Ya, karena sekarang Abel yang menyetir mobil jadi Abel harus menanyakan tujuan mereka terlebih dahulu.


Ibunya yang duduk di kursi penumpang di samping Abel menoleh pada Abel. "Ke supermarket dekat sini." jawab nyonya Guston sebelum akhirnya mobil melaju meninggalkan kediaman Guston.


Dalam perjalanan pun, Abel dan ibunya saling diam dalam pikiran masing-masing. Sangat berbahaya memang kalau menyetir sambil memikirkan sesuatu yang dapat mengganggu fokusnya menyetir. Tapi Abel ingin tau, apa yang kakak pertamanya, laki-lakinya dan kakak satu-satunya itu lakukan sampai ia bisa berakhir bersama nyonya Guston.


"Awas saja kakak sialan! Akan aku balas perbuatan mu kali ini! Tinggal tunggu aku bertemu denganmu, pasti semua akan beres!"


.


.


.


.


.


Halo semuanya 🤗


Aku kembali up yaaa😊


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 😂


See you next part:)