The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Kekhawatiran hari ini



Sampai tengah hari, Abel terus melihat jam dinding yang semakin dekat dengan waktu makan siang. Abel menelan ludahnya karena gugup untuk bertemu Acarl lagi, karena jujur kalau hatinya kembali terbuka untuk Acarl.


Sejak kejadian semalam, Abel terus terngiang ucapan Acarl yang mengatakan kalau Acarl tidak mau Abel pergi lagi dari sisinya. Pelukan hangat khas dari pria itu, terus terasa di pinggang ramping Abel. Sudah sejak lama, Abel merindukan pelukan hangat itu. Sampai pada akhirnya Abel berusaha semaksimal mungkin untuk segera menutup hatinya agar tidak merasa rindu pada Acarl.


Tapi kejadian semalam benar-benar meruntuhkan tembok yang baru-baru ini Abel bangun. Yang biasanya Abel bisa menghadapi Acarl dengan kalimat datarnya, kini lidah Abel terasa kaku dan pikirannya bingung harus menanggapi Acarl seperti apa.


Meluruskan segala jalan pikirannya, Abel menarik napas dalam-dalam dan mempersiapkan diri untuk datang ke apartemen Acarl dengan bekal ditangannya.


Bantu aku ya Tuhan! Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu sekarang! ~batin Abel menjerit selama dalam perjalanan.


Gedung apartemen yang menjulang tinggi sudah terlihat didepan mata Abel, dan inilah saatnya Abel harus mempersiapkan diri agar bisa menghadapi Acarl.


Ceklek...


Suara pintu dengan pria pemilik apartemen itu muncul, menyambut kedatangan Abel yang kini berada di lorong apartemen. Refleks saat Acarl menatapnya, Abel langsung mengalihkan pandangannya dan mencari cara agar bisa segera terbebas dari sini.


"Kau datang lebih cepat dari pada perkiraanku." ucap Acarl mengawali pembicaraan setelah mereka berdua masuk kedalam apartemen.


"Saya hanya ingin anda makan dengan tepat waktu karena keadaan anda yang kurang baik." jawab Abel dengan lancar walaupun pandangannya masih tidak menatap Acarl.


Sembari menghidangkan makanan untuk Acarl, pikiran Abel berkecamuk untuk berdoa semoga Acarl tidak kembali menanyakan kejadian tadi malam. Sudah pasti badan Abel akan menegang kalau pertanyaan itu kembali terlontarkan dari mulut Acarl.


"Terimakasih kau sudah mau memperhatikanku. Tapi sepertinya aku salah karena tidak juga memperhatikanmu?" ujar Acarl yang disertai tanda tanya besar dan wajah yang ia miring-miringkan agar bisa melihat Abel yang semakin menunduk.


"Haha, anda terlalu baik hati untuk itu. Saya benar-benar baik-baik saja." sahut Abel cepat setelah merasakan perasaan dimana dirinya ditatap tajam oleh pria yang selalu berhasil mengetuk kembali hatinya.


"Tapi kau.."


"Silahkan dimakan tuan muda, saya mau ijin ke kamar mandi anda sebentar." sela Abel dengan cepat karena tau arah pembicaraan Acarl selanjutnya.


Di dalam kamar mandi juga, Abel langsung menarik napas panjaaaa~ang lagi agar dirinya bisa sedikit tenang dan bersiap menghadapi Acarl lagi. Baru kali ini dirinya merasakan menjadi kucing yang takut disangka mencuri ikan padahal tidak sama sekali.


Lumayan lama Abel didalam kamar mandi, sampai akhirnya dirinya memberanikan diri untuk keluar. Tapi....


Greb...


"Apa kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Acarl tepat didepan wajah Abel.


Nafas mint yang khas dengan Acarl tercium jelas di indera penciuman Abel, malah sekarang Abel membeku membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah benar-benar tembok sampai ke pondasi yang ia bangun juga ikut runtuh sekarang?


Sama dengan Abel, Acarl menerka-nerka kenapa dirinya malah menarik Abel ke dalam rengkuhan nya? Apakah memang benar kalau Acarl tidak bisa menjadi seperti yang Abel harapkan? Apakah akhirnya nanti Abel akan marah padanya? Ya, itu semua berada dipikiran Acarl sekarang.


Dua insan yang saling menatap satu sama lain itu terdiam cukup lama dalam posisi yang sama saja. Tidak ada dari mereka yang sadar lebih dulu, sampai akhirnya sebuah panggilan masuk di ponsel Abel yang membuat Abel tersadar lebih dulu.


Abel segera lepas dari Acarl dan mengangkat panggilan dari restauran, membuat Abel sungguh berterimakasih pada teman-temannya yang menyelamatkan dirinya sebelum terhanyut lebih dalam di mata biru emerald itu. Sedangkan Acarl yang menatap kepergian Abel, hanya bisa melepaskan napasnya sembari melihat kedua tangannya.


"Acarl! Kau benar-benar bodoh!" maki Acarl pada dirinya sendiri.


Sudah susah payah Acarl menahan diri untuk tidak menyentuh Abel terlebih dahulu, tapi kali ini malah Acarl kalah dengan tubuhnya yang tidak terkontrol. Walaupun pikirannya masih berjalan baik, tapi perasaan Acarl tidak begitu. Setiap melihat Abel, rasanya ingin sekali Acarl langsung memeluk sampai mengecup setiap inchi tubuh Abel. Rindu, hanya kata itu.


"Kalau sampai dia menjauh, apa aku bisa kembali mengejarnya?" tanya Acarl pada dirinya sendiri sembari menengadahkan kepalanya melihat langit-langit apartemen.


...****************...


Hosh..hosh..hosh...


Napas tersengal-sengal membawa Abel untuk duduk di bangku halte bus yang akan membawanya kembali ke restauran. Jantungnya masih berdebar padahal sudah berada jauh dari Acarl, karena Abel masih terbayang-bayang tatapan mata Acarl yang menatapnya dalam. Benar-benar hari yang berat untuk Abel lalui.


Bukankah sudah pasti kalau Abel menyukai itu, tapi di situasi seperti ini tidak memungkinkan untuknya mengatakan kalau dirinya menyukai Acarl lagi. Lebih baik Abel diam bukan? Siapa tau tadi Acarl melakukan itu karena tahu kalau Abel benar-benar menjauhinya karena terjadi sesuatu kemarin malam.


"Sadar Abel!! Sudah berapa bulan ini kamu mencoba melupakannya?!" gerutu Abel pada dirinya sendiri yang memang tidak bisa sinkron antara perasaan dan pikirannya.


Sampai bus datang, Abel memilih diam dan mencoba menghapus segala bayangan dari semalam dan pagi ini. Yah, walaupun kemungkinannya sangat sedikit tapi setidaknya Abel sudah mencobanya. Jangan sampai kejadian kali ini bisa membuat dirinya tidak fokus lagi pada kerjaannya.


Dua manusia berbeda tempat itu, memikirkan hal yang sama dalam waktu yang sama juga. Segala kekhawatiran yang mereka asumsikan menyerbu di benak masing-masing, mengacaukan segala rencana yang masing-masing dari mereka buat.


"APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!?" pekik keduanya menangisi segala yang terjadi pada mereka hari ini.