The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Obat terindah



"Kenapa kau meminum ini?"


Pertanyaan yang membuat Acarl membelalakkan matanya. Rasanya terkejut saat melihat botol obat yang berada ditangan Abel, sampai pada akhirnya Acarl hanya bisa mengambil napasnya dalam-dalam.


"Acarl, aku tau ini obat apa." ucap Abel lagi semakin membuat Acarl berpikir apakah harus terbongkar begitu saja hal yang ingin Acarl lupakan itu?


Sementara Abel yang melihat Acarl hanya menundukkan kepalanya, merasa tak tega dan disisi lain merasa bahwa dirinya terlalu ikut campur sekarang. Dengan menenangkan dirinya, Abel menatap lembut pada Acarl, berbeda dengan tatapannya tadi.


"Maafkan aku, sepertinya aku sudah kelewatan ikut campur urusan mu." ujar Abel yang kini meletakan botol obat yang tadi ada digenggamnya ke meja yang ada didepannya.


Mendengar kata-kata Abel, Acarl mendongakkan kepalanya seraya menggeleng bahwa ucapan yang dikatakan Abel tadi tidak benar. Karna faktanya, dirinya malah malu karena Abel bisa menemukan obat laknat itu yang sangat disayangkan masih disimpan olehnya.


"Kau tau itu obat apa kan? Kau ngga salah, aku yang salah masih menyimpan obat itu yang faktanya tidak berefek apapun padaku." ucap Acarl dengan senyum kecut menghiasi wajahnya.


Abel menatap Acarl dengan tatapan penuh tanya, kalau tidak berefek apapun kenapa Acarl harus meminumnya? Bahkan ini adalah resep dokter! Bagaimanapun juga kan seharusnya ada efek yang pasti kalau dokter yang menyarankan.


"Yah, seperti yang kau tau kalau itu adalah obat depresi. Kau membuatku malu karena aku harus mengakui kalau diriku pernah depresi ya? haha." lanjut Acarl dengan tawa kecil di akhirnya. Tawanya memang kecil, tapi makna dari tawa itu yang membuat Abel yakin pasti kalau obat yang ia temukan itu benar-benar memalukan bagi Acarl.


"Kalau ini resep dokter, kenapa harus malu? Aku hanya tanya kan kenapa kau bisa sampai meminum obat i..."


"Karena kau pergi."


Deg..


Tatapan Abel berubah, dari tatapan penuh tanya tadi menjadi tatapan terkejut karena mendengar kata-kata Acarl yang membawa dirinya.


"Memang aku pria paling payah ya? Kau pergi supaya kau bahagia, tapi disini aku malah depresi." kata perkata yang dipenuhi tawa kecil yang dilontarkan Acarl. Tawa penuh malu dan penyesalan akan kejadian di masa lalu.


"Tapi apa kau tau kalau resep dokter itu tidak berguna padaku? Karna faktanya obat yang terbaik untuk depresi ku adalah bertemu denganmu." lanjut Acarl dengan Abel yang menjadi pendengar setia. Mendengarkan setiap kata yang Acarl ucapkan, mencari inti dari jawaban yang Abel inginkan.


"Kau pergi, hidupku kacau. Alkohol sampai gila kerja aku lakukan demi bisa melupakanmu, tapi nyatanya semua berakhir dengan percuma. Kasihan sekretaris Cheiz saat itu pasti kesulitan menangani ku yang tiap malamnya harus meminum obat ini agar aku bisa tenang." ucap Acarl yang mulai bercerita awal mula obat itu bisa berada di kotak P3K yang berisikan obat-obatan penting atau dasar itu.


"Tapi nyatanya yang bisa membuatku tenang adalah bertemu denganmu, sampai akhirnya setelah urusan di luar negri saat itu selesai aku langsung terbang kesini dengan dalih mengurus cabang disini. Tapi nyatanya, aku datang untuk mencari obat yang selama ini aku cari."


Bagaimana tidak malu? Sekarang Abel mengetahui kalau sebenarnya Acarl bukanlah pria gagah seperti yang Abel kenal. Melainkan pria penge*ut yang sangat-sangat tidak LAKI! sama sekali.


Sementara Acarl berpikir begitu, berbeda dengan Abel yang sebenarnya memikirkan kesehatan Acarl selama dirinya tidak bersamanya. Karena yang Abel tau, Acarl lebih maju dalam hal bisnisnya. Abel hanya tau sebatas itu saja, dan mengira semua berjalan sesuai rencana yang ada. Yaitu dirinya dan juga Acarl memang harus berjalan di jalannya masing-masing. Tapi ternyata, bukan hanya dirinya yang merasa sakit tapi juga Acarl.


Perlahan, Abel menggenggam tangan Acarl yang sama berada di atas meja. Merasakan ada sesuatu yang menyentuh punggung tangannya, Acarl melihat tangannya yang digenggam oleh Abel. Kemudian beralih menatap Abel yang juga menatapnya dengan senyum menguatkan.


"Maaf," satu kata dari seorang Abelrta Gourich Guston, dan itu langsung membuat suasana yang semula tegang menjadi hangat.


"Maaf kalau aku melukaimu. Aku kira pilihanku akan membuatmu bahagia, tapi nyatanya kita berdua tidak merasakan apa itu kebahagiaan." ucap Abel membuat Acarl membelalakkan matanya. Apa ini artinya Abel akan kembali padanya?


"Yah, menjadi teman seperti ini juga tidak ada salahnya. Yang terpenting, kita masih sering bertemu bukan?" lanjut Abel yang langsung menghantam hati Acarl yang awalnya sudah terbang sangat tinggi.


"Hah?"


Mendengar pernyataan Abel, Acarl benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Abel. Ia kira, Abel akan membuka mata hatinya kembali dan mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman seperti yang Abel katakan ini. Tapi nyatanya, itu hanya perkiraannya saja:(


"Kenapa kaget begitu? Kan sekarang kita berteman, bukannya lebih baik daripada kita seperti tak saling kenal seperti kemarin?" tanya Abel membuat Acarl menepuk jidatnya.


"Hahaha, kau benar. Kita JAUH lebih dekat daripada sebelumnya ya?" balas Acarl dengan menekan kata jauh membuat Abel sedikit terperanjat.


Semua kembali seperti semula, tak ada lagi yang membahas masalah obat-obatan ini. Tapi yang pasti, percakapan mereka tadi membuat satu jantung berdetak sangat cepat dan terasa ingin lepas dari tempatnya. Dan jantung itu milik Abelrta Gourich Guston.


Acarl pun memilih untuk segera kembali ke kantor, membuat Abel bisa bebas tersenyum lebar yang ia tahan sejak tadi. Debaran jantungnya membuat Abel menjadi salah tingkah sendiri sembari mengingat-ingat perkataan Acarl yang mengatakan kalau Abel lah obat yang lebih ampuh daripada resep dokter.


Abel juga tidak bodoh untuk tidak menjalin hubungan serius dulu dengan Acarl, karena rencananya adalah mencari cara dulu agar dirinya bisa meyakinkan tuan besar Xelone agar Acarl bisa bersamanya tanpa ada rasa keterpaksaan diantaranya. Lebih enak kalau dirinya menjalin hubungan serius dengan keterbukaan bukan? Yah, itu lebih baik.


"Aku adalah obatnya? Hahaha sejak kapan gombalannya jadi seperti itu?" pekik Abel sambil tertawa khas orang kasmaran. Benar-benar terasa seperti masa pdkt anak SMP.


"Aku harap kamu bisa tau kalau waktu kita masih banyak untuk hubungan yang lebih serius. Tapi daripada itu, lebih baik kelarkan inti masalah dulu!" gumam Abel dengan mengepalkan kedua tangannya seperti siap untuk berperang melawan masalah yang menghalanginya untuk menua bersama Acarl.


"Kita buktikan Acarl!"