
Sudah hari ketiga dimana Abel menjadi asisten pribadi untuk tuan besar Xelone. Selama inipun, Abel tidak merasa bahwa tuan besar Xelone memiliki protes atau yang lainnya. Bahkan untuk berbicara saja sepertinya tuan besar Xelone sangat irit.
Tapi saat ini, Abel diajak untuk pergi ke taman yang ada di kediaman keluarga Xelone. Ini kali pertama untuk Abel datang ketempat ini, apalagi datang dengan tuan besar Xelone. Abel merasa sedikit aneh karena pria tua yang menganggapnya sebagai pelayan membawanya ke taman indah di kediamannya.
"Apakah suasana hati anda sedang bahagia sekarang? Seperti bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman ini." ucap Abel yang ikut berjalan di belakang tuan besar Xelone.
Tanpa balasan apapun dari tuan besar Xelone, Abel terus mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan tuan besar Xelone. Dan saat ini, fokus Abel adalah pada tatapan tuan besar Xelone yang mengarah pada bunga berwarna putih yang cantik diantara daun hijau disekelilingnya.
"Apa anda mau saya mengambilkan bunga itu untuk anda?" tawar Abel yang tiba-tiba saja membuat tuan besar Xelone menatap lurus pada Abel sekarang.
Sementara Abel yang ditatap sedemikian tajam, akhirnya mengalihkan pandangan menatap bunga yang sempat dilihat tuan besar Xelone tadi. Abel tidak tau kenapa pria tua disampingnya ini malah menatapnya, padahal niat Abel ingin menawarkan bantuan. Kalau seperti ini, Abel berpikir untuk diam saja karna lebih baik begitu untuk saat ini.
"Apa menjadi sifatmu tidak bisa diam?" pertanyaan tiba-tiba yang juga membuat Abel tiba-tiba terkejut. Padahal selama ini tuan besar Xelone hanya diam, tapi sekarang dirinya berbicara?
"Maaf? Maksudnya itu saya?" tanya Abel yang reflek karena terkejut. Dan tanpa mendapat balasan apapun dari tuan besar Xelone, Abel sudah tau bahwa jawabannya adalah iya.
Abel tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan tuan besar Xelone, karena menurut Abel pertanyaan itu mengingatkan Abel pada pria yang diawal pertemuan memiliki nada yang sama dengan tuan besar Xelone. Nada datarnya dengan suara berat, benar-benar membuat Abel sadar kalau mereka itu nyatanya memang ayah dan anak.
"Sebelumnya maaf dan terimakasih karena sudah bertanya. Jadi jawaban saya adalah benar. Saya suka berbicara. Anda perhatian sekali!!" balas Abel membuat tuan besar Xelone menghela napasnya.
Tuan besar Xelone kembali diam, namun kini dirinya berdiri dan menghampiri bunga yang sejak tadi ia tatap. Bunga itu terlihat sangat mencolok dari banyaknya daun hijau yang mengelilinginya. Entah apa yang ada dipikiran tuan besar Xelone, tapi sekarang Abel melihat raut wajah baru dari seorang pria tua yang biasanya bersikap tegas.
...****************...
Kali ini Abel bertemu dengan Acarl, di salah satu mall yang dekat dengan kantor Acarl. Hari ini Abel sudah pasti ijin ke tuan besar Xelone, karena kebetulan ada kegiatan bermain golf yang akan dilakukan tuan besar Xelone. Jadi hari ini, Abel bisa menemui Acarl dengan tenang.
"Udah berapa lama kita ngga ketemu?" tanya Acarl seraya memainkan pipi Abel saking gemasnya.
"Sakit Acarl!!" rintih Abel karena Acarl memainkan pipinya seperti adonan donat.
Acarl tertawa melihat reaksi Abel. Dirinya benar-benar rindu dengan perempuan yang tak lain adalah kekasihnya. Walaupun sekarang mereka ditatap banyak orang, tapi Acarl tidak peduli karena dirinya benar-benar merindukan sosok Abel yang lucu.
"Aku mau makan corndog Acarl!" kesal Abel karena kini Abel sedang makan corndog dan harus tertunda karena Acarl yang gemas dengan dirinya.
"Kok bisa kamu ngajak aku ketemuan sekarang? Bukannya kamu harusnya disamping pria tua itu?" tanya Acarl yang kini sudah melepaskan tangannya dari pipi Abel namun beralih menggenggam tangan Abel dengan hangatnya.
Mereka berdua berjalan mengelilingi mall berdua. Karena mereka terkenal, sudah pasti banyak yang menatap Abel dan Acarl. Sudah tidak diragukan ada yang meminta foto dengan mereka berdua, tapi sekarang Abel akan membawa Acarl ke tempat dimana mereka akan berdua saja di tempat itu. Di dalam ruangan karaoke, Abel dan Acarl berdua didalam ruangan yang kedap suara.
"Mau lagu apa?" tanya Acarl sembari menatap Abel yang juga menatap Acarl seperti maju mundur ingin menanyakan sesuatu.
"Acarl, aku mau tanya sesuatu." ucap Abel akhirnya setelah dari tadi dirinya mencari waktu untuk menanyakan hal mengganjal dalam diri Abel.
Abel menyadarkan kepalanya di pundak Acarl, menikmati pundak tegap dari kekasihnya. "Aku mau tanya tentang ibumu. Seperti hal-hal favorit apa yang ibumu sukai." ucap Abel yang kini membuat kepala Acarl mulai menangkap kemungkinan hal yang mungkin terjadi di kediaman keluarga Xelone.
"Okey jadi sekarang kita membahas ibuku kan? Baiklah aku akan ceritakan tentang ibuku." ucap Acarl langsung membuat binar di wajah Abel menyala.
"Ibuku dan ayahku menikah karena bisnis. Awalnya mereka berdua saling mencintai sampai aku lahir, karena ayahku memanfaatkan perasaan ibuku untuk mendapatkan anak laki-laki. Karena ibuku yang sebenarnya punya hak mengambil alih perusahaan, tapi karena keegoisan ayahku jadi dia yang memegangnya."
"Saat Clara lahir, aku tidak sengaja menguping kalau ayahku hanya memanfaatkan ibuku. Sejak saat itu, aku mulai menjauh darinya. Aku mendukung ibuku, jadi sejak itu aku mulai memperhatikan apapun yang ibuku sukai. Dia menyukai makanan yang sehat, warna kesukaannya putih dan hijau, minuman kesukaannya teh hijau, lalu bunga kesukaannya itu bunga Lily putih kemu-"
"Tunggu sebentar! Ibumu suka bunga Lily putih?" tanya Abel yang tiba-tiba menyela cerita dari Acarl. Acarl mengangguk yang membuat Abel tersenyum lebar.
"I think I'm starting to understand now! jadi......." ucap Abel yang diakhirnya dia mulai berbisik pada Acarl.
Dari sini Abel mulai memahami satu hal, dan itu kemungkinan besar Abel harus turun tangan. Setidaknya Abel bisa tau kalau pintu menuju restunya sudah didepan mata. Tidak salah Abel memberi waktunya untuk hal-hal ini.
"Jadi aku butuh bantuanmu." ucap Abel yang ditanggapi Acarl dengan penuh tanya. Karena menurut Acarl, itu bukan hal mudah untuk Abel lakukan atau dirinya lakukan.
"Percaya sama aku." lanjut Abel sembari menggenggam tangan Acarl yang kemudian membuat Acarl tersenyum sembari mencium punggung tangan Abel.
"Aku selalu percaya sama kamu."
.......
.......
.......
.......
.......
...Hai semua ☺️...
...Maafin aku yang baru bisa up🥲...
...Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭...
...See you next part:)...