The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Utarakan!



Esok hari yang mendung, tapi harus diingat bahwa ada tugas negara yang harus dilakukan. Membuat seorang wanita bernama Abelrta Gourich Guston, harus segera mempersiapkan diri seperti hari biasanya. Setelah kemarin dirinya tidak datang tanpa ijin, sekarang Abel harus mempersiapkan diri untuk minta maaf karena kesalahannya kemarin.


Karena di Perancis ini Abel tidak memiliki kendaraan, akhirnya Abel memilih untuk naik taksi saja karena ingin segera sampai di kantor milik seorang pengusaha muda yang mulai melejit namanya.


"Huft, untung aja belum sampe jam delapan." gumam Abel seraya melihat jam tangan miliknya.


Disaat dimana Abel menunggu lift untuk menuju lantai dimana ruang CEO berada, tangannya dicekal dan ditarik paksa oleh seorang yang sangat Abel kenal sebelumnya. Dan orang itu..


"Sekretaris Cheiz, ada apa?" tanya Abel pada seorang pria yang menariknya tadi.


"Kalau saya berbicara disini sekarang, sepertinya akan ada masalah besar nantinya. Apakah saya bisa meminta waktu nona Abel saat jam setelah makan siang tuan Acarl nanti?" ujar dan pinta Cheiz pada Abel.


Tanpa bertanya lagi, Abel hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah hafal betul kalau seperti ini, pasti ada hal penting yang akan Cheiz katakan padanya. Dan pasti sifatnya sangatlah rahasia, jadi tidak mungkin Abel akan bertanya lagi seperti orang bodoh.


"Baiklah, akan aku usahakan."


"Terimakasih, nona." ujar Cheiz lalu meninggalkan Abel agar wanita itu segera menjalankan tugasnya.


Dan benar saja sesampainya dirinya di ruangan CEO yang sudah biasa ia pijak ini, atmosfer yang sangat pekat dengan dingin menyerbu sampai ke tulang Abel.


Atmosfer yang sangat familiar.~batin Abel.


"Tuan, sarapan anda sudah siap."ujar Abel setelah menata kotak makan yang ia bawa tadi.


Tidak ada respon dari Acarl sama sekali, bahkan makanan yang ia bawa tidak dilirik juga oleh Acarl. Pria itu hanya menatap layar komputer yang ada dihadapannya, sembari sesekali melihat kertas yang ada ditangannya.


Abel yang sudah tau kalau akan seperti ini, masih berdiri di tempatnya melihat-lihat sekeliling untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Acarl agar menyentuh makanan yang ia siapkan.


Lima belas menit. Yap, tidak salah lagi sudah lima belas menit Abel berdiri di tempatnya dan menatap sedih makanannya yang belum di lirik sama sekali oleh Acarl. Ingin sekali dalam hatinya untuk segera meminta maaf lalu menyuruh Acarl agar sarapan. Tapi, sudahlah pasti kalian juga tau.


Kaki yang biasanya Abel gunakan untuk mondar-mandir, kini terasa kaku dan pegal karena hanya diam ditempatnya. Ditambah kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, membuat kulitnya merinding karena dingin AC di ruangan ini.


Dan sepersekian detik, tenggorokan mulai kering dan....


"Uhuk uhuk, uhuk uhuk..."


Sudah, Abel sudah tidak kuat lagi menahannya. Akhirnya suara batuk mulai terdengar di ruangan Acarl. Dan membuat Acarl Xelone berdiri, lalu melepaskan jas yang ia pakai agar ia sematkan di kedua pundak Abel.


"Apa begitu susah untuk meminta tolong padaku?"ucap Acarl sebelum dirinya kembali duduk di tempatnya.


Sedangkan Abel, kini dirinya terpaku diam ditempat seraya menstabilkan batuk nya. Entah apa yang terjadi dalam detik yang singkat itu, tapi perkataan Acarl padanya mampu membuat Abel sedikit mendidih. Tolong? Apakah Abel semengenaskan itu? Tapi sekarang yang bisa keluar dari mulut Abel hanyalah...


"Sudah berapa lama kau menyimpulkan bahwa aku butuh belas kasihanmu?" tanya Abel dengan air mata yang mulai membendung di pelupuk matanya.


"Harusnya aku sadar dari awal, kenapa juga aku harus menempel padamu? Pasti kau juga merasa risih dengan kehadiranku." ujar Abel lagi yang mampu membuat Acarl ingin segera menyanggah apapun yang Abel ucapkan sekarang.


Buliran bening mengalir di pipi Abel, benar kalau sekarang dirinya kecewa dengan Acarl. Tapi disisi lain, dirinya lega karena akhirnya jawaban atas hubungannya dan Acarl terjawab. Terjawab dengan begitu menyakitkan, tapi sangat membantu Abel untuk melangkah ke depan.


"Baiklah, sepertinya hanya aku saja yang benar-benar tulus padamu. Dengan segala hormat, kepada Tuan Muda Xelone saya mengucapkan terimakasih banyak pada anda. Nyawa saya, adalah nyawa kedua anda. Anda sudah banyak mengorbankan nyawa demi saya, jadi mari kita selesaikan kontrak tertulis ini untuk menebus hutang budi saya selama ini." sekali lagi, ucapan yang di lontarkan Abel.


Acarl yang sudah mati-matian menahan amarahnya, mendadak hilang kendali dan bangun lalu memojokkan Abel ke dinding yang berada di belakang Abel. Tentu saja dengan napas yang ngos-ngosan karena semua perkataan Abel yang mampu membuat Acarl secara tidak langsung, terpancing emosinya.


"Sudah ku katakan berapa kali, kalau hanya kau lah yang bisa menjadi masa depanku. Tapi sepertinya justru aku yang salah menganggapmu begitu, ternyata bukanlah aku yang bisa menjadi tempatmu bersandar." ucap Acarl tepat didepan wajah Abel yang menatap Acarl dengan penuh tanya dan air mata yang masih menempel di pipinya.


"Apa maksudmu? Bukankah..."


Cupp......


Acarl yang sudah tak tahan lagi, langsung menyerbu bibir manis Abel dan membawa Abel kearah dimana dirinya benar-benar ingin menyatakan bahwa dirinya juga tulus kepada Abel.


"Apa kau tau berapa orang yang sudah pernah mencium bibirku?" tanya Acarl setelah mencium bibir Abel dengan dalam.


Abel hanya bisa diam dan menatap Acarl dengan penuh tanya. Sedangkan Acarl mengeluarkan smirk nya seraya jarinya membantu Abel untuk lebih bisa mendongak agar bisa menatap Acarl lebih dalam.


"Satu, dan orang itu adalah kau. Kau yang pertama dan akan menjadi selamanya yang memiliki bibir ini." ujar Acarl lagi sembari menarik tangan Abel agar menyentuh bibir yang ia maksud, yaitu bibir dari seorang Acarl Xelone.


"Apa kau tau seberapa sakit rasanya aku melihatmu mengabaikan ku? Dan ditambah lagi kau malah meninggalkanku tanpa alasan yang aku tau." lanjut Acarl kembali membuat Abel menetes, detik itu juga memang menjadi detik dimana Abel dan Acarl berada dalam keadaan saling mengutarakan pendapatnya.


"Dan apa tadi, nyawa? Nyawa mu itu adalah nyawa yang berharga untukku, kalau kau mati aku juga demikian. Jangan pernah berkata bahwa kau berutang budi padaku, aku menyelamatkan mu karena kau memang sebegitu berharganya untukku." ucap Acarl dengan lembut, berbeda dengan sebelumnya yang berbicara dengan nada yang tinggi.


Ruangan yang sebelumnya terasa dingin dan sunyi, kini berubah menjadi penuh dengan tangisan Abel. Berbeda hal nya dengan tujuan Abel yang ingin berpisah dengan Acarl, justru sekarang Acarl membuat Abel tidak ingin lagi berpisah dengannya.


"Jika boleh jujur, aku juga tidak ingin situasi kita seperti ini." ucap Abel lirih sebelum akhirnya dirinya jatuh pingsan dan dengan cepat Acarl menangkapnya.


.


.


.


.


.