
Terasa kehangatan dan canda tawa yang sempat menjadi mimpi, kini terasa kenyataannya. Ayah, ibu, Vano dan Abel berada di satu meja makan dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya.
"Kalau makanannya enak terus seperti ini, pasti ibu bisa gemuk!" ujar Vano yang langsung disambut tawa dari Abel dan juga pukulan dari ibunya.
Ayah yang dulu terlihat harus mengendalikan diri, kini terlihat lebih bebas dan tertawa bersama-sama di ruang makan ini. Abel akui ini sangat menyenangkan, apalagi saat sang ibu dengan pengertian memberikan kasih sayang juga pada ayah. Walaupun sangat sederhana, tapi usapan dari tangan ibu yang mengusap dagu ayah yang ada nasinya sudah membuat hati Abel menghangat.
Dua hari yang lalu, ayahnya sempat bercerita pada Abel kalau ibunya menitikan air mata dihadapan ayahnya. Mengeluarkan unek-unek yang sama seperti saat bertemu dengan Abel, dan Abel akui kalau ibunya benar-benar bukan orang yang jahat seperti apa yang orang lain katakan. Hanya saja, dendam yang membuat hilangnya jati diri itulah penyebabnya.
Semua keadaan benar-benar normal seperti apa yang Abel inginkan. Bahkan, ini diluar ekspektasinya juga. Sungguh Abel hanya berdoa semoga saja dengan keputusannya meninggalkan Acarl, maka tidak akan ada sesuatu yang menimpa dirinya lagi. Tapi kini, malah digantikan dengan ibunya yang tiba-tiba mengakui kesalahannya dan berganti menjadi seorang ibu sungguhan untuk Abel dan keluarganya.
......................
"Kerjakan semuanya dengan tuntas! Segera lakukan dan jangan buang waktu!"
"Baik tuan, sesuai dengan yang tuan muda harapkan. Pekerjaan akan selesai dengan cepat melebihi target awal kita."
...----------------...
"Ibu tidak menyangka kalau kamu akan pintar memasak." ujar nyonya Guston yang sedang berduaan dengan putrinya di taman mansion keluarga Guston.
"Apa ibu akan meremehkan aku?" balas Abel membuat nyonya Guston tertawa kecil.
Yah, anggap saja sekarang Abel dan ibunya sedang berkumpul cantik ala ibu dan anak sekarang ini. Karena teh cherry bloosom yang sempat Abel beli kemarin, ia seduh untuk menikmati hawa sore hari yang menenangkan disini.
Abel juga menceritakan kisahnya yang sangat membuatnya sedih bersama dengan Acarl. Abel bercerita bahwa sekarang hubungannya sudah putus dan mungkin akan sulit untuk menyambungnya lagi. Dan tentu saja itu membuat nyonya Guston murung, karena dirinya juga terlibat dalam masalah itu.
"Bagaimanapun juga, mungkin dia bukan orang yang akan bersanding denganku." ujar Abel mengakhiri cerita sedihnya.
Nyonya Guston yang melihat putrinya tersenyum padahal hatinya sakit, langsung menyeruput teh nya. Entah harus bagaimana dia menanggapi anaknya ini, karena dirinya dulu juga tidak peduli dengan Abel dan Acarl yang mencari restu darinya. Bahkan nyonya Guston juga terkejut mendengar kalau Abel sempat diculik dan ditahan di negara sebrang.
"Ibu benar-benar sangat kacau ya. Kamu besar sendiri seperti ini, yang harusnya ibu siap mendengarkan ceritamu tapi ibu malah tidak peduli denganmu." ujar nyonya Guston membuat Abel langsung menolehkan kepalanya ke nyonya Guston yang juga menatapnya.
"Sudah sepantasnya kalau kamu marah besar pada ibu." lanjut nyonya Guston yang makin membuat suasana semakin mendung.
"A-aku bercerita bukan untuk menyalahkan ibu! Aku bercerita karena aku ingin ibu yang sekarang ini bisa menjadi temanku, bisa menjadi seorang ibu yang ada untukku. Karena aku masih memerlukan ibu untuk melangkahkan kakiku kedepannya." balas Abel sembari tersenyum manis pada nyonya Guston.
Tak habis pikir dengan jalan pikiran Abel, dalam lubuk hati nyonya Guston benar-benar bersyukur karena Abel masih mau memaafkannya dan malah mengajaknya berdamai dengan menjadikannya seorang ibu untuknya.
"Kamu benar! Ibu kan ibumu, pasti ibu akan menjadi teman atau sahabat yang akan ada untuk putri ibu yang cantik ini." ujar nyonya Guston yang akhirnya mengakhiri mendung di atas Abel dan nyonya Guston berada.
•••••••••••
Semua keadaan benar-benar normal. Sampai Abel kembali bekerja di restauran, dan terkadang menghabiskan waktunya untuk shopping bersama ibunya. Sementara ayah dan kakaknya, harus kembali menata perusahaan yang kini bergerak lebih maju dibanding sebelumnya.
Keadaan restauran sangat damai, dan rencana Abel juga akan membuka cabang di negara lain yang membuatnya harus pergi ke negara yang akan ia tempatkan bisnisnya.
"Bukankah harusnya aku yang ikut kesana?" protes Dani saat Abel hanya mengajak Hera untuk mengurus pembukaan restauran cabang keduanya ini.
Sementara yang lain, tertawa melihat Hera dan Dani yang tak pernah selesai dengan aksi bertengkarnya. Padahal keduanya tidak saling mengenal sebelumnya, tapi mereka malah terlihat seperti sudah lama mengenal karena pertengkaran yang mereka lakukan setiap harinya.
"Dani, aku butuh kamu disini. Kan aku juga membutuhkan wakil untuk menjaga restauran ini selama aku pergi ke luar negri. Karena kamu yang sudah lama bekerja disini, pasti tau lah dengan prosedur yang biasa aku gunakan. Aku percayakan semua padamu." ujar Abel menengahi pertengkaran Hera dan Dani.
"Noh! Dengerin!" sulut Hera pada Dani. Tentu saja Dani membalasnya dengan berdecih pada Hera.
"Ah baiklah, yang terpenting restauran berjalan lancar. Kalau semua beres, pasti kita juga yang akan merasakan enaknya." balas Dani yang membuat Abel tersenyum padanya. Yah setidaknya, Abel memiliki teman-teman yang bisa diajak berjuang bersama sekarang.
"Baiklah, kalau begitu aku bisa bersiap-siap sekarang." ujar Abel seraya pamit akan pulang untuk mempersiapkan barang-barangnya.
Sampai dirumahnya, tentu saja Abel disambut gembira dan sedih secara bersamaan oleh keluarganya. Yang pertama mereka bahagia karena bisnis Abel berjalan lancar, tapi disisi lain mereka sedih akan ditinggal Abel padahal hanya sementara saja.
"Ibu nanti jalan-jalan sama siapa? ayahmu aja sibuk dengan kertas ramping di mejanya." ujar nyonya Guston dengan wajah ditekuk tanda dia sedang sedih.
"Apa ibu nggak ada niatan buat bikin ayah lebih cinta dengan ibu yang masih cantik ini?" balas Abel dengan balik bertanya pada nyonya Guston. Tawa keduanya, membuat tuan Guston mendadak bingung dengan tawa kedua perempuan dihadapannya.
"Sudah pasti ibu yang menang,"
"Aku harap begitu!"
Dan selesailah permasalahan kedua perempuan itu, sampai akhirnya Abel memutuskan akan berangkat ke bandara dan bertemu dengan Hera di bandara langsung.
Pengumuman penerbangannya sudah terdengar, tanda bahwa kaki Abel harus segera melangkah agar tidak ketinggalan pesawat. Dan ini lah langkah yang akan Abel tempuh, menjadi wanita karir yang cantik dan kompeten. Dan jangan lupa, masih muda!
Pesawat sudah mengudara, tanda bahwa tanah kelahiran Abel sudah semakin menjauh. Abel menghela nafas, membayangkan seberapa bangga dirinya terhadap dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Halo hai semua 😂
Aku comeback 🤭
Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭
Dukung wajib 😂
See you next part:)