
Sudah berjalan tiga hari untuk Abel melakukan aktivitas mengantarkan makanan untuk Acarl. Berarti kurang lima puluh tujuh hari lagi dirinya terbebas dari Acarl, dan juga dirinya bisa pulang ke negaranya dengan harapan tidak bertemu Acarl lagi.
Makan malam hari ini, berbeda dengan makan malam yang kemarin-kemarin. Kali ini Acarl lah yang datang ke restauran Abel dan meminta Abel untuk melayaninya dengan sepenuh hati memberi perhatian khusus padanya.
Yah, sudah pasti kalau Abel merasa jengkel dengan itu! Tapi kertas yang sudah ia tandatangani itu membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan begini Abel mau tidak mau harus melakukan apa yang Acarl perintahkan kepadanya.
Abel segera melihat gudang bahan makanan dan juga sayuran-sayuran yang masih bisa ia masak hari ini. Selama dua tahun lebih bersama Acarl, cukup membuat Abel paham dengan kesukaan dan yang tidak disukai Acarl. Dari makanan, sampai kebiasaan pria itu masih tertanam di memori Abel.
"Hari ini hanya ada beberapa sayuran yang ada, mana sudah kalau mau beli sayuran!" gumam Abel seraya menatap bahan-bahan masakan didepannya.
Restauran Abel rencana akan tutup lebih awal hari ini, karena entah kenapa target hari ini sudah mencapai hasil yang maksimal. Atau karena ini malam minggu? Jadi banyak orang-orang yang datang ke restauran nya untuk kumpul bersama keluarga, atau juga teman dan pasangannya.
Dan tersisa Abel di restauran ini sendiri menunggu satu manusia yang tidak ia nantikan tapi harus ia tunggu. Acarl Xelone, nama pria yang setiap hari selalu mengganggu pikiran Abel. Usaha apalagi yang harus Abel jalani untuk menghindar dari pria itu, kenapa ia selalu saja hadir?
Tak terasa, orang yang memenuhi pikiran Abel itu datang dengan dasi yang tak beraturan dan wajah kusut terlihat raut lelah dari yang Abel lihat dari wajah pria itu. Tanpa mengatakan apapun, Abel hanya melirik pria yang mulai berjalan mendekat kearahnya. Dan....
Alkohol? ~batin Abel.
Reflek, Abel langsung menengadahkan kepalanya menatap Acarl yang berada didepannya.
Wajah kusut dan acak-acakan mampu membuat Abel benar-benar yakin bahwa pria didepannya ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bekerja langsung dengan bertemu banyak orang, membuat Abel tau apa saja ciri orang dan tampilan orang dalam berbagai keadaan. Tapi sekarang ini?
"Tuan Xelone? Apa anda baik-baik saja?" tanya Abel pelan sampai mata Acarl menatap lurus kedalam mata Abel.
"Kalau saja kau tidak pergi, aku pasti baik-baik saja." balas Acarl dengan senyum palsu yang sangat kentara. Tentu balasan Acarl kali ini menyentil hati Abel, tapi Abel tak mau ambil pusing soal itu.
"Anda sedang mabuk, sebaiknya anda segera duduk dan saya akan menyiapkan minuman pereda mabuk sebentar." ujar Abel seraya menggiring Acarl agar duduk di salah satu tempat duduk yang nyaman dan lebar.
Abel yang berniat untuk pergi membuat minuman hangat, berhenti saat pinggangnya dilingkari tangan kekar yang memeluknya erat dari belakang. Punggungnya juga terasa berat karena sebuah kepala menempel tepat di belakang punggungnya.
"Aku tidak butuh minuman pereda mabuk seperti itu." ujar Acarl si pelaku yang memeluk Abel dari belakang.
Sekarang posisinya Abel benar-benar tidak tau harus bagaimana, disatu sisi baru kali ini Abel melihat Acarl yang seperti ini. Tapi disisi lain, Abel ingin mengabaikan Acarl karena tugas Abel hanya memasakkan Acarl selama dua bulan ini saja.
"Tuan, anda harus melepaskan tangan anda dari saya." ujar Abel.
"Lalu membiarkanmu pergi lagi dariku?" sahut Acarl dengan cepat yang langsung mengena di hati Abel.
Ya, mendadak Abel merasa lemas. Sudah beberapa bulan ini Abel bisa hidup tanpa Acarl, tapi sekarang dan di detik ini Abel merasakan hatinya kembali berkata bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa Acarl.
Pria yang terlihat datar akhir-akhir ini, ternyata hanya tipuan. Kata orang kan kalau ucapan orang mabuk adalah ucapan yang sejujur-jujurnya.
"Apa anda akan terus memeluk saya seperti ini?" tanya Abel lirih namun sudah pasti Acarl akan mendengarnya karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Hm." jawab Acarl sembari menganggukkan kepalanya.
Lama Abel memikirkan keputusannya sekarang, sampai akhirnya punggungnya terasa berat ditambah suara dengkuran halus membuat Abel harus bersabar lagi. Pria yang memeluknya ini, tertidur dengan pulas di belakangnya. Dengan begitu, Abel hanya bisa menghela napas menanggapi sifat Acarl yang baru ia ketahui sekarang.
Segera Abel mengambil ponsel Acarl dan menancapkan jari telunjuk pria itu agar bisa membuka ponsel yang di kunci menggunakan sidik jari pemiliknya. Setelah itu Abel mencari ikon telepon dan mencari kontak seseorang yang bisa membantunya saat ini.
"Sekretaris Cheiz..."
...----------------...
Pagi hari yang seperti biasa, tapi berbeda rasa saat terbangun. Kalau biasanya dirinya akan bangun semangat, kali ini dirinya bangun dengan kepala yang berat dan pusing. Di kamar yang tak asing untuknya, dirinya melihat jam dan jendela yang sudah memancarkan sinar matahari.
Yup, orang itu adalah Acarl. Tapi tunggu! Kamar? Pagi hari? Bukannya kemarin dirinya berada di restauran Abel? Kenapa sekarang dirinya di kamarnya sendiri?
Tak lama, pintu kamar Acarl terbuka. Wajah cantik wanita yang sangat familiar itu muncul seraya membawa nampan berisi semangkuk krim sup dan chamomille tea.
"Semalam anda terlalu mabuk, jadi saya memanggil sekretaris Cheiz untuk menjemput anda." ucap Abel saat dirinya melihat wajah penuh tanya dari Acarl.
"Terimakasih," balas Acarl dengan memperhatikan setiap gerak-gerik Abel.
Tapi satu hal yang Acarl lihat dari Abel sekarang. Abel yang biasanya bisa menatap datar saat dirinya makan, mendadak menjadi pendiam serta mengalihkan pandangannya. Tentu saja itu membuat fokus Acarl langsung mengarah pada apa yang terjadi tadi malam!
"Apa aku melakukan sesuatu padamu semalam?" tanya Acarl dengan lancar, berbeda dengan Abel yang sekarang merasakan tancapan benda tajam di dadanya.
Apa segitu terlihatnya kalau sekarang aku sedang menghindarinya? ~batin Abel bertanya.
"Ti-tidak ada tuan muda, i-ini pertama kalinya saya masuk ke kamar anda. Apakah saya menganggu sarapan anda?" balas serta tanya Abel balik. Beruntung Abel bisa segera mencari alasan dengan cepat, walaupun dirinya sedikit tergagap.
Sedangkan Acarl yang ingin bertanya lagi, ia urungkan niatnya saat melihat pandangan Abel mengarah ke bawah. Acarl menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Abel, walaupun dalam hati dirinya berteriak IYA.
"Jika terjadi sesuatu, katakan saja padaku. Apapun itu, aku harap kau bisa memaklumi karena posisiku sedang mabuk." ujar Acarl sembari mengarahkan sendok ke mulutnya.
"Ba-baik." jawab Abel singkat dan kesunyian melanda sampai Acarl menghabiskan sarapannya.
Karena ini hari minggu, membuat Acarl yang sudah menghabiskan sarapannya langsung kembali menyenderkan tubuhnya agar sakit kepalanya bisa segera ringan. Beruntunglah ini hari libur, jadi dirinya tidak perlu khawatir untuk masalah kantor.
Berbeda dengan Abel, yang hari minggu adalah hari tersibuk untuknya. Melihat Acarl yang sudah selesai makan, berarti tugas Abel juga sudah selesai. Sudah pasti Abel akan pamit untuk bekerja.
Tapi belum juga Abel pamit, suara Acarl mengurungkan niat Abel untuk segera pergi dari mansion Acarl. "Kau yakin kalau semalam aku tidak berbuat apa-apa?" tanya Acarl sekali lagi untuk lebih meyakinkan diri.
"Ti-tidak ada tuan muda, saya hanya lelah saja. Jangan cemaskan saya." ucap Abel disambung pamit untuk segera ke restauran nya.
Tentunya itu menjadi pertanyaan besar bagi Acarl, tapi Acarl yakin suatu saat semua akan terjawab.