
Apa sekarang waktunya untuk lagu peperangan dimulai? Karena sekarang ada dua orang dengan tatapan mata yang sama-sama tajam saling berhadapan. Wajah keduanya sama-sama tidak berekspresi, bahkan terkesan sama-sama datar seakan sedikit tidak tertarik untuk berhadapan.
Ya, dua orang itu adalah anak perempuan keluarga Guston dengan Tuan besar keluarga Xelone. Bagaimana? Apakah menarik jika ada perseteruan diantara keduanya? Tapi Abel berusaha kuat sekarang demi melancarkan rencananya. Abel juga tidak memberitahu Acarl akan bertemu orang yang pernah ia lawan.
Sebuah cafe kopi menjadi saksi Abel bahwa hari ini, Abel akan mengibarkan bendera perang untuk mencapai tujuan yang ia harapkan. Dengan secangkir kopi cappucino dan secangkir teh chamomile, Abel akan memulai aksinya dengan cara damai dengan Tuan Xelone.
"Terimakasih anda sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya." ucap Abel dengan senyumannya membuka percakapan.
Tanpa menjawab, Tuan Xelone hanya menyeruput secangkir teh chamomile nya. Abel mengerti situasinya sekarang, hanya Abel yang bisa membicarakan ini dan mengikis keegoisan Tuan Xelone. Persiapan Abel sudah matang, maka dari itu Abel sudah berani untuk menghadapi segalanya sekarang. Apapun yang terjadi, Abel akan terus berusaha dengan damai dan baik.
"Bagaimana kabar anda hari ini? Saya harap anda sehat selalu." Lanjut Abel dengan senyuman yang masih melekat dengan manisnya.
"Langsung pada intinya, aku datang bukan untuk mengobrol." akhirnya Tuan besar Xelone menjawab Abel walaupun tanpa senyuman.
Abel kemudian mengambil berkas yang sudah ia bawa dari tadi dan ia hadapkan pada Tuan besar Xelone. Berkas yang terlihat seperti surat perjanjian itu, memuat pihak A dan pihak B yang tak lain adalah Abel dan Tuan besar Xelone sendiri. Belum selesai sampai situ, Abel juga membawa materai yang dimana akan ia tempelkan jika Tuan besar Xelone menyetujui apa saja yang ada di dalam berkas itu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Tuan besar Xelone yang langsung mendapatkan senyuman lebih lebar lagi dari Abel. Abel merasa Tuan besar Xelone mulai tertarik setelah membaca judul yang ia berikan di berkas itu, tapi bagaimanapun itu rencana Abel bukan hanya sampai disini.
"Seperti yang anda sudah baca, saya mengajukan perjanjian dengan anda. Pihak B sebagai anda sendiri dan pihak A adalah saya. Seperti judul yang tertera, perjanjian ini sudah pasti akan menguntungkan anda jika anda yang menang. Tapi jika saya yang menang, kemungkinan besar keuntungan ada ditangan kita berdua." ucap Abel membacakan tawaran yang pastinya akan menggiurkan Tuan besar Xelone.
Tuan besar Xelone masih membaca lagi dengan saksama isi dari berkas yang Abel bawa. Sedikit terkejut karena apa yang dikatakan Abel benar, bagaimana bisa wanita didepannya ini memberi tawaran yang lumayan tidak menguntungkan untuknya sendiri. Tawaran yang Abel berikan padanya bukanlah tawaran kecil, tapi memberikan hak akuisisi restauran Abel dengan Abel yang masih menjadi chefnya bukan hal yang kecil.
"Saya harap anda melihat semua dengan benar, jika anda butuh waktu berpikir saya akan berikan waktu dua hari lagi." ucap Abel sembari meraih cangkir kopi didepannya.
"Apa kau tidak pernah diajari ayahmu berbisnis? Ini penawaran yang konyol!" ucap Tuan besar Xelone yang tidak paham dengan jalan pikir Abel. Setiap orang menginginkan keuntungan, tapi Abel hanya untung saat dirinya menyetujui berkas didepannya ini dan menyatakan kalah tapi dirinya juga turut untung.
"Penawaran saya tidak pernah salah, karena dengan begitu anda pasti tertarik pada penawaran yang saya ajukan." jawab Abel dengan santai dengan senyumannya.
Dan memang benar, Tuan besar Xelone tertarik dengan penawaran Abel. Walaupun ada sedikit kecurigaan karena mungkin saja ada taktik yang akan Abel gunakan dan bisa jadi menjebak dirinya. Belum sampai situ saja, Tuan besar Xelone sedikit tidak yakin akankah Abel akan bersungguh-sungguh dengan semua ini?
"Orang tua saya memang tidak menuntut saya untuk bisa berbisnis, tapi saya mulai belajar karena mungkin saja akan berguna untuk diri saya sendiri. Wajar jika anda masih meragukan saya, tapi keputusan ini sudah saya pikirkan matang-matang." ucap Abel yang mengerti kegundahan hati Tuan besar Xelone. Tuan besar Xelone yang notabene pandai berbisnis, pasti akan teliti dengan apa pun yang Abel katakan hari ini.
"Bagaimana kalau kau kalah?"
"Saya belum mencobanya, tapi saya yakin dalam waktu yang ditentukan akan menghasilkan suatu keuntungan untuk saya." jawab Abel tanpa basa-basi lagi, bagaimanapun juga Abel sudah berusaha bukan?
Setelah kepergian tuan besar Xelone, Abel mengambil buku kecil yang selalu ia letakkan di tasnya. Mencentang tulisan yang selesai ia lakukan, benar-benar Abel tersenyum dengan harapan besar. Jujur saja dirinya gemetar saat menghadapi tuan besar Xelone. Walaupun terpantau orangnya dapat berbicara, tapi tuan besar Xelone masih saja tampak tegas dan terlihat masih ada rasa benci pada Abel.
"Tinggal berapa langkah lagi sampai akhirnya my goal is reached." ucap Abel sembari menatap takjub dengan isi tujuan Abel.
...****************...
Gerbang mansion yang amat megah ada dihadapan Abel. Bagaimana bisa dulu dirinya tinggal disini dengan seorang pria yang belum menjadi apa-apa dengannya. Mengingat itu malah Abel tertawa karena memikirkan prianya seperti sosok ayah yang tinggal berdua dengan anaknya yang sudah SMA.
Masih asik tertawa, gerbang terbuka dengan sosok pria yang tak asing bagi Abel. Abel yang belum menyadari kehadiran seseorang itu masih tertawa sampai perutnya merasa sakit, bahkan Abel mondar-mandir dengan kepala tertunduk sembari memegangi perutnya. Wajahnya benar-benar memerah, padahal Abel harus menjaga wajahnya karena ada pria yang akan ia temui.
Merasa lega telah mengeluarkan semua tawanya, Abel baru terkejut dengan kehadiran sekretaris Cheiz yang sudah dari tadi mengamati Abel. Abel mendadak langsung membeku dengan mata melotot seakan menjadi tawanan yang tertangkap basah melakukan hal yang tidak benar. Seketika Abel meringis menyesali tingkah bodohnya.
"Hai sekretaris Cheiz?" sapa Abel pada sekretaris Cheiz dengan wajahnya yang masih malu tapi tetap memaksakan senyumnya.
"Haha nona, Tuan sudah menunggu didalam." balas Cheiz dengan tawa sedikit diawalnya.
Saat Abel melintasi sekretaris Cheiz, Abel kembali dikejutkan karena tiba-tiba sekretaris Cheiz mengatakan. "Tenang nona, saya akan menjaga rapat-rapat kejadian tadi." Siapapun pasti akan merasa malu, dan posisi Abel ada di pucuk situ.
.......
.......
.......
.......
...Hai semua 🤗...
...Kembali lagi nih aku 🥰...
...Jangan lupa like, komen dan vote ya 🌼...
...See you next part:)...