
"Kerja bagus teman-teman!!" ujar wanita dengan lantang pada teman-temannya yang sekarang juga ikut bertepuk tangan.
Hari melelahkan sudah selesai mereka lewati hari ini. Rasanya pengunjung restoran hari ini sedang membludak dari biasanya, dan tentu saja itu membuat Abel dan teman-temannya bekerja lebih ekstra dari biasanya.
"Kurasa ide memodifikasi makanan itu sangat bagus!!" ujar Hera yang memberi selamat pada Abel. Kali ini benar tidak diragukan lagi, kalau keturunan pebisnis dan bakat memasak ada di Abelrta Gourich Guston.
"Aku juga tak menyangka akan semenarik ini." balas Abel dengan senyum khas nya.
Satu persatu dari teman-teman Abel memilih pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai untuk hari ini. Sedangkan Abel kembali mengecek bahan-bahan dan memikirkan menu spesial untuk besok. Tapi langkah Abel terhenti saat dirinya melihat kantong belanja dengan wadah kaca didalamnya yang sedikit menyembul.
"Apa ini?" tanya Abel pada dirinya sendiri. Dan setelah dilihatnya, Abel menepuk jidatnya karena baru menyadari bahwa tadi dia juga membeli barang karena Acarl yang membuatnya malu dihadapan pemilik toko.
"Teh chamomile ya? Padahal aku tidak terlalu suka minum teh, tapi kenapa aku ambil sih!" gumam Abel sembari menatap wadah berisi bunga-bunga kering dengan aroma khas yang unik.
Seketika karena rasa penasaran, Abel mengambil ponselnya. Mencari ikon pencarian, Abel mengetik manfaat dari teh chamomile yang dibelinya tadi. Dan matanya membola saat membaca manfaat-manfaat yang tertera di sana. "Wah, bisa untuk meredakan stress juga ya?" kata Abel yang terpana dengan manfaat yang ia baca.
"Emm, apa aku coba dulu ya?"
Perlahan, kakinya mulai melangkah menuju dapur dan mengambil teko teh dan juga cangkir kecil yang imut seperti dirinya. Dengan pengetahuannya tetang menyeduh teh, Abel mulai mempraktekkannya disini. Perlahan tapi pasti, akhirnya teh yang ingin ia coba pun jadi.
"Apa aku bawa ke rooftop ya? Sepertinya cocok karena malam ini kelihatannya sejuk." gumam Abel yang sekarang melangkahkan kakinya menuju rooftop restauran yang dimana juga terdapat kamar miliknya.
Lampu kota dan langit hitam dengan bintik putih, menjadi pemandangan tersendiri untuk Abel yang sedang sendirian disini. Acarl sedang sibuk-sibuknya dengan urusan kantor, dan keluarganya yang berada di mansion keluarga Guston. Kenapa Abel tidur di restoran ? Karena bagi Abel, ini adalah rumahnyam Tempat ternyaman nya dan juga tempatnya bersembunyi dari keadaan yang dulu.
Slurrpp...
Satu seruputan teh tadi, sudah memenuhi tenggorokan Abel. Rasa hangat dan unik dari teh nya, langsung dapat Abel rasakan sekarang. Sensasi yang berbeda dari teh ini, sungguh membuat Abel curiga. Sebenarnya bunga apa ini ? kenapa bisa langsung membuat tubuhnya ringan seperti ini?
Slurppp slurpppp ...
Tanpa sadar, teko teh yang tadinya lumayan penuh sudah habis dan tinggal ampas dari bunga Chamomile yang ia jadikan teh. Entah kenapa rasanya tenang sekali setelah meminum teh ini.
"Falida dan Rian sudah menikah dan punya Archie, lalu kak Clara dan Eron sudah menikah juga. Lucu juga kalau dipikir-pikir, mereka dulu belum sedekat itu." gumam Abel yang sesekali tertawa geli saat mengingat semua perjalanan masa SMA nya yang penuh tanjakan.
"Tuhan, aku tidak tau apapun yang kau rencanakan. Tapi aku hanya bisa memohon keadilan padamu. Jika benar Acarl adalah tempat ternyamanku, jangan kau bawa aku ke gurun yang panas." gumam Abel yang secara tidak langsung adalah doa nya sendiri.
Sempat terlintas dibenak Abel, apakah ia dan Acarl dipertemukan untuk bersatu atau hanya dipertemukan untuk sekedar menambah daftar orang yang dikenal. Kalau Acarl bukanlah untuknya, kenapa ia harus bertahan sampai ketitik ini? Dan kenapa sangat rumit seperti ini?
Tak terasa buliran bening menetes di temani dengan senyum tulus yang entah apa artinya itu. Jika Acarl adalah tujuan terakhirnya, kapan Abel harus sampai agar bisa bertemu Acarl. Jalan berbelok ini sangat memuakkan bagu Abel, rasanya seperti dirinya menjadi kereta api yang dimana Acarl lah tujuannya.
Abel menarik napasnya dalam-dalam, menikmati hembusan angin segar dimalam hari yang hanya terdengar suara deru mobil yang melintas. "Aku harus bertemu dengan orang tua Acarl lagi. Bagaimanapun caranya, aku harus mencobanya kan?" ucap Abel yang sekarang menjadi lebih semangat dari sebelumnya.
Abel yang sudah puas menikmati teh di malam hari ini, akhirnya memilih masuk ke dalam kamarnya dan melakukan aktifitas yang harus dia kerjakan setelah pekerjanya selesai.
-------------------------------
"Apa kamu yakin?"
"Iya pastinya! Biar bagaimana pun, ada ibu kamu yang akan ada bersamaku kan?"
Senyum tulus langsung terlihat menyinari kedua mata seorang wanita yang duduk di bangku penumpang disamping pengemudi. Dan senyuman itu tentu saja dari si pengemudi yang sangat tersanjung dengan usaha wanitanya yang sangat tulus mencintainya.
"Clara sudah tidak ada di mansion, kamu yakin sendiri?" tanya pria itu lagi pada wanitanya.
Mobil melaju sampai di mansion megah milik keluarga Xelone yang akan menjadi tempat pertandingan Abel saat ini. Dengan dibantu beberapa sayuran dan juga perdagingan, Abel harap dirinya bisa membuat kesan baik di hadapan keluarga Xelone.
Abel turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai Acarl perlahan mulai menjauh. Dan inilah saatnya Abel berjuang untuk benar-benar melanjutkan hubungannya dengan Acarl. Dan jika usahanya ini gagal, Abel pastikan kalau Acarl bukanlah tempat bersandarnya.
Tok tok tok.....
Pintu diketuk dengan halus dan dibuka oleh wanita paruh baya yang masih terlihat garis-garis kecantikannya. Seakan umurnya menolak untuk bertambah.
"Halo Tante," sapa Abel pada wanita yang tersenyum ramah padanya.
"Hai Abel, ayo masuk sini." ajak wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibunda Acarl. Dan kini wanita itu menggiringnya masuk dan mengajaknya bercanda dengan ringan.
"Abel bawa apa?" tanya ibu Acarl sembari melirik kantong belanja yang sejak tadi ada bersama Abel.
Abel tersenyum manis pada wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri. "Tante harus tebak dong, biar Abel yang bilang benar atau salahnya." ujar Abel yang sedikit menggoda ibunya Acarl. Sedangkan wanita paruh baya itu terkekeh dengan candaan Abel.
"Apa itu sayuran?" tebak ibunya Acarl yang membuat Abel melongo.
"Yah, kok tante sudah tau?!" kesal Abel yang malah membuat ibunya Acarl semakin gemas dengan kekasih dari putranya ini. Bahkan karena Abel juga ia bisa menjadi dekat dengan anak perempuannya yang dulu tidak pernah dekat dengannya.
"Karena Abel yang ibu tau, adalah Abel yang pandai memasak tapi tidak pandai menyembunyikan barang." jawab nyonya Xelone ( ibunya Acarl) membuat Abel melirik kantong belanjanya yang menyembul daun-daun hijau dari dalam kantong itu.
Abel memanyunkan bibirnya karena tau apa maksud dari jawaban nyonya Xelone kali ini. Dan jujur saja, Abel nyaman sekali dengan nyonya Xelone. Dia adalah wanita yang ramah dan juga keibuan yang selalu membuat hangat untuk Abel.
Tapi tak lama, tawa Abel berhenti tat kala matanya menangkap sosok pria paruh baya dengan kumis putih tipis dan rambut yang sudah semakin menipis. Segera, Abel menampilkan senyum canggungnya walaupun akhirnya diacuhkan oleh pria paruh baya itu.
"Sabar Abel, ini adalah tantangan mu. Dia dan kau, harus bertanding sekarang!" batin Abel menyemangati dirinya sendiri.
Yah, ini dia tujuan Abel. Mendapatkan hati orang-orang yang tidak setuju dengan hubungannya dan Acarl, juga membalas dendam pada masa lalu yang dimana dirinya masih lemah. Sekarang bukanlah Abel lemah lagi, tapi Abel yang bisa maju tanpa ragu lagi.
.
.
.
.
.
Halo hai semua🤭
Selamat datang di TWTMY😘
Nikmati tantangan yang akan diperankan oleh Abelrta Gourich Guston ya!!!!
Jangan lupa like, komen dan vote ya!!!
See you next part:)