
Belum selesai dengan perdebatan antara keduanya, Acarl memandangi wajah Abel yang terlihat lucu saat sedang marah. Sungguh anggaplah kali ini Acarl menjadi tokoh antagonis, karena sudah pasti semua ini adalah rencana Acarl untuk menahan Abel padanya.
"Nona Abelrta Gourich Guston, maafkan saya. Ini sudah keputusan karena ada bukti-bukti yang kuat untuk membuat laporan ini. Jika anda keberatan, dengan segenap hati pihak A akan berbuat semaunya pada anda. Jika anda menerimanya, kurang lebih akan meringankan beban anda." ujar si pengacara dengan se profesional mungkin.
"Aneh banget sih, rasanya seperti aku melakukan kesalahan fatal!" kesal Abel pada pernyataan yang menyebalkan dari si pengacara. Namun tatapannya ada pada lelaki yang duduk didepannya dengan tampang polos seakan tak merasa bersalah sama sekali. Wait? Bersalah? Tidak ada salah benar disini!
Sementara Acarl yang tak mampu untuk menahan dirinya, akhirnya memilih untuk masuk kedalam topik pembicaraan. Yang sudah pasti harus menguntungkan dirinya.
"Bagaimana mungkin seorang chef terkenal bisa melupakan kejadian kemarin? Banyak cctv di jalan itu tidak mungkin berbohong." ujar Acarl dengan smirk andalannya.
Abel yang mendengar ucapan Acarl, langsung berdecih seakan tak terima dengan apa yang pria itu katakan. "Biarpun begitu, ini tidak bisa dijadikan alasan untuk masuk hukum seperti ini?" balas Abel tak mau kalah.
"Ya itu terserah pada saya yang membuat laporan bukan?" balas Acarl dengan cepat.
Yah walaupun Abel pernah meninggalkan Acarl dengan tidak menyenangkan, haruskah seperti ini cara pria didepannya membalas dendam padanya? Kalau dipikir-pikir lagi kan dia meninggalkan Acarl bukan demi kesenangannya sendiri, tapi demi keduanya bisa hidup bahagia.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan jika saya menyetujui permintaan konyol anda ini?" tanya Abel dengan nada judes karena kesal memikirkan sisi menyebalkan pria didepannya ini.
Terlihat sekarang Acarl menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang mampu membuat Abel sedikit terpana dalam sekejap.
"Apa itu tandanya anda sudah mempertimbangkan untuk menyetujuinya?" tanya Acarl yang menyadarkan lamunan Abel.
Dan keesokkan harinya adalah hari dimana Abel harus bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan segala hal akibat menyetujui permintaan konyol Acarl. Dan disinilah dirinya sekarang, dengan tampilan yang tidak menarik sama sekali harus datang ke gedung bertingkat dengan orang-orang berjas berada didalamnya.
Dejavu, mungkin kata itu yang bisa menggambarkan situasi kali ini. Rasanya benar-benar dirinya seperti kembali ke dua tahun yang lalu, tapi bedanya sekarang dirinya lebih dianggap sebagai chef pribadi bukan asisten pribadi.
Surat perjanjian itu, berisi kalau Abel harus membayar nyawa yang sudah diselamatkan Acarl dengan cara menyiapkan makanan untuk Acarl tiga kali sehari sampai dua bulan kedepan. Walau kalau dipikir sekali lagi ini tidak terlalu membebankan dirinya, tapi tetap saja tujuan Abel yang ingin menjaga jarak dengan Acarl malah harus bertemu setiap harinya.
Di kantor, Abel sudah di pandu Cheiz untuk langsung keruangan Acarl. Didalam lift, Abel sempat mengobrol sebentar dengan Cheiz sampai akhirnya lift terbuka di lantai tempat Acarl berada. Cukup Abel akui kalau Acarl benar-benar melakukan bisnis nya dengan pesat.
Mungkin Acarl lebih bisa fokus dibanding saat dia masih denganku. ~batin Abel
Mengetuk pintu tinggi didepannya, Abel masuk kedalam setelah mendapatkan sahutan dari dalam ruangan itu. Matanya terus mengedarkan pandangan ke semua penjuru ruang kerja Acarl. Terlihat kaku dan monoton, sangat menggambarkan perasaan Acarl sekarang.
"Sarapan sesuai dengan yang anda minta sudah datang, Tuan." ujar Abel sembari menata bekal-bekal yang ia bawa.
"Ya taruh saja dulu, akan aku makan kalau aku sudah merasakan lapar." jawab Acarl dengan masih fokus pada layar komputer dan kertas putih didepannya.
Melihat itu, ingin sekali Abel berteriak pada Acarl agar mengehentikan kegiatannya dulu untuk sarapan. Tapi mengingat itu bukanlah hal yang bisa ia lakukan, akhirnya Abel memilih diam sembari berdiri ditempatnya menunggu Acarl memberi perintah lagi.
Benar-benar Abel bodoh! Kenapa juga kau menyetujui surat konyol itu? Tapi kalau tidak aku terima, entah apa yang akan Acarl lakukan padaku nantinya. ~batin Abel yang mulai berkecamuk.
"Apa kau tidak ada niat untuk duduk?" tanya Acarl sedikit mengejutkan Abel.
"Eh, saya menunggu anda memakan sarapan anda saja." jawab Abel dengan maksud agar Acarl segera memakan makanannya.
Mendengar Abel berkata begitu, tentu saja hati nurani Acarl masih berfungsi! Dengan segera Acarl mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada didepannya, lalu dibantu Abel untuk menyiapkan keperluan makan Acarl.
"Apa kau sudah makan?" tanya Acarl yang mendapat gelengan kepala dari Abel.
"Makanlah, setidaknya itu ucapan terimakasih ku hari ini padamu." ujar Acarl membuat Abel tak bisa berkata apa-apa. Karena dalam surat perjanjian juga, selain Abel harus memasak untuk Acarl selama dua bulan kedepan juga dirinya harus menuruti perintah Acarl.
Semua habis tak tersisa, dan segera Abel pamit agar dirinya bisa segera ke restauran. Yah, memang perjanjiannya Abel hanya datang disaat sarapan, makan siang dan makan malam saja. Bukan berarti Abel harus diam saja di kantor Acarl dan melupakan kewajibannya di restauran.
Dan selanjutnya makan siang, seperti biasa Abel datang ke kantor Acarl dan memberikan makan siang sampai Acarl menghabiskannya. Semua berjalan semestinya, karena Abel maupun Acarl sama-sama tak membahas kejadian tiga bulan yang lalu yang memisahkan mereka berdua.
Dan tiba waktunya untuk makan malam, dan di makan malam ini Acarl memberi perintah agar Abel memasak makanan langsung di apartemen milik Acarl. Dan disinilah Abel berada, didepan pintu apartemen dengan nomor 4637. Tentu saja Abel langsung menekan bel agar dirinya cepat masuk kedalam apartemen Acarl.
"Kau sudah sampai?" tanya Acarl sesudah membukakan pintu untuk Abel. Tapi rambut basah dengan handuk kecil melingkar di leher Acarl, membuat Abel terdiam sebentar. Memang Abel akui kalau Acarl tampan, tapi ini sangat tampan!!!
"Eh oh iya, apa bahan-bahan yang kau punya?" balas Abel setelah tersadar dari lamunannya.
"Kau bisa melihat isi kulkas itu. Terserah padamu mau memakai yang mana saja." ujar Acarl membuat Abel segera melangkahkan kakinya menuju dapur yang ada di apartemen Acarl.
Semua tertata rapih, seperti hal nya di mansion Acarl. Benar-benar Abel merindukan mansion penuh kenangan itu, tapi memang tidak seharusnya Abel memikirkan itu lagi. Hanya bertahan dua bulan lagi, Abel sangat berharap dirinya tidak bertemu Acarl lagi. Bahkan Abel sudah merencanakan untuk kembali ke negaranya setelah dirinya selesai berurusan dengan Acarl.
Diluar dugaannya, ternyata restauran Abel berjalan sangat lancar sehingga sekarang dirinya ada seseorang yang bisa dipercaya untuk memegang restauran selama Abel di negaranya.
Kembali pada keadaan sekarang, Abel mengeluarkan bahan-bahan yang dia perlukan untuk membuat masakan untuk Acarl. Sedangkan Acarl sendiri duduk tepat di seberang Abel, mengamati wanita yang sangat ia rindukan.
Kalaupun dalam dua bulan ini Abel masih sama seperti ini, mungkin Acarl memang benar harus berpisah dengan Abel. Tapi Acarl pastikan, dalam waktu dua bulan ini dirinya akan berusaha untuk mengambil kembali hari Abel yang seharusnya mutlak untuknya seorang.
.
.
.
.
.
Halo semua 😂
I'm back 🌼
Kangen nggak ?
Kangenlah yaðŸ˜
Jangan lupa like, komen dan vote ya ðŸ¤
Dukung wajib 😂
See you next part:)