
Benar-benar diam seribu bahasa, sampai di supermarket pun Abel tak mengatakan kata-kata lagi pada ibunya. Berawal dari kakak bre**sek itu, sampai Abel harus berakhir bersama ibunya. Dasar kakak memang selalu laknat pada adiknya.
Abel berjalan dibelakang ibunya yang masuk duluan kedalam supermarket. Abel mengambil troli yang sebenarnya hendak ibunya raih, tapi Abel sebagai anak tidak mau terlihat kejam pada ibunya kan?
Sembari mengelilingi rak-rak supermarket, Abel melihat apa saja yang ibunya ambil dan letakan di troli. Benar-benar mengherankan, seorang seperti ibunya ini membeli bahan-bahan dapur dan juga barang-barang kamar mandi. Sungguh diluar dugaan, karena ini pertama kali Abel berdua bersama ibunya seperti ini.
Tak sengaja, mata Abel melihat tomat yang diambil ibunya dan sudah diletakkan di troli. Tapi fokus Abel ada pada warna tomat yang sangat merah, malah terlihat seperti busuk didalamnya. Abel meraih tomat itu dan mengumpulkan niatnya untuk mengganti tomat yang ia bawa.
"Tomatnya sebentar lagi akan busuk, jadi tidak akan bertahan lama walaupun dimasukkan ke dalam kulkas." ujar Abel yang mengerti tatapan bertanya dari ibunya.
*Satu jam yang lalu
Abel yang mendapat pesan dari kakaknya, kalau hari ini kakaknya akan pulang dan mengajaknya pergi membuat senyum Abel terpancar. Tapi sampai di mansion keluarga Guston, yang menunggu didepan mansion malah ibunya. Dengan tatapan yang sama-sama terkejut, ibunya mencoba mengalihkan perhatiannya dan masuk kedalam mobil yang Abel kendarai.
Sampai pada akhirnya pesan dari kakaknya masuk ke ponselnya. Pesan yang berisi bahwa kakaknya menipunya dengan alasan kalau dia tidak jadi datang dan menyuruh Abel untuk mengantarkan ibunya ke supermarket karena kakaknya yang laknat itu juga menjanjikan hal yang sama pada ibunya.
Terpaksa Abel harus bersama ibunya sekarang, walaupun canggung. Tapi anehnya, wanita yang ia sebut ibu itu diam tidak seperti biasanya. Rasanya malah canggung sampai-sampai membuat Abel merasa sesak di dadanya.
Kira-kira seperti itulah kejadiannya sampai akhirnya Abel ke supermarket bersama ibunya. Menyebalkan memang mempunyai satu kakak laki-laki seperti Vano, dan Abel mengakui itu.
Sampai di kasir untuk membayar belanjaan, Abel dan ibunya hanya diam saja. Benar-benar saat ini yang ada dipikiran Abel hanya satu, yakni segera pulang dengan selamat dan mencari kakak laknatnya agar bisa ia beri pelajaran yang pantas.
Tapi saat melangkah keluar dari supermarket, Abel dan juga ibunya malah dikejutkan dengan dua orang bertopeng yang menarik tas milik nyonya Guston. Seketika itu membuat nyonya Guston tersungkur dan tas nya berhasil dibawa lari. Dengan semangat penuh, Abel mengejar jambret itu walaupun dirinya kecil tapi larinya terhitung kencang kok!
Melewati gang-gang kecil, Abel dibantu masyarakat yang tadi sempat ia minta i tolong saat berlari. Tapi sayangnya, karena jambret yang berpencar membuat Abel mengambil langkah berlari sendiri mengejar jambret yang sepertinya membawa tas milik ibunya.
"Hosh..hosh..hosh!! Cepet banget sih jambret itu kabur!" gumam Abel saat dirinya kehilangan jejak si jambret. Alhasil Abel berhenti sebentar untuk memperkirakan kemana jambret itu pergi. Tapi belum juga Abel melangkah, malah si jambret dari arah belakang mendekati Abel untuk...
Brakk!!!
"Dasar jambret bi*dab!! Berani-beraninya kamu mendekati anakku!!" kesal seorang wanita dengan balok kayu ditangannya.
"Kurang ajar banget sih!!" lanjutnya yang kini membuat Abel melongo.
Abel bingung harus merespon apa, karena disatu sisi dirinya bahagia dan disisi lain dirinya terkejut. Bukan-bukan, bukan karena si jambret yang sudah kalah! Tapi lebih ke penyelamatnya yang menyebut Abel sebagai anaknya.
"Ibu?"
"Kamu gapapa kan?" tanya seorang wanita paruh baya itu pada Abel yang terduduk di bawah. Abel hanya menggeleng, lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan tidak apa-apa. Seperti ada yang menahannya untuk tidak berbicara, padahal dirinya ingin!
Tak lama, gerombolan masyarakat yang membantunya tadi datang dan membawa si jambret untuk segera ditindaklanjuti. Sedangkan Abel dan ibunya, tentu saja harus ikut untuk memberi laporan atas kejadian ini.
Setelah selesai dengan urusan yang tiba-tiba terjadi ini, Abel membawa mobilnya ke klinik terdekat. Karena melihat kaki ibunya yang terluka, membuat Abel tak tega untuk meninggalkan ibu yang tadi menyelamatkannya dari serangan jambret yang bahkan ia tidak sadar kalau jambret itu mau menyerangnya dari belakang.
"Terimakasih," ujar Abel saat ibunya sedang diobati suster yang menangani ibunya.
Mobil berhenti di kediaman Guston, dan disambut kakak laknatnya dengan senyum yang menjengkelkan bagi Abel. Tapi Abel, dengan reflek langsung menghampiri ibunya yang terpincang-pincang jalannya. Membantunya untuk berjalan dan tak ada penolakan dari ibunya itu.
"HEI! ADA APA INI?" pekik Vano yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Abel.
"Angkut dulu belanjaan di bagasi!" sungut Abel membuat Vano mau tidak mau yang menurut saja daripada mendapatkan tinjuan dari adik tersayangnya.
Semua sudah masuk kedalam rumah, dan Abel segera membantu ibunya untuk duduk di sofa ruang tamu. Yah, Abel tak tau harus apalagi sekarang. Kalau Abel tetap disini, berarti dia harus merasakan kecanggungan tiada tara ini. Untuk itu, Abel mengalihkan kecanggungan ini ke dapur untuk mengambil air putih untuknya dan ibunya.
"Maaf saya tidak bisa menjaga ibu tadi, dan terimakasih sudah menolong saya. Saya izin pamit dulu karena restauran masih membutuhkan saya." ujar Abel yang tidak mendapat respon dari nyonya Guston. Dan Vano hanya mengangguk paham dengan suasana kali ini, yah karena kecerobohannya juga sih!
Abel kembali ke restauran tanpa buru-buru karena dirinya perlu menenangkan diri dan waktu yang tepat adalah saat berkendara. Kalau biasanya dia akan lari ke mansion Acarl, kini dia harus menghindari kebiasaan yang sudah melekat dalam tubuhnya itu. Harus hilang! Jangan sampai ia bergantung pada pria yang ia sayangi itu lagi! JANGAN!
Sampailah di restauran, semua pikiran tentang kejadian hari ini sudah tergantikan dengan sibuknya suasana restauran. Lagipula dengan memasak, hidupnya jadi lebih segar dan bahagia. Seakan memasak adalah suatu kecintaannya. Padahal dulu ia tidak pandai memasak, dan karena Acarl...
HAHHH! Pria itu lagi!! Kenapa pria itu tak pernah lepas dari hidup Abel!? Harus pergi! Harus!
Mencoba mengalihkan pikirannya lagi, Abel menerima pesan di ponselnya dari nomor yang tak asing dari hidupnya. Nomor yang membusuk di kontaknya, tapi sekarang tiba-tiba nomor itu muncul dengan kata-kata yang membuat Abel speechless (terdiam) dan bingung diwaktu yang bersamaan.
Besok saya tidak ada jadwal yang sibuk. Ibu.
.
.
.
.
.
Hai semua!!!
Maafin aku yang menghilang tanpa kabar😭
Aku sedang berjuang dengan ujian sekolah sampai-sampai melupakan kalian yang sangat mendukungku😭
Maafin author ya 😿
Selamat menikmati cerita ini🤭
Jangan lupa like komen dan vote ya 🤭
Terimakasih papay!!!