
Sepertinya waktu penjelasan sudah selesai. Tapi yang membuat aneh sekarang adalah Abel yang malah dilayani oleh Acarl, sangat berbeda dengan isi kontrak yang mengatakan bahwa Abel lah yang seharusnya melayani Acarl seperti menyiapkan makanan untuk pagi,siang dan malam.
"Tapi bukankah harusnya kamu bekerja sekarang? Kenapa malah sibuk mengurusku?" tanya Abel yang tak enak sendiri malah Acarl yang mondar-mandir membawa makanan dan segala keperluan yang Abel butuhkan.
"Bagaimana dengan kontrak kita? Aku tidak mau ya kalau dianggap tidak bertanggungjawab dengan kontrak yang sudah aku tanda tangani. Tanda tanganku mahal." ucap Abel lagi yang terus diabaikan oleh Acarl.
Padahal hari sudah mulai menunjukkan jam lima sore, tapi Abel masih berada di ruangan khusus Acarl. Ditambah Acarl terus menerus berada di sampingnya sekaligus mengecek demam Abel secara rutin tiap jam nya.
"Bagaimana urusan restauran ku juga! Bisa bahaya kalau aku terus berada di ruangan CEO. Bagaimana kalau ada gosip yang tidak-tidak tentang kita? Nama baikmu pasti akan tercoreng, lalu usaha yang kau rintis akan sia-sia karena aku." lanjut Abel yang sejak tadi sudah memohon pada Acarl agar dirinya bisa segera pulang.
"Lalu membiarkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini? Lebih baik kau menyuruhku terjun dari lantai ini daripada aku membiarkan mu pergi dan bekerja lagi." ujar Acarl datar.
Mereka telah memutuskan, untuk berteman sekarang. Sempat juga Acarl menawarkan untuk mencabut kontrak tak masuk akal yang dibuat Acarl saat itu, tapi Abel menolaknya dengan alasan kalau dirinya juga ingin berbuat sesuatu untuk berterima kasih pada Acarl.
"Tapi bagaimana dengan gosipnya nanti?" cemas Abel yang malah membuat Acarl menunjukkan smirk nya.
"Kalau itu gosip denganmu, tidak masalah bukan?" jawab Acarl seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Abel menelan ludahnya.
"Lagipula dokter bilang padaku kalau kau harus istirahat total kurang lebih tiga hari ini, jadi kau akan tidur di apartemen ku selama tiga hari nanti. Tidak ada penolakan!" putus Acarl membuat Abel bungkam saat dirinya ingin menyanggah.
Hah, sungguh merepotkan sekali jika begini. Padahal dirinya ingin segera pulang dan memegang pisau yang membawanya ke dunia permasakan. Sangat disayangkan kalau di apartemen Acarl.... Tunggu! Apartemen?
"HEI!!! APA-APAAN APARTEMEN!! Kau mau aku cincang ya?!" pekik Abel dengan kalimat terakhir dia kecilkan seraya menatap tajam wajah datar milik Acarl.
"Aku hanya ingin kau kembali sehat, daripada kau memikirkan kontrak itu dan berusaha memasak untukku dalam keadaan sakit. Apa kau mau menulariku?!" balas Acarl membuat Abel tidak bisa berkata-kata lagi.
Dengan rasa pasrah, Abel segera mengambil ponselnya dan mengabari rekan kerjanya kalau dirinya tidak bisa hadir tiga hari kedepan. Walaupun ada benarnya juga kalau sekarang Abel harus istirahat daripada menyebarkan penyakit di restauran nya.
Dan saat Abel memegang ponselnya, dan jam terpampang jelas dihadapannya. Dan pada akhirnya...
"Aku lupa ada janji dengan sekretaris Cheiz!" gumam Abel dengan wajahnya cengo nya. Yang Abel khawatirkan bagaimana kalau sekretaris Cheiz sudah menunggunya? Tapi seharusnya Acarl sudah memberitahu sekretaris Cheiz kalau dirinya sempat pingsan tadi bukan?
Berhubung Acarl belum keluar dari ruangan ini, Abel langsung memanggil Acarl untuk mengetahui apakah sekretaris Cheiz sudah tau atau belum kalau dirinya ada disini.
"Ehem, Ac- eh maksud ku tuan Acarl."
"Acarl saja! kita kan sudah sepakat untuk berteman."
Aku mohon! Tau! Tau! Tau! ~batin Abel berharap penuh.
"Kalau aku tidak memberitahu nya, bagaimana aku memanggil dokter dan beberapa pelayan yang mengurus makanan kita tadi?!" jawab Acarl dengan penuh kebenaran. Langsung saja rasa lega meyeruak di penjuru tubuh Abel. Setidaknya sekretaris Cheiz akan tau kalau dirinya tidak bisa menepati janji.
Sampai pada akhirnya jam menunjukkan pukul delapan malam, membuat Abel dan Acarl akan pulang sekarang. Tapi masalahnya sekarang adalah, Acarl yang terus mengotot agar Abel digendong olehnya sampai ke mobil. Dan Abel yang sekarang memberontak di dalam selimut sambil berteriak-teriak tidak mau digendong oleh Acarl.
"Kau belum boleh banyak bergerak!"
"Aku tidak lumpuh! Aku cuma demam ringan!"
"Tidak! kau sakit! kalau sampai kakimu terkena debu sedikit saja, pasti sakitmu tambah parah!"
"Kau gila ya! emang sebesar apa debu itu sampai membuat ku tambah parah!?"
"Tidak ada penolakan! kau harus ku gendong!"
"Kalau begitu aku akan membungkus tubuhku dengan selimut ini! Sebentar lagi, bakal ada rumor kalau seorang pengusaha muda yang namanya lagi melejit membawa mayat turun dari ruangannya!"
"Okey!! deal!"
Abel melongo melihat Acarl yang malah menyetujui tawaran terakhir Abel, dan sekarang benar-benar Abel di balut selimut dan digendong Acarl kebawah. Tatapan terkejut semua orang sudah pasti tertuju pada Abel yang tertutup selimut, dalam hati juga Abel merutuki Acarl yang gila dan bodoh.
Sesampainya di dalam mobil, Abel menatap nyalang pada Acarl. Sementara Acarl dengan cueknya menatap ke arah luar dan mengabaikan tatapan Abel yang menyerangnya. Ingin sekali Abel mencubit sampai membunuh pria di sampingnya ini.
Mobil sampai di apartemen dan kejadian gendong menggendong terjadi lagi. Yah, walaupun tak seheboh seperti dikantor tadi. Sesampainya di apartemen Acarl, Abel diturunkan di sofa ruang tamu. Sesudah menurunkan Abel, Acarl beralih ke kamarnya dan kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa bantal dan selimut tebal.
"Aku sudah membawa selimutmu, kenapa bawa selimut lagi? Aku cuma butuh bantal saja untuk tidur disini." ucap Abel diakhiri dengan menepuk sofa yang ia duduki seakan mengatakan di sofa ini dirinya akan tidur.
"Siapa yang menyuruhmu tidur disitu? Bawa selimut itu ke kamar ku, kalau kau kedinginan nanti malam kau bisa pakai dua selimut sekaligus yang ada ditempat tidurku. "Ucap Acarl membuat Abel ingin menolak sebelum matanya menatap mata biru emerald milik Acarl yang mengatakan bahwa tidak boleh ada penolakan.
"Aku tidak tanggung jawab kalau besok kau masuk angin ya!" ancam Abel yang langsung diangguki Acarl dengan penuh semangat.
Pada akhirnya malam ini adalah malam pertama bagi Abel untuk tinggal di apartemen Acarl selama tiga hari kedepan. Terasa canggung memang karena sekarang Acarl yang melayani keperluan Abel seperti makan sampai memeriksa terus menerus suhu tubuh Abel.
Sampai malam tiba, Abel tidur di kamar yang penuh dengan aroma khas dari Acarl. Sembari memeluk guling, Abel akui kalau malam ini terasa lebih damai daripada malam-malam sebelumnya. Sampai pada akhirnya Abel bisa berpikir kalau dirinya tidak sendiri disini.