
Ketukan pintu terdengar jelas ditelinga Acarl, yang Acarl duga itu adalah Cheiz. Karena ini dimansion, Acarl yakin Cheiz akan memarahinya karena pekerjaannya yang belum selesai. Yah, sebagai asisten Acarl pasti akan menderita saat atasannya tidak bisa diajak kerja sama. Padahal ini demi perusahaan sendiri.
"Masuk!" teriak Acarl dari dalam membuat orang yang mengetuk pintu itu, membuka pintu dan menampilkan sosok wanita yang membuat hari Acarl suram.
Seperti tekadnya saat ia kabur di pantai kemarin, saat ini Abel menemui Acarl. Sementara Acarl yang masih melamun menatap luaran dari kaca balkon di kamarnya, tak melihat siapapun yang masuk kedalam kamarnya. Tapi tentu saja telinganya masih aktif karna ia yakin akan ada suara Cheiz memarahinya....
"Acarl?"
Atau tidak.
Acarl berbalik, mendapati wanita yang sangat ia rindukan berada didepannya dengan senyum khas wanita itu. Tak menunggu lama, Acarl langsung bangkit dan memeluk wanita itu erat-erat. Tentu saja Abel membalas pelukan itu, pelukan yang sama ia rindukan selama ia kabur kemarin.
"Apa kamu mau membuatku mati perlahan?" tanya Acarl pada Abel yang kini hanya membalas dengan senyuman saja.
Abel masih belum siap untuk mengatakannya, tapi untuk saat ini Abel benar-benar ingin memeluk tubuh yang sebentar lagi mungkin tidak akan bisa ia peluk lagi. Cukup ini saja Abel ingin memuaskan dirinya dengan pelukan hangat dari Acarl. Sebelum hari semakin pagi untuk ia pergi dan Acarl pergi.
"Apa kamu tau kalau semua orang mencari mu?" tanya Acarl saking khawatirnya dengan Abel.
"Yah, maafkan aku." jawab Abel yang sekarang sudah melepas pelukan Acarl. Perlahan Abel memundurkan tubuhnya dan menatap lekat pria yang sudah dua tahun lebih menemaninya.
"Apa kamu tau kalau ada banyak hal yang aku dapatkan saat aku menghilang?" tanya Abel pada Acarl dengan nada seakan memberi tebakan untuk pria itu. Sedangkan Acarl yang mengira ini permainan, hanya mengikuti alur Abel sesuai yang gadis itu inginkan.
"Apa kamu mendapatkan pria lain yang lebih tampan dari aku?" ujar Acarl yang balik bertanya pada Abel. Sementara Abel tertawa kecil menanggapinya, karena inilah Acarlnya yang tidak bisa berkata kasar padanya.
Abel menghentikan tawanya dan kembali menatap Acarl lebih lekat lagi, sampai-sampai membuat Acarl memajukan tubuhnya seakan ingin menepis jarak diantaranya dan Abel. Tapi Abel langsung memajukan tangannya seakan memberitahu pada Acarl untuk tetap ditempat semula.
"Jawaban." ucap Abel membuat Acarl bingung dengan arti dari jawaban yang Abel katakan.
Masih berpikir ini adalah lelucon biasa, Acarl tertawa kecil seakan mengapresiasi lelucon yang Abel berikan. "Hahaha, sungguh lucu kalau kamu yang berikan." ujar Acarl membuat Abel menutup matanya.
Acarl yang melihat Abel tidak tertawa, sekarang menjadi diam dan mulai mendekat lagi pada Abel. "Apa ini bukan lelucon?" tanya Acarl yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Abel. Gelengan yang tegas mengatakan kalau ia bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan.
"Iya, jawaban. Jawaban yang akan membawa kita ke jalan yang benar." ujar Abel semakin membuat Acarl bingung.
"Arah jalan kita sudah benar sejak kita bersama, lalu apa lagi yang harus dibenahi?" balas Acarl membuat buliran bening jatuh dan mengalir di pipi Abel.
"Ini bukan jalan kita Acarl, jalan kita adalah tidak saling mengenal satu sama lain. Seperti pertama kali kita membuat kesepakatan, kalau aku disini hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku yang merugikan XLN company. Dan kamu sebagai calon presdir saat itu, demi mendapatkan kepercayaan dewan direksi untuk memegang penuh XLN company. Itu jalan kita." jawab Abel panjang lebar.
Acarl benar-benar dibuat bingung saat ini, karena disatu sisi ia tidak ingin berpikir negatif dengan perkataan Abel , tapi disisi lain ia mengerti arti kata Abel sesungguhnya. Tapi ia belum siap kalau harus mengerti apa yang Abel katakan, ia ingin berpura-pura untuk tidak mengerti apa yang Abel katakan padanya.
"Bukankah sudah pernah kita bahas kalau aku dan kamu adalah dua manusia yang ditakdirkan bersama?" tanya Acarl pada Abel. Abel menggelengkan kepalanya, bukan maksud dia tidak mengakui apa yang Acarl katakan, tapi lebih ke dia tidak mau mengiyakan maksud dari kata-kata Acarl.
Acarl menghela napasnya sebelum akhirnya dirinya meraih tubuh Abel dan mendaratkan bibirnya di bibir Abel yang saat ini terasa dingin dan bergetar. Sungguh sensasi yang berbeda tapi tetap Acarl sukai karena ini adalah Abelrta Gourich Guston yang ia kenal.
"Apa menurutmu perasaan kita tergantung pada orang lain suka atau tidak? Setidaknya kamu juga tidak berniat menolak ciuman tadi?" ujar Acarl semakin menyudutkan Abel. Benar memang tidak ada tanda penolakan dari Abel, tapi tetesan air mata dari Abel sudah menandakan bahwa dirinya juga sakit dengan semua yang terjadi padanya sekarang.
"Se-setidaknya itu bisa kita gunakan se-sebagai salam perpisahan kita, Tuan muda Xelone. Sepertinya cukup sampai disini saya menginjakkan kaki ditempat ini. Semoga hari anda menyenangkan." ujar Abel sebelum dirinya pergi meninggalkan Acarl yang terdiam mematung menatap kepergian Abel sampai gadis itu sudah tidak terlihat dimatanya lagi.
Ya, dua manusia itu sekarang saling menitikan air mata masing-masing ditempat yang berbeda. Debaran jantung keduanya juga membuat suasana semakin kacau tat kala harus menatap satu sama lain saat berpisah.
"ARGHHH!!"
Acarl dengan segala kekesalannya, beranjak menuju dapur. Mengambil alkohol di kulkasnya, Acarl benar-benar dalam situasi yang kacau sekarang ini. Setelah Abel menghilang, saat kembali malah mendapati kata perpisahan diantara mereka.
"Perpisahan? Apa kata lain dari putus?! Kalau begitu aku dan dia tidak ada hubungan lagi. Aku dan dia tidak ada hubungan lagi! Hahaha." gumam Acarl diiringi tawanya yang terdengar sangat kesakitan.
Sementara itu, didalam taxi yang membawanya ke restauran dimana ia tinggal sekarang membuat Abel juga dalam posisi terpuruk. Sampai di restauran, Abel segera naik keatas untuk ke kamarnya. Tangisnya pecah tat kala langit berbintang menyapanya. Yah, langit berbintang yang membawanya kembali ke tahun-tahun sebelum ia memikirkan untuk menikahi Acarl.
"Hiks hiks hiks... Bagaimana?! Bagaimana aku bisa tanpamu Acarl? Hiks Kau sudah membawaku terlalu jauh. Bagaimana mungkin mudah melepasmu?" teriak Abel yang beruntungnya suasana hari ini ramai, jadi teriakannya tidak akan terdengsr oleh orang-orang lain.
"Tapi kita tidak bisa bersama Acarl. Hidupmu dan hidupku harus berjalan, bukan hanya diam ditempat seperti ini. Malah sampai membuat orang tuamu sendiri terkena jantung. " lirih Abel sebelum gadis itu masuk ke dalam kamar dan menangis lebih puas disana.
.
.
.
.
.
Halo semua ðŸ˜
Im back
Jangan lupa like, komen dan vote ya ðŸ¤
Dukung wajib 😂
See you next part:)