The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Kedai Gelato



Entah bagaimana harus diungkapkan, tapi ekspresi dari Acarl maupun Abel sudah sangat membaik sejak kembali dari kedai gelato. Sangat membaik sampai tidak terlihat bahwa mereka pernah berselisih sebelumnya. Lihat saja sekarang, mereka sangat kompak dalam acara masak memasak makanan hari ini.


"Serahkan saja padaku semua! Lebih baik kamu duduk manis disana dan kerjakan semua tugasmu saja!" Ucap Abel yang mengusir Acarl yang menyebalkan karena memenuhi area dapur.


"Pekerjaan ini bisa aku tunda, tapi kesempatan masak bersamamu aku tidak bisa menundanya." Balas Acarl yang makin membuat Abel sebal pada Acarl yang tidak tau betapa susahnya dia menahan senyum yang sudah tertahan ini.


"Ter-terserah lah!" balas Abel ketus namun dalam hati ingin berteriak meronta untuk di lepaskan dan langsung memeluk hati Acarl.


(◕દ◕)(〃゚3゚〃)(◕દ◕)


flashback.....


Siang hari di kedai gelato, setelah gelato sampai di meja Acarl dan Abel. Abel memulai pembicaraan menyangkut hal yang sangat penting dan harus di ketahui Acarl, karena setelah dipikirkan lagi kalau Acarl berhak tau akan hal yang mengganjal selama ini.


"Acarl, ada yang harus aku omongin sama kamu." ucap Abel memulai pembicaraan yang langsung membuat Acarl mau tak mau fokus kepada Abel.


Seraya mempersiapkan kata-kata pertama yang harus Abel ucapkan, Abel menatap dalam ke arah Acarl yang sedang menatapnya juga. Biarpun sudah tekad Abel akan mengatakan ini, tapi tetap saja Abel masih bingung harus dimulai dari mana dulu. Dan sampai akhirnya yang keluar dari bibir Abel yang pertama kali adalah...


"Maaf."


Kata pertama yang Abel katakan, tentu saja membuat Acarl bingung harus memberi respon seperti apa. Kata maaf itu saja tidak pernah terpikirkan oleh Acarl kalau Abel akan mengucapkan kata yang dalam artinya itu.


"Kalau untuk menyita waktu kerja ku hari ini, itu bukan masalah besa..."


"Bukan itu! Tapi untuk semuanya, aku mau minta maaf padamu." sela Abel yang langsung memotong perkataan Acarl yang belum selesai.


Keadaan mulai serius, rasa manis gelato saja seperti hambar sekarang. Dalam sekejap Abel merasa dirinya salah tempat, tapi ya sudahlah karena sudah terlanjur juga dirinya minta kesini. Tapi tak disangka akan setegang ini rasanya.


"Baiklah, sekarang sepertinya aku harus memulai dari kenapa aku meninggalkan mu saat itu. Lalu setelahnya, terserah padamu akan bagaimana menanggapi pilihanku." ucap Abel yang tak lama tangannya di genggam oleh Acarl Xelone.


"Aku percaya padamu, sebelum kamu mengatakan kebenarannya juga aku sudah percaya padamu." balas Acarl membuat Abel menggigit bibir bawahnya merasa bersalah kepada Acarl yang setulus ini.


"Kamu tau sendiri akhirnya aku memilih pergi dengan dalih ingin menjadi seorang chef. Bodohnya aku yang lari dari masalah, tapi disisi lain masih ada kamu yang menemani ku. Aku berpikir lagi, apakah hubungan kita masih bisa diselamatkan? Tapi, semua berakhir saat ayahmu jatuh sakit saat itu." bayangan tentang kejadian itu masih lekat dalam benaknya. Seakan baru kemarin dirinya pergi ke Perancis untuk menghindari kejadian itu lagi.


"Huft.... Saat aku menghilang sehari setelah itu, aku berpikir lagi apakah hubungan kita masih bisa berlanjut atau aku yang berhenti berpikir seperti itu. Keputusan yang aku ambil, kau tau kan apa itu?" menatap Acarl lekat, Abel tak memiliki harapan apapun pada Acarl. Dirinya tidak berharap Acarl akan menerima keputusannya itu, tapi yang jelas saat ini Abel ingin menceritakan semuanya.


Bola mata yang makin samar melihat didepan, tandanya ada air yang menggenang di pelupuk mata Abel. Dengan menahan itu, Abel mendongakkan kepalanya berharap dengan begitu air mata tidak mengalir di pipinya.


"Hah! Ternyata ini maksud Eron saat itu. (Episode keputusan) Bodohnya aku yang malah termenung terus memikirkan alasanmu meninggalkan ku." kesal Acarl pada dirinya sendiri yang baru mengetahui fakta yang seharusnya dirinya sendiri lebih peka daripada orang lain .


Abel tertawa kecil mendengar gerutuan Acarl yang tidak mendasar. Padahal ini harusnya menjadi panggungnya untuk mengungkapkan alasan kepergiannya, tapi malah Acarl ikut masuk kedalam panggung realita tanpa akting ini.


"Yah, memang nasi sudah menjadi bubur. Saat itu aku tidak bisa berpikir jernih, karena pikiran ki hanya tertuju pada diriku yang menjadi penyebab ayahmu terkena jantung saat itu. Aku berusaha mencari inti masalah dari pikiran berat ayahmu, dan melihat tangis dari ibumu dan adikmu membuatku semakin merasa bahwa inti masalah ada padaku."


"Setelah itu aku pergi ke Perancis ini, dan aku berusaha mengejar karir ku agar aku bisa melupakanmu. Setidaknya dari situ aku ingin memulai semuanya, sampai akhirnya kau malah mendatangiku sampai sekarang ini." ucap Abel dengan tersenyum kearah Acarl yang berada tepat didepannya.


"Dan apakah artinya hubungan kita masih bisa berlanjut seperti tiga tahun yang lalu?" tanya Acarl yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Abel.


"Aku tidak egois Acarl! Kalaupun aku mau, sudah sejak kemarin aku langsung mengatakannya padamu. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa mencapai level mencintaimu kembali. Walaupun begitu, di dalam sini masih ada kamu." balas Abel seraya menyentuh dada sebelah kirinya.


Acarl menghela nafasnya, merasa bahwa perjuangannya benar-benar belum berhasil. Apalagi melihat Abel yang masih serius memikirkan sesuatu yang belum ia katakan, tapi Acarl yakin sekarang Abel tidak membencinya lagi.


"Yah, sepertinya sekarang aku tidak mau berjuang sendirian lagi. Aku butuh kamu, sangat membutuhkan mu untuk mencari jalan menuju masa depan kita. Masih ada harapan untuk mencapai situ, tapi aku rasa jika sendiri maka bisa jadi aku akan menyakiti mu lagi. Jadi aku mohon, temani aku!" pinta Abel yang langsung membuat Acarl berdiri dan duduk di sebelah Abel. Dan tak lama kemudian, Acarl langsung memeluk tubuh Abel yang terasa lebih kurus dibandingkan setahun yang lalu.


"Kenapa kau meminta? Sudah ku bilang, aku akan selalu ada di sisimu dan tak akan pernah melepaskanmu sebelum kau mengatakan bahwa kau benar-benar membenciku dan ingin aku menjauh darimu." ucap Acarl tegas seraya mengusap lembut surai coklat milik Abel .


"Aku percaya padamu. Maka dari itu, aku ingin kita memulai semuanya sejak awal lagi. Aku ingin kita menjalin hubungan dengan pertemanan, lalu pacaran, kemudian kita mencari kebahagiaan kita yang sebenarnya. Dan sekarang, sepertinya sudah saatnya kita berada di tahap berpacaran." ucap Abel yang langsung membuat Acarl melotot, tak lama senyuman terukir di wajah Acarl Xelone.


Bunga-bunga seperti terlukis menjadi background keduanya. Gelato yang mulai meleleh itu juga seperti perasaan keduanya yang kian memanas karena pernyataan tak terduga dari Abel.


"Terimakasih." ucap Acarl berkali-kali sampai pada di apartemennya, tingkah Acarl membuat Abel semakin merasa Acarl nya lah yang terlihat menggemaskan.