The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Sudahkah harus berakhir?



Sosok pria yang sudah sangat lama tidak berjumpa dengannya, sekarang berdiri tegap dihadapannya. Bahkan kalau diingat lagi, mereka berpisah bukan secara langsung melainkan secara mendadak dan tidak bertatap mata sama sekali.


"Sudah lama tidak bertemu ya, Abel?"


Sebuah kata yang membuat Abel mau tak mau harus mengangkat kedua ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman. Dengan mata sembap, tapi lengkungan indah di bibir Abel masih terlihat natural.


"Tuan Agam sedang apa disini?" tanya Abel yang kini sudah mulai mendingan daripada tadi.


"Sepertinya aku sedang mencari pegawai ku yang menghilang tanpa surat pernyataan mengundurkan diri." jawab Agam membuat Abel tertawa kecil mendengar jawaban dari Agam.


Memang benar dulu dirinya belum memberitahu Agam secara langsung, melainkan dirinya mengundurkan diri melalui rekan kerjanya.


*Agam adalah tokoh yang muncul di Kau Pelindungku Dan Aku Milik mu s1 ya:)


"Wah, apa akhirnya sekarang saya ketahuan?" canda Abel membuat Agam ikut tertawa.


Tanpa sadar, mereka berdua sudah mengobrol di halte bus sangat lama. Malahan, malam sudah semakin larut dan membuat Abel harus segera pulang. Dengan paksaan dari Agam, Abel terpaksa harus diantarkan Agam untuk pulang.


...----------------...


Pagi hari yang sangat cerah, tapi tidak dengan kepalanya. Karena semalam menangis, membuat kepala Abel merasakan pusing yang amat mendalam. Sampai-sampai Abel memilih cuti sehari ini dari kerjaannya.


Didalam kamar yang berada di lantai dua restauran nya, Abel benar-benar berusaha untuk memulihkan kondisi tubuh yang sangat rapuh sekarang. Dari fisik sampai batinnya sedang dalam kondisi yang amat tidak baik.


Berbeda dengan seorang pria yang sekarang menahan tangannya yang berusaha meraih benda pipih di depannya. Karena Abel yang tak kunjung datang, ingin sekali dirinya langsung menelpon dan menyerbu pertanyaan yang dimana intinya dirinya sangat khawatir sekarang.


Siapa lagi kalau bukan Acarl Xelone orangnya. Di kursi kebesarannya sebagai presdir, semua kertas dan komputer didepannya diabaikan olehnya. Alasan yang tepat adalah, over khawatir tingkat dewa.


Apa dia kenapa-napa saat perjalanan pulang semalam?


Apa dia terlibat masalah semalam?


Kau bodoh Acarl! Bagaimana bisa kau membiarkan Abel pulang sendiri!


Matilah kau sekarang!


Kurang lebih, begitulah umpatan demi umpatan yang Acarl lontarkan untuk dirinya sendiri. Sampai pada akhirnya tangan dan pikirannya kembali sinkron, dan dirinya dengan antusias menelpon wanita yang membuatnya sangat khawatir di pagi hari yang masih hangat karena sinar matahari yang belum begitu menyengat.


 ---------------


Dibalik selimut tebal yang penuh dengan kehangatan, wanita yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut itu hanya bisa meringkuk menahan pening di kepalanya. Matanya terpejam, karena kalau dirinya membuka mata rasanya dunia seperti berputar.


Sampai pada akhirnya deringan ponsel membuat Abel harus berusaha meraba-raba kasurnya untuk mengambil benda pipih miliknya. Dan tanpa melihat siapa yang menelepon nya, Abel langsung menggeser tombol hijau yang letaknya sudah ia hafalkan.


"Halo?"


(....)


"Maaf, saya tidak bisa datang hari ini."


(....)


(....)


"Tidak perlu, saya baik-baik saja."


Panggilan berakhir dengan Abel yang akhirnya memilih untuk membaringkan tubuhnya sampai tertidur pulas. Berbeda dengan pria yang sejak tadi mengkhawatirkan kondisi Abel. Karena......


Nomor yang anda tuju, sedang berada di panggilan lain....


The number you are dialing is on another call .......


Yup, panggilan Acarl tidak sampai pada Abel. Malah suara mbak-mbak operator lah yang menyapa indra pendengaran Acarl. Tentu saja itu membuat jiwa-jiwa panas Acarl bergelora!


"CHEIZ!!!"


 ---------------


Tiga puluh menit berlalu dengan perasaan cemas dan gelisah, sampai akhirnya setelah melewati jalanan yang macet, Acarl berhasil sampai di restauran Abel. Tentu saja Acarl langsung turun dan masuk ke dalam restauran yang tidak ada tanda-tanda keberadaan Abel.


Bertanya pada rekan kerja Abel, semuanya langsung menjawab dengan jawaban yang membuat perasaan Acarl kembali campur aduk tak karuan.


"Il y a eu un homme plus tôt qui a amené le chef Abel à l'hôpital." (Ada seorang pria yang membawa Chef Abel ke rumah sakit.)


Mendengar kalimat itu, Acarl langsung menuju ke rumah sakit yang diberitahukan. Sungguh, diluar dugaan Acarl kalau Abel akan mengalami hal seperti ini. Bahkan pikirannya tadi tidak sampai itu, malah sebaliknya dirinya berpikir kalau Abel marah padanya.


Tapi disisi lain, Acarl juga memikirkan kata-kata rekan kerja Abel tadi. Mereka berkata, kalau ada seorang pria yang mengantarkan Abel ke rumah sakit bukan? Berarti seseorang itu benar-benar akrab dengan Abel. Tapi siapa?


Mobil sampai di rumah sakit yang rekan kerja Abel beritahukan. Acarl yang sangat cemas, langsung saja membuka pintu mobil dan menuju resepsionis untuk menanyakan dimana Abel berada sekarang.


Tanpa memerlukan detik waktu, Acarl secepat kilat langsung ke arah dimana ruangan Abel berada. Dan di sana lah Acarl melihat hal yang semestinya tidak ia lihat sekarang.


Perlahan, langkahnya mundur saat dirinya menatap dua manusia yang berada didalam ruang rawat itu berpelukan. Sangat disayangkan, segala langkah cepat Acarl harus terbuang sia-sia. Karena sekarang, yang Acarl lihat adalah Abel yang sedang memeluk seorang pria yang tidak Acarl ketahui wajahnya.


"Cheiz, panggil pengacara kemarin. Sepertinya ada perjanjian lagi yang harus aku masuk kan. " ujar Acarl sembari membalikkan badannya dan berjalan keluar dari rumah sakit.


"Baik, Tuan." jawab Cheiz dengan patuh dan langsung menyusul Acarl yang sudah lebih dulu meninggalkan Cheiz dengan langkah seribu nya.


Benar-benar hari ini adalah hari terburuk bagi Acarl. Jika saja, dirinya tidak mengetahui ini, sudah pasti dirinya tidak akan merasa sesakit ini. Sampai pada akhirnya, Acarl memutuskan untuk segera lari dari kenyataan yang ada. Apa usaha yang baru ia mulai baru-baru ini akan selesai begitu saja?


"Hah, bodoh! Sudah hampir setahun ini kenapa kau masih saja bodoh Acarl!"


"Bukankah sudah jelas kalau kau bukanlah pilihannya? Sudah berapa kali kau ditinggalkannya, tapi kapan kau sadar bahwa selama ini hanya kau saja yang merasa kalau tanpanya kau tidak bisa hidup?!"


Setiap makian yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri, Acarl akui bahwa perjuangannya sudah seperti sampah. Seberapa berharga benda itu, kalau sudah bukan lagi menjadi prioritasnya akan berakhir di tempat sampah.


"Setidaknya aku akan egois sekali lagi untuk mendapatkan mu, kalau hasilnya sama saja sudah pasti aku akan mundur." putus Acarl seraya mengatur napas dan juga detak jantungnya yang masih saling mendominasi situasi saat ini.


"Atur semua jadwalku kembali, terima saja tamu-tamu yang ingin jumpa denganku di jam makan siang."Ucap Acarl yang mengarah untuk Cheiz.


"Baik, Tuan."