The Way to Marry You (KPdAM S2)

The Way to Marry You (KPdAM S2)
Kencan buta



Tawa-tawa bahagia melengkapi malam yang indah dengan langit yang cerah. Mendukung sekali untuk menaikan mood yang sedang ingin merasakan hangatnya kasih bersama sosok istimewa didekatnya.


Malam minggu, cerah, bintang terlihat memenuhi langit, udara sejuk. Syarat yang cocok untuk dua manusia berbeda gender untuk saling mengungkapkan perasaan dari hati yang paling dalam. Tapi, berbeda dengan sekarang!


"Udaranya semakin dingin, sebaiknya kita cepat selesaikan ini sebelum saya masuk angin." ujar dingin dari seorang wanita dengan hati yang selalu membatin sepanjang jalan menuju restauran. Tentu saja wanita itu tidak sendirian, karena seorang pria dengan jas musim dinginnya berada di samping wanita itu.


"Ah baiklah, kurasa anda benar mengenai itu. Kalau saja kita bisa membawa mobil sekarang." balas pria itu yang menyetujui usul dari wanita dingin yang berjalan disampingnya.


Bukan hal rumit untuk dimengerti bukan suasana yang terjadi saat ini? Yup! Kali ini wanita yang disebut-sebut adalah Abelrta Gourich Guston. Sedangkan pria yang disebut-sebut adalah seseorang yang sama terpaksanya dengan dirinya yang terpaksa harus pergi di malam minggu.


Kencan buta buatan ibu-ibu, sudah menjadi pilihan yang sangat memuakkan terutama bagi Abel. Ibunya itu tiba-tiba saja mengutarakan keinginannya sampai memohon padanya agar dirinya mau ikut kencan buta yang sudah ia atur, tentu saja hal itu terjadi juga pada pria yang kini berjalan disampingnya.


Seorang pria dari perusahaan ternama dan pewaris satu-satunya perusahaan itu, dengan tubuh tegap dan tinggi yang tentu saja bisa menarik hati wanita. Tapi tidak untuk Abel, bahkan sekarang Abel berniat untuk kabur saja daripada berada di kencan buta yang membuatnya lelah karena larangan menggunakan mobil sedang mengintainya.


Lima jam yang lalu........


"Ibu sudah mengatur kencan yang indah untuk putri ibu yang cantik ini. Dia adalah anak yang manis dan tampan, juga baik. Pokoknya kamu harus coba dulu agar tau dia seperti apa, baru nanti kamu bisa bilang iya atau tidak."


"Ibu, aku sudah besar! Aku bisa memilih dan mencari sendiri pendamping ku nanti. Apalagi ini ibu punya ide dari siapa buat suruh aku kencan buta?" kesal Abel pada ibunya yang tiba-tiba memunculkan ide konyol untuk melakukan kencan buta. Apalagi ibunya itu sudah merencanakan semuanya.


Menghela napas yang panjang, nyonya Guston menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang sangat keras kepala. Bukan maksud dirinya memaksa Abel agar ikut kencan buta untuk kepuasan dirinya, tapi ini juga demi Abel agar melupakan sosok pria yang sudah sangat lama singgah di hati putrinya itu.


"Kamu taukan kalau ibu benar-benar tidak bisa memaksamu. Tapi kali ini saja kamu turuti permintaan ibu. Anggap saja sekarang kamu mau menikmati malam minggu sebelum Minggu kedepannya kamu sibuk dengan pekerjaan lagi." ujar nyonya Guston yang masih mencari cara agar Abel mau mengabulkan permintaannya.


Abel benar-benar tak habis pikir dengan ibunya. Sejak ia menceritakan pasal dirinya yang memutuskan untuk pergi dari dia, ibunya itu sangatlah semangat untuk menyuruhnya mencari pengganti. Padahal, dalam kamus Abel belum ada list untuk mencari jodoh dalam waktu yang dekat ini.


Menimbang-nimbang sebentar, Abel hanya bisa pasrah saja daripada ibunya terus mencari cara agar Abel mau kencan buta. Hanya sekali ini, dan semua selesai kan? Dan lumayan juga bisa membuat ibunya bahagia, walaupun dirinya harus terpaksa seperti ini.


Dan begitulah ceritanya kenapa Abel sekarang bisa berada di situasi bersama pria tinggi nan tegap untuk kencan buta malam ini. Biarpun harus berjalan kaki di sekitar kota ini, tapi tidak buruk juga karena pria itu bukan pria yang membuatnya harus dibenci.


"Maafkan ibu saya. Ibu saya memang selalu begitu kalau sudah punya keputusan sendiri, dan pastilah saya harus mengabulkannya." ujar Abel pada pria tinggi dan tegap yang duduk di seberang nya.


"Ahahaha, santai saja. Bukan hanya ibu anda yang seperti itu. Kalau ibu saya tidak memaksa saya, pasti saya juga tidak berada disini sekarang dengan anda." jawab pria itu dengan tawa yang Abel tau bahwa itu tawa canggung.


"Anda pasti orang yang sibuk." gumam Abel namun bisa didengar oleh pria didepannya.


Pria itu tersenyum mendengarnya. Memang benar kalau wanita didepannya ini cantik, tapi tetap saja ini bukan keputusan yang tepat untuk kencan buta seperti ini.


"Saya dengar anda dekat dengan tuan muda Xelone ya?" tanya pria itu membuat Abel yang sedang meminum minumannya tersedak.


"Uhuk uhuk... Maaf?"


"Ehem, apa saya salah ngomong ya?"


Berpikir sejenak sembari menunggu tenggorokannya terasa nyaman, Abel memicingkan matanya melihat pria didepannya. Bagaimana dia bisa tau tentang hubungannya dengan Acarl? Padahal selama ini hubungannya tidak terekspos sampai harus ke para konglomerat begini.


"Tidak, saya tidak punya hubungan sedekat itu dengan tuan muda Xelone. Hanya saja saya pernah terlibat kasus yang membuat saya harus berurusan dengannya." jawab Abel yang hanya ditanggapi anggukan kepala dari pria didepannya.


"Untuk malam ini saja, bagaimana kalau kita bisa dekat?" ujar Abel mengalihkan topik pembicaraan, namun mampu membuat wajah penuh tanya tercetak dari pria didepannya.


"Saya mengira kalau malam ini akan sangat membuang waktu, tapi sepertinya anda orang yang mudah mengerti suasana ya?" balas pria itu dengan tawa diakhirnya.


Abel tersenyum, setidaknya malam ini tak terlalu merugikan untuknya. "Saya juga bukan tipe yang suka mengoceh tak jelas." canda Abel membuat suasana yang awalnya canggung menjadi sedikit memudar.


"Anda pasti sangat pandai memasak! Para pegawai saya suka order dari restauran anda." ujar pria itu membuat Abel mau tak mau tertawa.


"Hahaha, itu pujian yang sangat berlebihan dari seorang CEO seperti anda. Bahkan anda memperhatikan para pegawai anda tuan..."


"Hendra, panggil saja saya Hendra." ujar pria itu.


"Wah, tuan Hendra baik sekali sampai memberitahu saya nama anda." ujar Abel membawa topik untuk mengisi malam ini.


Setidaknya malam ini bukan malam yang buruk untuk Abel maupun Hendra. Dengan begini tak ada yang merasa dirugikan bukan? Kalau dipikir-pikir lagi, ini pertama kali mereka bertemu dan di situasi yang sangat penuh keterpaksaan. Beruntung Hendra bukan tipe manusia dingin yang menyebalkan, jadi mudah bagi Abel untuk mengajaknya bercanda sedikit.


"Kapan anda berencana pergi ke Perancis?" tanya Hendra disela makan makanan yang sudah tersaji didepannya.


"Saya kurang tahu kapannya, tapi saya berencana untuk dua minggu ini kesana." jawab Abel sembari menyendokkan dessert yang ia pesan.


"Kebetulan sekali bulan depan saya ada proyek disana, mungkin saya bisa mampir ke restauran anda." ujar Hendra dengan menatap Abel lekat.


"Tentu saja boleh, malah kalau bisa promosikan juga ya?!" canda Abel yang mengundang tawa Hendra yang tak menyangka akan mendapatkan respon seperti ini.


Malam ini benar-benar tak disangka akan berjalan dengan lancar, sampai akhirnya keduanya kembali ke rumah masing-masing dan menganggap malam ini mereka sedang beruntung untuk menikmati malam minggu di cuaca yang mulai dingin ini.


Tentu saja mereka juga bisa membuat laporan pada ibunya masing-masing agar sang ibu bisa lega dan tak kembali memaksanya untuk kencan buta. Lumayan mereka bisa membuat orang tua bahagia, daripada harus menjadi durhaka setiap harinya bukan? Karena senyum mereka itu lebih penting daripada senyum kita yang terkadang terkesan terpaksa.


.


.


.


.


.


Halo hai 😘


Aku comeback 🤭


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂


Dukung wajib 😂


See you next part:)