
Tangan yang mengepal sampai buku-buku tangannya memutih, membuat atmosfer mendung bagai akan ada petir menyambar di siang yang panas karena matahari tepat diatas kepala. Atmosfer itu, dapat dirasakan semua yang ada di ruangan itu. Apalagi atmosfer itu milik seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi di gedung bahkan sebagian dari negara ini.
"Tuan, bukan waktunya mengeluarkan atmosfer ini." bisik pria yang selalu setia berada di sisi pria yang mengeluarkan atmosfer gelap ini.
"Kenapa kau beritahu kalau tau aku akan bereaksi seperti ini!" ucap penuh penekanan dari pria beratmosfer gelap ini.
"Anda sendiri yang mengatakan pada saya kalau harus melaporkan semua.."
Lirikan tajam menghentikan pembicaraan kedua pria tampan yang berada didepan layar komputer yang berisi deretan huruf dan angka bahkan garis vertikal dan horizontal sekalipun.
...----------------...
Disisi lain, seorang wanita dengan deretan koper di sebelahnya siap untuk melangkahkan kakinya menuju tempat yang mungkin bisa disebut lembaran baru untuknya. Setelah banyak kejadian yang ia alami, ia akan memulai segalanya di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya.
"Apa kau yakin tidak mau memeluk kakak mu ini?"
"Nggak! Sejak kapan kita jadi adik dan kakak?"
"Durhaka kena batu loh!"
"Dasar! Ngakunya jadi kakak tapi suka nyumpahin gak jelas gitu!"
Pertengkaran biasa yang terjadi antara kakak beradik ini, menjadi pemandangan biasa bagi dua orang yang disebut orang tua bagi kakak beradik tadi. Dan sudah hafal dengan kegiatan mereka, orang tuanya hanya membiarkan saja karena toh sebentar lagi sudah damai dengan sendirinya.
"Kau benar-benar sudah besar ya?"
"Emang aku harus menjadi Abel kecil yang sering sembunyi di balik kakak seperti dulu?"
Vano, sebagai seorang kakak ia pun harus memulai segalanya. Seperti bertengkar dengan Abel, ataupun berdamai dengan Abel. Seperti saat ini, dia yang memulai pertengkaran dan dia harus menyelesaikannya sebelum adik satu-satunya itu semakin marah padanya.
"Sini peluk dong!" ujar Vano seraya merentangkan kedua tangannya. Melihat itu, tak enggan bagi Abel untuk segera menerima tawaran Vano. Sekarang keduanya benar-benar sudah berpelukan dan mengukir kenangan sebelum mereka benar-benar akan sulit bertemu.
"Bakal kangen sama kakak!" ujar Abel seraya mengeratkan pelukannya.
"YEE! UDAH DONG PELUKANNYA!!!" teriak seseorang yang baru datang membuat Abel mau tak mau harus melepaskan pelukannya yang sangat hangat bersama sang kakak tercinta.
Empat orang dengan nama yang sudah pasti Abel kenal, pastinya mereka adalah orang-orang yang selalu ada saat Abel sedang merasa susah untuk melangkah. Ada Rian, Falida, Clara dan Eron. Mereka datang bersamaan, dan itu membuat Abel semakin sayang dengan teman-temannya .
"Kapan terbangnya?" tanya Clara yang kini sudah berada di depan Abel.
"Lima belas menit lagi, mungkin." jawab Abel sembari matanya melirik tempat dimana ia harus masuk nanti.
Clara meraih tangan Abel dan langsung ia genggam sekuat mungkin. "Kamu yakin akan menetap terus disana?" tanya Clara dengan senyum manisnya.
Abel mengangkat kedua bahunya, sembari berpikir apakah ia benar-benar akan lama disana. "Entahlah, kalau semua stabil dan sudah beres pasti aku pulang." jawab Abel tak lupa dengan senyumnya.
"Kau akan melewatkan momen penting kalau disana lama-lama." ujar Clara dengan senyum yang mengatakan ada sesuatu yang harus Abel ketahui.
"Apa itu?"
"Tentu saja kelahiran anak pertamaku!" bukan Clara yang menjawab, tapi Eron dengan smirk dan tangannya yang siaga memeluk pinggang Clara dari belakang.
Seketika mata Abel membulat, tangannya yang masih digenggam Clara semakin ia eratkan. Rasanya ini benar-benar surprise yang sangat mengejutkan untuk Abel terima. "Be-benarkah? Aku jadi aunty lagi?" tanya Abel yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Eron dan Clara.
Abel dengan koper yang ia tarik, mulai melangkahkan kakinya ke gerbang yang akan membawanya ke suatu negara yang akan membawanya untuk melangkahkan kakinya. Lambaian tangan dari semua, seakan mengatakan bahwa rasa rindu akan selalu ada dari semuanya.
Pesawat telah mengudara, membawa Abel terbang untuk meraih segala yang sudah ia usahakan. Entah kapan ia akan pulang, tapi setidaknya ia akan pulang dengan harus membawa suatu kebanggaan bagi orang-orang terdekatnya. Sudah pasti itu akan menjadi hal yang harus Abel tanamkan dalam pikirannya.
...****************...
Seminggu kemudian.....
Prok prok prok....
Suara tepuk tangan dengan senyum semua orang terdengar dengan merdu. Merupakan awal yang bagus untuk memulai suatu usaha bukan? Yup, karena ini adalah hari pembukaan cabang restauran Abel yang berada di Perancis.
"You have incredible talent!" ujar salah satu investor Abel yang berasal dari negara Singapura.
"Thanks very much," balas Abel dengan senyum cantik pastinya!
Semua terlihat menikmati makanan yang disajikan Abel. Dan respon yang Abel terima benar-benar diluar ekspektasinya. Semua baik, dan bahkan rasanya ini seperti mimpi bagi Abel. Si gadis tidak bisa memasak, belajar dan akhirnya membangun restauran dalam waktu singkat.
Belum sampai disitu, tapi banyak yang menginginkan untuk Abel masuk ke acara tv Perancis. Walaupun sangat menguntungkan, tapi Abel menolak hal itu. Karena dia ingin bangkit dengan hasil dari karyanya sendiri, bukan dari ketenaran di tv.
Dalam seminggu ini juga Abel banyak memerlukan waktu beradaptasi, dan harus bisa ekstra bersosialisasi agar bisa akrab dengan para karyawan yang bekerja padanya. Lelah sih ,tapi sudah pasti Abel harus melakukannya bukan? Sampai semua stabil baru Abel bisa beristirahat.
"Apa kabar yang disana, ya? Apa semuanya baik-baik saja?" gumam Abel seraya melihat layar ponselnya dengan wallpaper foto keluarganya.
Baru saja seminggu Abel kesini, tapi rasa rindunya sudah menggebu-gebu. Bahkan saking rindunya Abel ingin melakukan panggilan video sekarang, tapi waktunya tidak cukup untuk melakukan itu. Baru saja restauran nya dibuka, sangat sibuk untuk Abel rasakan hari ini penuh. Mungkin besok baru bisa Abel melakukan panggilan video bersama keluarganya.
Beruntung orang-orang disini baik padanya, jadi tidak susah untuk Abel akrab dengan yang lain. Hanya saja tetap berbeda rasanya berkenalan dengan orang dari negara yang masing asing baginya.
Melakukan bisnis tak segampang yang dikira memang! Harus pandai ini, itu dan yang lainnya. Apalagi Abel tidak menggunakan nama Guston, jadi semua murni dari hasil kerja kerasnya. Tapi sangat bersyukur karena mudah sekali menjalankannya, serasa Abel dibantu oleh orang berkedudukan tinggi.
Lihat para investornya saja adalah orang-orang yang memiliki nama besar di negara ini, jadi bagi Abel ini adalah suatu anugerah untuknya. Ajaib tapi nyata, dan Abel bersyukur karena itu.
.
.
.
.
.
Hola semua ๐ค
Jangan mudah putus asa ya biar bisa kayak Abel๐
Jangan lupa like, komen dan vote ya ๐คญ
Dukung wajib ๐
See you next part:)