
Pusat perbelanjaan yang megah, dengan kedai es krim di dalamnya. Kedai es krim yang dulunya pernah Abel datangi dengan keluarganya. Yah, pertama dan terakhir kalinya keluarganya pergi bersama sih.
Abel datang lebih dulu di tempat janjian, menunggu seorang wanita yang mengiriminya pesan semalam. Abel tak tau apa yang dimau si pengirim pesan, tapi tidak bagus juga untuk Abel mengabaikan pesan dari seorang ibu yang sudah mengandungnya.
Tak lama, datang orang yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Nyonya Guston berjalan kearah Abel dengan tatapan yang Abel sendiri tidak pernah melihatnya. Apa ini benar nyonya Guston yang ia kenal? Kenapa berbeda dengan nyonya Guston yang biasanya menatapnya dengan tatapan jijik?
"Apa sudah lama menunggu?" tanya nyonya Guston yang membuat Abel tersadar bahwa orang yang sedang memenuhi pikirannya berada didepannya sekarang.
"Tidak, saya juga baru saja sampai." jawab Abel yang mulai merasakan kecanggungan diantara keduanya.
Abel tak menyangka akan berdua bersama ibunya seperti ini dan di mall. Ini kali kedua dirinya berada di mall bersama ibunya dan ditempat yang sama juga seperti sekitar lima belas tahun yang lalu. Benar-benar pengalaman yang indah sekaligus menyedihkan karena saat di mall, dirinya hanya menatap ibunya yang hanya memperbolehkan kakaknya saja untuk membeli mainan dan yang lainnya.
Lupakan hal itu, karena sekarang Abel sudah mampu membeli barang-barang yang ia inginkan dulu. Walaupun sekarang ia sudah tidak ada niatan untuk membelinya juga sih. Fokus Abel sekarang ada pada wanita paruh baya yang ia panggil ibu, yang diam di hadapannya yang terhalang meja kedai es krim tempat mereka berdua sekarang.
Seperti hal nya kedai biasanya, sekarang waiters kedai ini menghampiri meja Abel dan ibunya. Belum juga papan menu di berikan pada Abel dan ibunya, tapi nyonya Guston sudah memotong terlebih dahulu.
"Bawakan saja es krim rasa strawberry coklat, beri topping irisan strawberry saja. Pesan dua ya," ujar nyonya Guston membuat Abel mengerutkan keningnya.
"Abel mau es krim rasa apa?"
"Mau rasa strawberry sama coklat!" ucap anak kecil itu dengan keras dan mata berbinar melihat kumpulan warna-warni es krim dihadapannya.
"Mau dikasih chocochips atau strawberry?" tanya pria yang rambut dan tubuhnya masih terlihat muda.
"Strawberry ayah! Abel suka strawberry!"
Abel teringat dirinya yang antusias memesan es krim disini bersama keluarganya. Abel kecil yang menarik kedua sudut bibirnya karena akan mendapatkan es krim dengan rasa dan topping yang ia mau. Dan saat itu, nyonya Guston hanya diam saja memilihkan untuk Vano kecil yang juga antusias dengan es krim rasa vanila dengan waffle yang terlihat menggiurkan.
"Kamu masih suka strawberry bukan?" tanya nyonya Guston menyadarkan Abel dari lamunannya.
"Ah iya, sa-saya masih suka strawberry." jawab Abel dengan senyum paksa yang terlihat kaku diwajahnya.
Hening lagi-lagi datang setelah es krim yang dipesan juga datang dan terlihat sama seperti lima belas tahun yang lalu. Bahkan Abel heran juga melihat kedai yang sudah sangat lama sekali berdiri, tapi masih konsisten dengan rasa dan tampilan es krim ini.
"Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu?" pertanyaan yang keluar saat Abel ingin menyendok kan es krim ke mulutnya. Yah, dengan berat hati Abel harus beralih pada lawan bicaranya sekarang. Walaupun rasanya Abel ingin menghilang saja sekarang.
"Baik. Bagaimana dengan anda?" jawab sekaligus pertanyaan balik untuk ibunya.
"Badanku mulai terasa tua. Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan rasa sakit pada tubuh yang mulai mengeropos ini." balas nyonya Guston diselingi tawa kecil diakhirnya.
Abel yang merasa amat canggung, hanya mampu menjawab dengan tawa kecil seperti nyonya Guston. Sambil menikmati es krim strawberry miliknya, Abel diam tak berkata apapun lagi. Sampai akhirnya, sebuah perkataan dari nyonya Guston membuat tangan Abel berhenti menyendokkan es krim kedalam mulutnya.
"Es krim ini menggambarkan dirimu." ucap nyonya Guston yang langsung membuat Abel menoleh padanya.
"Satu dengan rasa asam khas strawberry, dan disisi lain ada rasa manis dari coklat yang bisa menetralkan rasa asam." lanjut nyonya Guston yang semakin membuat kening Abel berkerut.
"Haha, ini es krim kesukaan saya dari kecil." jawab Abel diselingi tawa renyahnya.
"Dan bodohnya aku baru menyadari arti dari es krim kesukaan mu ini." balas nyonya Guston yang langsung membuat suasana seakan serius. Sangattt~t serius.
"Maaf."
Perasaan bahagia, terharu, dan kecewa bercampur aduk di dalam diri Abel. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan ini, tapi kali ini lebih terasa sekali efeknya. Bukan hanya membuat Abel menangis, tapi juga membuat Abel tertawa dan tersenyum.
"Maaf." perkataan yang diselingi mata berkaca seraya menatap mata Abel dengan rasa yang entah tak bisa digambarkan.
"Maafkan aku. Aku tau ini sudah terlambat, tapi hidup dalam kebencian bukan salah satu tujuanku. Aku dibutakan oleh rasa kecewa pada orangtuaku, sampai aku lupa bahwa aku adalah seorang ibu yang memiliki anak perempuan yang malah hidupnya berakhir seperti ku." ujar nyonya Guston yang semakin membuat Abel tak mengerti harus bereaksi seperti apa.
"Maafkan ibu Abel! hiks.. Ibu tau kalau kamu pasti sudah sangat terluka karena ibu," lanjut nyonya Guston yang sekarang meneteskan buliran bening yang mengalir di pipinya.
"Setelah mendengar ibu akan dijodohkan dengan ayahmu, Ibu marah sama kakekmu. Ibu rasa ibu harus balas dendam dengan merebut hak yang harusnya ada pada ibu, maka dari itu ibu hanya menaruh perhatian pada Vano. Ibu ingin Vano meneruskan bisnis kakekmu yang tiba-tiba beralih pada ayahmu."
"Tapi sekarang ibu menyesali semua itu. Ayahmu adalah pilihan yang tepat dari ayahku. Walaupun beribu usahaku untuk membuat ayahmu menderita, tapi ayahmu tetap mendukung ibu. Ayahmu tak ada dendam apapun pada ibu, padahal ibu sudah menghancurkan seluruh harga dirinya."
Melihat unek-unek seorang ibu yang keluar dengan buliran bening, membuat Abel tak tahan untuk segera menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya. Abel benar-benar tidak tau harus berkata apa sekarang, pikiran Abel masih berusaha mencerna apapun yang ibunya katakan. Benar-benar Abel kehilangan kata-kata yang dimana seharusnya kini ia mencoba menyemangati ibunya.
Semua berakhir. Satu persatu alasan ibunya membencinya, sudah terbongkar dengan permintaan maaf yang Abel sambut dengan memaafkan ibunya. Setidaknya, dirinya tau apa yang terjadi diposisi ibunya saat itu. Mendadak menikah, mempunyai anak, dan harus menjadi seorang ibu dari anak yang lahir dari pasangan hidup yang tak pernah ia cintai dalam hidupnya.
Kini dirinya harus memulai kembali hidupnya. Mencantumkan nama ibunya dalam daftar keluarga yang sempat ia hapus dari ingatannya. Menjadi sosok yang memiliki ibu dan dimiliki oleh ibunya.
"Ternyata benar, jika semua akan terbongkar pada waktunya. Waktulah yang menjadi penentu akan segalanya." batin Abel yang kini tertawa dengan dirinya yang pernah lupa dan bodohnya menghabiskan waktu dengan tak berguna bersama seseorang yang mungkin bukanlah pilihan hidupnya.
Sekiranya begitu yang Abel pikirkan, karena kini ia harus menjadi wanita dengan ajaran sang ibu yang kini mulai ia akui.
.
.
.
.
.
Halo semuanya ðŸ¤
I'm back 🌼
Kangen nggak?
Kangen ya😠wajib pokoknya!!
Jangan lupa like, komen dan vote ya ðŸ¤
Dukung wajib 😂
See you next part:)