
Hari kedua dengan kondisi cuaca yang berawan, apakah nanti matahari tidak bersinar? Diharapkan jangan, karena jika matahari tak bersinar maka dunia akan heboh. Tentu saja heboh kalau tiba-tiba ada penampakan cahaya yang terang di sebuah apartemen, bukankah akan menjadi masalah kalau ada yang melihatnya?
Yup, cahaya yang terang itu juga membentuk pelangi yang indah dengan warna merah sebagai awannya. Setidaknya seperti itulah deskripsi dari keadaan Abelrta Gourich Guston saat ini.
Setelah kemarin penuh dengan debaran jantung, saat ini penuh dengan senyuman manis dari kedua manusia yang seatap dalam tiga hari. Bukan alasan yang susah dicerna kenapa mereka bisa saling tersenyum manis, sudah pasti karena keduanya tak bisa menahan perasaan hangat yang tercipta karena kejadian kemarin.
Flashback on
Malam hari yang damai di dalam apartemen, membuat Abel merasakan kenyamanan menyertainya dalam setiap masakannya. Sungguh masakan dengan rasa yang pas dan juga dengan niat yang sempurna menjadikan malam ini akan berkesan dalam diri Abel.
Karena Acarl menyebutnya sebagai obat paling ampuh, membuat Abel merasa sangat bahwa perasaannya dan juga perasaan Acarl masih dalam keadaan yang sama. Dengan begitu, masih ada harapan untuk Abel melanjutkan mimpinya untuk menikah dengan Acarl. Dan sebagai hal yang harus dipertaruhkan Abel adalah keberanian untuk mewujudkan mimpinya itu.
"Fyuh, untung aja makanan hari ini bisa selesai dengan cepat!" ucap Abel seraya mengamati makanan yang ada di atas meja.
Tak lama kemudian pintu apartemen berbunyi, menandakan bahwa ada orang yang masuk ke dalam apartemen Acarl. Dan bukanlah orang lain, sudah pasti Acarl lah yang masuk. Karena yang mengetahui sandi pintu apartemen Acarl hanyalah Acarl, Abel (karena kejadian Acarl mabuk saat itu.) , dan juga Cheiz tentunya.
Abel langsung berlari menuju pintu dan menyambut kedatangan Acarl. Sedangkan Acarl yang tidak terbiasa dengan yang Abel lakukan sekarang, hanya menatap takjub karena akhirnya dirinya mengerti bagaimana bahagianya memiliki istri. Walaupun Abel belum menjadi istrinya!
"Waw, tepat waktu jam delapan!" puji Abel pada Acarl yang datang pas di jam delapan malam seperti yang sempat Abel pikirkan seraya memasak tadi.
"Apa aku harus datang lebih lambat dari sekarang?" tanya Acarl yang berusaha menanggapi candaan Abel tadi.
"Yah, bisa jadi akan ada berita pembunuhan di apartemen ini." balas Abel dengan tawa kecil diakhirnya. Dan jangan lupa Abel juga dengan senang hati menawarkan bantuan untuk membawakan tas Acarl dan juga jas yang lumayan berat untuk ia bawa.
Sementara Acarl, awalnya dirinya tidak mau menyerahkan tas dan jas nya. Tapi melihat puppy eyes yang Abel berikan, mau tidak mau Acarl kalah dari kemauan nya. Dan kini dirinya memilih untuk membersihkan badan karena terasa asam menguar dari tubuhnya.
"Kalau selesai mandi, cepatlah ke ruang makan!" ucap Abel tepat di depan kamar mandi sembari berjalan ke arah dapur.
Dan disinilah mereka sekarang, di ruang makan dengan makanan yang tersaji dihadapan mereka. Dengan Abel yang siaga melayani Acarl, dan Acarl yang dengan senang hati menerimanya.
"Aku tidak tau apa ini sesuai dengan selera mu, karena di kulkas mu tinggal ini bahan yang tersisa ya sudah aku hanya bisa memasak makanan ini saja." ucap Abel sembari menyendokkan lauk ke dalam piring Acarl.
Acarl yang mendengar penuturan Abel, langsung merutuki dirinya yang lupa memberitahu Cheiz agar berbelanja untuk mengisi penuh kulkasnya. "Bagaimana kalau besok kita berbelanja?"ucap Acarl spontan tanpa berpikir panjang terlebih dulu. Sementara Abel sedikit terkejut lalu segera menetralkan ekspresi wajahnya.
"Apa benar besok kau ada waktu untuk berbelanja?" tanya Abel dengan nada bercanda karena menganggap ucapan Acarl tadi hanya sekedar candaan juga.
"Apa aku terlihat seperti penipu?" ujar Acarl seraya menatap serius kepada Abel dan Abel yang langsung paham bahwa Acarl benar-benar serius.
Semua kembali diam sampai akhirnya makan malam selesai, membuat Abel harus pergi ke tempat cuci piring setelah tumpukan piring terlihat jelas. Namun kegiatannya terhenti, saat Acarl langsung menyekal tangan kanan Abel yang jarinya terdapat plester karena terkena pisau tadi.
"Jarimu kenapa?" tanya Acarl dengan memperlihatkan jari Abel pada pemiliknya sendiri.
"Hah? Gapapa cuma kena pisau sedikit ngga sampe dalam juga!" balas Abel yang awalnya juga terkejut karena Acarl yang tiba-tiba memutar tubuhnya agar menghadap ke Acarl.
Tanpa aba-aba, tubuh Abel terangkat dan di dudukan di atas meja. Tentu saja Abel terkejut, tapi tambah terkejut saat Acarl membuka plester Abel dan melihat warna merah yang terlihat belum kering. Segera Acarl mencari kotak P3K dan mengambil antiseptik dan perban.
Sementara Abel diam seraya mengamati tangan-tangan Acarl yang teliti mengobati luka yang sebenarnya tidak terlalu besar itu. Malah senyuman tersungging di wajahnya Abel, yang kemudian hilang saat wajah marah Acarl menatap dirinya.
"Jangan pernah terluka! Walaupun sudah dua tahun berlalu, tapi kejadian saat penculikan itu masih membekas yang membuatku takut apa kau masih bernapas atau tidak." lirih Acarl membuat Abel benar-benar mengamati wajah Acarl yang terlihat sendu. Kenapa bukan momen romantis tapi malah momen menyedihkan seperti ini yang terjadi!!
"Hei Acarl! Lihat aku baik-baik!" pinta Abel membuat Acarl mau tidak mau harus mengangkat kepalanya melihat wajah Abel yang menatapnya dalam.
Abel tersenyum, menatap Acarl yang tidak berubah sama sekali. Masih saja bersikap kekanak-kanakan kalau terjadi sesuatu padanya.
"Apa aku terlihat lemah di matamu?" tanya Abel langsung mendapatkan gelengan kepala dari Acarl.
"Kau wanita paling kuat yang pernah aku kenal." ucap Acarl menjawab pertanyaan Abel yang sebenarnya hanya ingin memberitahukan kepada Acarl bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ehem, kau tau aku kuat. Tapi kenapa kau bersikap seperti ini seolah aku akan mati?" tanya Abel lagi dan seperti tadi, tanpa pikir panjang Acar langsung membalas Abel.
"Karena setetes darahmu itu penting, kalau kau terluka aku juga merasakannya. Dan kalau kau mati, aku juga pasti akan mati." balas Acarl.
Semua jawaban Acarl, benar-benar mampu membuat Abel bingung harus berkata apa lagi. Dengan jawaban Acarl, sudah memojokkan dirinya sendiri untuk tidak meninggalkan Acarl. Tapi bagaimana cara memberitahu Acarl, bahwa dirinya juga tidak mau berpisah? Masih ada perang diantara mereka, tapi Acarl?
"Sudah berapa kali aku hampir kehilanganmu? cup.. Dan apa kau masih ingin kita berpisah lagi?" tanya Acarl dengan sesekali mencium lembut telapak tangan Abel yang masih berada dalam genggamannya.
Acarl sudah menguatkan dirinya, bersedia menerima jawaban yang tidak ingin dia dengar. Sebelum akhirnya....
"Tidak, aku juga tidak mau berpisah denganmu." jawab Abel yang mampu membuat Acarl membelalakkan matanya. Apa dia tidak salah dengar?
"Tapi aku mohon, beri aku waktu sampai aku bisa sepenuhnya kembali padamu." lanjut Abel yang dalam sekejap langsung mendapatkan sambutan hangat dari bibir hangat Acarl yang menempel di bibirnya.
Abel tak menolak, bahkan sekarang dirinya mengalungkan tangannya di leher Acarl. Tentu saja Acarl langsung tersenyum dan tidak menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Dengan menahan tengkuk Abel, ia membawa Abel kedalam hangat malam berselimut sinar bulan.
"Jangan paksakan dirimu. Aku akan menunggu sampai kau siap untuk berada di sisiku lagi." ucap Acarl yang langsung mendapat anggukan kepala dari Abel. Dan malam inilah yang membuat hangatnya suasana pagi di hari kedua Abel berada di apartemen Acarl.
.
..
...
....
.....
Aku kembališ¤
Dukung author ya biar semangat up!!!