
Seperti yang Abel rencanakan, dirinya sudah bersiap dengan alat kebersihan demi membersihkan apartemen Acarl yang terlihat sudah bersih sih sebenarnya. Tapi daripada Abel tidak punya kerjaan, lebih baik kalau dirinya mencari sebutir debu bukan?
Di apartemen yang Acarl tempati, ada dua ruangan tertutup. Yang satu adalah kamar Acarl, dan yang satunya lagi adalah gudang penyimpanan barang-barang Acarl. Satu dapur, balkon, ruang tamu, kamar mandi dan yang spesial daripada apartemen yang lain adalah apartemen Acarl memiliki kolam renang pribadi yang menyatu dengan balkon. Bisa dikatakan ukuran apartemen Acarl terbilang luas.
Sembari menatap penjuru ruangan apartemen Acarl, Abel bertekad akan mulai dari arah yang terbilang cukup bersih. Yaitu adalah kamar Acarl, lalu menuju ruang tamu, kemudian balkon, terus dapur dan terakhir kamar mandi.
Melihat kamar Acarl, membuat Abel yakin seratus persen pasti Acarl adalah orang yang perfeksionis. Nyatanya kamarnya sekarang sangat bersih sampai lap yang ia gunakan tak ada debu yang terlihat menempel.
Walaupun terkesan kaku, tapi Abel mengetahui satu hal yang pasti kalau Acarl tidak pernah membawa pekerjaannya ke apartemennya. Terbukti kertas-kertas tak terlihat di kamarnya.
Berbeda dengan warna di kamarnya, Acarl memilih warna putih untuk area ruang tamu sampai dapur. Walaupun warna putih, tapi tetap saja debu seperti tidak ada sama sekali. Abel sampai heran, sebenarnya Acarl yang rajin bersih-bersih atau memang Acarl yang jarang pulang kesini?
Lebih kelihatan hidup di area dapur dan ruang tamunya daripada kamar Acarl. Walaupun begitu, tetap saja aroma Acarl yang memenangkan kehangatan di apartemen ini.
Dan kemudian balkon depan yang sangat indah dengan kolam renang yang terkesan damai dan tenang. Entahlah berapa biaya yang Acarl keluarkan, tapi fasilitas ini sangatlah indah menurutnya.
Dengan kolam renang yang menghadap ke luar, sudah dipastikan kalau koceknya tidak akan semurah harga satu restauran yang Abel miliki. Memang ya, pengusaha seperti Acarl uang bukanlah hal yang sulit.
"Dasar pria kaku! masa dia tidak berbuat aneh-aneh saat di apartemennya sendiri sih? Kenapa semuanya terlihat seperti tidak pernah disentuhnya?" gerutu Abel selama proses sapu menyapu.
Mengepel setiap inchi partikel-partikel yang mungkin saja ada jika Abel bisa melihatnya. Lalu membersihkan lantai kamar mandi yang bahkan terlihat lebih bersih daripada bayangan mengenai kamar mandi ala pria.
"Yah, setidaknya aku ada kerjaan walaupun sedikit menyebalkan karena debu saja aku tidak lihat!" kesal Abel setelah semua tugasnya selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, dan Abel memilih untuk ke balkon dan melihat pemandangan kota yang indah. Karena sudah jam sepuluh, keadaan kota tak seramai jam-jam sebelumnya. Yah, jam segini kan semua orang sudah sibuk ditempatnya.
Sekalian menunggu waktu untuk memasak, Abel memutuskan untuk mengambil gambar di area balkon yang yah, estetik!
Setelah area balkon, Abel berkeliling di apartemen dan bertemulah dia dengan kaca. Sudah pasti Abel akan mengambil gambar juga di depan kaca itu.
"Udah mirip model belum ya?" ucap Abel dengan tersenyum melihat hasil fotonya.
Sangat-sangat anak estetik banget di apartemen Acarl ini. Dan karena itu, Abel jadi kepikiran untuk mendekor ulang restauran nya agar terlihat se estetik ini. Pasti akan menarik perhatian pelanggan juga bukan?
Dan yah, tibalah waktu dimana Abel sudah boleh mulai memasak. Waktu memasak yang singkat, tapi Abel tau kalau masakannya akan jadi kurang lebih empat puluh lima menit. Dan rencananya dirinya akan mandi setelah memasak.
Akhirnya, semua selesai dengan tangan-tangan Abel yang berkarya. Sudah dipastikan kalau sekarang waktunya Abel untuk mandi dan berganti baju yang lebih tertutup, mana mungkin dia berada di depan pria dengan baju terbuka seperti ini?!
Walaupun Abel terlihat semangat, tapi tetap saja wajahnya masih terlihat pucat dengan kepala yang masih bisa dibilang berat. Tapi, Abel tidak mau jika harus beristirahat total sampai tidak bergerak sama sekali. Itu malah menambah rasa sakitnya!
"Sudah jam dua belas lebih, makanan sudah siap sebelum dia sampai. Semoga aja nggak kelewat dingin." ujar Abel seraya mengamati masakannya dan benar saja masih ada yang tertinggal untuk makanan yang ia hidangkan.
"Wah! aku lupa kasih bawang goreng lagi! Kan rasanya jadi kurang nanti!" gerutu Abel seraya dengan cepat mengambil bawang goreng dan juga bawang daun sebagai toping.
"Mumpung ada bawang daun, mending dikasih kan biar cantik!"
*krek...
krekkk...
krekkkk...
SYATTT*....
"AWWHHH!!!" pekik Abel saat pisau menyayat jarinya sampai darah merah mengalir lumayan banyak.
Segera Abel mencari kotak P3K dan mengobati lukanya sebelum tambah infeksi. Selesai dengan lukanya, Abel malah salah fokus dengan botol obat yang bertuliskan Mr. Acarl Xelone.
"Dia minum obat? Mana sepertinya ini botol baru!" tanya Abel pada dirinya sendiri sembari mengamati botol itu dengan nama obat yang asing baginya.
Abel yang penasaran, langsung mencari benda pipih miliknya. Membuka laman pencarian, Abel mengetik nama obat itu dan apa kegunaannya. Sudah begitu, Abel menunggu sampai beberapa rentetan artikel muncul dengan judul yang sama dan juga membuat Abel terkejut.
######
Pintu terbuka menampilkan wajah yang masih terlihat segar walaupun sudah siang hari buta. Seorang pria dengan jas kantor dan dasi yang entah sudah hilang kemana, tapi malah menambah ke keren nan pria itu.
"Kok sepi?" gumam pria itu yang tak lain adalah Acarl. Dengan dahinya yang mengerenyit, Acarl mencari sosok wanita yang ada di apartemennya. Dan yap, Abel lah yang ia cari.
Sesosok wanita dengan rambut di jedai ke atas, dan wajah yang cantik walaupun sedikit pucat keluar dari kamar Acarl yang sekarang sedang di tempati wanita itu.
"Sudah pulang? Kemana dasimu?" sapaan pertama kali dari Abel setelah melihat Acarl datang dari balik pintu apartemen.
"Selesai meeting membuatku gerah, yaudah aku lepas dasinya." jawab Acarl seraya melangkahkan kakinya mengikuti Abel yang juga berjalan ke arah ruang makan.
Makanan siap semua, dan keduanya makan dalam diam sampai makanan mereka habis. Tak banyak yang diobrolkan, karena yang sudah pasti mereka obrolkan adalah kondisi Abel sekarang.
"Acarl, aku ingin kau jujur satu hal padaku. Bisa?" tanya Abel setelah selesai makan dan Acarl yang masih menunggu turunnya makanan ke perutnya.
"Kenapa tidak?" jawab Acarl yang mulai penasaran dengan apa yang akan Abel tanyakan.
Walaupun sedikit takut untuk menanyakannya, Abel tetap memberanikan diri untuk mengetahui kebenarannya. Dengan benda yang ia genggam, Abel akan menanyakan dengan pasti pada Acarl, tentu secara baik-baik juga.
"Kenapa kau meminum ini?"