
"Hmm ..." Derrel yang sedang tidur mulai ngulisik karena ia merasakan ada yang menyentuh kakinya dari bawah selimut. Ia yang merasa risih pun menggerakkan kaki dengan menendang, lalu bergumam, "Kak Dennis ... jangan iseng, dong ...."
Derrel membalikan tubuhnya tanpa membuka mata. Telentang dengan satu guling di sampingnya. Tapi ada sesuatu lagi yang membuatnya tak nyaman. Tiba-tiba dadanya terasa berat dan ia mulai sesak napas. Seketika keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia mencoba untuk membuka mata, tapi susah.
Tangannya bisa digerakkan. Ia mengusap matanya dan akhirnya bisa membukanya secara perlahan. Biasanya saat bangun tidur, objek pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar dan lampu. Tapi kali ini berbeda.
Yang ia lihat adalah sosok aneh menyerupai asap dan bermata merah menyala. Terlihat sedang berada di atas tubuhnya. Hal itu lah yang membuatnya tak bisa bergerak. Derrel benar-benar ketakutan. Ingin berteriak minta tolong, tapi suaranya tak keluar. Keadaan kamar juga sangat sepi dan sunyi. Tak ada siapapun, bahkan kedua kakaknya juga tidak ada di sana.
Hal yang membuatnya semakin takut adalah, beberapa boneka di kamar itu terlihat seperti sedang menatapnya sambil tersenyum keji. Lalu salah satu dari boneka itu menggerakkan kepalanya. Derrel ingin segera pergi dari kamarnya, tapi sosok di hadapannya itu benar-benar menahan tubuhnya dengan kuat.
Lalu tak lama, sosok itu pun berteriak dan suaranya seperti petir yang menyambar. Seketika itu juga akhirnya, Derrel bisa berteriak dan bangun dari tempat tidurnya. Napasnya terengah-engah dan jantungnya berdegup kencang. Rasanya seperti habis tercekik. Tapi Derrel sadar kalau itu semua hanya mimpi.
Ia melihat posisi bonekanya masih seperti semula. Lampu kamar masih menyala, hanya saja jendelanya tidak ditutupi tirai. Dari sana, Derrel bisa melihat cuaca di depan sana agak buruk. Masih hujan disertai petir.
Karena takut dengan petirnya, Derrel memutuskan untuk keluar kamar. Ia ingin mencari orang tuanya, atau kakak-kakaknya yang lain. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Ibu ... ayah ... Derrel takut." Ia membuka pintu. Lelaki itu mendadak tersentak saat melihat apa yang ada di balik pintu tersebut. Ibunya berada satu meter dari pintu dengan bersimbah darah, tergeletak di lantai.
Di sampingnya terdapat si ayah yang bersandar pada kursi yang terjatuh. Derrel menoleh ke atas terdapat seseorang yang tergantung di sana. Suara petir yang sangat keras membuatnya lompat, terkejut.
"Huft .... Mimpi, cuma mimpi," lirih Derrel sambil mengusap wajahnya. Lelaki itu membuka gorden kamar dan melihat masih hujan di luar sana.
Lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tidak ada siapa pun, di ruang tamu juga tidak ada siapa-siapa. Lantas dia berjalan ke arah dapur dan terdapat ibunya di sana.
"Oh, hai. Baru saja ibu mau bangunin kamu, sini makan dulu. Kakak-kakakmu belum pulang?" tanya ibunya.
"Mereka pergi? Kemana?"
Wanita tersebut hanya mengangkat bahu. Kemudian dia menyajikan makan. Derrel memutuskan akan makan duluan karena dia sudah kelaparan juga. Di tengah asiknya makan, Derrel mendengar suara Dennis.
"Kami pulang!" Dennis langsung menuju dapur sambil membawa katong plastik berwarna putih. Lalu ia meletakan kantung tersebut di atas meja makan.
"Kak Dennis, darimana?"
"Oh, tadi beli cemilan doang. Tapi toko di depan perumahan tutup, jadi kita cari tempat lain." Dennis menjelaskan sambil memasukan cemilan ke dalam laci dapur.
"Kak Rei?"
"Lagi parkir mobil." Dennis menutup laci setelah selesai, lalu melipat plastiknya dan menyimpan plastik itu di dalam laci di bawah kompor.
"Oh ya, tidurmu nyenyak?" tanya Dennis.
Derrel menunduk sambil menggeleng, dia menjawab, "Aku mimpi buruk."
"Mimpi apa? Cerita, dong."
Derrel menggeleng kuat. Dennis sedikit memaksa, tetapi Derrel tetap bungkam. "Ya sudah, lagian itu cuma mimpi." Dennis duduk di depan Derrel. "Kak Rei belum selesai parki—"
Tiba-tiba suara bernada tinggi dari luar menghentikan kalimat Dennis dan mengejutkannya.
"Dennis, kok kamu gak buka sepatu masuk rumah?!" seru Rei.
"Ah, lupa." Dennis menjawab dengan nada enteng dan membuka sepatunya saat itu juga.
"Pel sana, lumpur dimana-mana!" perintah Rei.
"Iya, iya, gak usah galak-galak." Dennis beranjak dari tempatnya dan langsung melakukan apa yang Rei suruh. Disaat sedang mengerjakan tugasnya, Dennis menggerutu kesal. Lalu setelah semuanya bersih, ia kembali ke dapur untuk makan bersama.
...*******♥*******...
Saat keesokan harinya–
Pagi itu tidak biasa, orang tua dari tiga bersaudara tersebut mengadakan rapat keluarga dadakan yang berlangsung kurang lebih tiga puluh menit. Setelah selesai, seperti biasa, Rei, Dennis dan Derrel sedang sarapan di meja makan. Namun pagi itu Derrel terlihat seperti sedang gelisah. Beberapa kali harus ditegur agar dia mengunyah makanan di dalam mulut.
"Kenapa, Rel?" tanya Dennis. Derrel hanya menggeleng dan buru-buru menghabiskan makannya.
"Hati-hati nanti tersedak."
Derrel mengangguk mendengar perkataan Rei.
Rei selesai makan terlebih dahulu, lalu ke mobil mendahului adik-adiknya. Hanya ada Dennis dan Derrel di ruang makan. Tangan Derrel menggenggam erat sendok. Rada tremor sedikit.
"Um, Kak Dennis. Kakak liat buku-buku di tasku gak?" Derrel mengigit bibir bagian bawahnya.
"Buku-buku pelajaranmu bukannya ada?"
"Bukan itu, buku lain."
"Nggak tuh, kamu emang bawa buku banyak?" Dennis mengambil gelas dan meneguk air di dalamnya.
"Ah, mungkin aku salah ingat ... Aku sudah selesai, Kak Rei pasti udah nunggu," ujar Derrel dengan senyuman manis mengembang. Mereka mencuci piringnya sebentar lalu menyusul Rei.
Rei memastikan kembali tidak ada yang tertinggal, begitu juga dengan adik-adiknya. Setelah sudah siap, mobil pribadi mereka melaju, meninggalkan area rumah.
Sedangkan hari ini Azura tidak diantar oleh Leon karena dirinya bangun kesiangan. Terpaksa dia naik kereta, meskipun jarak stasiun ke sekolah cukup jauh.
"Sial," umpat Azura yang masih kesal karena dia kesiangan. "Ck, kalo gw lebih pagi, pasti gw dibeliin sarapan sama Leon." Azura bergumam sambil mengulum permen lolipop yang dia beli barusan.
Tiba-tiba sebuah kotak disodorkan kepadanya. Azura melirik siapa yang memberikan kotak itu. "Buat gw ini?"
Orang yang memberinya mengangguk. Tentu saja Azura menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Le."
Azura telah sampai di kelasnya. Ia bersama Leon juga. Leon tidak mau pergi ke kelasnya sebelum bel karena di kelasnya itu murid-muridnya pada berisik dan gaduh. Sedangkan Leon lebih suka dengan ketenangan dan sunyi.
Tapi tetap saja di kelas sebelahnya itu, ia masih digganggu oleh Azura yang berisik. Tak hanya itu, bisikan dari para siswi pasti akan terdengar dan itu sangat menganggu telinganya.
Ia yang masih membaca buku yang sama saat di mobil tadi, masih merasa risih dengan tingkah Azura yang masih memainkan model rambut barunya itu.
"Huh, ingin rasanya aku ingin membungkusnya seperti lemper, lalu memajangnya di gudang." Gerutu Leon dalam hati.
Azura selesai dengan poni rambutnya. Ternyata walau sudah diacak-acak sama tangannya, tetap saja model rambutnya tidak berubah dan tetap sama seperti sebelumnya.
"Pagi, Ra!" Dian menaruh tasnya di samping meja lalu duduk di kursi dengan posisi menghadap ke belakang. Tepatnya ke tempatnya Azura. Lalu kalau Leon berada di kursi belakangnya Azura yang merupakan kursi milik Dennis.
Saat ini, Dennis, Derrel dan Rei belum datang. Kejadian yang sangat langka jika mereka datang telat. Karena biasanya mereka bertiga itu anak yang teladan.
"Oy, tumben amat lu datang pagi-pagi, Dian?"
"Yare yare ... Jadi kau senang aku terlambat dan dihukum, ya?"
"Hehe..." Azura tertawa kecil lalu menyibak poninya sekali lagi. "Kan seru aja gitu. Nanti gw godain lu lagi kalau lu dihukum berdiri di depan kelas dengan ember kayak 3 hari yang lalu!"
"Si anying!"
DRRRRKKK....
Pintu kelas bergeser dan datanglah beberapa orang ke kelas itu. Ternyata orang itu adalah Dennis. Tapi tak hanya dia. Ada Derrel dari kelas bawah dan Rei dari kelas sampingnya.
Saat sampai di depan mejanya, Dennis hanya menaruh tasnya saja karena ia masih membiarkan Leon untuk duduk di tempatnya. Setelah itu, Dennis menggebrak mejanya sendiri dan membuat Leon sedikit terkejut.
"Huh! Akhirnya aku sampai juga." Dennis terlihat kelelahan dan napasnya masih terengah-engah. Begitu juga dengan Derrel. "Aku pikir... aku akan terlambat!"
"Yare yare... ternyata anak teladan bisa telat juga, ya?"
"Hehe... sebenarnya kami sudah bangun dari pagi. Tapi tadi di rumah... ada sedikit pengumuman dari keluarga besar kami."
"Apa, tuh?" tanya Dian dan Azura serempak.
"Katanya kita mau pindah rumah." Derrel menjawab seraya menjentikan jarinya.
"Pindah kemana? Rumah kalian, kan, udah besar."
"Yare yare, Ra. Kamu gak tau kehidupan orang kaya." Balas Dian. Tapi Leon merasa tersindir dengan kata-kata Dian barusan.
"Kami gak dikasih tau mau pindah kemana, hehe ..." jawab Derrel sambil menggaruk kepala. Semua yang mendengarnya pun kecewa.
"Eh kambeng. Ikut pindahan Derrel, yuk. Sekalian bantu-bantu." Ajak Azura. Leon hanya berdeham singkat. Matanya tidak lari dari tulisan-tulisan di atas kertas.
"Astaga gak usah repot-repot. Tapi katanya nanti dibuka acara pesta buat perayaan rumah baru gitu," ucap Dennis.
"Ya, padahal kami gak mau ada acara begitu." Derrel melanjutkan ucapan kakaknya. "Lalu, lebih anehnya ... keluarga kami mau undang satu kelas."
"Eh kita semua?" ucap satu kelas serempak. Semua anak yang sudah datang ke kelas langsung menghampiri dan mendengar pembicaraan mereka.
"Aku curiga kalau rumahnya akan lebih besar dari rumah yang sekarang," gumam Rei. "Rumah lama saja cuma diisi 5 orang saja masih terasa luas, apalagi kalau rumah barunya lebih luas dari yang sekarang."
"Apa kau yakin kita akan diajak Dennis untuk mengunjungi rumah barunya?" tanya seorang teman sekelasnya Dennis.
Dennis dan Derrel mengangguk. "Iya. Setelah kami pindah, lusanya kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan." Kemudian Derrel melanjutkan, "Orang tua kami sudah mengizinkan. Jadi kalian semua bisa datang, kan? Ini tidak wajib, kok, hehe...."
"Woah, kayaknya bakal seru, nih!"
"Rumah orang kaya, pasti banyak makanan nanti!"
"Ahahaha... Iya."
"Keluarga mereka memang baik sekali!"
"Baru pertama kali aku mendengar ada orang yang mengundang banyak orang sampai satu kelas begini ke acara keluarga mereka."
"Sama! Aku juga!"
Semua teman sekelas Dennis terlihat senang sekali dengan acara yang akan datang itu. Dennis dan Derrel juga merasa begitu. Karena di rumah barunya akan diisi oleh banyak orang-orang baik dan menyenangkan.
"Terima kasih, Dennis dan adik dan kakaknya! Kau yang terbaik!" Ketua kelas menepuk-nepuk pundak Dennis, lalu setelah itu, semua murid langsung kembali ke tempatnya dan melanjutkan urusannya masing-masing. Mereka semua sangat menantikan acara keluarganya Dennis.
"Hei, a–aku ketinggalan apa, nih?"
Kelompok Dennis menoleh ke belakang. Dian melambai kecil lalu menyapa orang yang baru saja datang itu. Rei sedikit melebarkan matanya saat melihat orang itu.
"Yare yare... Anak OSIS baru datang, nih, ya?"
"Hehe..." Orang itu tersenyum dan menggaruk pipinya pelan dengan telunjuk. "Tadi ada rapat sebentar. Tapi sebentar lagi bel akan dibunyikan. Kita kembali belajar."
Orang itu ternyata si Arel. Wajahnya imut dan manis dengan matanya yang besar berwarna abu-abu. Rambut hitamnya yang lebat dan lembut selalu berkibar setiap ada angin yang menerpanya.
"Yah... kenapa harus masuk, sih? Males belajar, tau!" Dian mengeluh.
"Mending gak usah sekolah, lu!" Rei membalasnya. Setelah itu, ia pun berbalik badan ingin kembali ke kelasnya. Tapi sebelum itu, ia melirik ke Arel. "Mau ... bareng gak ke kelas?"
"Oh, oke deh, ayo!" Arel mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia jalan duluan di depan Rei. Rei pun mengikutinya dari belakang.
Setelah Rei dan Arel pergi, Leon pun beranjak dari kursi. Ia kasihan lihat Dennis berdiri terus sementara tempatnya dipakainya. Ia akan ikut dengan Rei untuk kembali ke kelas karena mereka berdua memang sekelas.
Derrel juga akan pergi. Kelasnya sedikit jauh karena di lantai bawah dan ia sendirian. Ia juga masih takut kalau saat sampai di kelas nanti, dirinya akan dipermainkan oleh teman-temannya lagi.
Namun sebelum Derrel pergi, Azura juga ikut beranjak dari tempatnya. Ia berjalan di samping Derrel.
"Eh? Kak Azura? Kakak mau ngapain?" tanya Derrel heran yang melihat Azura mengikutinya sampai luar kelas.
"Aku mau ikut. Sekalian nganterin kamu sampai depan kelas. Sekalian juga aku ingin melihat kabarnya teman-temanmu!"
"Ah, o–oke!"
*
*
*
To be continued–