
Keesokan harinya, Dennis dan Derrel bersiap-siap untuk ke sekolah. Mereka memakai seragam yang sama, tapi dengan jas yang berbeda. Mereka berdua dihantar oleh bibinya ke sekolah.
"Sampe sini aja, ya. Bibi tinggal."
"Iya, Bi." Sahut Dennis dan Derrel bersamaan. Mobil bibinya pun pergi. Dennis menarik tangan Derrel untuk menyeberang bersama. Untuk awal yang baru mereka buat, ini kali pertamanya mereka dapat melihat gedung sekolah lagi setelah lama mengurung diri dalam rumah.
"Kak ...."
"Tenang aja, Rel. Semua pasti akan baik-baik saja." Dennis menggenggam erat tangan adiknya. Lalu mereka bersama-sama mulai memasuki lingkungan sekitar.
Tak ada yang mereka kenal di sana. Semuanya sudah tidak ada. Dennis hanya mengenal teman-teman sekelasnya saja, tapi sangat asing dengan murid lain. Begitu juga dengan Derrel. Mereka jadi terlihat seperti pendatang baru.
****************
Dennis akhirnya sampai di kelasnya. Terlihat sepi dan berantakan. Lelaki itu berniat akan membereskan kelasnya walau ia tau tidak akan ada yang datang ke kelas itu.
"Kak, aku ke ... kelasku, ya?" Derrel melepaskan genggaman tangan kakaknya. Dennis hanya mengangguk, Derrel pun pergi.
"Ah, kebetulan ada sapu di sini."
Dennis mengambil sapu dari belakang pintu dan juga kemoceng. Pertama, ia menghapus papan tulis dan membersihkan debu di mading kecil kelas itu. Di mading tersebut, tertampang beberapa foto teman sekelasnya yang kini telah tiada. Termasuk Dian dan Azura.
Dennis menyentuh salah satu foto, lalu menundukkan kepala. "Maafkan aku. Andai aku tidak mengajak kalian ke pestaku, kalian tidak akan–"
"Eh Dennis, ya?"
"Loh, udah masuk nih anak."
"Ah kalian ..." Dennis terlupa dengan teman-temannya yang tidak datang ke rumahnya. Kini teman sekelasnya yang tersisah akhirnya datang dan bertemu dengannya.
"Dennis, bagaimana keadaanmu?" tanya seorang gadis kecil bernama Lucy. "Aku tahu semua tentang tragedi di rumahmu."
"Kok kau bisa tau?" tanya seorang lelaki di sampingnya. Dia bernama Ethan, lelaki paling tinggi di kelas itu.
"Aku nonton berita lah, bodoh!"
"Ya udah, santai dong." Ethan pergi ke kursinya.
Dennis ingin melanjutkan kegiatannya, tapi Lucy kembali memberikan pertanyaan yang sama. Dennis tersentak. Ia hanya menjawab kalau ia baik-baik saja. Setelah itu, Dennis mengambil sapu dan menyapu ruang kelas itu dari sudut ruangan.
****************
Sementara Derrel baru sampai di kelasnya. Ia berdiam diri sejenak sebelum sampai di depan pintu. Dia ingin masuk begitu guru datang ke kelasnya. Tapi ternyata ada sekelompok anak yang keluar dari kelas itu.
Derrel terkejut melihatnya. Tiga orang anak itu adalah pembully sejatinya. Orang yang paling ditakuti Derrel.
"Ah, lihat itu, bro!" Salah satu dari mereka melihat Derrel dan langsung menunjuknya. Derrel terkejut dan hendak berlari menjauh. Tapi ketiga orang itu sempat menghampiri Derrel sebelum Derrel lari.
"A–anu ... aku gak ngapa-ngapain." Derrel terpojok. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ia tidak ingin pengalaman terburuknya dengan orang-orang itu terulang lagi.
"Hei, kau belum disuruh ngomong!"
"Oh ya dari mana saja, kau?!" Salah satu dari mereka memukul tembok di belakang Derrel. "Kau sengaja gak masuk sekolah biar gak disuruh-suruh, ya?"
"Bu–bukan gitu ... aku–"
"Ayolah kawan-kawan ~ Jangan mendesak dia begitu." Anak lainnya menyingkirkan dua teman mereka, lalu ia merangkul Derrel dan berbisik, "Lebih enak kita ngobrolnya di gudang aja gimana?"
"Ng ... aku ... aku mau ke–"
Orang yang merangkulnya itu tiba-tiba menatap tajam dengan tatapan melotot. Reflek Derrel mengangguk saja untuk mengiyakan. Ketiga orang itu pun membawa Derrel ke gudang. Tapi ada seseorang yang diam-diam memperhatikan kelakuan ketiga orang itu.
****************
"Hah ... aku selesai." Dennis mengumpulkan sampahnya ke serokan, lalu membuangnya ke tempatnya. "Ah penuh." Dennis keluar kelas membawa tumpukan sampah itu.
Dennis pergi ke tempat pembakaran sampah yang letaknya di belakang gedung A. Di sana juga dekat dengan kamar mandi dan gudang. Selesai membuang sampah, Dennis pergi ke gudang untuk menaruh peralatan kebersihan.
Namun saat ingin membuka pintu, Dennis sempat mendengar suara rintihan dari dalam sana. Dengan cepat ia pun menggedor-gedor pintu gudangnya. Lalu tak lama, ada seseorang yang membukakan pintu.
"Ah kau–"
"Ada keributan apa di dalam sana?" tanya Dennis cepat. Ia ingin masuk, tapi tidak diperbolehkan oleh orang itu.
"Kau ini kepo sekali. Kenapa, sih?"
"Ah ... aku ingin mengembalikan sapu ini ke gudang."
"Kalau gitu biar aku aja sini."
"Jangan," Dennis menjauhkan sapunya. "Biar aku saja. Kan aku yang habis pakai."
"Kau tinggal pergi saja. Biar aku yang taruh sapunya."
"Kenapa kau tidak boleh membiarkan aku masuk?" Dennis sedikit menunduk, lalu melirik tajam ke orang di hadapannya. "Terlihat mencurigakan tau, gak?"
Orang itu terdiam. Di dalam gudangnya, ada Derrel yang berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang menahan dan membekap mulutnya.
"Ssstt ... jangan berisik atau gw patahkan tulang leher lu!" ancam orang yang membekap Derrel dengan berbisik. Derrel hanya bisa diam. Rasanya ia ingin menangis.
Satu anak mengintip keluar tempat persembunyian. "Ah ternyata cuma kakak kelas yang itu."
Temannya yang lain juga mengintip. "Ooh~ Aku kenal dia."
"Cepatlah, biarkan aku masuk! Aku mau ke kelas lagi, nih. Kenapa kau membuang-buang waktuku?"
"Woy, anjir!"
"Eh, itu ..." Dennis mendengar teriakan adiknya. Lelaki itu mendorong anak di depannya dengan sapu dan langsung masuk ke dalam. "Derrel! Derrel, kau di mana!?"
"Sini—hmph!" Derrel kembali dibekap oleh bos pembully itu bernama Divan.
"Kau apakan adikku, hah!?" seru Dennis. Dua pembully lainnya, Yudi dan Simon, menatap Divan.
"Kenapa kalian malah liat gw? Hajar itu!" titah si ketua. Yudi dan Simon itu mulai mendekati Dennis, mereka mengepalkan satu tangan dan memukulnya ke tangan lain. Kepalan tangan melayang ke wajah Dennis dan tendangan juga menghantam perut lelaki itu.
Derrel memberontak lagi, dia menyikut wajah Divan, hal itu justru membuat lelaki tersebut marah, dia menjambak rambut Derrel. "Udah mulai berani lu lawan gw?" Tatapan Divan membuat Derrel takut.
Derrel menutup mata rapat-rapat dan hanya bisa berkata "Maaf."
Divan tidak terima perkataan maaf Derrel, dia melempar Derrel sampai lelaki itu menabrak tumpukan kardus dan tertimpa kardus-kardus itu. Divan menyingkirkan beberapa kardus lalu menarik kerah Derrel.
"Ma-maafin aku ... aku bakal lakuin apapun." Suara Derrel bergetar, dia ketakutan. Divan tidak mendengarkan, lelaki itu menarik paksa kerah Derrel.
"A-akh ... aku tercekik." Derrel menarik kerahnya ke depan agar tidak tercekik, tetapi percuma.
"Udah stop!" titah Divan kepada Yudi dan Simon. Yudi menoleh kearah bosnya, dia heran karena tidak biasanya Divan menyuruhnya berhenti.
"Kenapa bro? Dikit lagi padahal," ujar Yudi. Divan melempar Derrel ke arah Dennis.
"Urusin tuh kakak lu, besok jangan lupa bawa duit buat kita." Divan memasukan tangannya ke kantong, lalu berjalan keluar gudang, diikuti oleh Yudi dan Simon.
Setelah ketiga orang itu pergi, Derrel langsung memeriksa keadaan kakaknya. "Kak Dennis ... maaf kak, aku malah buat kakak terlibat."
Dennis menggeleng. Lalu ia bangun terduduk sambil menyentuh lengan. "Bukan salahmu, kau ga ngapa-ngapain," ujar Dennis lalu mengelap bibirnya. Dia melihat Derrel, terpancar dari mata adiknya tersebut kesedihan.
"Kalian!" seru Dennis menatap tajam ke para pembully adiknya. Tiga orang itu berhenti sejenak, lalu Dennis melanjutkan, "Awas kalian yang ganggu Derrel. Kalian pasti mati dengan cara mengenaskan! Camkan itu!!"
"Huh, bocil." Divan lanjut berjalan. Yudi membanting pintu gudang.
"Kita ke UKS dulu, kak." Dennis mengangguk, dia berdiri dibantu oleh Derrel.
...****************...
Di UKS ada seorang siswi yang asing di mata mereka. Dia sedang mengisi minumnya di dispenser. "Pe-permisi. Ini penjaganya ga ada ya?" tanya Derrel.
"Ga ada, tadi aku masuk ke sini kosong," jawab siswi itu. "Aku bisa bantu ngobatin kalo kalian mau," lanjutnya.
"Ah, coba kau cek adikku. Aku bisa urus diri sendiri." Dennis mendorong pelan punggung adiknya. Siswi itu mengangguk dan meminta Derrel untuk duduk di kasur.
Siswi itu mengecek Derrel dari kepala, tangan sampai kakinya. Siswi itu melihat luka gores di dengkul Derrel. "Ini kenapa?" tanya siswi itu.
"Um ... aku lupa. Mungkin kebentur meja di rumah atau kebentur kardus isi buku ya? Aku tak tau," jawab Derrel.
"Gak mungkin kalau kebentur jadi kayak gini. Terus ini ada merah-merah juga, kalau ini kemungkinan kebentur." Siswi itu melihat tangan Derrel yang memar, lalu menyingkirkan poni Derrel.
"Ini juga ada merah-merah. Kebentur aja sih, cuma ada luka gores di kaki," ujarnya. Dia mengambil salep dan mengoleskannya ke permukaan kulit Derrel.
"Ugh .... " Derrel reflek menjauhkan kepalanya.
"Tahan sebentar."
...****************...
Sedangkan di kelas. Divan menyingkirkan tas siswa lain dan duduk di kursi itu, kakinya di angkat ke atas meja.
"Tumben lu menyuruh kita berhenti, padahal sebentar lagi dia tamat." Simon mengeluh sambil duduk di meja belakang.
"Kalo besok mereka mati, kita jajan gmn? Semua orang di sini miskin, termasuk kalian," ucap Divan. Ia memutar bola mata malas, lalu melirik ke jendela.
"Dijajanin lebih banyak orang, lebih bagus." Yudi menggosokkan kedua telapak tangannya. Divan melirik ke seisi kelas.
"Eh lu cewek kepang. Beliin kita minum dong!" suruh Divan
"A-aku gak mau ladenin kalian!" tegas siswi itu.
"Yudi, kasih tau tuh cewek." Yudi mengikuti perintah Divan, dia mengebrak meja siswi kepang tersebut.
"Turutin aja kata bos kita," ujar Yudi dengan nada rendah, mengancam. Tangan siswi itu bergetar dan akhirnya menuruti saja kemauan mereka. Gadis itu pun pergi.
"Jangan lama-lama, ya!" teriak Divan dari tempatnya. "Kalau sampai bel masuk bunyi, habis kau!"
"Hei, lu berani sama cewek juga?" tanya Simon.
"Huh, cewek doang. Mereka makhluk yang lemah." Jawab Divan dengan nada lantang. Ia meminta salah satu temannya untuk memijat pundaknya. Yuda yang akan melakukannya dengan senang hati.
Di tempat duduk lain, ada seorang lelaki seumuran mereka yang sedang bermain game. Tapi semenjak melihat kelakuan tiga orang itu terhadap seorang gadis, lelaki itu terus memandang ketuanya yaitu Devin, dengan tatapan tajam.
Simon merasakan dirinya sedang diperhatikan. Ia pun menoleh ke belakang dan menatap lelaki dengan ponsel dan earphone-nya. "Oy, apa lu mandang gw kayak gitu? Mau mati, hah?!"
Lelaki itu hanya mencuekannya dan kembali bermain game. Lalu tak lama kemudian, ia melihat seseorang yang datang ke kelas. Itu Derrel.
*
*
*
To be continued –