
"Kak Rei?"
Rei yang sedang memandang keluar jendela pun terkejut. Ia langsung menoleh ke arah gadis itu. "Eh, kau rupanya."
Arel memegang sebuah buku catatan yang ia peluk. Matanya melirik sekitar, lalu kembali memandang Rei. "Em ... sepi amat. Pada ke mana?"
"Ke kantin kali. Jajan."
"Ooh ..." Arel mengangguk, lalu berjalan menghampiri meja guru. Ia mengambil sebuah buku absen kelas itu. "Aku pinjem bentar, ya? Buat data OSIS."
"O–oke ... ambil aja." Tak lama, Rei berpaling hanya ingin mengambil pulpennya yang terjatuh. Tapi saat kembali melihat ke depan, ia sudah tidak melihat sosok gadis yang berbicara padanya.
"Cepet amat hilangnya." Batin Rei yang mulai merasa merinding karena sedari tadi ia terus merasakan hawa-hawa yang tidak enak. Jadi karena merasa tidak nyaman di kelas, Rei pun memutuskan untuk keluar dan berkeliling.
Saat jalan di sebuah lorong dekat gudang, Rei juga melewati ruang UKS. Ia sempat melirik ke arah jendelanya dan melihat sosok yang ia kenal di dalam sana. Ternyata Leon. Karena penasaran dengan keadaan temannya, Rei pun memasuki ruangan itu.
Sebelumnya ia sempat melihat Leon sedang mengobati tangannya yang memar-memar. Tapi saat Rei datang, Leon langsung menurunkan lengan bajunya untuk menutupinya. Kemudian ia berdiri dari ranjang yang ia duduki dan menghadap ke Rei.
"Tangan kamu kenapa?" tanya Rei penasaran. Ia ingin memeriksanya secara langsung, tapi Leon langsung menepisnya karena tidak mau tangannya disentuh. Lelaki itu hanya menggeleng pelan.
"Eh?" Rei meneleng. "Apa kau habis berkelahi dengan seseorang?"
Leon tetap menggeleng.
Rei pun menghela napas. Ia tidak akan memaksa Leon untuk memberitahu sesuatu yang ia sembunyikan. Semua orang punya rahasia. Jadi sekarang, Rei akan mengajak Leon ke tempat teman-temannya yang lain berada.
Ia pun menarik tangan Leon keluar dari UKS. Saat kembali ke dekat tangga, di sana ada jendela besar di ujung lorong. Saat Rei melihat keluar lewat jendela itu, ia melihat langit sudah mendung.
"Sepertinya akan turun hujan hari ini,"
Ternyata benar dugaan Rei. Saat pulang sekolah, hujan pun turun. Sebelumnya saat bel pulang, langit masih mendung, tapi lebih gelap dari sebelumnya. Ia dengan kedua adiknya pun pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil. Tapi saat di sana, Rei lupa kalau ada bukunya yang tertinggal di kelas.
Lalu ia pun pergi kembali ke kelasnya. Sementara Dennis dan Derrel menunggu di mobil. Mereka berdua berbincang bersama sambil melihat murid-murid lainnya yang berjalan keluar gerbang sekolah, bersama dengan payung bawaan mereka.
...*******♥*******...
Saat di kelas, Rei sudah mendapatkan bukunya kembali. Tapi ia melihat dari jendela kalau hujan sudah turun. Masih gerimis. Jadi Rei pun bergegas keluar kelas dan sekolah itu. Tapi saat di depan pintu sekolah, ia terkejut karena mendadak hujannya turun dengan deras disertai angin kencang.
"Duh, badai." Gumam Rei sambil menutupi tasnya dengan jas yang ia pakai. Rei tidak berani keluar karena jarak menuju ke mobil adalah sepuluh meter lebih. Saat sampai di mobil, ia bisa basah kuyup.
"Eh?" Rei mendongak. Ia melihat ada seseorang yang memberikannya payung. Payung itu sudah terbuka dan seorang gadis lebih pendek darinya pun berusaha untuk mengangkat payung itu dengan tangannya agar sampai ke atas kepala Rei.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rei pada gadis itu yang ternyata adalah si Arel.
"Ah ... kita jalan bareng saja. Kau mau ke tempat parkir, kan? Ayo aku payungin." Arel masih berusaha untuk menaikan payungnya sedikit ke atas agar Rei juga dapat kebagian. Bahkan sampai jinjit.
Rei yang melihat gadis itu kesulitan karena tinggi tubuhnya pun mengambil payung Arel. "Biar aku aja yang pegang. Kamu sini dempetan biar kebagian." Dengan tangan kiri, Rei memegang payung, sedangkan tangan kanannya ia merangkul Arel dan mereka berdua pun bersama-sama pergi ke mobil.
Saat sampai di sana, ia mengetuk kaca mobilnya. Lalu tak lama, Dennis membukakan pintu. Di dalam, kedua adiknya sedang bermain kartu. Rei pun memberikan kembali payung itu ke Arel, lalu dengan cepat masuk ke mobil sebelum kebasahan.
Ia masih belum menutup pintu mobilnya. Kedua tangannya menyentuh setir, lalu tak lama menoleh ke Arel yang masih berdiri di samping mobil. "Kau mau aku hantar pulang juga?"
"Eh? Boleh, kah?" Arel tersentak. Ia rada malu-malu saat ditawarin.
"Ayo naik. Duduk di sampingku." Rei menutup pintu mobil, lalu membuka pintu yang satunya lagi untuk mempersilahkan Arel masuk. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu saat dekat dengan pintu mobil, ia menutup payungnya dan langsung masuk. Kemudian ia menutup pintu mobilnya lagi.
"Rumahmu di mana?" tanya Rei.
Gadis itu ingin menjawab. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara petir menyambar dengan kencang. Semuanya terkejut, kecuali Rei. Derrel yang takut pun meminta Rei cepat-cepat pulang ke rumah karena ia ngeri kalau terus di luar, nanti bisa kesambar petir.
"Hmm ... kalau begitu, kau ke rumah aku aja dulu. Sepertinya hujan makin lebat."
"O–oke ..." Arel mengangguk. Ia pun duduk tenang, sementara Rei mulai mengemudikan mobilnya dan pergi dari lingkungan sekolah.
...*******♥*******...
Dennis yang ketiduran merasakan mobil berhenti. Sepertinya sudah sampai. Lelaki itu melihat keluar jendela, tetapi kaca jendela tersebut buram karena air yang terus mengalir dari atap mobil.
Dennis mengguncang pelan tubuh Derrel yang tertidur juga sambil menjauhkan kepala lelaki itu dari pundaknya. "Rel, bangun, Rel."
Derrel membuka matanya sedikit, lalu kembali tertidur sambil menyandarkan kepalanya ke jendela. Setelah mobil terparkir sempurna di garasi, Rei menoleh kebelakang, melihat usaha Dennis membangunkan adiknya yang paling kecil.
"Udah biarin aja, Nis," ujar Rei. "Dia kelelahan kali." Lelaki itu keluar mobil, lalu membuka pintu tempat Derrel duduk.
"Nis, kamu tolong bawain tas Derrel ya." Rei menggendong adiknya yang paling kecil itu. Untung saja tubuh Derrel tak besar, jadi Rei kuat menggendongnya. Arel menawarkan diri untuk membawakan tas Rei, tapi Rei menolaknya dengan halus.
Pintu terbuka dan langsung terpampang ruang tamu dengan orang tua tiga bersaudara itu. Sekilas Rei mendengar pembicaraan mereka tentang rumah baru. Percakapan itu berhenti, diganti dengan sambutan.
Rei menuju kamar untuk menidurkan Derrel di kasur, disusul oleh Dennis. Sedangkan Arel duduk di sofa ruang tamu itu. Arel membungkuk sambil tersenyum menyapa orang tua tiga bersaudara itu.
"Nanti aja kita pikirin pindahannya," ujar wanita itu kepada suaminya. Pria itu mengangguk.
Spontan Arel menyela perbincangan mereka, "Tante sama om mau pindah rumah ya?"
"Ah, iya nih. Soalnya kantor om pindahnya lumayan jauh," celetuk pria itu. Arel mengangguk paham.
"Saya ada kenalan, mungkin bisa membantu?"
Kedua pasangan itu saling melirik. Mereka berdua akhirnya setuju menerima bantuan Arel. Mereka bertiga pun mulai membicarakannya.
...*******♥*******...
Di kamar. Derrel hampir saja terbangun karena Rei meletakannya di kasur dengan tidak santai. Lelaki itu melepas jas, dasi serta ikat pinggang Derrel agar tidak sesak. Dennis pun tidak kuat lagi membawa tas adiknya yang cukup berat itu.
Dia membuka tas itu dan menemukan beberapa buku yang bukan kepunyaan Derrel. Rasa penasaran Dennis semakin dalam, dia menggali lagi isi tas itu dan menemukan beberapa gumpalan kertas dengan tulisan berkata-kata kasar di atasnya.
"Ck, gak jera-jera mereka. Harus diapain ya?"
"Apaan sih?" Rei melihat ekspresi Dennis menjadi penasaran apa yang sedang lelaki itu lihat.
Dennis memberikan apa yang dia temukan di tas Derrel pada kakaknya. "Bakar aja bukunya itu. Ganggu," ujar Dennis yang kesal.
Sedangkan Rei sedang sibuk mambulak balikan halaman buku itu. Lalu dia melihat secarik kertas yang lecek dengan isi buku secara bergantian. Lelaki itu menyelipkan kertas itu ke dalam buku.
"Ayo ke kantor pos. Mereka nerima bukunya gak akan sampai berbulan-bulan, kan?" Dennis yang paham mengikuti saja kakaknya. Dennis dan Rei keluar kamar meninggalkan Derrel yang masih tidur di dalamnya.
Saat kembali ke ruang tamu, mereka berdua melihat Arel sedang berbincang dengan orang tuanya. Gadis itu cepat sekali akrab dengan orang yang baru ditemuinya. Bahkan orang tua Dennis juga terlihat nyaman berbicara dengannya.
Saat Dennis dan Rei melewati ruang tamu, ibu mereka yang melihat pun sempat menegurnya. "Kalian mau ke mana lagi?"
Dennis tersentak, lalu menghentikan langkah sejenak. Sementara Rei tetap pergi ke garasi untuk menyiapkan mobil. "A–anu ... Derrel minta dibeliin jajan. Aku mau ke minimarket dulu sama Kak Rei."
"Ah, kalau begitu. Aku juga mau sekalian pulang, deh!" Arel berdiri dari sofa. Lalu ia pamit pada kedua orang tua Dennis.
"Gak minum teh dulu?" tanya sang Ibu.
Gadis itu menggeleng cepat dan menolaknya dengan lembut. Lalu ia pergi bersama Dennis menyusul Rei. Saat di garasi, mereka berdua langsung memasuki mobil dan mengunci pintunya.
"Arel sekalian mau pulang, ya? Rumahnya di mana?" tanya Rei sambil memasukan kunci mobil ke tempatnya. Lalu mulai menghidupkan mobil. Sedikit memanaskan mesin sebentar.
"Ah, aku akan tunjukan jalannya!" jawab gadis itu.
"Oke, deh ...."
Rei mulai menjalankan mobilnya. Jalan ke gerbang depan yang masih tertutup. Satpam penjaga di luar sana pun membukakan gerbangnya, lalu mobil Rei segera pergi dari halaman rumah mereka yang mewah.
...*******♥*******...
Rei dan Dennis akan mengantarkan Arel pulang terlebih dahulu. Baru setelah itu, mereka pergi ke Kantor Pos. Arel memberikan arah jalan sampai akhirnya mereka memasuki sebuah perkampungan terpencil. Di sana, mobil mereka berhenti di samping jalan kecil dekat dengan semak belukar.
"Sampai sini saja. Aku masuk ke dalam. Bentar lagi juga nyampe, kok!"
Rei mengangguk. Lalu ia membuka kunci pintu mobil otomatis. Setelah itu, Arel pun membuka pintu. Dari depan jalan kecil itu, ia masih memperhatikan mobil Rei yang perlahan mulai menjauh darinya. Saat mobil itu sudah tak terlihat, gadis itu sedikit menunduk dan tersenyum samar.
...*******♥*******...
"Hmm ... Ketua OSIS tadi sangat ramah, ya? Ibu dan ayah sepertinya menyukai dia," Dennis yang sudah pindah ke bangku depan samping Rei pun berujar membicarakan tentang Arel. Lalu tak lama, Rei membalasnya.
"Dia juga ... cantik, sih."
"Ah~ Kak Rei suka padanya, ya?" ejek Dennis, lalu ia tertawa kecil.
"Nggak kok. Biasa aja." Rei menghela napas, lalu sedikit melirik ke Dennis. "Kita kan cuma temenan."
"Ah yang bener, kak Rei?"
"Huum ... iyaaa ...."
Dennis mulai berhenti meledek kakaknya. Tapi ia masih tetap tertawa. Rei sedikit melajukan mobilnya karena jalanan yang sepi. Hanya ada sebuah mobil pribadi orang lain di hadapan kendaraan mereka. Jaraknya 5 meter. Kecepatan mereka juga sama di jalan lurus tersebut.
Namun tiba-tiba saja, Rei melihat ban mobil itu pecah dan mobil di depannya langsung oleng dan menabrak trotoar. Mobil Rei tengah melaju dengan kecepatan yang sama pun langsung melakukan pengereman mendadak. Sampai membuat bekas ban mobil di aspal karena gesekan parah.
Beruntung Rei masih bisa mengendalikan mobilnya dan dapat berhenti sebelum menabrak mobil di hadapannya. Warga yang melintas langsung menghampiri mobil di depan sana untuk memeriksa keadaan pengemudinya. Begitu juga dengan Rei yang ikut keluar. Sementara Dennis tetap di dalam sambil memperhatikan dari kaca mobil saja.
Tak lama kemudian, Rei pun kembali. Dari tempatnya, Dennis melihat kalau pengemudi mobil di depan sana sepertinya baik-baik saja. Tidak ada korban jiwa.
"Kak Rei, semuanya aman, kan?" tanya Dennis setelah Rei kembali ke mobil.
"Iya gak apa-apa. Sekarang kita pergi."
"Syukurlah ... aku kaget banget tadi." Dennis menghela napas lega. Lalu matanya kembali memandang kaca depan mobil. Sebenarnya ia sedang memperhatikan kerumunan yang membantu evakuasi mobil di depan sana. Tapi tiba-tiba saja, Dennis dikejutkan oleh hal lain.
Ia melihat kepala seorang wanita pucat mengintip dari depan mobil di depannya. Lalu mendadak, sosok itu menaiki atap mobil dan tiba-tiba saja bergerak cepat sampai ke depan kaca mobilnya. Tepat di depan mata Dennis, ia melihat wanita berambut panjang dengan wajah pucat yang dilumuri darah.
Karena ketakutan, Dennis langsung menghadap ke jendela di sampingnya sambil menutup mata dengan kedua tangan dan berteriak.
Rei yang terkejut karena suaranya pun langsung menenangkan adiknya dan bertanya, "A–ada apa, Dennis?"
Secara perlahan, Dennis kembali membuka mata dan melihat sosok itu sudah tidak ada. Ia pun memeriksa ke sekeliling. Ternyata benar-benar menghilang. Yang ia lihat sekarang adalah ekspresi cemas dari kakaknya.
"Emm ... em ... tadi ada setan di depan kaca!" Dennis menunjuk ke objeknya. Ia jujur dan masih ketakutan.
Namun Rei tidak melihat apapun dan tidak merasakan hal aneh. Jadi ia mengelus kepala Dennis untuk kembali menenangkannya. "Sudah, sudah. Mungkin salah lihat. Kau kelelahan juga kali. Sama kayak Derrel. Makanya ngelihat yang aneh-aneh."
"Ta–tapi tadi beneran kek nyata kak Rei ...."
"Hmm ... Sudah, ya? Lupakan saja. Sekarang, ayo kita jalan lagi." Saat adiknya sudah bisa tenang, Rei pun kembali menjalankan mobilnya dan pergi dari tempat kecelakaan kecil tadi terjadi. Semenjak melihat sosok menyeramkan tadi, membuat hati Dennis jadi tidak tenang sepanjang perjalanan.
*
*
*
To be continued