THE RULES

THE RULES
Episode 22



"Petak umpetnya sudah selesai. Kita ... harus memainkan permainan berikutnya." Dennis mendapatkan sebuah surat baru yang ia temukan setelah permainan pertama tadi.


"Kau nemu surat lain?" tanya Rei.


"Iya, kak. ini berisi peraturan berikutnya." Dennis memberikan surat itu pada kakaknya. Sebenarnya ia belum membaca semuanya dan baru membaca judul baru dari permainan itu.


Rei pun membaca kertasnya. Sementara beberapa orang mendekati list nama. Tidak ada yang berubah di sana. Tidak ada nama yang dicoret, tapi mereka sadar kalau ada teman mereka yang kurang.


"Apa seseorang akan datang untuk mencoret nama orang yang sudah meninggal?" tanya Toni.


Semuanya menggeleng kecuali Rei yang masih sibuk membaca. Azura turun dari atas meja makan yang didudukinya, lalu menghampiri kertas list nama. Kemudian kembali melirik ke yang lain. "Apa ada yang mati di permainan tadi?"


"Entahlah, tapi aku tidak melihat Lilo." Devin yang merupakan teman dekat dari Lilo itu semakin khawatir. Ia sudah memastikan kalau Lilo tidak ada di kerumunan teman-temannya. "Kayaknya ada yang gak beres."


Lelaki itu pergi ke tempat ia bersembunyi tadi. Tapi saat membuka satu ruangan, pintu itu terkunci. Tidak seperti sebelumnya. Yang lain pun mencoba membuka pintu lainnya dan hasilnya sama. Semua pintu terkunci. Mereka hanya bisa di ruang tamu dan tidak bisa ke ruangan lainnya.


"Lilo pasti ada di dalam sana!" Devin hendak ingin mengetuk dan mendobrak pintunya. Tapi Leon menarik tangannya jauh dari sana. Devin menepis tangan Leon. Ia ingin bertanya, tapi Dennis sudah menjawabnya. "A–ada peraturan untuk jangan mengetuk pintu. Kau bisa terluka seperti ayahku."


"Ck, tenang aja. Dia udah mati, lu gak usah khawatir." Ujar Azura dengan santai. Perkataannya membuat Devin geram dan langsung menghampiri lelaki itu.


Namun sebelum keadaan mulai memanas, tiba-tiba salah satu dari mereka jatuh tak sadarkan diri. Lalu yang lain juga mengalami hal yang sama. Ruangan itu seketika dipenuhi gas. Wujudnya baru terlihat setelah beberapa detik muncul, tapi efeknya begitu cepat.


...********♦********...


 


20 menit berlalu. Efek obat tidurnya habis. Satu persatu mereka terbangun. Ternyata tak ada yang berubah dan tidak ada anak yang hilang. Masih sama seperti sebelumnya.


Rei berdiri secara perlahan. Ia menyentuh kepala dan menopang diri di tembok. "Sial, kalau gini terus aku bisa sakit." Gumamnya lalu menggeleng pelan. Ia merasa sangat pusing. Lalu ia melihat ke list nama. Ada yang berubah.


"Ah minggir, gendut!" Sudah pusing, ditimpa tubuh Dian pula. Selama tertidur, tubuh Dian menimpa dirinya. Azura langsung menyingkirkan Dian lalu bangun terduduk. "Ah pingsan mulu gak enak, ajg! Tadi gara-gara kenapa, sih?"


"Aduh ..." Dian juga ikut bangun. "Gak tau dah, tiba-tiba gelap, ***. Sumpah." Dian yang menjawab pertanyaan Azura.


"Ada gas yang masuk lewat ventilasi atas pintu tadi." Jawab seorang gadis bernama Adila sambil menunjuk ke pintu. "Itu berarti ... di depan pintu tadi ada si pelaku dibalik semua ini?"


"Kayaknya iya." Dennis mengangguk. Lalu ia menyentuh dan memainkan rambutnya. "Atau mungkin saja monster-monster yang kita lihat saat bermain petak umpet sebelummya?"


Mendengar kata makhluk itu, Derrel jadi teringat dengan sosoknya yang pernah ia lihat. Lelaki itu masih takut dengan wujud dari monster itu. Benar-benar menyeramkan di mata Derrel. Ia tidak mau melihatnya lagi.


"Hmm ... Dua orang sudah meninggal." Rei menemukan dua nama yang dicoret dan langsung mengumumkannya. "Lilo dan Shira. Mereka sudah tidak ada."


"Ti–tidak ... tidak mungkin!" Devin membentaknya. Ia langsung memastikan sendiri. Tapi ternyata memang benar. Nama temannya itu telah dicoret, dengan arti, dia telah gugur dalam permainan sebelumnya. "Si–sial ... harusnya tadi gw ajak dia ngumpet bareng."


"Sudahlah. Kita ikhlaskan saja. Ayo berjuang di permainan berikutnya!" sang ketua kelas memberi semangat. Devin mengangguk paham. Ia mengelus-elus kertas list nama dan berusaha untuk tidak menangis.


"Sekarang hanya sisah 18 orang. Oh ya sama ayah juga, jadi 19. Sekarang ayo kita lihat rules game berikutnya." Rei memungut sebuah kertas yang tergeletak tak jauh darinya. Itu kertas yang tadi, berisi rules permainan kedua, yaitu Truth or Dare.


"Kayak gak asing nama permainannya." Seorang gadis bernama Olivia meneleng. Lalu seorang gadis lain di sampingnya yang bernama Tania itu membalas. "Ini mah permainan yang sering dimainkan di kelas. Tentang kejujuran atau tantangan."


"Jadi sekarang kita bakal mainin permainan bocah lagi?" tanya Azura dengan tampang malas.


"Rulesnya sama kayak permainan pada umumnya. Tapi ... hukumannya sangat mengerikan. Bagi yang tidak mau menjawab atau melakukan tantangannya, maka ia akan dibunuh." Jelas Rei setelah memahami peraturan dari permainannya.


"Eh trus yang sekarang gimana cara mainnya?" tanya Dian.


"Emm ... pukul 11 nanti ada seseorang yang memberikan beberapa kertas. Kita harus memilih. Jika ada yang dapat truth, berarti orang itu harus mengungkapkan rahasia terbesarnya. Kalau dare ... harus melakukan tantangan yang tertulis di kertas. Jika tidak mau melakukannya, orang itu bisa melempar tantangannya ke orang lain yang ada di sampingnya." Rei selesai membaca seluruh isi suratnya.


Mereka semua terlihat tegang akan permainan itu. Terlihat menyenangkan jika dimainkan seperti biasa. Tapi yang kali ini terlihat berbeda dan mengerikan. Mereka tidak akan tau tantangan apa yang akan didapat dan beberapa dari mereka juga takut kalau rahasianya bakal diketahui oleh orang lain karena itulah aib mereka, atau isi hati dari sifat asli mereka.


"La–lalu apa yang akan terjadi pada orang yang melempar tantangannya ke orang lain? Apakah dia akan aman?" tanya Dian.


Rei menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Tidak tertulis di kertas ini."


Lampu meredup. Sekitarnya terlihat gelap. Sebuah cahaya menyorot suatu benda putih yang terletak di atas meja makan. Derrel mengambil benda itu, ternyata sebuah amplop. "Ambil satu," ujarnya. Azura mengambil duluan, lalu disusul yang lain. Sepertinya permainan kedua telah dimulai.


"Semoga dapet truth," ujar Dennis dengan penuh harapan. Dia mulai membuka amplopnya dan sesuai doa, Dennis mendapat truth.


"Ah truth." Derrel bergumam. Saat membaca pertanyaannya, ia sedikit terkejut.


Azura membuka amplopnya dengan brutal. Dia membaca dengan nada lantang, "Wih, dare! Cabut kuku orang yang diseberangmu!"


Azura melihat orang yang di seberangnya. Ternyata adalah Fani. Gadis itu yang sedang memainkan rambut, saat mendengar Azura, dia berhenti.


"A-apaan, sih darenya? Gak ngotak!" Gadis itu berdiri ingin pergi.


"Di, bawain tang dong! Gw mager." Azura mengejar Fani, lalu merangkul gadis itu.


"Sok kenal banget, sih lu! Minggir!" Fani mendorong Azura. Lelaki itu dengan tidak sopannya menggenggam tangan Fani dan melihat kuku gadis itu, cantik dan cukup panjang. Terpoles cat kuku berwarna merah dengan pernik kristal.


"Wah, cantik gini. Setan pasti insecure, makanya mau dicabut. Semua atau satu aja ya?" Monolog Azura membuat Fani takut sekaligus risih.


"Gak jelas lu! Lu mau lakuin dare gak ngotak itu? Kalo beneran lu lakuin sih, gw gak akan segan-segan bales dendam," ancam Fani. Azura tersenyum, nampak dia tidak takut dengan ancaman tersebut.


"Nih, tangnya. Susah anjir nyarinya gelap-gelap." Dian memberikan tangnya.


"Ja-jangan berani-beraninya lu ya!" seru Fani. Gadis itu mulai berlari dan Azura mengejarnya.


Orang-orang di tempat berkumpul memandang Azura adalah orang yang seram dan tidak berempati sama sekali, kecuali Dian dan Leon. Karena mereka sudah terbiasa dan tahu sifat alaminya Azura.


Dian menghela napas lalu berkata, "Ya, elah. Gw capek-capek cari tang, mereka malah india-indiaan."


Tak peduli dengan apa yang dilakukan temannya, Rei mulai membuka amplopnya. Dia membacanya dengan pelan, "Pernah pacaran? Eh, em ...."


Rei diam sejenak. Tapi suara Rei masih terdengar oleh ayahnya. Pria itu sudah memerhatikan Rei dengan tatapan tajam. Namun, mau tak mau dia harus jujur. "Pe–pernah. Waktu itu saat SMP a–aku pacaran sama anak kuliah, sebulan."


"Eeeh?" Dennis dan Derrel tentu saja tidak percaya. Pantas saja Rei lebih suka pulang telat saat SMP dan marah-marah terus kalau ponselnya ingin diperiksa.


Saat pria itu ingin bertukar dengan sebelah kirinya, tiba-tiba sebuah gergaji muncul dan langsung membelah tubuh pria paruh baya tersebut. Orang-orang di sana hanya diam melamun melihat dua potongan tubuh yang terjatuh di hadapan mereka.


Lalu tak lama, beberapa anak perempuan berteriak histeris dan langsung menjauhi mayat itu disusul dengan anak laki-lakinya.


Tangan Derrel bergetar. Air mata sudah akan keluar. Dennis langsung memeluk adiknya itu. "Jangan nangis, Rel. Aku tau harusnya nangis gak bisa ditahan. Kali ini aja, tahan tangismu ya?"


"Hm, iya kak." Derrel memeluk erat-erat Dennis untuk menahan tangisnya.


Setelah kejadian itu, ada suara teriakan seorang perempuan dari belakang ruang sana. Dia berteriak kesakitan dan memohon untuk berhenti. Derrel yang mendengar itu semakin tidak tenang, lagi-lagi Dennis berusaha menangkan Derrel.


Setelah teriakan-teriakan itu, Azura muncul dari kegelapan sambil membawa tang serta tangan yang berdarah. "Obatin sana temen lu," ujar Azura.


"Dapet kukunya?" tanya Dian.


"Lu budeg banget sampe gak denger jerit-jerit? Susah ngejarnya njir, gelap pula." Azura menunjukkan kukunya. Dian segera membuang muka sambil tersenyum paksa.


"Ba–baguslah kalo dapet begitu. Oh ya gw disuruh tendang tulang kering yang di sebelah gw dan gw masih ada dendam sama lu, jadi ...." Dian menendang tulang kering Azura dengan keras.


"Aaaakh! Anj—" Azura mencengkram pundak Dian sambil mengelus kakinya yang di tendang Dian.


"Mamam tuh," Dian tertawa kecil.


"Aku dapet apa ya," gumam Dennis. Lelaki itu membuka amplopnya. "Rahasia terbesar kamu?"


Dennis mencengkram kertasnya kuat-kuat. Dia menghela napas panjang. "E–em, a–aku pernah pake duit arisan bunda buat beli ikan bakar."


Dennis langsung menutup mata dengan tangan, terlihat hampir menangis karena ia takut. Namun Rei hanya mengingatkan adiknya itu, urusannya akan panjang, bisa-bisa Derrel terbawa perasaan Dennis.


"Kambing dapet apaan?" Azura penasaran. Leon mulai membuka amplopnya, lalu menghela napas.


"Hand and knife, sepuluh kali." Leon mendengus kasar. Dia ke dapur untuk mengambil pisau dan membawa meja. Leon meletakan tangannya di atas meja dan merenggangkan jari-jarinya. Dia meletakan ujung pisau di antara jari telunjuk dan jempol. Lalu dengan cepat menancapkan ujung pisau ke meja, di antara jari telunjuk dan jari tengah dan seterusnya, bolak-balik selama sepuluh kali.


Orang-orang yang melihat leon ikut tegang. Jika salah menancapkannya bisa-bisa jari Leon terpotong.  Di saat-saat terakhir pisau itu menggores sisi jempol dari Leon, tetapi itu bukan masalah yang penting lima jarinya selamat.


"Kenapa gak santai aja sih, kak Leon?" Gadis bernama Tania itu berkeringat dingin karena suara meja yang ditancapkan pisau dan ujung pisau yang beberapa kali hampir mengenai jari Leon.


"Ga apa," jawab Leon. Dia menyingkirkan mejanya serta pisau yang di letakan di atas meja itu. Sekarang dilanjut. Bagaimana dengan yang lainnya? Apa mereka mendapatkan Truth atau Dare?


*


*


*


To be continued–


List Pemain 🗿:



Dennis (L)


Derrel (L)


Rei (L)


Leon (L)


Azura (L)


Dian (L)


Geo (L)


Devin (L)


Lilo (L) ❌


Adila (P)


Revan (L)


Fani (P)


Shira (P) ❌


Toni (L)


Olivia (P)


Tania (P)


Siska (P)


Sasha (P)


Lia (P)


Diana (P)


Ayah 3 bersaudara ❌