THE RULES

THE RULES
Episode 46



Saat sore harinya, Dennis dan Derrel berpamitan dengan bibi yang duluan pulang. Kemudian mereka berdua akhirnya pindah. Derrel membereskan pakaian dirinya dan milik kakaknya, sedangkan Dennis keluar sebentar, lelaki itu ke warung untuk beli telur dan beras untuk makan. Karena di kos, bahan-bahan makanan habis.


"Maaf ya, Rel, kau gak bisa makan enak karena gajiku pas-pasan untuk hidup," gumam batin Dennis. Dia membawa telur yang dirinya beli dengan sangat hati-hati.


Sampai di kosan, Dennis melihat Derrel tiduran di kasur dengan koper terbuka yang sudah kosong. "Hadeh, anak ini."


Derrel membalik badan sambil mengusap kelopak mata. Seketika dia bangun saat melihat Dennis. "Eh, Kak Dennis kapan pulang?"


"Barusan, beresin dulu itu kopernya. Aku mau masak mumpung dapur sepi." Dennis ke dapur. Di sana ternyata ada seorang perempuan yang sedang merebus air. Air yang sudah matang tersebut di tuang ke gelas dengan kantong teh di tepi gelas.


Orang itu menoleh ke arah Dennis. "Ah, kau penghuni baru ya?" sapanya.


"Iya, Kak, hehe." Dennis menggaruk kepalanya. Orang itu tersenyum tipis, lalu mengangkat gelasnya dan hendak pergi.


"Kalau butuh apa-apa, aku ada di kamar 104." Dennis mengangguk paham, lalu orang itu pergi.


Dennis mulai memasak, beruntung bumbu di dapur masih ada sedikit. Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Dennis. "Udah kenalan sama orang lain di sini?" tanya wanita itu.


"Tadi ada perempuan yang buat teh. Baru dia aja." Dennis membuka rice cooker, dia menuangkan nasi ke atas piring serta telur yang sudah matang. Dennis memotong telur menjadi dua bagian, setengah untuk Derrel dan setengah untuknya.


Setelah menyeruput kopi, wanita itu bertanya kepada Dennis, "Perempuan, ya? Kamar berapa?"


"104 katanya." Dennis menjawab.


"Eh, 104?" Wanita itu merubah raut wajahnya, tak lama mengubahnya lagi. "Ah gitu ya." Wanita itu pergi dengan mug yang dia tinggalkan di wastafel.


"Kok mukanya berubah gitu," gumam Dennis. Derrel datang sambil bersenandung, dia melihat kakaknya hendak mencuci alat masak yang barusan dipakai.


"Mau aku bantu, Kak?" Derrel menggulung lengan baju.


"Kamu bawa ini ke meja dulu, terus bantu." Dennis menyalakan keran. Derrel mengangguk dan membawa dua piring itu.


"Ah, panas." Derrel buru-buru meletakan piringnya di atas meja dan mengibas-kibas tangan.


...****************...


Di rumah, Bibi sedang menyapu lantai. Lalu terdengar suara mobil sang suami. Bibi membuka pintu dan melihat mobil itu, suaminya memarkirkan mobil, lalu keluar dari mobilnya.


"Tumben kamu pulang malem." Bibi menyandarkan sapu pada tembok beserta pengkinya.


"Berisik, aku tuh capek! Nanya mulu!" seru paman. Bibi terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Kok kamu marah, aku kan nanya baik-baik." Bibi berusaha sabar dengan kelakuan sang suami.


"Tapi tau situasi, dong. Kamu juga ga buatin aku apa gitu? Makan atau minum?" Pria itu menggeleng dan mendengus kasar. Dia melempar tas kerja ke sofa. Lalu menuju halaman belakang.


Bibi menghela napas, lalu menuju dapur. Dia tidak menyangka hal ini terjadi. Hatinya sakit dibentak seperti itu secara tiba-tiba, dengan perasaan sedih, bibi membuatkan teh manis. Wanita itu menyusul sang suami ke halaman belakang.


Di sana, pintu untuk ke ruang bawah tanah terbuka. Bibi turun pelan-pelan, lalu dia mendengar suara senjata api yang sedang diisi peluru. Seketika bibi lari menuju kamar dan mengunci pintu.


Bibi meletakan gelas tehnya di atas laci, lalu mendorong lemari. Belum pintu tertutup oleh lemari, pintu kamar digedor keras oleh paman.


"Keluar!" seru pria itu dari luar. Bibi mendorong dengan sekuat tenaga. Beruntung pintu sudah tertutup lemari, terdengar paman berusaha mendobrak pintu.


Bibi panik, dia menuju lemari lain dan membuka pintu laci. Wanita itu mengambil ponsel, tetapi karena tangannya gemetar, benda itu terlepas dari tangannya. "Ah, tidak!"


Seketika seluruh tubuh bibi tersayat. Rasa sakit itu membuat bibi menangis, wanita itu merasa ada yang akan keluar dari matanya. Bibi mengambil teh manis dan tak sengaja menumpahkannya ke wajah, karena terkejut oleh suara tembakan shotgun Paman.


Kulit bibi melepuh, matanya perlahan keluar dan sayatan ditubuhnya mengeluarkan darah segar. Sedangkan paman di luar sedang menatap pintu dengan napas terengah-engah. Pria itu merasakan sakit di jari-jarinya, tak sengaja dia menjatuhkan shotgun di tangannya.


"Akh ... apa ini?!" Paman melihat darah keluar dari jari-jarinya yang tersayat tiba-tiba. Lalu seluruh jarinya terpotong. Paman kembali mengambil shotgunnya dengan dua tangan. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, dia memasukan ujung shotgun ke mulut dan menarik pelatuknya.


DOR!


Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam pun datang dari pintu belakang rumah. Dia masuk, lalu menghampiri sebuah mayat dengan kondisi kepala yang hancur. Orang itu mengacak-acak organ dalam kepala yang keluar dengan kakinya, lalu tertawa kecil.


Kemudian ia menoleh. Dia pergi ke dapur dan menemukan buku coklat di sana. Orang itu pun mengambil buku tersebut, lalu membawanya pergi. Tak lama setelah itu, ada beberapa warga yang mengetuk pintu depan dan memanggil-manggil penghuni rumah.


Lalu seketika, teriakan dari orang yang mengetuk pintu tersebut terdengar. Ditambah dengan teriakan lainnya.


...****************...


Dennis melihat Derrel sedang baca buku. Dia jadi teringat buku yang dia temukan saat di rumah lama. Dennis membuka lemari, tetapi tak menemukan apapun. Dia memeriksa koper dan hanya ada peralatan mandinya.


"Rel, buku waktu itu mana, ya?" tanya Dennis sambil terus mencari.


"Nggak tau deh. Kayaknya udah dibuang Bibi." Derrel menutup buku, lalu menoleh ke kakaknya.


"Aku udah pesen ke Bibi, buku itu jangan diapa-apain. Kayaknya ketinggalan, ya udah deh, cuma buku ini." Dennis merapikan koper yang dia acak-acak, lalu merebahkan diri di sebelah Derrel.


"Kau baca apa? Ikut dong!" ujar Dennis.


"Ini buku yang kak Leon kasih ke kak Rei. Ceritanya menarik." Derrel lanjut membaca.


...****************...


Setelah beberapa menit, Dennis dan Derrel dikejutkan oleh ketukan pintu dari depan. Mereka berdua saling menatap, lalu Dennis berdiri dan menghampiri pintu. Ia melihat sejenak orang yang datang itu dengan mengintip lewat lubang kecil di pintu.


"Hm? Gak keliatan wajahnya. Kayaknya orang yang tinggi." Tanpa ragu, Dennis langsung membukakan pintunya. Ternyata di depan sana ada seorang lelaki dewasa yang memberikan Dennis sebuah kotak bekal.


"Halo! Kau pasti tetangga baruku. Ini ambilah. Aku membuat kue." Lelaki itu menyodorkan kotak bawaannya dengan senyuman.


Dennis berkedip beberapa kali, lalu menerima kotak tersebut. "Ah iya ... makasih, kak!"


"Ada siapa, kak?" Karena penasaran, Derrel menghampiri kakaknya. Ia melirik ke orang di depan pintu dan terkejut. "Loh, Kak Chris?!"


"Eeeeh? Derrel kok bisa di sini?" Lelaki itu juga terkejut.


Namun Dennis keheranan. "Loh, kalian saling kenal?"


Chris mengangguk sambil tertawa. Lalu ia diajak masuk untuk mengobrol sejenak. Derrel memberitahu kalau Chris itu adalah guru bela dirinya dulu. Dennis sudah mengetahuinya sekarang. Ia pun tak banyak memikirkannya.


Tak lama saling berkenalan dan mengobrol, Chris memutuskan untuk kembali ke tempatnya. "Kalian kalau butuh apa-apa, bilang aja padaku, ya?"


"I–iya, Kak! Makasih." Dennis dan Derrel mengangguk. Lalu setelah Chris pulang, mereka berdua kembali masuk ke dalam. Dennis meminta Derrel untuk tidur karena besok masih sekolah.


Derrel menurutinya. Tapi sebelum itu, mereka pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi, baru pergi tidur.


...****************...


Di waktu yang sama, Diana sedang membaca buku di kamar sambil memeluk bonekanya. Lalu tiba-tiba ia melihat bayangan manusia lewat di jendela kamarnya yang tertutup tirai putih.


Diana pun menghampiri jendelanya, lalu menyingkirkan tirai. Ia tidak melihat siapapun di sana. Tapi ada yang membuatnya terkejut. Yang ia temukan di depan jendela bukanlah manusia, melainkan sosok hantu kayang yang menatapnya dengan kepala terbalik.


Dengan cepat, Diana menutup jendela dan tirainya. Setelah itu, ia mundur dari jendela. Pandangannya tak lari dari jendela tersebut. Ia sebenarnya takut dengan makhluk itu.


"Mungkin aku kelalahan, makanya halu." Diana membuang firasat buruk, lalu berbalik badan. Tapi ia malah menabrak seseorang. Saat ingin melihatnya, orang itu langsung membekap Diana, lalu menempelkan telunjuknya di bibir.


Tak sengaja, tudung yang dikenakan orang itu terlepas saat Diana memberontak. Gadis itu terkejut melihat wajah asli orang tersebut.


...****************...


Keesokan harinya, Dennis dan Derrel berangkat pagi. Dennis sudah menyiapkan makanan dan mereka sarapan sebentar. Lalu siap-siap, memakai seragamnya masing-masing. Lalu setelah itu, mereka pergi bersama. Tak lupa juga, Dennis mengunci pintu kosnya, lalu menyusul adiknya.


Halte bus tak jauh dari sana. Mereka pun menunggunya. Tapi tak lama, bukan bus yang datang, melainkan sebuah kendaraan pribadi yang mewah berhenti di depan mereka.


Kaca mobil belakang terbuka. Si penumpang mobil itu pun mengeluarkan kepala dari jendela. "Halo, Dennis! Derrel!" Ternyata itu Diana.


"Eh, Diana. Ada apa?" Dennis berdiri dari kursi tunggu di halte. Lalu disusul oleh Derrel.


"Kayaknya menunggu itu agak lama, ya? Gimana kalau kalian aku hantar aja, ayo!" Setelah tawarannya, Diana tersenyum manis, lalu membukakan pintu mobilnya.


"Eh, beneran gapapa?" Dennis jadi merasa tidak enak.


"Gapapa. Katakan saja tujuan kalian."


"Umm ... Derrel mau ke sekolahnya. Aku mau ke rumah sakit."


"Oke kalau gitu, kita ke sekolah dulu! Oh ya, Den. Rumah sakit itu dekat dengan kampusku. Ayo jalan bareng!"


"Ah, okelah." Dennis akhirnya menerimanya. Diana keluar dari mobil, lalu pindah ke kursi depan samping sopir. Sedangkan Dennis dan Derrel duduk di belakang. Setelah semuanya siap, sopir itu pun kembali menjalankan kendaraannya.


...****************...


Diana telah mengantar Derrel, lalu dilanjut dengan Dennis. Saat sampai di tujuan Dennis, lelaki itu mengucapkan terima kasih. Ia hendak pergi, tapi ucapan Diana membuat ia terhenti.


"Kau mau main ke rumahku hari ini?"


"Eh?" Dennis menoleh. Lalu menjawab sambil tersenyum. "Oke. Kasih alamatmu, aku akan coba mampir nanti."


"Aku akan menjemputmu pas kau pulang."


"Ah oke." Dennis akhirnya pergi. Di depan pintu masuk, Dennis bertemu dengan Adila. Gadis itu ingin mengambil formulir tentang pengobatan ibunya beberapa hari yang lalu.


Dari mobilnya, Diana menyipitkan mata. Ia tak suka melihat Dennis bicara dengan gadis lain selain dirinya. Diana memperhatikan mereka berdua sampai kedua orang itu tak terlihat lagi. Setelah itu, Diana pun meminta sopirnya untuk pergi.


*


*


*


To be continued –