
"Kak Diana mana?" tanya Derrel. Dennis menoleh ke arah tempat mereka berdiri tadi. Tidak ada siapapun di sana.
"Lu–lupakan, kita susul kak Rei aja." Dennis berlari menuju hutan yang mulai terbakar hebat sambil menggenggam tangan adiknya. Mereka susah melihat jalan karena asap yang tebal.
"Kak Rei!" Derrel berteriak memanggil nama lelaki itu. Tak kunjung ada jawaban, mereka berdua kembali mencarinya.
...****************...
Di depan sana sudah ada Rei dan Azura yang memegang kedua tangan Farel. "Tarik tangannya, kalo bisa sampai putus!" titah Azura.
Rei menyeringai kepada Farel. Dia menarik tangan lelaki itu sesuai perkataan Azura dengan sekuat tenaga. Farel merasa sakit karena genggaman keduanya. Ia berusaha melepaskan diri, lalu melirik ke kaki Azura.
Lelaki itu menginjak kaki Azura berkali-kali. Tarikan Azura melemah karena menahan sakit kakinya. Farel menarik tangannya sambil menarik Azura. Ia memukul kepala lelaki itu, lalu menendang perut Rei. Kemudian ia pergi melarikan diri.
Dua lelaki yang menangkapnya itu tumbang karena serangannya yang cukup kuat. Dikira sudah aman, Farel merasakan kehadiran seseorang tak jauh di depannya.
Ternyata itu Dennis dan Derrel. Derrel mengambil batu yang tajam. Dia berlari ke arah Farel. Lelaki itu melompat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dia mengarahkan batu yang tajam ke arah kepala Farel.
JLEB!
Farel menghindar, jadi batu itu menancap di tanah. Derrel mencabut batunya. "Aku gak suka kakakku disakiti!!" Derrel berbalik badan dan kembali menyerang Farel.
Namun kekuatannya tidak sebanding dengan Farel. Lelaki berambut hitam tersebut memukul Derrel dan mendorongnya sampai terpentok pohon di sana.
Dennis memanggil-manggil kakaknya yang sempat pingsan beberapa detik. Rei berkedip lalu bangun duduk. Dengan cepat, Dennis meminta Rei untuk menyelamatkan Derrel. Begitu mendengarnya, Rei langsung melihat adiknya yang paling kecil hendak dicekik.
"Kamu urus Azura dulu," ujar Rei menepuk-nepuk kepala Dennis. Lalu ia bangun dan langsung berlari ke arah Farel. Lelaki itu mendorong Farel dengan lengannya.
Rei mengulurkan tangan ke Derrel hendak membangunkannya. Tiba-tiba Farel kembali bangun, lalu memukul Rei dengan batu dikepalannya. Rei tersungkur sambil memegang kepalanya, darah segar mengalir. Lelaki itu menatap marah ke Farel, dia ingin melawan tetapi kepalanya pusing.
Farel menendang tubuh Rei sampai terjatuh, lalu ia menarik kerah baju Derrel dan membenturkannya ke pohon itu lagi. Urusan Farel belum selesai dengan anak itu. Ia kembali mencekiknya.
Cekikannya pun semakin kuat. "A–akh! Kak–" Napasnya mulai sesak. Refleks lelaki itu menggerakkan tubuhnya dengan cepat untuk berusaha melepaskan diri. Derrel mengangkat kakinya dan menendang kepala Farel di ubun-ubunnya dengan tumit.
Azura bangun saat Dennis sedang mendekat. Dennis berjongkok di hadapan Azura. "Kau gak apa-apa?"
"Gw strong, gw bakal serang si Banci itu." Azura mengelap darah di bibir, lalu kembali berdiri. Ia memaksakan kakinya yang sakit untuk bergerak. Lalu ia berlari menghampiri Farel yang masih mencekik Derrel. Lelaki itu melompat dan langsung menendang kepala Farel.
"Uhuk! Uhuk! Akh!" Derrel berdiri dengan bantuan pohon. Tak lama lelaki itu jatuh dengan lutut menyentuh tanah. Dennis datang dan langsung membantu Derrel berdiri.
"Lu pergi bawa Derrel menjauh, cari bantuan sana." Ujar Azura pada Dennis.
Dennis mengangguk paham. "Ayo kita pergi, tahan sebentar sakitnya." Derrel mengangguk. Dia berjalan pincang menjauhi hutan terbakar itu.
Azura menyentuh tubuh Rei dengan kakinya. "Oy, badak! Bangun buru! Masa lu kalah sama banci?!"
"Ugh ..." Rei mengedipkan mata, lalu bangun menyentuh kepala. "Gak tau kenapa, dia terlalu kuat."
"Ck, biar gw aja lah yang urus dia!" Azura melepas sepatu dan melepaskan talinya. Dia mendekati Farel yang baru bangun dan mencekik lelaki itu dengan tali sepatu.
...****************...
Dennis terus membawa Derrel lari untuk mencari jalan keluar dari hutan itu. Tapi tiba-tiba Derrel tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. Dennis kembali ke adiknya itu dan langsung membantunya berdiri kembali.
"Rel, kau oke?" Dennis menarik tangan adiknya untuk kembali berdiri. Tapi Derrel tak kuat berlari lagi dengan kakinya yang sakit. Ia juga kesulitan bernapas di tempat yang penuh dengan asap kebakaran.
"Sudah kubilang, tutup hidungmu dengan baju. Ah, ayo, aku gendong aja." Dennis berjongkok di hadapan Derrel. Secara perlahan Derrel bangun dan memeluk Dennis dari belakang.
Tiba-tiba dari kanan mereka ada monster besar yang berlari sambil terbakar, monster itu menabrak pohon yang besar sampai tumbang dan ingin menimpa Dennis Derrel. Rei yang melihatnya berlari sekuat tenaga dan langsung mendorong kencang adik-adiknya dari pohon yang tumbang itu.
BRAK!
"Kak Rei!!!" seru Derrel dan Dennis. Mereka berdua kembali berdiri lalu menghampiri Rei yang jatuh tertimpa pohon.
"Ugh ... lari aja ... kalian berdua ..." Rei berusaha menyingkirkan pohonnya, tapi sangat berat. Pohon itu hanya menimpa kaki Rei. Walau begitu, Rei tetap tidak bisa bergerak.
Derrel dan Dennis mendorong pohonnya, tapi batang pohon tersebut tidak bergerak sama sekali. Rei menghela napas berat lalu kembali menatap kedua adiknya. "Hei, untuk kali ini, kalian tolong dengarkan kakak sekali aja. Cepat lari dan cari bantuan."
"Gak. Gak mau! Bagaimana denganmu?!" Dennis menggeleng cepat.
"Jangan pedulikan aku. Jika kalian membawa bantuan, aku akan baik-baik saja. Pergilah cepat! Cepat lari dan jangan liat ke belakang!"
"A–aku mau nemenin kak Rei!" Derrel tetap menolak.
"Rel. Derrel!! Aku akan baik-baik saja. Percayalah!" tegas Rei. Walau ia sendiri juga tak yakin dengan perkataannya.
"Ugh ... bertahanlah Kak Rei! Ayo, Rel!" Dennis menarik tangan Derrel. Tapi adiknya itu tetap tidak mau beranjak dari tempatnya karena ia ingin menemani Rei. Dennis pun terpaksa menggendong Derrel. Ia tidak bisa pergi sendiri. "Ayolah, Rel! Kak Rei sangat berharap pada kita."
"Umm ..." Derrel mengangguk. Dennis pun membawanya pergi.
"Yah ... sekarang aku hanya bisa melihat kalian selamat. Bertahan hiduplah." Rei menjatuhkan kepalanya. Ia pasrah dan sudah menebak nasibnya. Lalu tak lama, ada ranting pohon yang terbakar jatuh di atas kepala Rei. Lelaki itu mulai menutup mata sambil tersenyum. Tapi sebenarnya ia takut.
Tak lama kemudian, ada pohon yang tumbang karena terbakar. Pohon itu menimpa kepala Rei. Seketika darah mengalir dari sela-sela batang pohon.
Dennis dan Derrel yang belum jauh mendengar suara benda jatuh yang keras. Mereka berdua kembali ke tempat Rei dan terkejut. Yang mereka lihat hanyalah pohon tumbang. Tapi dibawah pohon itu muncul tangan Rei yang berdarah-darah. Mereka berdua berjongkok di hadapan pohon itu dan Derrel menyentuh tangan Rei.
"Kak Rei! Kak Rei!!" Air mata mengalir dari kelopak mata Derrel. Dia memukul-mukul batang pohon itu. Dennis juga menangis, dia menepuk-nepuk punggung Derrel.
"Kita harus pergi, Rel," ujar Dennis dengan suara bergetar. Ia sebenarnya tidak ingin pergi, tapi ia sadar kalau kebakarannya semakin besar dan mulai banyak daun dan ranting terbakar yang jatuh. Bisa-bisa mereka berdua akan bernasib sama seperti Rei kalau tidak segera pergi dari sana.
"Kenapa harus kak Rei, kenapa?!" Derrel memeluk Dennis dengan erat. Dennis berusaha tegar tapi tidak bisa, mendengar adiknya menangis begitu dia jadi terbawa perasaan.
"Nis, pergi! Jangan lupa ayam gepreknya!" seru Azura dari kejauhan. Lelaki itu tak sengaja melepaskan Farel dan saat ini ia masih mengejar lawannya.
"Loh kok gw?"
"Kau pernah bilang kalau Kak Rei bakal menjadi ... ugh ...."
"Ck, sudahlah lupakan!" Azura balas membentak. "Sekarang turuti perkataan terakhir kakak kalian itu! Laksanakan pesannya. Dia hanya ingin kalian berdua selamat."
"Kak Azura, ayo ikut kami. Kita harus keluar dari hutan ini!" teriak Derrel yang masih digendong Dennis.
"Ah, okelah. Kayaknya si banci itu juga udah keluar duluan." Azura lari duluan. Dennis dan Derrel pun mengikutinya dari belakang. Tak lama mereka melihat cahaya dari depan. Diikutilah cahaya itu dan akhirnya mereka bertiga bisa keluar dari hutan. Ternyata jalan itu kembali ke danau.
"Cepat, Dennis. Ayo kita pergi dari sini." Azura langsung mengajak kedua temannya yang tersisah. "Gw ikut lah pergi. Bodo amat sama hutannya!"
"Oke, Ra." Dennis mengangguk. Lalu ia menurunkan Derrel. "Kau sudah bisa jalan sendiri, kan?"
"Huum. Biarin aku jalan sendiri, kak. Aku gak mau jadi beban."
"Oke, ayo!" Dennis dan Derrel mengejar Azura yang sudah pergi duluan. Mereka bertiga akhirnya sampai di depan rumah barunya Dennis yang kini telah menjadi tempat berdarah di dalamnya.
"Hmm sekarang kita mau pulang naik apa, dong?" Azura menggaruk-garuk kepala karena bingung. Dennis awalnya menyarankan naik mobil pribadi mereka. Tapi ia baru ingat kalau kuncinya hilang.
"Oh iya! Kak Leon bukannya bawa mobil juga, ya?" tanya Derrel yang baru mengingatnya. Dennis menimpali. "Oh ya! Kak Leon punya sopir. Pastinya kunci mobilnya ada di sopir itu."
"Terus ke mana sopirnya? Apa dia udah dibunuh juga?" tanya Azura. Lelaki itu beranjak dari teras rumah dan menghampiri tempat parkir di halaman samping. Ia juga teringat dengan bus yang mereka sewa saat menuju ke rumah itu bersama-sama.
Azura menemukan mobil busnya terparkir di samping pagar rumah. Tapi ia tidak melihat mobil Leon di sana. Ketiga orang itu pun membuka pintu bus dengan paksa. Tidak ada kuncinya dan satu orang pun di dalam sana.
"Ah, percuma kalau gak ada kuncinya." Azura keluar dari bus. Ia ingin menutup pintunya, tapi sudah tidak bisa. Lalu ia kembali ke Dennis dan Derrel.
"Gimana, kak Jura?" tanya Derrel.
Azura menggeleng. "Gak ada kunci, gak bisa jalan lah. Tapi sekarang di mana mobilnya si kambing, ya?"
"Emm ..." Dennis berkeliling di sekitar bus. Ia menghampiri bagian depan busnya, lalu melihat sesuatu yang bersinar.
"Eh, itu apa?"
*
*
*
To be continued–
List Pemain 🗿:
Dennis (L)
Derrel (L)
Rei (L)❌
Leon (L) ❌
Azura (L)
Dian (L) ❌
Geo (L)❌
Devin (L) ❌
Lilo (L) ❌
Adila (P) ❌
Revan (L)❌
Fani (P) ❌
Shira (P) ❌
Toni (L) ❌
Olivia (P) ❌
Tania (P) ❌
Siska (P) ❌
Sasha (P)❌
Lia (P)❌
Diana (P) ???
Ayah 3 bersaudara ❌