
Setelah selesai minum-minum. Mereka berenam memutuskan untuk berkeliling di sekitar rumah baru. Melihat-melihat pemandangan. Mereka juga menelusuri jalan setapak.
Diujung jalan itu terdapat sebuah danau yang cukup luas dan cukup bersih dengan semak belukar dan hutan kecil di seberangnya. Lebar jalan di seberang danau itu cukup untuk dua orang berjalan beriringan. Pertama-tama mereka mengelilingi danau itu. Kemudian Azura berhenti dan jongkok.
Jarinya dimasukan ke dalam air. "Dingin, cuy," gumamnya.
Terlintas ide jahat di benak Dian. Dia mengendap-endap ke posisi di belakang Azura sambil menunduk agar bayangannya tak terpatul dari air.
"Plung!" Dian mendorong Azura sambil mengiringi efek suara ala dirinya. Saat Azura ingin terjatuh ke danau, tangannya sempat menarik baju Dian dan akhirnya mereka berdua malah terjatuh ke dalam danau tersebut.
"Dasar gendut!" hardik Azura sambil berusaha keluar dari air.
"Kalau mau jatuh, jangan ngajak-ngajak, ajg!" Begitu juga Dian yang ingin segera keluar dari air.
Azura sudah lebih dulu naik ke permukaan. Ia kembali ke tempatnya berdiri tadi. Lalu Dian mengulurkan tangan minta bantuan. "Ra, tarik gw ya?"
Azura pun mengangguk dan menggapai tangan Dian. Tapi saat Dian ingin naik, Azura melepaskan tangan lelaki itu. Alhasil Dian kembali jatuh ke danau. Azura menertawakannya.
"Awas lu, Ra!" bentak Dian.
Dia pun keluar dari air dengan tenaganya sendiri. Lalu dengan cepat menghampiri Azura dan ingin balas dendam dengan menjatuhkan kembali lelaki itu ke dalam air. Tapi saat ingin melakukannya, Azura menahan tangan Dian lalu membanting lelaki itu ke tanah lalu duduk di atas perut Dian.
"Eh, Dian. Kamu tau, kan, bentar lagi Idul Adha?" tanya Azura dengan senyuman manis.
"Iya tau. Tapi, bisa gak jangan duduk di perut gw. Berat!" ucap Dian.
"Entar dulu!" Azura menginjak kedua tangan Dian. Perut Dian semakin tertekan, jadi terasa sakit.
"Gini, rencananya gw mau sumbangin sapi yang bernama Dian ini biar disembelih." Senyuman Azura tampak tak manis lagi. Justru menjadi menyeramkan.
Nasib Dian masih beruntung. Rei yang sudah jalan duluan pun berputar balik karena tak melihat dua manusia ini. "Kirain diculik penduduk sekitar ternyata lagi pacaran."
Azura bangkit berdiri. Kemudian berkata dengan nada berat, "Eh, Badak. Gimana nanti kalo Dian dijadiin kurban Idul adha?"
Rei menatap Dian yang sedang mengibas-kibas celananya, kemudian menyeringai sambil melirik Azura.
Rei mengangguk. "Boleh, tapi kayaknya kita harus kasih dia makan dulu biar dagingnya tebal."
"Iket dulu, yuk. Biar dia gak kabur ke mana-mana." Azura menyeringai.
Dian menelan saliva. Tubuhnya menegang saat melihat ekspresi baru yang dikeluarkan Azura dan Rei saat menatapnya. Rasanya ingin lari dari mereka berdua.
"Yare yare, g–gw kebelet mau ke toilet. Du–duluan, ya!" Dian langsung mengambil langkah seribu berlari ke arah Dennis.
"Dennis! Pulang, yuk, gw takut di sini!" seru Dian.
"Kenapa Kak Dian? Eh kok kakak basah kuyup?" Derrel langsung menyambarnya dengan pertanyaan, remaja itu khawatir melihat wajah temannya ketakutan.
"Ga–gak apa-apa, aku kayak ngeliat yang mencurigakan. Sama piranha tadi."
Dennis dan Derrel tertawa kecil. "Mana ada piranha di sini. Ini bukan Danau Amazon, kok." Dennis membalas dengan polosnya. Andai dia tau, piranha yang dimaksud Dian adalah Azura.
"Ada, Nis. Percaya, deh. Sekarang pulang aja, yuk!" Dian sampai memeluk kaki Dennis agar menuruti permintaannya. Ia terus membujuknya.
"I–iya, iya sudah. Ayo pulang." Baru saja mereka ingin melangkah menuju jalan tadi.
Derrel mendekati Azura dan Rei yang sedang mengobrol santai. "Eh, kalian abis darimana? Kak Azura juga basah kuyup, kenapa?"
"Ada deh, nanti aku cerita di rumah," jawab Azura. Kemudian matanya kembali melirik tajam pada Dian yang masih bersembunyi dibalik tubuh Dennis.
"Ayo cepetan jalan. Nanti Kak Azura masuk angin." Derrel benar-benar khawatir. Terdengar dari nada bicaranya yang sedikit bergetar.
Dennis yang paling belakang akan mengikuti teman-temannya. Lalu tak lama ia melihat gelembung-gelembung yang keluar dari dalam air. "Emang beneran ada piranha nya, ya?"
SREK
"Eh?" Dennis langsung menoleh ke arah sebaliknya. Di sana terdapat tumbuhan kecil yang rimbun. Bisa dibilang semak belukar. Tadinya Dennis mendengar ada suara tapak kaki yang sedang menginjak dedaunan.
Suaranya sangat jelas di sampingnya. Ia belum melangkah sedikitpun dan teman-temannya saja sudah menjauh. "Si–siapa di sana?" Dennis terus menatapi sekeliling semak itu. Tapi ia dikejutkan oleh suara Derrel yang memanggilnya.
"Kak Dennis lagi ngapain? Ayo buruan!"
"A–ah, iya!" Dennis menggeleng cepat. Ia membuang perasaan buruknya dan langsung berlari meninggalkan tempat.
...*******♥*******...
Sampai rumah. Dennis meminjamkan bajunya untuk Azura dan Dian. Kalau Derrel meminjamkan handuk untuk mengeringkan kepala mereka. Lalu Derrel melirik jam di kamar. Sudah hampir sore tapi orang tuanya belum pulang juga.
"Lama banget baliknya, nyasar apa ya?" gumam Derrel dalam hati.
Kebetulan Dennis masuk ke dalam kamar. Derrel mengikuti kakak keduanya. Ia juga ingin memeriksa kamar yang ada di dalam rumah barunya.
Ruangan masih kosong karena barang-barangnya belum diatur. Ia pun menghampiri jendela. "Jendelanya agak besar. Dari sini pemandangan desanya bagus, tapi kalau malam hari pasti gelap juga. Kayaknya nanti minta mama beli gorden dengan ukuran yang sama kayak jendela ini, deh!"
"Kak Dennis!" Derrel menyeru. Dennis terkejut karena ia tidak menyadari kehadiran adiknya. Ternyata Derrel ikut masuk ke kamar juga.
"A–ada apa?" tanya Dennis.
"Apa kita akan sekamar lagi?" Derrel bertanya balik.
Dennis berpikir sejenak. Lalu tak lama ia mengangguk. "Iya si ... tapi kata mama, tempat tidurnya akan dipisah. Aku dipojok, ya?"
"Yaaah ... aku yang mau dipojok, kak Dennis!"
"Ga mau ... pokoknya di pojok samping jendela ini adalah tempatku. No debat, hehe ...."
"Huuu ... ngalah, dong!"
"Haha oke deh, oke." Dennis tertawa kecil, lalu menepuk-nepuk pelan kepala adiknya. Kemudian ia keluar dari kamar dan pergi memeriksa ruangan lain.
...*******♥*******...
"Hoooh ... ini pasti dapurnya." Gumam Dennis sambil memerhatikan sekeliling. "Karena ruangan ini dekat dengan kamar mandi." Derrel menimpali.
Sekarang mereka ingin melihat kamar mandinya. Tapi mereka terkejut saat ada seseorang yang keluar dari kamar mandi itu. "Eh? Leon, ya kan? Sedang apa di dalam sana?"
Leon hanya menggeleng. Dennis sedikit melirik. Ia melihat kedua tangan Leon sedang membenarkan celananya, lalu menarik resleting celananya. Dennis menduga kalau Leon pastinya habis menggunakan kamar mandi itu untuk kepentingan pribadi.
"Kak Dennis ... aku lapar." Derrel menarik-narik lengan baju Dennis.
"Oh iya, kita kan belum makan siang." Dennis juga merasa perutnya lapar. Lalu ia memeriksa persediaan makanan yang ada di dapur tersebut.
Ada beberapa lemari yang tertempel di dinding dapur. Satu persatu ia membuka lemari tersebut untuk mencaritahu apa isinya. Pastinya tidak ada apapun di dalam lemari karena mereka belum mengisinya dengan bahan makanan.
Tidak ada yang bisa dimasak sekarang. "Tidak ada apa-apa. Kita mau makan apa, dong?"
"Oh, rupanya kalian di sini?"
Dennis, Derrel dan Leon menoleh ke belakang. Rei datang ke dapur itu. "Kalian berdua lagi ngapain?"
"Nyari makan, kak Rei. Derrel katanya lapar. Mana mama belum kembali." Dennis menggaruk kepala karena bingung. Perutnya sendiri juga sudah keroncongan. Sejak pulang sekolah, mereka belum makan apapun. Pagi sarapan hanya makan roti.
"Ngapain ke sini?" Rei meneleng, lalu berkacak pinggang. "Ayo mending bantu aku angkat box di depan."
Derrel dan Dennis saling menatap heran. Mereka pun hanya bisa ikut saja.
...*******♥*******...
Di depan sudah ada teman-temannya yang lain. Mereka tentu sedang bermain di halaman. Hanya Azura dan Dian. Kalau Leon membuka kursi lipat dan mencari tempat yang sepi untuk mendengarkan musik sekalian menikmati alam yang masih asri di dekat sana.
"Ini. Kalian gak usah khawatir soal makanan. Kita masak sendiri aja." Rei terlihat sedang berusaha untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam bagasi mobil Leon. Ternyata sebuah kotak Pendingin.
"Apa isinya kak Rei?" tanya Derrel.
Rei pun membuka isi kotak tersebut. Ternyata dalamnya ada beberapa daging sapi yang masih merah dan mentah. "Makan ini aja, gimana? Kita bakar-bakar bareng."
"Hmm ... tempatnya di mana?"
"Eh, oh iya! Aduh!" Rei menepuk kepala. Ia baru teringat sesuatu. "Pemanggangnya di mobil ayah. Belum dikeluarin."
"Eeeh ... mau ngapain nih?" tanya Azura yang tiba-tiba muncul. Lalu ia mengambil satu daging dari dalam kotak dan mengarahkannya pada Dian. "Daging keluarga lu ini."
"Ajg!" balas Dian. Lalu ia pun bertanya pada Rei, "Sekarang kita mau bakar-bakar daging?"
"Iya ... tapi alatnya gak ada kak Dian." Dennis yang menjawab.
"Pake batu aja yang ditumpuk. Dijadiin kayak tungku gitu, trus dagingnya kita tusuk, taro di atas apinya." Jelas Azura. Lalu ia memungut batu-batu kecil yang ditemukannya.
Dian memperhatikan batu yang dibawa Azura, lalu menjitak dahi lelaki itu. "Batu kecil buat apaan? Lagipula tanpa arang, mana bisa bakar-bakar."
"Eh, hmm ... Kalau arangnya ada nih. Ada 2 bungkus." Kebetulan Rei menemukannya di selipan kursi mobil belakang. Mereka semua terlihat senang. Sekarang saatnya berbagi tugas dan mulai memasak bersama.
*
*
*
To be continued–