
Permainan dimulai dari Derrel. Ia mendapatkan angka 4, berarti dia maju ke depan sebanyak 4 petak. Lalu tak lama ada Siska juga yang menyusulnya. Terakhir yang jalan adalah Rei. Ia melempar dadu dan mendapat angka 6.
"Wah, angka tertinggi." Rei langsung jalan melewati yang lainnya. Dia yang jalan terakhir, tapi kini hanya dia seorang yang sudah duluan sampai depan.
"Ini, Rel." Berikutnya giliran Derrel lagi yang jalan. Rei memberikan dadu itu pada adiknya.
Derrel melempar dadunya dan mendapat angka 4 lagi. Sekarang ia berada dua petak di depan Rei. Setelah sampai di tempatnya, Derrel langsung mencari petak yang terdapat kepala ular. Ternyata berada 3 petak di depannya.
"Hmm ... Kalau aku dapet angka tiga nanti, aku pasti mati." Batinnya cemas.
Sekarang giliran Azura. "Kalau gw lempar dadunya ke petak kepala ular, ularnya keluar ga ya?" Azura benar-benar ingin mencobanya. "Kali aja dia makan dadunya, trus kalau dadunya ilang, permainannya selesai, deh~"
Azura melempar dadu itu sampai mendarat di atas petak kepala ular. Tapi tidak terjadi apa-apa dan angka 5 lah yang terpampang di bagian atas dadu. Azura pun maju 5 langkah, lalu melipat tangan ke depan. "Ck, gak asik. Gw mau liat ular itu lagi."
Lia yang ada di samping Azura pun membalas ucapannya. "Apaan sih? Kau mau ular itu keluar? Serem tau tampangn–"
SREK!
Belum selesai bicara, tiba-tiba mulutnya robek ke samping sampai mendekati pipi. Gadis itu langsung berteriak kesakitan sambil menutup mulut. Semua orang terkejut dan keheranan. Bagaimana mulutnya tiba-tiba sobek?
"Ah sial, gak bisa pindah tempat." Ujar Devin yang ingin pergi menghampiri Lia. Mereka semua tetap diam di petak masing-masing dan ternyata tidak bisa ke mana-mana kecuali kalau saat waktunya mereka jalan.
"Sa–sakit ..." Lia tetap menutup mulutnya. Lalu dadu yang bekas dilempar Azura pun mendekati gadis itu dengan melayang. Ternyata sekarang bagian Lia yang jalan. Gadis itu hanya mendorong dadunya dengan satu tangan dan dia mendapatkan angka 4. Dirinya pun mulai maju tanpa melihat ke depan.
Tak lama setelah Lia menginjak petak terakhir itu daratan bergetar sedikit, lalu tiba-tiba muncul ular besar dari bawah Lia dan langsung menggigit tubuhnya. Gadis itu tercabik-cabik di di langit-langit ruangan sampai darahnya bermuncratan mengenai beberapa kepala temannya yang ada di bawah.
Tak lama kemudian, ular itu kembali tembus ke dalam tanah bersama dengan tubuh Lia. Kini yang ditinggalkan gadis itu hanyalah bekas darahnya saja.
Semua orang tercengang saat melihat kejadian barusan. Salah satu dari mereka telah menjadi korban.
"Ti–tidak ... aku mau udahan aja main permainan ini!" Siska ingin menangis, tapi Tania langsung menenangkannya dengan cepat dan menyemangatinya. Siska tidak jadi menangis, tapi tetap saja ia merasa takut karena sekarang adalah gilirannya jalan. Dadu sudah menghampirinya.
Siska mengambil dadu itu lalu melemparnya. Masih ada keberuntungan untuknya. Dia maju dan tidak berhenti di atas kepala ular. Setelah itu Adila yang akan jalan. Setelah dadu menghampirinya, gadis itu langsung melempar dadu tersebut dan ia mendapat angka 5.
Gadis itu sangat senang mendapatkan hasilnya karena ia berhenti tepat di tangga naik. Gadis itu pun berjalan di gambar tangga dan ia berhasil mendahului yang lainnya dengan melompati dua baris petak ke atas.
"Njir hoki banget tuh anak." Azura berkacak pinggang. Dian yang tak jauh di belakangnya membalas, "Tenang aja, bro! Tar juga dapet kali! Tapi jangan mengharap banget. Nanti bisa-bisa malah berhenti di ular." Di akhir perkataannya, Dian tertawa jahat.
"Tch, lu kali yang bakal dapet ular! Cuih."
"Alah, gak mungkin."
...********♦********...
Kembali ke tempat Dennis berada. Kini lelaki itu masih berusaha untuk melepaskan kakinya dari lilitan rambut. Sampai lilitan itu telah membungkus setengah badannya. Daripada ia mati terbungkus karena tak bisa bernapas, Dennis pun menyerah.
Lelaki itu membaringkan tubuhnya di lantai kayu. Ia menatap langit-langit ruangan itu, lalu menutup mata. "Bagaimana kabar yang lainnya, ya? Mereka sedang apa sekarang?"
Tiba-tiba Dennis merasa cemas. Ia berpikir kalau hanya dirinya saja yang telah keluar dari rumah. Itu berarti, ia telah bebas dari peraturan dan permainan di dalam rumah. Lelaki itu kembali membuka mata, lalu melirik ke arah makhluk berambut panjang yang terus memandangnya dengan mata bolong.
"Selagi aku di sini, lebih baik aku cari bantuan untuk mereka! Aku ingin menyelamatkan teman-temanku." Ujar batinnya dengan penuh percaya diri. Lelaki itu melirik sekitar. Ia mencari senjata kecil yang mungkin bisa membebaskannya.
Di sana terdapat meja papan yang di atasnya ada sebuah foto yang gambarnya tak jelas, lalu mainan kayu dan ada sebuah paku besar berkarat. Dennis berusaha meraih paku tersebut dan akhirnya dapat.
Ia bangun duduk lalu melirik tajam ke makhluk kayang. Dengan cepat, Dennis mengarahkan ujung kayu itu ke kepala makhluk tersebut lalu menusuknya. Makhluk itu mengerang kesakitan dan lilitan rambutnya melonggar.
Dennis langsung mundur menjauh, lalu berdiri secepatnya. Ia bergegas mencari jalan keluar. Semua jendela ditutup dengan papan kayu tapi rada rapuh. Dennis masih bisa merusak penghalang kecil itu. Ia menarik papannya sampai patah satu persatu dan dunia luar pun dapat terlihat. Ternyata di depan sana sudah mulai fajar.
Dennis terus menarik papan kayu untuk mematahkannya dan merusak penghalang jendela. Ia tak peduli tangannya terluka karena terkena serpihan kayunya. Yang penting ia bisa keluar sekarang.
"Ah, akhirnya." Dennis berhasil mematahkan kayu-kayu itu dan sekarang tinggal satu lagi. Tapi saat ia ingin mematahkan kayu terakhir, tiba-tiba pinggangnya dililit oleh rambut dan tubuhnya terangkat sampai kepalanya menyentuh langit-langit ruangan.
Makhluk itu kembali mengeluarkan suara melengking yang membuat telinga Dennis terasa sakit. Lelaki itu mematahkan tiap helai rambut yang melilitnya dan akhirnya ia bisa terbebas. Tubuhnya kembali ke lantai kayu dan ia langsung menghampiri jendela yang menjadi jalan keluar satu-satunya.
TRAK!!
"Selesai ..." Dennis berhasil mematahkan kayu terakhir. Ia merunduk dan melewati jendela itu untuk keluar. Tapi lagi-lagi makhluk kayang mengganggunya. Kali ini makhluk itu mendorong Dennis dengan paksa sampai jendela kecil itu hancur menjadi lubang yang besar.
Dennis tak sempat berpegangan pada dahan pohon dan akhirnya ia terjatuh dari ketinggian. Lelaki itu mendarat dengan lengannya yang duluan membentur tanah. Seketika terdengar suara remuk dan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Akh, aw!" Untuk sementara sepertinya Dennis tidak bisa menggerakkan tangan kirinya. Ia tergeletak di tempatnya jatuh, lalu tak lama lelaki itu melihat makhluk kayang yang keluar dari rumah pohon dan melompat ingin meniban Dennis.
Mata Dennis membulat sempurna, lalu ia menemukan bagian dari tembok rumah kayu yang hancur. Terdapat papan yang ujungnya lancip. Dennis mengambil benda itu dan langsung mengarahkannya ke atas. Saat makhluk kayang itu jatuh, Dennis berhasil menusuk punggung makhluk itu sampai tembus depan dada. Setelah itu ia menendang makhluk itu jauh darinya, lalu bangun berdiri.
Dennis mundur menjauh. Dengan napas terengah-engah, ia masih memegang lengan kirinya yang sakit. Dilihat beberapa detik, makhluk kayang itu tak bergerak sama sekali setelah tertusuk. Dennis menggunakan kesempatan itu untuk kabur dan mencari jalan keluar dari hutan kecil yang dekat dengan perkebunan pohon pisang.
...********♦********...
Di dalam perpustakaan. Beberapa menit telah berlalu, satu langkah lagi Derrel akan diterkam oleh ular. Dalam hati dia berdoa agar tidak mendapat satu. Lelaki itu mulai melempar dadu.
Dadu itu terputar-putar dan berhenti di angka dua. Derrel menghela napas lega. Dia melangkah melewati petak ular. Sasha melempar dadu dan mendapatkan tiga.
"Hah, gak mungkin!" Gadis itu berpikir untuk menipu si ular. Dia melangkah sebanyak empat untuk melewati petak ular. Tak terjadi apapun.
"Lah, kalo gitu gw juga lewatin biar—" Tiba-tiba ular muncul dari petak ular di belakang Sasha dan menelan gadis itu bulat-bulat. Kini jumlah mereka berkurang satu. Semuanya akan lebih hati-hati agar mereka tidak ikut jadi korban.
"Ehem. Kalo tangga bisa gak sih dilewatin gitu? Gak akan ketimpa tangga kan?" Dian penasaran, dia ingin mencobanya saat gilirannya nanti. Ia berharap dapat tangga.
Dadu terbang ke arah Azura. Saatnya ia yang jalan. Lelaki itu melempar dadu dan mendapatkan enam. Petak tempat Azura berhenti adalah petak tangga. "Asik, dadah Dian!"
Azura meluncur dan merangkak seakan menaiki tangganya. Dia dengan bangga kembali berdiri. Dian menatap sinis Azura. Dadu menuju Devin, dia melemparnya dan mendapatkan dua.
Devin melaju dua langkah. Dia mendapatkan tangga dekat petak akhir. Itu menguntungkannya. Sekarang giliran Leon, dia mendapatkan lima. Leon melangkah dan tiga baris lagi dia sampai di petak akhir.
"Temenin Geo sana," goda Azura yang satu petak dengan Dian. Dian berdecih lalu membuang muka.
Dadu pun pergi menghampiri Rei. Lelaki itu mencari petak ular yang ternyata masih jauh darinya. Jadi Rei melempar dadu dengan asal dan ia mendapat angka 6. Langsung saja ia melangkah. 3 petak lagi ia sampai ke ular, tapi sebentar lagi ia juga sampai ke finis.
Setelah Rei, dadu terbang ke arah Azura lagi. Lelaki itu mengambil dadu dan menaikan alis beberapa kali ke arah Dian.
"Lama, njir!" seru Dian yang mulai kesal karena Azura terlihat membuang-buang waktu.
Azura tertawa kecil, lalu ia mulai melempar dadu. Dia mendapatkan empat, lelaki itu segera melangkah dengan percaya dirinya. Petak di belakangnya itu adalah petak ular. "Hampir aja dimakan uler. Yo, dua petak lagi gw menang!"
Dian melempar dadunya. Dia mendapatkan tiga. Tentu saja terkejut, begitu juga dengan Azura. Dian melangkah dengan ragu, sampai satu langkah lagi dia sampai ke akhir hidupnya.
"Ra, menangin demi gw, ya!" Dian tersenyum lalu menginjak petaknya. Ular datang dan melahap setengah badan Dian. Azura di depannya ingin membantu sahabatnya tersebut, dia menarik tangan Dian. Namun gagal, hanya tangan Dian saja yang selamat dan terjatuh di depan Azura.
"DIAAAN!" Sontak semua teman dekatnya pun berseru saat melihat Dian dicabik-cabik oleh makhluk panjang itu. Sekarang teman mereka telah gugur dalam permainan kali ini.
Azura duduk menekuk lutut, lalu mengambil potongan tangan Dian. "Di–Dian, sorry. Gw gak bermaksud doain lu mati." Azura menggengam erat tangan temannya itu. Matanya mulai basah. Lelaki itu menggeleng, dia seketika teringat peraturannya
"Gw gak mau nyusul si Gendut sekarang," ujar Azura dengan yakin. Ia pun kembali berdiri untuk melanjutkan permainan.
Leon giliran melempar dadu. Dia sampai duluan. Disusul oleh Rei, lalu Azura. Di tempat akhir, Derrel melihat tangan Dian yang masih dibawa Azura.
"Kak Azura gak mau buang aja tangannya? Kasian kak Dian, takutnya gak tenang," ujar Derrel.
"Bodo amat, gak ada yang mau deket sama gw kecuali Dian," balas Azura. "Dia temen terbaik gw." Tangan Derrel terulur, dia menggenggam pergelangan tangan Azura lalu tersenyum.
"Aku masih mau deket sama Kak Azura, kok."
"Tapi gw gak mau sama bocil." Azura menarik tangannya, lalu pergi. Derrel tersenyum paksa, dalam hati dia sebenarnya tersinggung. Setelah Rei menyelesaikan permainannya, Derrel berbalik badan lalu memeluk kakaknya.
"Kak Rei ... sampai sekarang kak Dennis masih belum balik juga. Aku khawatir."
"Hmm ... aku yakin banget kok, Rel. Dennis pasti ada di suatu tempat dan ia baik-baik saja." Rei mencoba untuk menenangkan adiknya itu.
Derrel membuang muka, lalu cemberut. "Hm ... Bagaimana kakak bisa yakin? Setiap orang yang hilang di sini, pastinya dia akan mati."
"Hus, ga boleh ngomong gitu. Dennis pasti gak apa-apa. Sekarang ayo kita keluar dari ruangan ini." Rei menggandeng tangan adiknya keluar. Bersama dengan beberapa teman mereka yang masih bertahan hidup.
*
*
*
To be continued–
List Pemain 🗿:
Dennis (L)
Derrel (L)
Rei (L)
Leon (L)
Azura (L)
Dian (L) ❌
Geo (L)❌
Devin (L)
Lilo (L) ❌
Adila (P)
Revan (L)
Fani (P) ❌
Shira (P) ❌
Toni (L) ❌
Olivia (P)
Tania (P)
Siska (P)
Sasha (P)❌
Lia (P)❌
Diana (P)
Ayah 3 bersaudara ❌