
Di kelas. Derrel memasang wajah cemberut, sangat terlihat suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Vann baru saja dari toilet dan melihat Derrel di kursinya, Tio di belakang dia juga melihat ke arah yang sama. “Kenapa dia?” tanya Tio sambil mengelus-elus kucingnya.
Vann hanya mengangkat bahu. Tak lama, Vann tersentak. Dia menoleh ke arah Tio lalu menunjuknya dengan jari telunjuk seakan bertanya, “Sejak kapan kau di sini?”
“Aku tungguin kamu di kantin, tapi ga dateng-dateng, ternyata di sini,” jelasnya. Vann mengangguk paham, dia mengeluarkan buku kecil dan pulpennya. Lelaki itu menulis, “Kau baik-baik saja?”
Derrel menoleh, lelaki itu mengangguk pelan dan tersenyum. Namun dia tidak pandai bohong. Baru saja Vann akan menulis lagi, tiba-tiba Tio berkata, “Ga usah bohong. Keliatan dari mukamu.”
“A–aku … abis marahan sama kak Dennis. Kenapa dia gak mau aku belajar bela diri?” jelas Derrel. Dia meletakan kepalanya di meja. Vann menulis, “Kalo gitu, pulang sekolah ikut aku ke suatu tempat.”
Derrel tidak mengerti. Jadi ia mengangguk saja untuk menanggapinya.
...****************...
Dennis mendengar bel berdering. Dia bersiap ke kelas, lalu ada seseorang menyentuh pundaknya. Dennis menoleh dan melihat sosok Diana.
“Kamu sendiri?” tanya gadis itu.
“Iya, tadi Derrel pergi duluan. Mau ke kelas bareng?”
Tentu saja Diana langsung mengangguk mantap, menerima tawaran Dennis. Sepanjang jalan mereka mengobrol ringan, meskipun begitu jantung Diana berdetak kencang. Sampai seorang siswi menghampiri Dennis.
“Hai! Aku dari ekskul tata boga pengen kasih bolu ini ke kamu. Kalo enak bisa beli di kantin kejujuran, kalau misalnya ada yang kurang bisa kasih masukan di kotak saran. Terima kasih,” ujar siswi itu sambil memberikan sepotong bolu dibungkus plastik.
“Ah, makasih ya. Nanti aku coba.” Dennis tersenyum manis. Siswi itu membalas senyumannya, lalu pergi. Diana menatap sinis siswi itu, dia bingung kenapa hanya Dennis yang diberikan dan dia merasakan hawa panas di dadanya.
Dennis menyodorkan bolunya ke Diana. “Kau mau?” tawar Dennis
“Buat kau saja.” Diana melipat tangan, lalu membuang muka.
“Haha, kau iri, ya?” Dennis tertawa kecil, matanya memandangi bolu itu sejenak, dia berpikir akan meminta maaf kepada Derrel dengan membelikannya bolu nanti.
...****************...
Waktu terus berjalan, langit kelihatannya mendung. Saat pulang sekolah, Dennis langsung menuju kantin, dia melihat papan “Kantin Kejujuran” dan segera mendekatinya. Bolu itu cukup murah jadi dia beli tiga, dia memberikan uangnya ke dalam kotak dan mengambil kembaliannya. Lelaki itu menuju kelas Derrel dan melihat adiknya sedang menyapu lantai.
“Hai, Rel.” Mendadak Dennis menjadi canggung dengan saudaranya sendiri. Derrel menoleh, lelaki itu meletakan sapu dan pengkinya.
“Kenapa, Kak?”
“Anu … maaf soal di kantin itu, ini buat kamu.” Dennis menyodorkan dua bolu yang dia beli tadi. Derrel tersenyum, dia menerima bolu tersebut.
“Gak apa-apa, Kak. Aku paham maksud kakak.”
“Ah gitu … aku bener-bener gak mau nilai kamu turun karena latihan cuma mau balas dendam. Aku juga gak mau kamu jadi berandalan,” jelas Dennis. Derrel tersenyum dan mengangguk.
“Oh ya, Kak. Kakak pulang duluan aja. Aku mau ada kerja kelompok. Gak lama kok, boleh ya?”
“Hmm, oke, tapi jangan terlalu malem, ya? Aku duluan.” Dennis melambai ke adiknya, lalu pergi. Sedangkan Derrel setelah piket, dia menemui Vann dan Tio di halte sebelah kanan sekolah. Mereka menunggu bus.
Tak lama, bus itu pun datang. Mereka naik, lalu menuju Gym yang di dalamnya ternyata ada kursus bela diri. Derrel mulai ragu ingin ikut, tetapi dia tidak ingin lagi diganggu oleh Divan dan kawan-kawannya.
"Waw, aku gak tau kau suka ke tempat seperti ini." Setelah masuk, Tio memperhatikan tempat itu. Ada beberapa alat berat dan para binaragawan yang berlatih di sana.
Vann mengeluarkan bukunya untuk membalas Tio. Entah mengapa, tiba-tiba kucing Tio melompat dari pelukan majikannya dan berlari ke arah lain. Tio pun mengejarnya. Saat Vann ingin menunjukkan tulisannya, ia tidak menemukan Tio yang sebelumnya ada di belakang.
"Moching sini ... pus pus ..." Tio kehilangan jejak kucingnya itu karena banyaknya alat dan luas tempat itu. Tapi tak lama, ada seseorang yang menghampiri Tio dan memberikan kucingnya. "Ah kau ... kayak gak asing."
Tio memperhatikan orang itu. Kucingnya melompat ke Tio, lalu hinggap di atas pundaknya. Tak lama, Vann datang bersama Derrel. Lelaki itu menunduk sedikit untuk menyapanya.
"Oh, kau bawa teman sekarang?" tanya orang itu yang merupakan kenalan Vann sekaligus menjadi pelatih pribadinya. Wajahnya tidak jelas karena ia memakai kacamata hitam dan masker.
Vann menulis, "Mereka ingin bisa bela diri."
Tio membacanya lalu menggeleng cepat. "Ah tidak, tidak! Aku cuma mau lihat-lihat aja. Yang mau latihan tuh dia." Ia menunjuk ke Derrel.
Pelatih itu menoleh ke Derrel, lalu membuka kacamatanya. Tertampang warna mata abu-abu yang dimilikinya. Sama seperti warna mata Derrel. "Ah dia ini kan ... temannya Leon, benar?"
Derrel tersentak. Tapi ia juga mengangguk kaku. "Eh, i–iya ... kok anda bisa tau? Kenalan Leon juga, kah?"
"Ah~ Ayo jangan ngobrol di sini." Pelatih itu membuka maskernya dan tersenyum. Tio seperti mengenalnya, tapi tidak dengan Derrel. Mereka pun diajak ke suatu ruangan luas tapi kosong dengan lantai yang ditutupi karpet tatami yang memenuhi ruangan.
Ada beberapa bangku panjang di sudut ruangan. Mereka pun duduk di sana untuk berbincang sebentar. Sepertinya pelatih itu ingin bicara dengan Derrel saja. Jadi Vann memutuskan untuk bermain game sambil mendengarkan. Sementara Tio sibuk mengejar kucingnya yang berlarian tak jelas.
"Oh ya sebelum itu, kenalin. Namaku Chris Christie." Lelaki muda itu mengulurkan tangan pada Derrel. Derrel menjabat tangannya. "Em ... Derrel Yudirasyah."
...****************...
Di waktu yang sama, Dennis baru keluar dari perpustakaan. Ia habis mengembalikan buku yang ia pinjam. Sekarang waktunya pulang. Dennis mengira kalau Derrel telah pergi dengan temannya untuk kerja kelompok. Jadi ia pulang sendiri sekarang.
Lelaki itu merogoh kantung dan melihat ponselnya. Masih pukul 5 sore. Ia berharap bus akan datang cepat hari ini. Dennis segera meninggalkan tempat dan langsung lari kecil ke halte.
Namun saat sampai di gerbang, tiba-tiba Dennis merasa seperti ada yang memperhatikan dari belakang. Leher belakangnya juga merinding. Dengan cepat, ia menoleh ke belakang, tapi tak ada siapapun. Ia melirik ke jendela-jendela bangunan sekolahnya. Masih tak menemukan apa-apa.
Sampai di jendela teratas, Dennis terkejut melihat seorang mengintip. Saat mata Dennis bertemu sosok itu, sosok tersebut langsung menutup tirai jendela yang ada di sana. Dennis menggeleng pelan. Ia membuang semua pikiran buruk, lalu kembali berjalan keluar gerbang. Ia menghampiri halte dan melihat seorang gadis di sana.
"Ah, kau yang tadi." Gadis itu melihat Dennis. Saat Dennis perhatikan, ternyata dia seorang siswi dari eskul tata boga yang memberikannya bolu tadi siang.
"Halo." Dennis tersenyum manis lalu bersandar di tiang halte.
"Ah duduk aja sini."
"Oh ... oke." Dennis pun duduk di kursi tunggu, samping gadis itu. Rada menjauh sedikit. "Em ... udah lama nunggu?"
"Aku baru selesai piket. Aku juga baru duduk, sih." Jawab gadis itu, lalu merapihkan rambutnya yang tertiup angin.
"Ooh ... iya ..." Dennis jadi canggung. Ia berharap bus berikutnya akan segera datang.
"Kau pulang sendiri?" tanya gadis itu tiba-tiba. Membuat Dennis terkejut.
"I–iya ..." Dennis mengangguk. "Biasanya aku sama adikku. Tapi dia sedang kerkom. Kau juga sendirian?"
"Yah ... biasanya aku dijemput mama. Tapi kayaknya mama lagi sibuk, jadi aku pulang naik bus aja."
"Ah gitu ... rumahmu jauh dari sini?"
"Yah lumayan sih ... aku tinggal di perkampungan ujung kota."
"Ah ... jauh juga, ya."
"Iya begitulah~" Gadis itu tertawa kecil. Terlihat imut di mata Dennis. Tapi tak lama memandanginya, tiba-tiba bus datang. Keduanya langsung berdiri, lalu masuk begitu bus tersebut membuka pintu.
Dennis memilih tempat duduk. Dalam bus itu sedang kosong penumpang. Jadi mereka berdua bisa duduk di mana saja. Tapi keduanya memilih untuk duduk berdua di kursi paling depan dekat pintu.
Saat pintu ingin tertutup, Dennis mendengar suara tapak kaki dari belakang. Ia menoleh, tapi tak melihat siapapun. Tak ada penumpang lain selain mereka berdua. Ia jadi merasa tidak nyaman karena ia merasa seperti sedang diikuti.
Untuk meredam rasa kekhawatirannya, Dennis dan gadis itu berbincang bersama selama perjalanan. Sampai akhirnya bus tiba di halte dekat rumah Dennis. Dennis pun turun di halte itu.
"Aku duluan, ya?" Dennis melambai setelah ia membayar. Lalu turun dari mobil. Di sana, ia memperhatikan sekeliling. Jalanan di sekitarnya mulai sepi. Hanya ada beberapa motor yang lewat. Dennis pun buru-buru meninggalkan tempatnya, dan berlari kecil sampai ke rumah.
Di rumah, Dennis merasa aman. Dia meletakan tas dan hendak menelepon Derrel. Dennis mendengar sesuatu dari bantal tempat Derrel tidur, dia menyingkirkan bantal itu dan ternyata itu adalah ponsel milik Derrel. “Eh, dia ga bawa ponsel?”
“Den, kok Derrel belum pulang?” tanya bibi.
“Dia ada tugas kelompok dan ponselnya ternyata ketinggalan. Gimana nih, Bi?”
“Jangan khawatir, Derrel pinter kok. Dia pasti segera pulang.” Bibi tersenyum sambil mengusap kepala Dennis untuk menenangkan anak itu. Dennis merasa lebih tenang, akhirnya dia memutuskan untuk mandi dahulu baru makan.
...****************...
"Yap, itu aja perkenalan kita hari ini. Jadi kau sungguh-sungguh ingin berlatih denganku?" tanya Chris pada Derrel.
Derrel mengangguk cepat. "Iya! Tapi aku tidak bisa tiap hari, ya? Takut kak Dennis curiga."
"Oh gapapa, kok! Datang aja kapanpun kau mau. Aku selalu ada di sini dari pagi sampai malam. Tenang saja." Chris tersenyum, lalu mengacungkan jempolnya. Setelah itu, Tio dan Derrel pun keluar dari tempat itu. Besoknya, Derrel akan kembali untuk hari pertamanya latihan.
Mereka berdua menaiki bus untuk sampai di rumah. Bentar lagi matahari terbenam. Derrel meminjam ponsel Tio untuk melihat jamnya. "Ah sepertinya aku bisa pulang, sebelum hari gelap." Setelah itu, Derrel mengembalikan ponsel Tio.
"Huh, Vann beruntung banget bisa temenan sama artis." Gumam Tio sambil menopang dagu di pinggir jendela. Pandangannya menatap langit lewat jendela bus.
"Eh, Kak Chris itu artis?!" Derrel terkejut. "Ka–katanya dia cuma sepupunya Kak Leon."
"Ya mereka kan pernah kerja sama dulu dan terkenal bersama juga. Sering muncul di televisi. Makanya aku kayak gak asing."
Derrel sedikit menunduk, lalu bergumam dalam hati. "Ah mereka masih 1 saudara. Tapi sifat Kak Chris itu kebalikannya Kak Leon banget." Derrel tertawa kecil memikirkannya.
Lalu keesokan harinya, Derrel izin ada les di tempat lain. Tanpa curiga, Dennis mengangguk saja. Ia pun pulang sendirian lagi. Derrel melakukan latihan bela diri yang ia inginkan setiap seminggu sekali saja. Walau begitu, Derrel tetap antusias mengikutinya dan tetap diam-diam melakukannya tanpa diketahui Dennis.
*
*
*
To be continued –