
Adila di rumah, dia mengganti pakaian lalu masak mie instan. Ibunya belum pulang dan tak masak apapun. Gadis itu makan di ruang tengah sambil menonton televisi. Dia menaikan satu kakinya ke sofa dan mengganjal tangan yang memegang mangkuk mie.
Tak lama Adila merasakan ada sesuatu yang mendekat. Tangannya meraih remot televisi dan mematikannya, lalu dia menuju kamar dan mematikan semua lampu. Dua detik kemudian, seseorang berseru di depan rumahnya, “Permisi! Bu Dila!”
Rumah tampak sangat hening, seperti tak ada orang sama sekali. Orang itu berseru beberapa kali, karena tidak ada jawaban, dia pun pergi saja. Adila menghela napas lega, dia memutuskan untuk menonton film sambil menggunakan earphone saja.
Setelah film itu selesai, Adila melihat jam. Sudah pukul tujuh malam, dia segera keluar dari kamar sambil membawa mangkuk kotor. Ternyata ibunya sudah pulang, sekarang sedang mencuci piring. “Loh, kamu udah pulang kok rumah sepi?” tanya ibunya.
“Hehe, Adila keasikan nonton film.” Gadis itu menggaruk kepalanya. Kemudian ibunya memberikan secarik kertas isinya daftar belanja. “Warung ada yang buka jam segini?” Dia berharap ibunya tidak menyuruh Adila untuk pergi keluar rumah.
“Ya kamu ke minimarket lah. Uangnya ambil di dompet mama tuh sama kunci motornya.” Ibu Adila menggulung lengan bajunya, lalu mengambil sayuran di kulkas. Terpaksa Adila menurut, dia mengambil uang lebih di dompet mamanya.
“Aku sekalian jajan ya, dadah.” Adila memakai jaket hitam kupluk jaket ditarik, menutupi kepalanya. Adila mengeluarkan motor dari garasi dan langsung menuju minimarket terdekat. Di minimarket, Adila langsung mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Dia juga mengambil mie cup yang pedas untuk dirinya sendiri.
Dia ke kasir untuk membayar. “Ini aja, Mas?” ujar petugas kasir wanita. Adila hanya mengangguk, dia sudah beberapa kali dikira laki-laki. Barang belanjaannya selesai discan dan dimasukan ke kantong belanja.
“Makasih, Mbak,” ujar Adila. Kemudian dia pergi. Kasir itu tentu saja kaget, dia tertawa kecil sambil menoleh ke temannya.
...****************...
Derrel sedang tiduran di sofa. Dia takut masuk ke kamarnya sendiri. Bibi yang lewat melihat Derrel begitu menjadi khawatir. “Rel, masuk aja ke kamar. Gak enak tidur di sofa.”
Derrel menggeleng, dia tidak mau dekat dengan Dennis dulu. “Nggak, Bi. Derrel takut sama kak Dennis.”
“Kamu sama pembully ga takut sama Dennis takut.” Bibinya mengelus kepala Derrel.
“Aku sayang sama kak Dennis. Kalo kakak ga sayang sama aku lagi gimana?” Suara Derrel bergetar sedikit. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dennis itu ga bisa marahan lama-lama. Masuk aja.” Bibi menarik pelan tangan Derrel dan menuntunnya ke depan kamar.
Derrel membuka pintu kamar, dia melihat Dennis sedang mengerjakan PR dengan serius. Derrel berdiri di dekat Dennis, dia menyatukan kedua ujung jari telunjuknya. “K-kak Dennis, maaf ya. Aku bohong ke kakak. Sebenernya temen aku cuma Vann sama Tio.”
“Terus?”
“Mereka nyuruh orang lain buat deketin aku dan ngajak aku main. Maaf …. ” Dennis menghela napas panjang saat mendengar penjelasan Derrel.
Saat Derrel ingin bicara lagi, tiba-tiba Dennis menyelanya. "Maaf, Derrel. Aku butuh waktu." Lelaki itu sedang mengerjakan tugasnya. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk Derrel.
Derrel pun menunduk, lalu pergi ke kasurnya. Di sana, ia memeriksa tasnya dan memeriksa buku. Karena tidak ada PR, ia pun memutuskan untuk tidur saja. Derrel tidur menghadap ke tembok, membelakangi Dennis.
Saat sedang menghitung, tiba-tiba bayangan Derrel saat memukuli murid kelasnya kembali lagi. Kali ini lebih mengerikan. Derrel terlihat lebih brutal dengan kursi itu dan terlihat darah bermuncratan ke wajahnya. Tampang Derrel juga tersenyum lebar, seakan ia menikmati aksinya tersebut.
"Ah, sial." Dennis langsung menggeleng cepat. Entah kenapa sekarang ia jadi takut dengan adiknya sendiri. Ia bahkan sempat terbayang kalau dirinya bisa saja bernasib sama seperti murid di kelas adiknya karena ulah Derrel.
...****************...
Di waktu yang sama, Diana sedang menyisir rambut. Kemudian mengambil karet rambut berwarna hitam dan mengikat rambutnya. Dia memakai baju gelap, membawa kamera, lalu dia keluar rumah.
Sopir pribadi sudah menunggu di depan rumah. Diana naik ke mobil dan berangkat ke rumah Dennis. Dia mengeluarkan buku harian miliknya dan menulis kegiatannya hari ini.
Saat sampai di rumah Dennis, terlihat kamarnya masih terang, gadis tersebut menghampiri secara diam-diam, mengintip dan melihat Dennis sedang mengerjakan PR.
Laki itu terlihat bosan. Sesekali ia bermain-main dengan kursi dan mutar-mutar di tempat. Ia menyelipkan pensil di telinga, lalu bersandar pada kursi.
Saat seperti itu, Diana langsung mengeluarkan kamera dan memotret Dennis. Gadis itu langsung melihat hasilnya, lalu bergumam dalam hati. "Tampak samping, dia lebih cakep."
Diana pun kembali mengintip, ia terkejut melihat Dennis yang berjalan menghampiri jendela. Dengan cepat, gadis itu langsung pergi dari sana dan mencari tempat sembunyi terdekat.
Dennis membuka jendelanya. "Ah aku butuh udara untuk menyegarkan pikiranku." Dennis celingak-celinguk. Lalu ada seekor nyamuk lewat di samping kepalanya. Sepertinya membuka jendela malam-malam, bukanlah hal yang bagus karena bisa mengundang nyamuk masuk. Jadi ia pun kembali menutup jendelanya.
"Huh, hampir aja." Diana menghembuskan napas lega. Ia pun kembali mengintip. Diana melihat Dennis sudah menutup bukunya. Ia memotret lelaki itu sekali lagi, lalu pergi ke mobil kembali dan pulang.
...****************...
Keesokan harinya, semua orang telah meninggalkan rumah. Dennis sekolah, berangkat pagi. Sedangkan bibi dan pamannya juga bekerja. Derrel yang sendirian di rumah, memutuskan untuk memulai rencana kegiatannya hari ini. Yaitu mengunjungi makam kakaknya dan kalau sempat, ia akan mengunjungi makam orang tuanya.
Karena cuaca cerah dan sedang panas, Derrel memakai kaus dan celana pendek saja. Lalu ia pergi dengan naik sepeda. Di tengah jalan, ia sempat mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa bungkus bunga tabur.
Setelah sampai di makam, Derrel mencari makam Rei. Yang ternyata tak jauh dari gerbang masuk. Derrel membersihkan rumput mati yang berserakan di atas makam itu, lalu memberikannya air. Ia juga menabur bunga baru di atas tanahnya.
"Kak Rei ... kalau Kak Rei masih ada, apa kakak bakal marah sama aku juga?" Derrel mengelus nisannya. "Ceritanya, Kak Dennis lagi marah sama aku karena aku udah melakukan kesalahan besar. Aku berani bohongin dia dan aku menyesal. Aku gak tau ... gimana caranya agar Kak Dennis mau maafin aku."
Tentu saja tak ada yang membalasnya. Sebelum Derrel mengucapkan kalimatnya lagi, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Reflek Derrel langsung berdiri dan menoleh. "Eh, kau ...."
Lelaki tinggi dengan rambut hitam dan mata kuningnya. Tentu saja itu Tio. Kehadirannya membuat Derrel terkejut. "Kenapa kau ada di sini? Nggak sekolah?"
Tio menggeleng pelan. Ia jujur kalau dirinya sedang bolos untum hari ini, entah karena apa alasannya. Setelah memberitahu, Tio menunjukkan sebuah tali yang dipegangnya dan seketika kucingnya Tio muncul dari belakang kakinya. "Aku sedang mengajak Moching jalan-jalan. Mau ikut?"
Derrel tersenyum, lalu mengangguk. Mereka pun pergi dari makam itu dan pergi ke taman. Suasananya rada sepi karena semua orang di waktu itu sedang melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Baguslah sepi. Ayo duduk di sini aja." Tio memilih salah satu pohon, lalu duduk bersandar di bawah pohon itu. Lalu ia melepas tali kucingnya dan membiarkan kucing itu berkeliaran. Ia tau kalau peliharaannya itu tidak akan pergi jauh.
"Oh ya, makam yang kau kunjungi itu siapa?" tanya Tio.
"Oh, dia kakak pertamaku." Jawab Derrel sambil memainkan kuku jarinya.
"Ooh ..." Tio hanya cukup tau sedikit saja. Ia tidak ingin banyak memberikan pertanyaan pada Derrel. Tak lama hawanya semakin panas. Tio menatap langit, lalu berkata, "Kita pulang aja, yuk!"
"Eh ... tapi aku di rumah lagi sendirian."
"Mau main ke rumahku? Aku juga tinggal sendiri."
"Eh ...."
Derrel memutuskan untuk ikut dengan Tio ke rumahnya. Sebelum pergi, Tio mencari kucingnya. Ternyata ada di pohon sebelah sedang mengejar capung.
"Ayo, Moching. Kita pulang. Mainnya udah dulu." Tio memasangkan tali ke collar kucingnya, lalu mengajaknya pergi. Ia menghadap ke Derrel. "Oh ya sebelum itu, aku mau ke toko hewan dulu. Makanan Moching hampir habis."
"Ah, o–oke." Derrel mengangguk. Ia ikut aja. Setelah membeli makanan kucing, Derrel langsung diajak pergi ke rumah Tio. Setibanya di sana, Derrel memperhatikan rumah itu sangat minimalis, tapi bagus.
Tio membuka pagarnya, Derrel pun ikut masuk. "Kau tinggal di sini sendirian?"
"Iya."
"Tapi kenapa? Kau tidak ada keluarga?" Derrel asal bertanya.
Seketika raut wajah Tio berubah tanpa Derrel ketahui. Sambil membuka pintu rumah, ia menjawab, "Aku kabur dari tempat asalku."
"Eh, kenapa?" Derrel terkejut.
"Aku hanya tidak suka dengan keluargaku aja. Aku mencuri kartu rekening ibu, lalu menggunakannya untuk aku hidup sendiri." Jelas Tio sambil membuka sepatu. Lalu ia pun menarik mangkuk makan kucingnya dari kolong meja. Karena kotor, ia pun pergi ke dapur untuk membersihkannya.
Derrel tidak mengerti, kenapa temannya tega melakukan itu pada ibunya. Dia pasti ada alasan khusus, tapi Derrel tidak tahu apa itu. Tio pasti ada masalah dengan keluarganya, tapi Derrel tidak ingin tahu banyak soal itu. Ia hanya penasaran, bagaimana Tio bertahan hidup selama ini.
"Ini, makan." Tio memberikan makanan kucingnya lalu menghampiri Derrel. "Ayo duduk aja. Kau mau aku sediain apa?"
"Hehe ... apa aja. Maaf ngerepotin." Derrel pun duduk di lantai, lalu Tio kembali ke dapur. Saat Derrel perhatikan, isi dalam rumah Tio juga terlalu luas. Tidak memiliki banyak perabot. Bahkan televisi dan lemari besar juga tidak ada.
Untuk seharian itu, Derrel bermain dengan Tio. Saat sore tiba, Derrel baru pulang. Ternyata jarak dari rumah bibinya tidak terlalu jauh, tapi tidak dekat juga. Derrel bisa pulang sendiri, sampai akhirnya saat ia pulang, Dennis juga pulang.
"Ah, kak Dennis!" Derrel menyeru. Dennis hanya menoleh, lalu kembali menatap pagar dan membukanya. Derrel mendahului Dennis untuk membukakan pintunya. Tapi setelah dibuka, Derrel menghalangi jalan Dennis.
"Rel, aku capek–"
"Kak Dennis ... aku udh gak kuat lagi." Derrel menggeleng cepat, lalu menatap serius kakaknya. “Kumohon, kak! Gimana caranya biar kak Dennis maafin aku?”
"..." Dennis melirik ke arah lain sambil mengelus leher belakang. Ia menghela napas, lalu kembali menatap Derrel. “Janji kamu ga macem-macem sama kemampuanmu itu?” Dennis menyodorkan jari kelingking ke arah Derrel. Adiknya tersebut langsung mengaitkan jari kelingkingnya.
“Janji!” tegas Derrel. Lelaki itu terlihat senang. Ia langsung memeluk kakaknya.
*
*
*
To be continued–