THE RULES

THE RULES
Episode 18



Jam demi jam berlalu. Derrel sudah kembali ke kelas sejak istirahat makan siang tadi. Lalu dia membereskan buku-buku ke dalam tas. Semua anak di kelasnya telah keluar.


"Rel, ayo pulang." Rei datang ke kelas dan menghampiri adiknya itu. Para gadis di kelasnya tidak jadi pergi. Mereka lebih suka melihat Rei yang datang.


 Derrel melirik sekilas para gadis itu, lalu kembali menatap kakaknya. "Kak Rei gak ikut ekskul?"


"Gak dulu, hari ini kan ada acara penting."


Derrel mengangguk. Dia menggendong tas lalu pergi bersama Rei. Sedangkan di kelas Dennis, dia masih piket, ditemani oleh Dian.


"Azura kok gak masuk sekolah ya?" tanya Dian.


"Sakit mungkin, terus orang tuanya lupa kasih surat."


"Gw mau cek ke rumahnya, deh. Duluan ya, Nis!" Dian meletakan sapu pada tempatnya, lalu berlari keluar kelas.


"Ditinggal lagi, ha ...." Dennis tidak bisa protes, setelah merapikan meja dan mengelap jendela, dia baru pulang.


...********♥********...


Di luar kelas, sekolah tampak sangat sepi. Seperti tak ada orang satu pun, karyawan dan guru saja tak terlihat. Dennis mulai melangkahkan kaki menuju luar sekolah.


Mendadak hawa tidak enak menyergap tubuh Dennis. Seperti ada yang memeluknya dengan suhu yang dingin, sedingin es batu.


"Hai, Nis!" Arel menepuk pundak Dennis. Lelaki itu seketika melompat kaget mendengar seruan Arel.


"Bikin kaget saja. Kau baru pulang?"


"Iya, aku sebenernya mau buru-buru, tapi guru nyuruh ini itu. Aku mau cepet-cepet ke rumahmu," jelas Arel.


"Hati-hati ya di jalan. Aku belok ke sini."


"Ya, dah~" Arel berjalan menjauh.


Dennis masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, Rei sedang membaca buku dan Derrel sedang tidur di kursi paling belakang.


"Aku lama banget ya?" tanya Dennis. Rei menggeleng kemudian menutup bukunya.


"Kak Rei baca apa?"


"Oh ini dikasih Leon tadi. Aku baca-baca aja, iseng," jawab Rei.


"Aku mau baca juga dong!" Dennis ingin mengambil buku itu, tapi Rei langsung menjauhkannya dari Dennis. Ia bahkan melarang Dennis untuk menyentuhnya.


 "Kamu masih polos, Nis," ujar Rei.


"Jahat." Dennis cemberut, lalu bersandar pada tempat duduk. Melihat keluar jendela. Semuanya telah pergi. Parkiran juga terlihat kosong. Lalu tak lama, lirikan matanya ke arah Derrel. "Derrel jadi sering tidur mulu. Kenapa dah?"


"Dia kecapekan kali seharian ini. Biarin aja, lah." Jawab Rei lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.


Dennis meneleng heran. "Nanti di rumah, dia bakal tidur lagi."


"Rumah bakal ramai malam ini. Gak mungkin dia tidur."


"Yes, kita akan bersenang-senang malam ini!"


...********♥********...


 


Di rumah, Azura masih ketiduran dengan televisi yang menyala. Remot yang berada di atas perutnya pun terjatuh dan suara benda jatuhnya itu membuat ia terbangun.


"Eh, berapa lama gw tidur, njir? Udah gelap aja." Azura bangun terduduk. Ia merasa tubuhnya pegal semua karena terlalu lama tiduran di sofa. Lelaki itu meregangkan badan, lalu kembali tiduran sambil menatap televisi yang masih menyala.


"Huh ... gak tau sekarang jam berapa. Gak ada kegiatan hari ini, mager banget rasanya. Ayo tidur lagi wahai diriku, pingsan lah ... kalau perlu mati saja diriku– Eh jangan, deh. Dosa gw masih banyak–"


Tok tok


"Ra! Azura! Lu ada di rumah, gak? Sahut, dong! Ada tamu datang, nih!" Orang di depan pintu itu terus saja mengetuk pintu. Lama kelamaan ketukannya semakin brutal. "Oy! Lu gak mati kan di dalam?!"


Azura memaksakan dirinya untuk bangun dan membukakan pintu. Saat dilihat, ternyata yang ada di depan pintu adalah Dian.


"Apaan, sih, lu?" Azura melirik ke langit. Ia menyipitkan mata dan berkedip beberapa kali karena silau. Lalu ia kembali melirik ke Dian. "Kalau gak ada urusan, balik pulang aja lu."


"Akhir-akhir ini lu jadi galak banget sama gw, Ra. Best Friend, kan? Hmph!" Dian membuang muka.


"Hah ... masuklah." Azura membukakan pintu lebar-lebar. Dian pun masuk ke dalamnya dan melihat sekitar. Rada berantakan dan gelap. Ia menemukan saklar lampu dan langsung menekannya.


"Nah, gini kan enak. Terang." Setelah melirik lampu, ia pergi ke dapur rumah itu. "Masak apa lu hari ini, Ra?"


"Gak tau gw. Ga peduli juga."


"Lah ini ada mie dah mekar parah njir. Kuahnya sampai hilang. Gak lu makan?" Dian menemukan makanan itu di atas meja. Mencium baunya sedikit, lalu mencicipinya. "Emh ... masih enak, sih. Tapi dah dingin. Ada microwave gak?"


"Di samping kulkas."


"Angetin dulu, deh." Sambil menunggu makanannya hangat kembali, Dian kembali menghampiri Azura, lalu duduk di sofa samping temannya. "Ke mana aja lu seharian ini?"


"Tidur."


"Lah lu ketiduran sampe sore?!"


"Tch, bukannya beberes rumah, lu! Oh iya, mandi sana! Nanti jam 5, kita kumpul di halte bus sama yang lainnya."


"Ngapain?" Azura menoleh.


"Lah lu dah lupa sama acara di rumah Dennis? Kan satu kelas kita diundang, njir. Nah katanya ada yang nyewa bus, trus kita pergi ke rumah Dennis bareng-bareng." Jelas Dian sambil menekan-nekan tombol remot sekalian mencari acara yang bagus di TV.


"Oh iya, gw hampir lupa sama acaranya. Ya udah lah, gw siap-siap sekarang." Azura beranjak dari sofa, lalu mengambil handuk. Ia juga sebenarnya belum mandi dari pagi.


"Jangan lama-lama, ya? Sejam lagi, loh!" Dian berteriak dari tempatnya. Lalu tak lama, suara mesin microwave berbunyi, tanda waktu yang ditentukan untuk menghangatkan makanan telah selesai. Dian kembali ke dapur dan mengambil mie yang seharusnya dimakan Azura tadi pagi.


...********♥********...


 


Di rumah Dennis, keluarganya telah menyiapkan semua hidangan di atas meja panjang. Derrel selesai menyusun semua bangku dan Rei telah meletakkan semua makanannya di atas meja. Setelah persiapan selesai, kedua adik kakak itu saling tos.


"Wah, rumah kita jadi keren!" Dennis kembali masuk setelah ia selesai menyiapkan hiasan di depan rumah.


Ruang tamu mereka sangat luas, sehingga cocok untuk dijadikan tempat makan-makan untuk para tamu. Makanannya terlihat biasa saja dan dekorasinya juga tidak terlalu mencolok.


"Wah, ibu senang sekali akhirnya kita sekeluarga dapat berkumpul kembali." Ibunya ketiga saudara itu merangkul dan memeluk anak-anaknya. "Sekarang hanya tinggal menunggu ayah pulang saja."


Namun Derrel terlihat tak senang. "Ayah ... bakal pulang kah hari ini? Biasanya kan dia ..."


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar. Saat Rei memeriksanya, ternyata itu Leon yang datang sendiri bersama dengan sopir pribadinya.


"Hei, Le. Kau datang cepat." Rei menepuk-nepuk punggung temannya, lalu mengajaknya masuk.


"Kan ... emangnya ayah mau pulang hari ini? Hmph!" Derrel terlihat merajuk karena satu orang tersayangnya tidak datang hari ini. "Dia terlalu gila sama pekerjaannya!"


"Dia ada." Ujar Leon.


"Eh?"


"Eeeh? Ini mobil siapa di depan?"


Suara berat seseorang yang tak asing bagi Derrel pun terdengar. Dengan cepat, lelaki itu pergi ke luar, diikuti oleh saudaranya yang lain. Setelah melihat siapa yang datang, Derrel terlihat sangat senang dan langsung memeluk orang itu.


"Ayah! Kirain ayah gak bakal pulang buat hari ini."


"Harusnya sih gitu. Tapi karena hari ini adalah hari penting untuk keluarga kita, ayah usahain buat pulang." Ayah mengelus kepala anaknya, lalu berjalan menghampiri istrinya di dalam. "Maaf, ya, aku gak bisa bantu banyak, sayang." Beliau mengecup kening istrinya.


Sang istri tertawa kecil, lalu membalas. "Anak-anak kita hebat, kok. Mereka bisa diandalkan."


"Asik! Sekarang semuanya udah berkumpul!" Dennis melompat-lompat kecil lalu mengeluarkan ponsel. Ia membuka kamera, lalu menarik Rei dan Derrel, kemudian mendekati kedua orang tuanya. "Ayo! Foto sama rumah baru. Ciiiss~"


CKREK!


"Hehe ... foto yang bagus. Aku akan mencucinya besok." Dennis sedikit menjauh, lalu melihat-lihat foto lain. Ia jarang mengambil gambar orang tuanya. Akhirnya di foto yang sekarang, ia bisa mendapatkannya.


"Baik, sekarang di mana teman-temanmu, Den?" tanya Ibunya.


"Mereka kayaknya bentar lagi datang." Jawab Dennis. Ia kembali ke luar untuk menunggu. Matahari sudah terbenam dan sekarang udah lewat pukul enam. Pestanya akan dimulai saat semuanya sudah datang. "Aku harap, hari ini bisa menjadi hari yang terbaik untuk keluarga kami."


SREK–


"Eh, kak Rei?" Dennis menoleh ke samping. Ia terkejut mendengar suara langkah kaki seseorang yang menginjak daun kering. Tapi saat diperhatikan, tidak ada siapapun di sana. "Tikus doang kali, ya?"


Karena penasaran, Dennis pun menghampiri asal suara tadi. Suaranya tak jauh di sampingnya. Dekat dengan pagar yang rusak dan beberapa tumbuhan yang merambat sampai ke halaman belakang. Tempat itu sangat gelap karena lampu penerangan di sana sudah lama tidak diganti. Jadi Dennis menggunakan lampu dari ponselnya.


Dennis mengarahkan lampu ponselnya ke sekitar. Tidak ada sesuatu yang aneh. Hanya ada tumbuhan dan pohon kecil. "Iya, tikus lewat kali." Sebelum mematikan lampu, Dennis tak sengaja menyorot ke bawah dan menemukan sebuah collar yang terbuat dari logam.


"Apa ini? Kalung kucing, kan? Tapi udah rada berkarat." Saat ingin mengambilnya, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan ibunya dari dalam rumah. Lalu suara keributan kecil. Dengan sigap, Dennis kembali ke dalam rumah. "Eh, ada apa ini?"


"Aw ... aku tidak apa-apa." Rei kembali berdiri sambil menggenggam lengannya.


"Eh ada darah." Dennis terkejut melihat tetesan darah di lantai. Lalu lirikan matanya kembali ke Rei. "Kak Rei, tanganmu berdarah!"


"Eh iya. Kamu kenapa, Rei?" Setelah ibunya ikut memeriksa, Rei baru menunjukkan lengannya. Ada luka sayat yang sedikit dalam di sana. Semuanya termasuk Rei sendiri juga heran, kenapa luka itu bisa tiba-tiba muncul.


"Kamu abis ngapain sih, Rei?" tanya ayahnya yang datang dari depan.


"Aku bilang, aku gak apa-apa. Tadi ... aku gak sengaja jatuhin gelas, lalu tiba-tiba luka ini muncul." Jelas Rei. Tentu semuanya tidak mengerti. Ibunya akan mengobati luka itu, sementara Leon membantu membersihkan bekas pecahan belingnya.


Lelaki itu mengambil bekas pecahan dan memperhatikannya. "Gak mungkin pecahan ini melayang dan menggores lengannya." Batin lelaki itu, lalu kembali memasukan belingnya ke dalam plastik. Lalu tak lama Derrel datang membawa sapu dan pengki kecil.


"Sisahnya aku aja yang bersihin, Kak Leon."


Leon mengangguk. Lalu ia mengikat plastik berisi pecahan gelas. Ia pergi ke luar dan membuang plastik itu jauh-jauh ke arah semak. Setelah itu, Leon kembali. Tak lama, beberapa teman-temannya akhirnya datang. Mereka disambut baik oleh Dennis.


*


*


*


To be continued–