THE RULES

THE RULES
Episode 43



Setahun berlalu, Dennis sedang merayakan kelulusan di sekolah. Jadi kelas 10-11 diliburkan. Kelas Dennis diberi hiasan yang lumayan ramai. Papan tulisnya ditulis dengan ucapan selamat, beberapa siswi sedang berfoto-foto, lalu dikirim di sosial media. Derrel iseng datang, dia mengintip dari pintu dan mencari kakaknya, ternyata tidak ada.


“Kak Dennis mana ya?” gumam Derrel, dia menuju ke arah kantin dan melihat kakaknya di sana bersama seorang siswa. Tiba-tiba teman Dennis itu melirik ke arah Derrel sambil bicara kepada Dennis tanpa memalingkan pandangannya.


Dennis melirik ke arah yang dimaksud. Namun dia tidak melihat apapun. “Mana orang?”


“Sembunyi dia di tembok itu. Apa udah pergi ya?” ujarnya.


“Pake warna baju apa dia?” tanya Dennis.


“Nis, aku buta warna total.” Alex tersenyum paksa sambil menyentuh dadanya. Dennis tertawa kecil, dia lupa soal itu. Kemudian Dennis menghampiri tembok tempat yang ditunjuk temannya itu.


Derrel mau mengintip lagi, tiba-tiba wajah Dennis tepat di depannya. Derrel melompat mundur, lalu menggaruk belakang kepalanya. “Hehehe, kak Dennis.”


“Kamu ngapain di sini? Kamu lagi libur, kan?” tanya Dennis.


“Aku bosan di rumah kak, terus aku mau foto bareng … pake latar belakang sekolah. Buat kenang-kenangan.” Derrel menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.


“Gitu …. Tau gitu kita bareng berangkatnya.” Dennis mengeluarkan ponsel lalu memberikan kepada temannya. “Fotoin ya, Lex.”


“Oke,” ujar Alex, lalu berdiri mundur sedikit dari Derrel dan Dennis. Kemudian mengambil beberapa jepretan. “Udah, nih.”


“Makasih, Lex.” Dennis menerima ponselnya kembali. Derrel menoleh ke arah Dennis, dia melirik kakaknya itu dan mengukur tingginya.


“Wah tinggi aku hampir sama kayak kak Dennis.” Derrel beberapa kali memastikan. “Hehe, aku nambah tinggi.”


“Adikku udah makin dewasa.” Dennis mengusap-usap kepala Derrel. Derrel tersenyum sambil sedikit menunduk. Alex tersenyum paksa, melihat adik kakak itu sedang asik berdua. Tiba-tiba Alex melihat seseorang berambut panjang dari kejauhan.


“Lex, janga ngelamun.” Dennis melambaikan tangannya depan muka Alex.


Alex tersentak, lalu dia memberikan ide untuk beli jajanan di luar bersama. Berhubung acara kelulusan sudah selesai, jadi mereka pergi. Mereka menuju jalanan di luar sekolah, pedagang kaki lima. Derrel melihat seorang pria berjualan telur gulung, lelaki itu mendekati pria tersebut lalu membeli dagangannya. Sedangkan Dennis ke tempat gorengan yang tak jauh dari Derrel.


“Apa ini?” tanya Alex saat melihat makanan Derrel, dia langsung melihat tulisan di gerobaknya itu. “Hm, ‘Telur Gulung’?” gumam dia.


“Kakak mau? Aku beliin.” Derrel merogoh kantong untuk mengambil uang lebih. Dennis menghampiri Derrel sambil melahap bakwan.


“Aku ga pernah nyoba makanan pinggir jalan.” Alex melipat tangan. Derrel dan Dennis terpaku sambil menoleh ke arah Alex. Dennis tidak percaya, dia mengambil cireng yang dia beli sebelum menghampiri Derrel tadi.


“Ini apa, Lex?” tanya Dennis sambil menunjukan makanan bernama cireng itu. Alex melihat makanan itu, lalu dia mengambilnya.


“Aku ga tau tapi berminyak, kenyal, masaknya pake teknologi apa?” Alex meneliti setiap sisi makanan tersebut. Dennis menepuk pelan punggung Alex. “Aku kasian padamu, Lex.”


...****************...


Sampai sore mereka berjalan-jalan dan makan beberapa makanan di pinggir jalan. Diakhiri dengan memakan es krim. Alex menunggu jemputan di depan gerbang taman itu, Derrel dan Dennis ke halte bus.


Tak lama, mobil jemputan Alex datang. Lelaki itu duduk di kursi penumpang bagian depan. “Kenapa baru pulang? Terus kenapa kamu bisa di sini?” tanya wanita di kursi pengemudi.


“Jalan-jalan sama temen, Ma.” Alex menjawab, dia bersandar sambil menatap keluar jendela.


“Iya … tapi jangan sampai malam begini. Kamu kan ga bisa liat jalan dengan baik.” Mama Alex mulai menjalankan mobil.


“Papa pulang malem gapapa. Kok aku ga boleh? Aku kan sama kayak papa.” Alex mendengus kasar. Wanita di sebelahnya hanya diam, suasana menjadi sangat hening. Sampai di rumah, Alex keluar duluan masuk ke dalam rumah.


“Aku pulang,” ujar Alex dengan nada lesu. Dia menuju sofa berwarna cerah, dia duduk di situ. Tak lama seorang pria muncul dari arah tangga.


“Mamamu mana?”


“Luar.” Alex meraih remot dan menekan tombol untuk menyalakan televisi. Alex hanya menonton sejenak. Dia seperti melihat kartun jaman dahulu. Hanya berwarna putih, abu-abu dan hitam. Alex menghela napas, dia tiduran di sofa sambil memeluk bantal sofa.


...****************...


Sedangkan Dennis dan Derrel baru sampai rumah. Tiba-tiba hujan deras saat menuju rumah bibi. “Ah, basah semua.”


“Tunggu sini, aku mau ambil handuk.” Dennis pergi ke dalam rumah sambil berjinjit. Bibi datang dari arah dapur melihat Derrel basah.


“Loh, bibi ga denger kamu dateng. Dennis udah pulang?” tanya si bibi.


“Udah, Bi. Itu lagi ambil handuk. Nanti aku pel bekas basahnya.”


“Kenapa ga panggil bibi?”


“Ku pikir ga ada orang, soalnya pintu di kunci,” sahut Dennis sambil membawa handuk untuk Derrel. “Oh iya, Bi. Kalo aku udah kerja, aku mau pindah dari rumah bibi.”


“Loh, kenapa? Padahal bibi seneng ada kalian.”


“Kita mau hidup mandiri. Boleh ya, Bi.”


Bibi menghela napas, wanita itu mengangguk, mengizinkan Dennis dan Derrel pindah nanti. Kedua adik kakak itu juga tidak ingin membebankan bibinya lagi. Jadi mereka akan mulai pergi dari rumah itu setelah menemukan tempat tinggal yang cocok.


...****************...


Setelah makan malam, Dennis pergi ke kamar duluan. Ia membuka laptop kecil dan mencari tempat tinggal yang bagus di internet. Ia memutuskan untuk menyewa kosan yang murah saja, tapi bagus dan lokasinya tak jauh juga dari sekolah Derrel.


Setelah cukup lama mencari, hasilnya nihil. Dennis tidak menemukan kosan yang cocok dan harga sewanya diatas tabungan yang ia miliki. Lelaki itu pun mulai menyerah dan akan mencarinya lagi lain waktu.


Tanpa Dennis sadari, ternyata Derrel dari tadi mengintip lewat pintu kamar. Ia melihat kakaknya sedang kesusahan. Selagi ia tahu masalahnya, Derrel juga ingin membantu. Ia pun mengambil ponselnya dari ruang tamu dan menelpon seseorang.


...****************...


Jadi mulai hari ini juga, Dennis akan pergi ke tempat yang ditujunya, yaitu rumah sakit. Bukan untuk melamar menjadi dokter atau perawat. Tapi menjadi Costumer Servis. Rekomendasi dari teman sekelasnya membuatnya tertarik untuk bekerja di sana.


"Rel, aku berangkat dulu, ya?" Dennis menggendong tas, lalu memakai sepatu depan pintu.


"Kak Dennis mau ke mana?" tanya Derrel sambil berjalan menghampirinya.


"Aku mau cari kerja sebelum kita pindah. Sekalian mau nyari tempat baru." Jawab Dennis, lalu mengelus kepala adiknya. "Kamu di sini aja ya. Jaga rumah."


"Ung, oke Kak Dennis." Derrel mengangguk, lalu Dennis pun pergi.


Karena hari ini, Derrel masih libur, jadi ia sendirian di rumah. Tak lama, Derrel dikejutkan oleh suara ponselnya. Ia pun mengambil benda itu dan melihat layarnya. "Eh, Vann video call."


Langsung aja Derrel angkat. Begitu wajah mereka berdua tertera di layar, Vann langsung menunjukan tulisannya. "Aku udah nemu kosan yang kamu mau." Lalu ia membalikkan halamannya. "Mau ketemu hari ini? Aku tunjukkan."


Tentu saja Derrel langsung mengangguk. Ia pun mematikan ponselnya, lalu pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Setelah mengganti baju, Derrel keluar kamar, mematikan televisi, lalu memakai sepatu. Kemudian lelaki itu keluar rumah dan mengunci pintu.


Tak lama, Vann mengirimkan lokasi tempat ia berada. Ternyata tak jauh. Derrel pun langsung menghampiri tempat itu karena mereka akan ketemuan di sana.


...****************...


Dennis turun dari bus. Tak jauh dari halte itu, gedung rumah sakit sudah terlihat. Dennis pun menghampirinya. Sebelum masuk, ia menghela napas. Sebenarnya ia tak yakin kalau dirinya akan diterima di tempat itu. Tapi ia lebih percaya dengan rekomen dari temannya.


Dennis pun melewati pintu kaca, lalu menghampiri meja resepsionis yang terletak di depan lobby. Dennis melihat seseorang di sana dan orang itu langsung menyambut Dennis dengan baik.


"Halo, ada yang bisa saya bantu?"


"Anu ..." Dennis memeluk berkas-berkas yang ia bawa. "Saya ingin melamar pekerjaan di sini. Jadi bagian administrasi sampai pendataan juga bisa. Apakah bisa?"


"Eh, emangnya ada lowongan pekerjaan, ya?" Lelaki itu melirik ke bawahnya. Lalu tak lama, muncul orang lain yang terlihat mirip dengan lelaki itu. "Eh, apa apa?"


"Dia katanya mau mencari pekerjaan. Kayaknya bisanya di bagian depan."


"Eh, coba tunggu sebentar, ya? Saya hubungi direkturnya dulu." Orang itu mulai memakai telepon yang terletak di atas meja. Lalu kembarannya meminta Dennis untuk menunggu dulu di kursi yang tersedia karena ia melihat ada orang lain yang datang dan harus ia layani.


Dennis pun mengangguk, lalu pergi ke kursi tunggu yang dimaksud. Tapi di sana, ia melihat seseorang yang tak asing. Dennis pun menghampirinya. "Hai." Ia menyapa duluan dan berharap tidak salah orang.


Gadis itu menoleh. Matanya terbuka lebar saat melihat Dennis. Ia rada terkejut karena sebelumnya gadis itu sedang melamun. "Ah, kakak ... lulusan tahun ini, ya?"


"Ah ternyata aku tak salah orang." Dennis menggaruk kepala. "Aku sering melihatmu di dekat kelas adikku."


"Ooh ... adikmu kelas berapa?"


"Dia udah kelas 12 sekarang."


"Oooh sama, dong! Kayaknya kita cuma beda kelas."


"Iya, benar."


"Eh, kakak sendiri? Lagi apa di sini?" tanya gadis itu, lalu menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya. Ia meminta Dennis untuk duduk di sana.


Dennis pun duduk. "Aku mau cari pekerjaan di sini."


"Oh ... gak lanjut kuliah?"


"Nggak, aku mau mulai fokus kerja aja. Lagipula untuk membayar sekolah adikku juga."


"Kau hanya tinggal berdua dengan adikmu?"


"Nggak, dari dulu, aku sama bibi. Tapi kalau aku udah lulus sekarang, aku mau cari penghasilan sendiri biar gak jadi beban." Dennis menjelaskan dan diakhiri dengan senyuman.


"Ah gitu ... okelah." Gadis itu melirik ke arah lain. Begitu juga dengan Dennis. Sekarang rasanya malah jadi canggung. Tapi tak lama, Dennis bertanya, "Kau sedang apa di sini sendirian?"


"Oh, aku sedang menjenguk ibuku yang sakit. Sekarang lagi nunggu kabarnya."


"Ooh ... kau terlihat cemas. Apa penyakitnya parah?"


"Umm ..." Gadis itu menunduk, lalu memainkan kuku jarinya. Dennis tersentak melihat ekspresinya berubah. Seketika ia jadi merasa tidak enak.


"Eh, eh! Maaf kalau aku bertanya kayak begitu–" Seketika ia bergumam dalam hati. "Ah, Dennis. Kau bodoh."


"Ibuku mengidap kanker. Tapi ia sudah lebih baik setelah dirawat di sini." Gadis itu menjawab, lalu kembali menatap Dennis.


Dennis mengangguk paham. "Ah gitu, aku harap, ibumu baik-baik aja."


"Eh, pak! Ah anu, dek! Eh, kak!" Salah satu si kembar yang berdiri depan meja resepsionis akhirnya memanggil. Dennis pun berdiri. Tapi sebelum ia pergi, Dennis menatap gadis itu sambil tersenyum.


"Semoga ibumu cepat sembuh. Oh ya, siapa namamu?"


Gadis itu juga mengeluarkan senyumannya, lalu menjawab, "Adila."


*


*


*


To be continued–