THE RULES

THE RULES
Episode 24



"A–aku akan melakukannya!" tegas Olivia menahan tangis. Sebelum melakukannya saja ia sudah dapat menduga rasa sakit yang akan diterimanya. Menghela napas sejenak, lalu pergi ke dapur.


Di depan pintu dapur, Olivia berpapasan dengan Geo yang baru selesai melakukan tantangannya. Seluruh telapak tangannya terkelupas sampai daging dalamnya dapat terlihat.


Setelah Geo kembali ke teman-temannya, Derrel dan Dennis langsung mengambil kotak obat dan mengobati tangan Geo dengan alat seadanya.


"Pe–pelan-pelan, Den." Lirih Geo sambil sesekali meringis sakit.


"Maaf, Geo." Dennis mencoba untuk lebih hati-hati saat membersihkan lukanya sebelum diobati dan diperban. Tapi saat sedang berusaha untuk pelan-pelan, tiba-tiba dari dapur terdengar suara teriakan yang membuat Dennis terkejut dan secara tidak sengaja ia menekan luka bakar di tangan Geo.


"A–aaaakh! Pelan-pelan, Den!" bentak Geo menahan sakit.


Dennis mengangguk kaku. Ia tidak bisa melakukannya. Takutnya ia salah memberikan obat pada Geo. Jadi masalah tangan temannya itu akan Rei urus.


"Uh ..." Selang beberapa menit, Olivia akhirnya kembali. Ia menunjukkan potongan jari telunjuk yang ia potong dengan tangannya sendiri. "A–aku berhasil ..." Gadis itu mengeluarkan senyum paksa dengan mata berkaca-kaca.


Setelah tangan Geo selesai diobati, sekarang Rei akan mengobati Olivia. Gadis itu terlihat senang karena Rei menyentuh tangannya.


"Tahan sebentar, ya?" ucap Rei dengan lembut, lalu membersihkan darah di jari gadis itu dengan kapas. Olivia mengangguk semangat.


"Tch." Azura berdecih melihatnya, lalu ia melirik ke gadis terakhir yang belum membuka amplop. "Oke next. Sekarang giliran lu."


"Emm ... oke." Gadis bernama Adila itu mengangguk. Ia berharap isi amplopnya adalah truth. Tapi ternyata dare juga. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membaca perintahnya. "Emm ... makan jari teman ... mu ...."


Setelah membaca dare nya, rasanya ingin muntah. Secara tidak sengaja, Adila menjatuhkan kertasnya lalu menutup mulut. Ia melirik ke potongan jari milik Olivia yang ada di atas meja makan.


Azura melirik ke potongan jari tersebut. "Oh, kau mau makan yang itu?" Ia beranjak dari tempatnya, lalu mengambil potongan jari Olivia. "Nih makan aja. Apa mau aku bumbui dulu?"


"Ng ..." Dengan ragu, Adila langsung menerimanya. Ia sebenarnya tidak berani memakannya. Tapi ini semua demi keselamatan nyawanya. Ia pun berbalik badan ke arah tembok dan memakannya secara utuh.


"Huweek!" Adila merasa mual. Tapi ia tidak bisa memuntahkannya karena takut dare nya gagal. Lia pun menuangkan air, lalu memberikannya untuk Adila. Gadis itu langsung meneguknya.


"Merasa lebih baik?" tanya Lia.


"Hu–huum." Adila mengangguk. Ia menutup mulut ingin bertahak sejenak, lalu tertawa kecil. "Ma–maaf."


"Okeh!" Azura menepuk tangannya sekali. "Kayaknya udah semua, ya? Oy, setan! Kita udah selesai di permainan kedua. Sekarang mau lu apa?!"


"..."


Hening. Tidak ada jawaban atau respon apapun. Semuanya meneleng heran. Biasanya ada yang berubah kalau permainan telah usai. Apa yang terjadi sebenarnya?


"Hmm ... Kayaknya kita udah dibebasin, deh." Ujar Dian. Ia pun pergi menghampiri pintu depan atau pintu keluar satu-satunya dari rumah itu. "Tch, masih terkunci."


"Lah terus sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Sasha. Semuanya menggeleng. Mereka ingin berpencar untuk mencari jalan keluar. Tapi sebelum itu, tiba-tiba Diana menunjukkan amplopnya.


"Aku beloman." Ujarnya dengan nada pelan.


"Hadeh ... kenapa gak bilang?" Azura membuang muka lalu menggaruk kepala. "Ayo dah buka sekarang. Dapet apa lu?"


Diana pun membukanya. Ia membaca isi kertas yang didapat. Ternyata adalah dare dan isi tantangannya adalah, "Aku harus memotong satu tangan laki-laki di sini."


Setelah membacanya, Diana langsung melirik dengan tatapan kosong ke arah para lelaki di dekatnya. Tentu saja semuanya merasa terancam dengan tantangan yang Diana dapat.


"He–hei ... Apa perempuan sepertimu tega memotong tangan para laki-laki ganteng di sekitarmu?" tanya Dian dengan gugup.


Diana tidak menjawab. Ia menjatuhkan suratnya, lalu pergi ke dapur. Mereka tidak berani mengikutinya dan tidak tahu apa yang Diana lakukan di dalam sana. Saat gadis itu kembali, semuanya terkejut dengan benda yang dibawa Diana. Ternyata itu pisau daging.


Diana mengangkat pisau itu, lalu menutupi setengah wajah dengan mata pisaunya. Ekspresi wajahnya tidak berbuah. Gadis itu masih belum memasang ekspresi apapun, sama seperti Leon. Semua anak laki-laki langsung merasa takut kecuali Leon, Rei dan Azura.


"Keren, kak. Gw suka gaya lu." Azura memujinya sambil bertepuk tangan. "Sekarang ... ayo pilih laki-laki mana yang ingin kau ambil tangan mereka?"


"Aku mau ..." Diana melirik ke arah Dennis. Lelaki yang ditatapnya itu tersentak, dan langsung mundur ke belakang.


Merasa adiknya dalam bahaya, Rei memberikan satu saran pada Diana. "Be–bentar. Bagaimana kalau lebih adil, kita semua gambreng aja? Yang kalah ... dia harus membantu Diana menyelesaikan dare nya."


"Gak! Mana bisa gitu, woy!!" Revan membentak. Ia tidak setuju dengan usulan tersebut.


"A–aku gak mau ..." Dennis menggeleng cepat. Ia bersembunyi di belakang Rei. Genggaman tangan Dennis di baju Rei, membuat Rei merasa kasihan dengan adiknya.


"Ayolah! Kita semua ingin cepat menyelesaikan permainan ini, kan?"


"Ah, okelah!" Azura mengangguk. Ia menyetujuinya dan akan ikut gambreng. Dian yang ada di sampingnya ikut aja, tapi ia berharap tidak akan kalah.


Setelah dua persetujuan, Derrel mengangguk. Ia juga tidak ingin kakaknya kehilangan tangannya. Dennis juga akan ikut gambreng. Leon menghela napas, lalu ia berdiri di samping Rei untuk ikutan gambreng juga. Setelah melihat semuanya ingin ikut, Devin dan Geo juga akan melakukan hal yang sama.


"Ayo, Van." Setelah semuanya berkumpul, Rei melirik ke Revan. "Semuanya setuju. Kalau kau tidak mau ikut, berarti kau yang akan diambil tangannya oleh Diana, ya?"


Revan menghembuskan napas berat lalu mengacak-acak rambutnya. "Hah, baiklah, baik!!" Ia akhirnya mau ikut. Para laki-laki pun memulai gambreng mereka. Yang paling dikit, dia keluar.


"Gambreng!"


Dennis, Derrel dan Dian mengeluarkan putih. Semuanya hitam. Jadi mereka bertiga pun keluar dan selamat.


"Hah ... akhirnya ...." Dennis dapat menghembuskan napas lega dan menyandarkan tubuhnya ke tembok.


"Gambreng!"


Azura dan Rei mengeluarkan hitam. Mereka keluar. Kini sisah Leon, Revan, Devin dan Geo. Mereka kembali melakukan gambreng. Semuanya mengeluarkan putih kecuali Revan yang hitam. Berarti dia keluar.


"Ah, syukurlah." Revan menjauh, lalu berkacak pinggang.


Sekarang ketiga orang yang tersisah pun kembali gambreng. Devin mengeluarkan putih, sedangkan Leon dan Geo hitam. Devin memisahkan diri. Sekarang waktunya final. Keduanya akan melakukan suit.


"Anjay ... ayo, kambing! Jangan mau kalah!" Sorak Azura.


Leon dan Geo mengangkat tangannya. Geo merasakan perasaan tidak enak, dia melihat Leon sangat tenang. Dari matanya tersorot, "Kalo kalah ya sudah". Ia memang lelaki paling santai dari yang lain.


"Suit!" Geo mengeluarkan batu sedangkan Leon mengeluarkan kertas.


"Nyam." Leon membungkus tangan Geo yang masih mengepal dengan tangannya.


"G-gw gak terima!" seru Geo.


"Aku yakin kamu kira aku akan mengeluarkan gunting karena jariku yang agak longgar, ternyata pancingannya berhasil," ujar Leon.


"Ng-nggak. Sok tau!" Sebenarnya kata-kata Leon benar. Tapi Geo tidak mau mengakuinya. Saat ingin berbicara lagi, Azura sudah mendorong Geo sampai tersungkur.


"Tangan yang ini deh. Lu gak mau punya tangan jelek, kan?" Azura menahan tangan Geo yang melepuh. Lalu ia mendongak menatap Diana. "Ayo, kak!" serunya.


"Nanti tanganmu kepotong juga kalo kayak gitu pegangnya." Diana mulai berlutut.


"Aaaaakh!" Jeritan Geo sangat keras. Itu menyakiti telinga Azura. Sekali hentakan mata pisau, tidak bisa langsung memotong tangannya. Tulang lengan manusia itu terlalu keras. Jadi Diana berkali-kali melakukannya.


Darahnya bermuncratan ke wajah Diana. Setelah hentakan keempat, akhirnya lengan Geo telah benar-benar terpotong seutuhnya.


Setelah semuanya selesai, Rei dari kejauhan menghela napas kasar. "Baru juga disembuhin, malah dipotong." Ia bergumam.


Leon menyentuh pundak Rei. Seakan paham, Rei mengangguk. Leon mengambil kotak obat. Isinya hanya ada sedikit. Jadi harus pintar-pintar mengobatinya. Setelah membersihkan luka, Leon melepas kemeja untuk membungkus tangan Geo yang terluka.


"G–gw cacat ..." gumam Geo yang sudah tak tega melihat tangannya.


Setelah Leon selesai membungkus lengan Geo sampai pendarahannya berhenti, ia membalas, "Yang penting tidak mati."


"Udah semua ya?" tanya Dian.


"Gw sama Lia dapet truth," ucap Devin.


"Ya udah selesaikan cepat!" titah Dian.


"Hal paling memalukan?" Devin menelan saliva dengan susah payah, seketika mukanya merah seperti tomat. Dia menjawab, "G-gw masih ngompol sampe sekarang. Udah sih, itu doang. Emm ...."


Setelah menjawab, Devin langsung menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. Ia lebih malu mengatakannya karena di depan banyak gadis.


"Kayak Dian." Azura menepuk-nepuk pundak Dian.


"Sok tau lu! Lu kali!" Dian melipat tangan, sebal. Orang-orang di sekitar heran, kenapa Dian tidak takut dengan Azura?


"E-ehem, aku terakhir ya?" Lia membuka amplop. Dia mendapat truth. Lia membaca pertanyaan, "Hal paling kejam yang pernah kau lakukan? Em ..."


"Doi lu sadis, Di," goda Azura


"Doi lu juga, Ra," balas Dian.


"Siapa doi gw?" Azura menggaruk pelipis sambil memiringkan kepalanya.


"Tuh, Diana." Dian menjawab asal, tak disangka jawabannya membuat Azura terdiam.


"Em, hal terkejam ya. A-aku pernah bunuh kakakku saat umur sepuluh. Aku iri karena dia sangat diperhatikan orang tuaku," jawab Lia. Semuanya tentu terkejut. Mereka tak menyangka jika gadis seramah Lia bisa melakukan hal itu.


"Ternyata lebih sadis dari Diana, njir." Gumam Azura.


"Ka–kau tidak bohong, kan?" tanya Tania tak percaya dengan pengakuan Lia tersebut.


Lia mengangguk pelan. "Jika aku bohong, aku sudah mati sekarang."


"Okeh ... sepertinya sudah semua." Rei telah memastikan kalau semuanya telah membuka amplop masing-masing dan menjalankan perintahnya. "Hmm ... Sekarang apa yang terjadi?"


Selang beberapa menit menunggu perubahan, akhirnya ada sesuatu yang muncul, diawali dengan hembusan angin kencang dalam ruangan yang datang selama 3 detik. Setelah angin itu hilang, sebuah kertas terjatuh ke lantai.


Dennis memungutnya, lalu membaca. "Waktunya istirahat. Kalian bebas melakukan apa saja selama 7 jam."


Setelah mendengarnya, mereka semua terkejut. Akhirnya diberi kebebasan. Beberapa orang langsung pergi ke ruangan lain untuk mencari jalan keluar. Mereka berharap, bisa ada kesempatan emas di 7 jam ini.


*


*


*


To be continued–


List Pemain 🗿:



Dennis (L)


Derrel (L)


Rei (L)


Leon (L)


Azura (L)


Dian (L)


Geo (L)


Devin (L)


Lilo (L) ❌


Adila (P)


Revan (L)


Fani (P) ❌


Shira (P) ❌


Toni (L) ❌


Olivia (P)


Tania (P)


Siska (P)


Sasha (P)


Lia (P)


Diana (P)


Ayah 3 bersaudara ❌