THE RULES

THE RULES
Episode 5



Azura berlari ke arah pencuri itu pergi. Sampai akhirnya ia bertemu dengan orang itu lagi dan kembali mengejarnya. Tanpa sadar, Azura ternyata telah memasuki kawasan terlarang yang rawan kejahatan.


Demi barang-barangnya kembali, ia akan terus mengejar pencuri itu sampai masuk ke sebuah gang yang terhimpit oleh dua bangunan kosong. Ternyata gang itu buntu dan entah kenapa, Azura malah kehilangan jejak si pencuri.


“Wah, hebat ya, bisa mengejarku sampai ke tempat ini.” Pencuri itu menunjukkan diri di belakang Azura sambil bertepuk tangan. Lalu tak lama, dari jendela samping bangunan dan depan gang, muncul beberapa orang yang merupakan komplotan preman di daerah itu.


Azura mundur ke belakang. Tujuannya adalah mendapatkan dompet dan tasnya kembali. Tapi sepertinya ia tidak yakin akan berhasil. Mau kabur juga, sepertinya tidak bisa karena ia sudah terkepung. Di belakangnya hanya ada beberapa sampah botol kaleng dan tidak ada yang bisa ia gunakan sebagai senjata.


Azura memang paling ditakuti di sekolah. Tapi kalau di luar, beda lagi. Apalagi sekarang, ia telah berhadapan dengan lima orang dewasa yang memiliki aura pembunuh. Sedangkan dirinya hanya seorang anak SMA biasa.


Azura mundur ke belakang sampai akhinya ia benar-benar terpojok. Setelah melihat ke sekeliling, tidak ada celah untuknya bisa melarikan diri. Kecuali kalau ia bisa melewati kelima orang dewasa itu dan langsung lari keluar dari gang tersebut.


"E–eh, bang. Tolonglah ... aku cuma anak SMA, loh! Apa kalian tega mau main keroyokan begini?" Mau menelpon bantuan pun tidak bisa karena ponselnya berada di tasnya.


"Kau sudah melihat terlalu banyak." Si pencuri itu menitipkan barang milik Azura ke temannya. Lalu ia mulai maju menyerang Azura menggunakan pisau lipat yang kecil.


Sepertinya orang itu benar-benar ingin langsung mengakhiri hidup Azura. Tapi lelaki itu tidak tinggal diam. Ia menghindari serangan tersebut, lalu menangkap lengan orang itu yang masih memegang pisau dengan satu tangan.


Lalu tangan yang satunya, tiba-tiba ia keluarkan dari dalam saku dan langsung balas menyerang orang itu dengan cutter miliknya. Hanya itu saja alat pertahanan diri yang Azura punya.


Saat azura hendak membalas serangan, tangannya yang meggenggam cutter dicengkram kuat. Tubuhnya berbalik dan tangan satunya mengepal erat, lalu meluncurkan tinjuan tepat di wajah orang itu.


Darah dari hidung pria tersebut mengenai tangan Azura. Lelaki itu mengelap tangannya di celana. Kemudian lanjut menyerang yang lain.


Tenaganya tak sebesar orang dewasa. Azura kewalahan, padahal baru dua orang yang benar-benar tumbang. Azura mulai tidak fokus, dia haus, dan mulai kekurangan oksigen.


Sontak kepalan tangan mendarat di perutnya, lalu di pipi Azura. Lelaki itu terpental dan tersungkur di tanah. Tubuhnya sakit, terutama bagian perut.


"Harusnya gue biarin, tuh, cewek nelpon polisi," gumam Azura.


Salah satu dari mereka mengangkat tubuh Azura dengan menggenggam kerah baju belakangnya. Ia memperhatikan penampilan lelaki itu, lalu terfokus pada matanya. "Congkel mata satunya boleh kali, ya. Lumayan, bos! Duit, duit," ujar salah satu preman tersebut.


"Iya kali, ya. Matanya langka, merah gitu." Pria tersebut menggenggam pisau seraya mendekati Azura sambil menyeringai.


"Apa lu! Mata gw mahal! Gak kek rumah kardus lu!" seru Azura seraya menunjuk kasar para pria itu. Ia memberontak, tapi dua orang yang masih bisa berdiri pun menahannya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Ada yang mencengkram kepalanya dengan erat.


"Ja–jangan!"


Salah satu dari mereka mulai mendekatkan pisau kecil ke mata kanan Azura terlebih dahulu. Terlihat kalau lelaki itu panik dan ia berusaha menutup mata. Tapi orang itu memaksa untuk tetap membuka matanya. Setelah itu, ujung mata pisau tersebut langsung masuk menusuk dari sela-sela mata.


"Jangan banyak bergerak, cuma sakit sedikit, kok!"


"Aaa–AAAAAAAH!!"


*


 


*


 


*


"Eh?" Di lain tempat, Dian yang baru saja keluar dari toko fotocopy pun mendengar suara teriakan seseorang yang suaranya tak asing di telinga. Tapi suara tadi terdengar rada samar. Jadi ia anggap kalau itu hanya halusinasinya saja.


"Hadeh ... dibilangin jangan diplastikin. Padahal gw cuma beli pulpen satu doang. Mana plastiknya gede amat lagi. Gila kali, ya?" Dian berjalan menuruni tiga anak tangga, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia ingin ke seberang, jadi memperhatikan sekitar dulu. "Dah lah, mau pulang. Laper."


Namun setelah menyeberang, ponsel Dian tiba-tiba berbunyi. Ia pun merogoh kantung dan melihat layar. Ternyata ibunya menelpon. "Halo, Ma?"


[ Dian, kamu ke mana? Ini pintunya kekunci. Kamu ada di luar apa di dalam rumah, sih? ]


"Oh? Mama udah pulang? Ah ... Dian lagi di luar, ada yang mau dibeli. Kalau mau kunci, itu ada di bawah pot."


[ Oke. Kamu pulang jangan lama-lama. Ibu bawa pizza, nih! ]


"Eh? Beneran, nih? Asik! Sayang mama tiga ratus persen!"


[ Buruan, mama juga laper. ]


"Otewe, Ma! Dian mau pulang, nih. Bentar lagi juga nyam–ah!"


Lagi asik mengobrol, tiba-tiba ada seorang anak kecil laki-laki yang menabraknya dari samping. Sangking kerasnya, Dian sampai terjatuh duduk. Begitu juga dengan ponselnya. Seketika ponselnya itu langsung mati karena terbentur.


"Duh, kentang banget ini ponsel. Jatuh sedikit aja ada yang retak. Ah, elah." Dian meraba-raba tanah tanpa melihat. Ia ingin mengambil kembali plastik yang berisi pulpen tadi. Tapi setelah menyadari benda itu hilang, Dian langsung berdiri lalu melirik ke sekitar.


Sampai akhirnya, ia melihat seorang anak kecil yang memegang plastik miliknya sedang berlari kecil. Jaraknya sudah sekitar 10 meter darinya. Tapi dari tempat berdiri, Dian masih melihat anak itu dan ia langsung mengejarnya.


"He–hei!" Dian menegur anak itu. Anak kecil itu pun mendengarnya dan langsung berlari kencang tanpa menoleh ke belakang. Terpaksa Dian harus mempercepat gerakannya juga, walau ia sedang lapar.


Mereka berdua saling kejar mengejar sampai akhirnya, mereka memasuki kawasan terlarang yang tak jauh dari sana ada papan peringatan "Rawan Kejahatan, berhati-hati!".


Sayangnya, Dian tidak melihat peringatan itu dan tetap mengejar si anak kecil, hanya demi mendapatkan kembali pulpennya. Ya karena dia tidak punya uang lagi untuk membeli benda itu dan besoknya ia juga harus memberikan pulpen itu untuk Rei.


Temannya itu akan marah kalau dia tau pulpen yang dipinjamkannya ke Dian, ternyata hilang. Maka dari itu, Dian membelinya sore ini, keburu langit gelap.


"Woy! Balikin pulpen gue, Cil!" Dian tidak melihat jalan yang ternyata paving di trotoar sedikit mencuat ke atas, membuatnya tersandung. Tiba-tiba suara tawa keras beberapa pria dewasa muncul dari gang di dekatnya.


Dian mendekatinya perlahan dan mengintip. Dian mengira itu suara bapak-bapak yang biasa meronda sambil bermain catur. Ternyata dia salah. Para pria itu seperti semut, mengerubungi sesuatu. Pikiran Dian langsung berubah ke hal kriminal yang menjijikan.


"Heh, kalian ngapain, hah? C*bul, ya!?" seru Dian dengan tatapan dan nada murka. Tiga pria tersebut langsung menoleh ke arah Dian. Tatapan sangar mereka membuat mental Dian ciut.


"A–anu, aku lagi nyari pulpen. Duh, mana ya." Dian melihat ke arah trotoar, berpura-pura mencari barang. Sesekali dia melirik.


Salah satu pria tersebut melempar tubuh seorang lelaki yang tak asing bagi Dian, karena seragam sekolah yang familiar.


"Loh, Azura!?"


"Oh, temennya, toh. Culik aja sekalian. Cuan, cuan—" Sebelum mereka beraksi. Suara deru mesin kendaraan semakin mendekat. Ekspresi mereka berubah, takut kalau-kalau itu adalah polisi. Mereka kabur dan menabrak tubuh Dian yang kecil.


"Aduh, jatoh mulu gw!" Dia segera bangkit berdiri dan baru teringat akan sosok Azura tadi. Dian mendekati tubuh temannya yang tersungkur lemas. Rambutnya terlihat basah dengan cairan merah, wajahnya tertutup oleh rambut tersebut.


"Ra, Azura?" Dian mengguncang tubuh Azura. "Lu masih hidupkan? Respon gue, dong! Mana pulpen gw ilang diambil bocil."


"Bacod lu. Pusing kepala gw," lirih Azura. Dian menghela napas lega seraya mengelus dadanya.


Azura berusaha bangkit dengan tenaganya sendiri. Tapi rada sulit. Ia hanya bisa tengkurap dan mengangkat tubuhnya sedikit. Dian ingin membantunya, tapi sebelum itu ia sempat melihat cairan merah yang menetes dari mata Azura. "Eh, Ra? Kok lu nangis? Takut diomelin mama gara-gara pulang telat, ya?" 


"Mata gw ilang, gblk!!"


"Eh?!" Dian terkejut. Ia belum melihat wajah Azura karena masih tertutup rambutnya. "Tapi lu gak apa-apa, kan?" tanya Dian dengan spontan sambil membantu Azura bangun dalam posisi duduk.


"Pikir." Azura sudah tidak sanggup membentaknya karena tenaganya habis.


"Ya maaf, spontan aku, bang." Dian menarik tangan Azura agar lelaki itu ikut berdiri. Lalu ia merangkulnya.


"Gendong, dong, Di." Azura tersenyum tipis. Ia sungguh sudah tidak kuat berdiri, walau sudah dirangkul juga. Dian berdecih kemudian berjongkok.


"Manja banget lu." Kesal dengan jawaban Dian, Azura sempat-sempatnya memukul punggung temannya itu. Kemudian mengalungkan tangannya di sekitar leher Dian.


Dian berdiri dengan mudah. Dia kira Azura lebih berat dari yang dia pikir. Dian mulai berjalan keluar gang. Matanya melirik kanan kiri, siapa tau bertemu dengan anak kecil yang mengambil pulpennya. Tapi ternyata anak itu berhasil kabur.


"Duh, pulpen baru beli. Gimana cara gw jelasinnya ke Rei, ya?" gumam Dian yang lebih cemas dengan pulpen tersebut. "Lagian kayaknya di sini, banyak orang-orang aneh."


"Di, gw mau istirahat bentar." Azura menjatuhkan kepalanya di pundak Dian dan tak bergerak lagi.


"Tapi jangan mati, nanti gw jadi tersangka." Azura sudah tidak bisa menjawabnya saat ini. Dian menghela napas, lalu kembali masuk ke dalam gang dan mendudukkan tubuh Azura ke tembok untuk sementara.


Tak jauh dari sana, Dian melihat tas Azura berada di ujung gang. Lelaki itu mengambil tas tersebut dan menggendongnya. Lalu ia kembali ke Azura.


Dian melepas jaketnya yang akan ia gunakan untuk menyelimuti atas kepala sampai punggung Azura. Setelah itu ia kembali menggendongnya di belakang. "Gw ngeri klo ada orang lain liat gw bawa-bawa orang berdarah-darah gini."


Dian menengok kanan kiri sebelum keluar dari gang. "Tadi penjahat-penjahat itu kenapa bisa tiba-tiba lari, ya? Apa mereka takut sama gw? Terus nih anak kena masalah apaan lagi, sih?"


Dian mulai keluar dari gang dengan berjalan cepat. Ia awalnya bingung harus membawa Azura ke mana. Sampai akhirnya ia tahu kalau ada rumah sakit yang tak jauh dari toko fotocopy yang dikunjunginya tadi. Tapi kalau berjalan kaki, mungkin saat matahari terbenam baru sampai.


"Azura, bertahanlah! Jangan mati dulu, ya?"


*


*


*


To be continued–