
Derrel masuk ke area sekolah dan melihat adik kelas bermain basket dan ada Divan di sana. Derrel agak kesal melihat lelaki itu menjahili adik kelasnya dengan merebut basket dari mereka.
Saat Derrel berjalan di pinggir lapangan, Divan melihat ke arah Derrel. Dia menyeringai lalu fokus ke permainannya. Derrel menggeleng cepat, dirinya lanjut berjalan, lelaki itu mempercepat langkah.
DUK!
Sebuah bola menghantam keras kepala Derrel. Lelaki itu terjatuh, kepalanya pusing karena hantaman benda itu. Dia mendongak dan melihat Divan.
"Lu bisanya apa sih? Nangkep doang bola ga bisa." Divan mengambil bola di dekatnya, lalu hendak melemparnya lagi ke Derrel. Derrel menyilangkan kedua tangan di atas kepala untuk melindungi dirinya.
Divan tertawa keras, dia tak jadi melempar bola ke Derrel. "Lucu banget, ni orang." Divan memantulkan bola ke tanah dan kembali ke lapangan basket.
"Sabar Derrel. Kena bola doang ... jangan marah." Derrel menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia berdiri, menyeimbangkan tubuhnya lalu lanjut berjalan ke kelas.
Tak seperti biasanya. Derrel merasakan hawa aneh di kelas. Bulu kuduk Derre berdiri, suhu kelas juga menjadi lebih dingin. Derrel melihat sekeliling, tetapi dia tak melihat ada yang aneh.
"Firasat doang kali ya?" Derrel mengusap lehernya. Sontak ada yang menyentuh pundaknya. Lelaki itu melompat kaget dan menoleh ke arah belakang.
"Astaga, Vann, jantungku hampir copot." Derrel mengelus dada beberapa kali. Vann memiringkan kepala, seakan bertanya tentang keadaan Derrel.
Derrel ragu menjawabnya tapi setelah beberapa lama, dia akhirnya menjawab, "Aku merasa ada yang aneh dari kelas. Kayak ada yang mengawasi kita."
Vann menggeleng saja, dia meletakan tas dan menulis sesuatu di buku kecilnya. "Cuma firasat. Lebih baik temani aku ke kantin." Derrel membacanya dan mengangguk.
...****************...
Di kantin juga ada Tio bersama si kucing yang bernama Moching. Pemilik kucing itu tampak kurang istirahat, sampai menguap beberapa kali. Derrel langsung menghampiri Tio. "Kau kenapa?" tanyanya
"Moching ga bisa diem. Kayak gelisah mulu, aku jadi ikutan gelisah ga bisa tidur," jawab Tio sambil mengelush Moching yang sedari tadi berputar-putar di tempat, lalu melompat ke atas pahanya dan menggaruk-garuk jaket Tio. Seperti ingin membuka jaket lelaki itu.
Vann menyadari itu, dia membuka resleting jaket Tio. Moching langsung melompat masuk ke jaket Tio. "Eh, Moching kamu kenapa?" tanya Tio sambil melihat kucingnya.
"Dia butuh perlindungan kayaknya," ujar Derrel sambil mengelus dagu. Tio pun menutup kembali resleting jaketnya pelan-pelan agar bulu Moching tidak terjepit. Kepala Moching keluar dari jaket lalu Tio mencium kepala Moching dengan penuh kasih sayang.
"Oh iya, aku mau jajan dulu sama Vann," ujar Derrel.
"Ya udah, aku mau ke atap. Ngomong-ngomong kalo sempet, beliin roti coklat buat aku, nanti aku ganti uangnya." Tio berdiri sambil menahan bagian bawa jaket agar Moching tidak jatuh.
"Oke deh." Derrel manyatukan jari telunjuk dan jempolnya ke arah Tio.
...****************...
Setelah membeli makanan dan minuman yang diperlukan. Derrel dan Vann menuju atap untuk memberikan roti milik Tio sekalian dengan air minumnya. Mereka makan sarapan bersama sebentar sampai bel berbunyi.
Waktu berjalan. Divan tidak menganggu Derrel di kelas, tentu itu aneh tetapi sangat menguntungkan untuk Derrel. Lelaki itu jadi tenang selama berada di kelas. Namun kesenangan itu tak bertahan lama.
Meski Divan tidak mengganggu, tetapi Yudi dan Simon memukul kepala Derrel dengan buku. "Kata Divan, yang kayak gini jangan di kasih lolos."
"Ka-kalian mau apa?" tanya Derrel. Yudi menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya lalu berbisik, "Kita butuh duit."
Derrel berkacak pinggang, lalu menatap sinis kedua orang itu. "Kalian terlalu miskin sampai minta-minta begini?"
"Heh, jangan macam-macam lo, ya?!" Yudi memelototi Derrel.
Derrel sedikit meneleng, lalu membalas, "Kau ingin kukirim ke rumah sakit lagi?"
"Jangan sok jago lo, bocah!" Yudi ingin memukul Derrel, tapi untungnya Derrel sempat menahan kepalan tangan lelaki itu. Kemudian ia memelintir tangan Yudi, lalu menariknya. "Selalu ingat ini. Tindakan kalian pasti akan dibalas tak lama lagi!"
"Waduh, ngeri banget omongannya." Simon tertawa keras, lalu menepuk punggung seorang gadis yang sedang mengobrol dengan temannya.
"Ah, apaan, sih?!" kesal gadis itu, lalu menoleh.
"Weh, katanya sebentar lagi kita bakal mati. Lu percaya sama bocah itu?" Yudi menunjuk ke Derrel.
"Au, ah! Jangan ganggu aku." Gadis itu membuang muka. Lalu ia dan temannya meninggalkan tempat. Tak lama kemudian, wali kelas mereka akhirnya masuk kelas. Seketika semua murid langsung duduk di tempatnya masing-masing.
"Awas lu nanti!" Yudi dan Simon juga pergi ke tempat duduknya.
"Enyenyenye~" Dari belakang, Derrel mengejek. Lalu ia memperhatikan gurunya di depan.
Guru itu memberikan sebuah pengumuman. "Anak-anak ... karena bentar lagi bakal ada UAS, jadi pulang sekolah nanti, tolong jangan ada yang pulang dulu, ya?"
"Eh, ada apa, Pak?" tanya Ketua kelas.
"Nanti akan diadakan kelas tambahan. Yang pulang, bakal dikenakan poin. Oke sekian itu saja dari bapak." Singkat guru itu, lalu pergi lagi dari kelas tersebut.
Semua murid terheran. Ini baru pertama kalinya mereka dapat kelas tambah saat pulang sekolah. Sebelum-sebelumnya tidak pernah ada. Yang paling mengejutkannya lagi, ternyata hanya kelas mereka saja yang tidak boleh pulang dulu.
Mereka tahu dari teman beda kelasnya saat bertanya di jam istirahat. Pastinya beberapa murid bakal bertanya-tanya. Mungkin nanti saat wali kelas mereka masuk lagi.
...****************...
"Ck, kenapa cuma kelas kita doang yang gak boleh pulang?!" Keluh salah satu murid di kelas itu. Semuanya juga mengeluhkan hal yang sama. Tapi Vann merasa bodo amat, sedangkan Derrel sedang menelpon kakaknya.
"Kak, aku ada kelas tambah hari ini. Jadi aku bakal pulang telat."
[ Oke, jaga dirimu. Kalau ada apa-apa, telpon aku, ya? ]
"Iya, kak!"
[ Sebenarnya pulang nanti, aku juga mau ke rumah Diana. Kalau kamu pulang, aku belom pulang, kunci ada dibalik papan nomor pintu, ya? ]
"Iya, kak!" Derrel mengangguk. Lalu tak lama, ia melihat wali kelasnya masuk. "Udah dulu ya, kak. Udah ada guru."
[ Iya, Derrel. Aku sayang kamu. ]
Seketika perasaan hati Derrel jadi adem. Ia tersenyum, lalu menjawab, "Aku juga sayang kakak." Derrek mematikan telponnya, lalu menatap gurunya di depan.
"Pak! Ini beneran cuma kita doang yang gak boleh pulang?" tanya seorang siswi.
"Iya." Guru itu mengangguk, lalu menatap jendela. "Untuk hari ini bagian kelas kalian dulu. La–lalu ... besoknya baru kelas lain."
"Ooh ..." Semua murid mengangguk paham. Mereka kembali duduk rapih di tempatnya masing-masing. Lalu tak lama, guru itu berjalan menghampiri jendela. Di lapangan sudah sepi. Tak ada murid lain dan semuanya telah pulang.
Guru itu, menelan saliva, lalu menghela napas. Ia kembali berdiri di samping mejanya, lalu menatap para muridnya. Seketika anak-anak di sana sedikit terkejut melihat ekspresi gurunya yang berubah drastis.
"Anak-anak ..." Guru itu ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia sangat gugup. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, dan tangannya gemetar. Para murid yang melihatnya jadi semakin bingung. "Anak-anak ... maafin bapak kalau bapak ada salah. Ka–kalian ... kalian sebaiknya segera pergi dari sini."
"Eh, apa?" Karena suara gurunya yang kecil, beberapa murid tak dapat mendengarnya. Tapi Derrel yang duduk di paling depan meja guru pun mendengarnya.
Derrel meneleng, lalu bertanya, "Apa maksud bapak?"
"Ka–kalian akan mati di sini!" Ucapan guru itu terdengar keras. Semua murid saling menatap heran. Tingkah guru itu semakin aneh. Ia terlihat ketakutan, lalu berjalan sempoyongan menghampiri meja murid di samping tempat duduk Derrel. Guru itu memukul meja tersebut dan membuat dua orang siswi yang duduk di sana jadi takut.
"KALIAN SEMUA AKAN MATI!! SEBAIKNYA KALIAN CEPAT PERGI, ATAU–"
GRRRKK....
Pintu kelas tiba-tiba bergeser. Seketika semuanya langsung menoleh ke arah pintu itu. Seorang lelaki berpakaian serba hitam datang. Dia membawa sebuah pisau, lalu mengangkat tangan kirinya yang tidak memegang pisau. "Yo!"
"Hah? Siapa dia?"
"Murid baru, kah?"
"Kenapa pakaiannya begitu? Ngeri."
"Eh, emangnya boleh bawa benda tajam?"
Para murid saling berbisik. Lelaki misterius itu menyeringai, lalu berjalan pelan masuk ke dalam kelas. Lalu ia menutup pintunya kembali. Lelaki itu meletakan pisau di atas meja, lalu Ia berdiri di samping guru.
Lelaki itu membuka tudung jaketnya, dan terlihat lah wajah aslinya. Semua orang masih kebingungan, tapi beberapa siswi berbisik kalau lelaki itu terlihat tampan di mata mereka. Tapi beda dari yang lain, Derrel justru terlihat sangat terkejut sampai ia berdiri lalu mundur ke belakang.
"Ka–Kau!" Derrel tak sengaja menunjuk. "Farel!! Kenapa kau masih hidup?!"
Yeah, lelaki itu adalah Farel. Dia tersenyum manis menatap Derrel, lalu kembali melirik ke anak-anak lainnya. Vann terlihat keheranan melihat Derrel yang memasang tampang kaget sekaligus takut begitu.
"Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi hari ini." Ucap batin Vann. Ia melepas headphone, lalu menatap ke depan seperti murid lainnya.
"Aku ingin memberitahukan beberapa hal pada kalian, ah tapi sebelum itu, aku ingin menyingkirkan seseorang." Farel melirik ke orang di sampingnya, yaitu sang wali kelas. Lalu seketika mata Farel sedikit menyala.
Guru itu tersentak. Matanya melotot dan mulai menangis. Lalu ia mengambil pisau di atas meja dan mulai mengarahkan mata pisaunya ke dadanya. Pria itu terus menggeleng sambil meminta ampun. Tapi entah kenapa, tubuhnya bergerak sendiri.
"Eh, eh ..." Seorang siswi mulai berdiri dari tempatnya, lalu disusul oleh beberapa murid lain. Mereka mulai takut dengan apa yang ingin dilakukan guru itu.
Sang guru mulai menancapkan pisaunya di dada, lalu menekannya semakin dalam. Suara teriakannya serta muncratan darahnya membuat beberapa murid beranjak dari tempat duduk mereka dan berteriak juga.
Tak sampai di sana, guru itu menarik pisaunya, lalu mengg*rok lehernya sendiri yang kemudian diakhiri dengan memasukan pisau itu ke mulutnya, dan merobek mulut sampai ke pipinya. Pria itu akhirnya tewas, lalu terjatuh di depan papan tulis.
"Aw, darahnya kena bajuku." Farel membersihkan cipratan darah di bajunya, lalu melangkah dua kali ke depan. Ia membentangkan tangan, sambil tersenyum lebar.
"Nah, sekarang bagaimana kalau kita mulai permainan ini? Pasti seru, kok!"
*
*
*
To be continued –