
Kepala sekolah itu melirik ke kanan dan kiri. Dia mengambil pulpen dan membuka tutupnya. Ujung pulpen itu bersinar, pulpen tersebut dilempar ke sosok berpakaian hitam itu menangkap pulpennya dan mematahkan pulpen tersebut. Kemudian dia berlari ke kepala sekolah, lalu mengayunkan pisau daging.
Perut kepsek yang buncit terbelah karena pisau daging, isinya keluar sedikit dari celah itu serta darah mengucur. Sosok tersebut didorong oleh kepala sekolah, lalu memukulnya dengan tenaga yang masih tersisa, sosok itu tersungkur ke lantai.
Pria tersebut memegangi perutnya dan berlari kecil menuju pintu. Namun sosok tersebut menangkap kaki pria itu dan menariknya hingga kepala sekolah itu terjatuh. Sosok itu memegangi kaki si pria, lalu pisau dagingnya itu diayunkan ke arah paha dengan keras.
“Ah, dagingmu tebal sekali sih!” keluh sosok itu sambil terus mengayunkannya sampai kaki itu terputus. Dia juga melakukan hal yang sama dengan kaki satunya. Kepala sekolah itu berteriak terus dan berusaha melawan, dia menendang-nendang sosok itu tetapi sia-sia. Pria itu juga berteriak meminta tolong tetapi seperti tidak ada yang mendengarnya.
“Berisik!!” sosok itu melihat pulpen yang dia patahkan tadi. Dia mengambil pulpen yang ada bagian tajamnya, dengan teganya sosok itu membalik tubuh si kepala sekolah dan menusukan ujung pulpen ke lidahnya dan menarik pulpen itu berharap lidahnya terputus.
Kepala sekolah itu melawan dengan mendorong tangan si sosok. Justru hal itu membuat tugas sosok tersebut lebih mudah. Lidah itu terbelah dan terlihat menjadi bercabang seperti lidah ular. Tapi bukan itu yang diharapankan si sosok. “Aku pikir lidahnya akan putus, taunya kebelah doang.”
“Tu-tunggu! Sto—” Sebelum ucapannya selesai. Sosok itu membekap mulut kepala sekolahnya sambil mencengkramnya, lalu menarik usus pria itu yang sedikit keluar dari robekan perut. Sosok tersebut tertawa renyah sambil menatap mata si kepala sekolah.
Sosok itu mengambil pisaunya kembali dan mengayunkannya ke kepala pria malang tersebut.
...****************...
Guru-guru di dalam ruang guru masih bertanya-tanya kemana si kepala sekolah. Padahal sekarang, disaat murid-murid sedang istirahat nanti, mereka akan mengadakan rapat.
Salah satu dari mereka menelepon kepala sekolah, tetapi tidak diangkat. Namun tak lama ada pesan dari kepala sekolah muncul di grup antar guru.
[ Saya segera ke sana. ]
“Akhirnya,” ujar salah satu guru yang sedang berada diambang pintu, beliau menuju ke tempat duduknya.
“Say, mau cilok ga? Bantuin aku abisin,” ujar guru wanita kepada temannya di sebelah. Temannya itu mengangguk dan menerima plastik makanan berisi cilok itu. Terdengar langkah kaki berat dan saat sudah dekat, yang masuk bukan kepala sekolah, tetapi sesosok lelaki muda berambut hitam dan berpakaian serba hitam pula.
Seketika semua guru terkejut dan langsung berdiri dari tempat mereka. Di tangan lelaki misterius itu, ternyata ia sedang menenteng kepala Kepsek dengan pakaiannya yang berlumuran darah.
...****************...
Di kelas Derrel, dia masih menyalin PR yang dirobek Divan. Tak lama, Divan mendekat dan melihat apa yang dikerjakan.
“PR gw kok belum?” tanya Divan. Lalu menutup buku Derrel dengan sengaja.
Derrel menatap tajam Divan. “Kau ga punya tangan?” Derrel membalas. Tentu saja itu memancing amarah Divan, lelaki itu menarik kerah Derrel.
“Ngomong apa lu—akh!” Divan merasa ada sesuatu yang memukul perutnya. Dia melepas Derrel lalu menyentuh perutnya. Derrel memukul kepala Divan dengan keras, lelaki yang dipukul itu terdorong mundur sedikit.
Namun tak ada ampun, Derrel memukulnya lagi beberapa kali sampai Divan tersungkur. Derrel berlutut dan menjambak rambut Divan tapi tangan Derrel ditahan oleh Vann, lelaki itu menarik tubuh Derrel menjauh.
“Ck, kenapa sih?” tanya Derrel dengan nada marah.
Vann cuma menggeleng. Dia membuka mulut tetapi tidak bersuara, “Dennis.”
Derrel baru ingat soal kakaknya. Dia berhenti dan melihat Divan yang sedang mengelap hidungnya yang berdarah, lalu berdiri. “Kenapa berhenti, huh? Ayo lanjut,” ujar Divan kembali menantang Derrel.
Divan menjentikkan jari, lalu berkata, “Ah, kau takut sama kakakmu ya. Aku baru ingat, kalau dia tau kejadian ini, dia ga sayang kamu lagi, loh!”
“Berisik!” bentak Derrel. Vann langsung menarik tangan Derrel menjauh dari Divan. Ia mengajak lelaki itu keluar kelas saja. Tapi sebelum itu, Derrel membereskan barang-barangnya terlebih dahulu, baru pergi.
Di depan kelas, Vann menulis di bukunya lalu menunjukkannya pada Derrel. "Tahan aja, jangan dibalas."
"Kau juga ga bisa menahan emosi kalau digituin, hmph." Derrel membuang muka. Vann hanya tersenyum saja, lalu ia mengintip lewat pintu kelas di samping kelasnya Derrel. Itu kelasnya Tio.
"Jam segini, dia masih belum datang?" batin Vann. Lalu tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang gadis yang menegurnya. Vann langsung berdiri tegak kembali.
"Oy, lu temennya Tio, kan? Gw sering liat lu berduaan mulu." Ujar gadis berambut pendek itu. Dialah Adila.
Vann hanya mengangguk untuk menanggapinya. Lalu Derrel menoleh dan melihat gadis itu juga. Ia sempat mendengar suaranya tadi. "Loh? Tio emang gak masuk?"
"Mana gw tau. Lima menit lagi bel masuk, tapi dia belum datang." Adila mendengus kasar, lalu menggaruk kepala. "Ah tuh anak jadi sering bolos sekarang. Gw mau tegur dia hari ini! Yapo gw gak tau di mana rumahnya. Pasti kalian berdua tau, kan?"
Sontak Derrel dan Vann pun mengangguk. Adila menjentikan jari. "Sip, nanti anterin gw ya ke rumah dia."
"Ah tapi pulang nanti, aku ... mau pindahan." Ujar Derrel.
"Itu bukan alasan, kan?"
"Bu–bukan! Emang beneran!"
"Ya sudahlah." Adila melirik ke Vann. "Kau pasti punya waktu luang, kan? Anterin gw, ya?"
Anehnya, bukan bel masuk yang berbunyi, malah bel pulang. Ada perbedaannya. Untuk bel masuk, berbunyi 2x, sedangkan bel pulang berbunyi 3x. Seketika itu juga para murid langsung senang, tapi terheran juga. Selain bel pulang itu, mereka tak melihat satupun guru di sekitar sekolah. Jadi mereka semua pamit tanpa ada pengumuman dan alasan para murid dipulangkan.
"Ah, Kak Dennis!" Saat Derrel keluar kelas, ternyata di depan sana Dennis baru saja datang. Tentu saja ia ingin menjemput adiknya.
Sebelum pergi, Derrel melambai pada Vann. "Aku pulang dulu, ya?"
Vann hanya mengangguk. Lalu tiba-tiba di belakangnya ada yang merangkulnya. Vann langsung menoleh, ternyata Adila. Gadis itu tersenyum sinis. "Lu udah janji sama gw mau nganterin ke rumah manusia kucing itu, kan?"
Vann mengangguk lagi. Lalu mereka pun pergi. Saat di depan gerbang, mereka bertemu dengan Dennis dan Derrel lagi. Kedua adik kakak itu ternyata sedang menunggu kendaraan online datang. Jika naik bus, sepertinya akan lama karena halte saja sudah penuh.
"Eh, Adila!" Derrel menyapanya.
Dennis juga menoleh. "Adila? Ah kau ..."
"Loh, Dennis, ya?"
"Ah, huum ... iya– Loh, kau kenal adikku?"
"Eh? Jadi adikmu itu Derrel??"
"Ah, i–iya ..." Dennis mengangguk kaku, lalu menggaruk kepala. Ia sempat membuang muka, menatap anak-anak lain yang keluar sekolah. Saat menoleh lagi, Dennis terkejut melihat wajah Adila sudah dekat dengannya. Reflek, Dennis langsung menjauh.
"Loh ... kalian gak mirip, tuh." Gadis itu juga memperhatikan Derrel. Lalu ia kembali berdiri tegak dan melipat tangan ke depan. "Kalian pasti bercanda."
"Eh, eh, kita memang adik kakak!" Dennis menegaskan. Ia melirik ke arah lain, lalu bergumam dalam hati. "Belum aja dia liat Kak Rei."
"Ah oke, aku percaya kok!" Adila tersenyum. Lalu tangannya ditarik Vann untuk segera pergi karena bus sudah datang. Mereka harus kebagian tempat. Adila dan Vann pun melambai, lalu pergi.
"Padahal dia beda kelas, tapi kamu mengenalnya, Rel." Ujar Dennis. Derrel hanya tertawa. Lalu tak lama, kendaraan mereka pun datang. Keduanya langsung pulang.
...****************...
Saat sampai di rumah, Dennis dan Derrel mengambil kunci rumah dari bawah pot bunga. Mereka tau kalau bibi dan pamannya masih kerja. Jadi tidak ada siapapun di rumah.
"Kayaknya kita pindah sore aja, ya, Rel?" tanya Dennis sambil membuka pintu.
"Loh kenapa, kak?"
"Kita kan harus siap-siapin barang dulu."
"Tapi kan gak lama."
"Mau pamitan sama Bibi dan Paman dulu, dong, Rel. Jadi kita tunggu mereka pulang."
"Oalah, okelah!" Derrel selesai membuka sepatu, lalu ia masuk duluan. Di ruang tamu, Derrel melihat televisi menyala. Ia terheran, lalu mematikan televisi tersebut. "Apa bibi lupa matiin tv sebelum kerja, ya?"
"Ayo, Rel! Kamu kemasin baju-baju kamu." Dennis memunculkan kepala dari depan pintu. Lalu ia pergi ke dapur. Derrel pun meninggalkan ruangan itu dan mengikuti kakaknya. Ia ke kamar duluan.
...****************...
Ada suara ketukan pintu dari depan rumah. Suara itu mengejutkan sekaligus membangunkan Tio. Ia mengusap wajah, lalu bergumam, "Mimpi itu lagi ...."
"Tiooo!! Oy buka, bang! Tio, lu gak mati di dalam, kan?!"
"Itu ... kayak suara Adila." Tio membuka selimut, lalu pergi ke luar. Kucingnya juga terbangun, meregangkan badan, lalu melompat dari kasur.
"Tiooo!!" Sementara Adila sedang menggedor-gedor pintu rumah Tio sambil berteriak, Vann hanya bisa duduk di pinggir terasnya sambil menutup telinga dengan headphone dan mendengarkan musik dengan suara keras.
"Berisik bet lu!" bentak Tio dari dalam rumah. Tak lama, ia membukakan pintu. Wajahnya seperti orang yang baru bangun tidur dan rambutnya berantakan. "Kau bolos juga?"
"Ah sebenarnya sekolah libur hari ini. Oh ya lupakan! Lu kenapa gak masuk-masuk, anjg. Kas lu numpuk lagi, nih!"
"Ck, kasar bet lu jadi cewek." Tio membukakan pintu lebar-lebar, lalu meminta Adila untuk masuk dulu dan bicara di dalam saja. Tio pun pergi ke dapur.
Adila ingin masuk, tapi sebelum itu ia berujar pada Vann. "Lu boleh pulang sekarang. Makasih udah anterin." Setelah itu, Adila pun masuk dan menutup pintunya.
Ternyata di tempatnya, Vann tidak mendengar perkataan Adila itu. Jadi ia masih diam mendengarkan musik. Sendirian di depan rumah Tio. Sampai tak lama, ia menyadari keadaan telah sepi.
Ia pun melepas headphone, lalu menoleh ke belakang. Matanya sedikit terbuka. Ia tak percaya kalau dirinya tidak dipedulikan begitu saja. Karena tidak ada urusan lain, lelaki itu memutuskan untuk pulang.
Ia mengetuk bagian belakang sepatunya ke tanah sebanyak dua kali, lalu sepasang roda kecil keluar dari alas sepatu tersebut. Ia juga melakukan hal yang sama pada sepatu di sebelahnya. Lalu setelah itu, lelaki itu pun meluncur meninggalkan kawasan rumah temannya.