THE RULES

THE RULES
Episode 12



Leon memakai sarung tangannya. Dia menyiapkan bumbu untuk dilumuri di daging itu. Rei bagian memotong-motong dagingnya nanti. Azura dan Dian menjaga api. Dennis dan Derrel bagian memanggang nanti.


"Lu gak akan mengeracunin kita, kan, le?" tanya Azura sembari kipas-kipas apinya. Leon menggeleng pelan sambil tetap fokus.


Dian menyikut lengan Azura. Dia mendekati telinga lelaki itu dan berbisik, "Leon aneh deh, masa dia abis cuci tangan pake sarung tangan juga? Yare-yare."


"Dian, gw merasakan aura kurang mampu dari lu." Azura membalas sambil tersenyum polos.


"Ngaca, dong, Ra~" Dian membalasnya dengan tersenyum polos juga.


*


*


*


Selesai memasak, mereka berenam makan daging itu. Kecuali Leon, dia hanya makan sebuah apel sambil membaca buku. Mereka tampak bingung dengan hal itu kecuali Azura.


"Kak Leon gak makan dagingnya? Nanti kehabisan, loh," ujar Dennis.


"Iya, Bing. Gak mau, nih? Enak, loh~" Azura menggodanya sambil tersenyum manis.


"Mau gw suapin aja, Le?" Dian menawarkan diri sambil menyendok sepotong daging.


Leon sudah menolaknya secara halus, tetapi tetap saja dipaksa makan. Kasian juga kepada Leon karena nanti dia tidak kebagian dagingnya. Terpaksa lelaki itu makan daging yang diberikan Dian.


"Mau lagi?" tawar Dian. Leon menggeleng sambil mendorong pelan piringnya menjauh.


"Kalau mau lagi bilang ya, Bing," ujar Azura.


Dua menit kemudian. Leon lari menuju dalam rumah, hampir saja dia terpeleset karena lumpur. Saat ditunggu lama, lelaki itu tak kunjung kembali.


Dennis selesai makan. Ia melihat tempat Leon duduk masih kosong. "Eh, Kak Leon belum datang-datang. Nanti dagingnya keburu dilahap Dian, loh!"


"Aku cek dulu," ujar Rei sambil meletakan piringnya dimeja kecil.


"Le! Leon!" seru Rei di dalam rumah, tapi tak ada tanda-tanda dari lelaki tersebut. Namun dari kamar mandi terdengar suara. Seperti seseorang sedang muntah


"Le? Kau di dalam?" Rei mengentuk-ngetuk pintu kamar mandi.


"Hm!" sahut lelaki itu dari dalam kamar mandi. Tak lama, Leon keluar kamar mandi dengan wajah yang pucat.


Melihatnya, Rei jadi cemas. "Kalau kau sakit, ke kamar aja."


Leon menggeleng dan memberi isyarat kalau dia baik-baik saja.


Sedangkan yang lainnya sedang membereskan piring. Azura dan Dian mencuri daging Rei di piring karena lelaki itu tidak kunjung kembali, serta mengambil jatah Leon.


"Mereka kemana ya? Belum kembali juga." Derrel mulai khawatir, takut ada sesuatu yang buruk.


"Pacaran kali—" Seketika itu Azura langsung menepuk keras kepala Dian.


"Asal ceplos aja lu!"


Dennis dan Derrel beranjak dari tempatnya. Mereka pun masuk ke rumah.


"Kok aku jadi khawatir, ya?" gumam Dennis.


Tak lama setelah menginjakkan kaki di teras, mereka berdua terkejut mendengar suara Rei yang berteriak minta tolong.


Dennis dan Derrel pun mempercepat langkah dan menemukan Rei di dekat kamar mandi. Ia sedang memangku tubuh Leon yang perlahan melemah.


Derrel berjongkok di hadapan Rei dan memeriksa Leon. "Kak Leon kenapa?"


Rei menggeleng pelan. Ia sebenarnya tidak tahu apa-apa dan saat ditanya, Leon hanya diam saja. "Le, ini penting. Coba jawab dong, kamu kenapa, sih?"


"A–alergi. Ambilin ... Itu ... Di mobil ...."


"Eh? Alergi ternyata!" Rei meminta Dennis untuk mengambilkan benda yang Leon minta. "Kayaknya dia punya obatnya di mobil."


"Bentuknya kayak apaan, kak Rei?"


"Setau aku kayak suntikan. Iya kan, Le?"


Leon hanya mengangguk. Tak lama, ia pun tak bergerak lagi. Dennis pergi secepat yang ia bisa. Saat di depan pintu, ia hampir menabrak Azura yang sedang membawa piring


"Aduh, aduh ... Untung gak jatuh." Gumam Azura. "Si Dennis kenapa, njir?"


Dian mengangkat kedua bahu. "Gak tau w juga. Yare Yare, cepet juga dia lari"


Tak lama, Dennis pun kembali. Ia langsung memberikan suntikan itu ke Leon. Tapi sayang, lelaki itu udah pingsan duluan.


Rei pun mengambil suntikan itu dan langsung menusuk lengan Leon. "Le, tahan, ya?"


Derrel sedikit meringis, lalu menutup mata dengan tangan. Sejujurnya ia takut dengan suntikan.


Azura dan Dian pun datang. Mereka terkejut melihat Leon sudah K.O duluan.


"Eh buset, kalian pake cara apa tuh buat tumbangin si kambing?" Tanya Azura tak percaya.


Dian langsung menggeleng pelan. "Bukan salah gw loh, ya? Kan disuruh Azura."


"Njir, gw gak tau sumpah!" Azura juga menyangkalnya.


"Ah sudahlah,, ayo bantu aku pindahin Leon!" Rei mengangkat tubuh atas Leon. ia meminta Azura mengangkat kaki Leon.


Sebelum membawanya, Azura memperhatikan kakinya. "Eh, kaki kambing panjang, ya? Bisa jadi palang parkiran."


"Yare yare, tar klo dia denger, langsung ditendang lu, Ra." Dian menepuk pelan punggung Azura. Mereka bertiga pun membawa Leon ke kamar untuknya berisitirahat. Alerginya terhadap daging ternyata parah juga.


...*******♥*******...


 


Sudah 15 menit sampai orang tua dennis pulang, Leon masih belum sadar. Rei yang menjaganya sedari tadi pun keluar kamar untuk membantu ibunya membawa barang.


Di depan sana, ia melihat Azura yang sedang memainkan kodok yang sudah mati. Tak jauh di sampingnya, ada Dian juga. Isi perutnya dikeluarkan.


Rei pun menghampirinya. "kok aku doang yang bolak balik ngecek dia. Ra, gantian!"


Azura masih memainkan kodoknya. Ia bongkar isi dalam perut hewan itu dengan kayu. "Bentar, lagi ambil lambung."


"itu usus, anjir!" bentak Dian.


"Ya ambil dulu ususnya."


"Pengen buat apaan?"


"Makanan Dian."


"Asu!"


Azura pun berdiri. Ia berkacak pinggang menghadap ke Rei. "Ngapain kudu ditungguin, sih? Kan nanti juga bangun sendiri."


"Dia lagi sakit. Takutnya butuh apa-apa, gak ada orang di dekat dia."


"Kenapa gak suruh adek-adek lu aja?" tanya Dian. Azura juga baru nyadar kalau kedua anak itu tidak kelihatan dari tadi. "Lah iya. Ke mana tuh dua bocil?"


"Mereka bilang mau beberes kamar. Kalian berdua juga gak ada kerjaan lain, kan? Nyiksa binatang mulu." Oceh Rei. Lalu ia menghampiri mobil ibunya untuk membawa masuk barang-barang sisah yang baru datang.


"Ck, ayolah, Di."


...*******♥*******...


 


Di kamar, Dennis dan Derrel sedang merapihkan barang-barang mereka yang baru saja datang. Untuk tempat tidur dan lemari sudah dipindahkan oleh tukang dan ayah mereka. Sekarang mereka hanya tinggal merapihkan barang-barang kecilnya aja.


Tak lama, Rei pun datang ke kamar itu. Ia membawa sebuah kotak kardus yang berat. "Duh, ini, Rel. Ini mainanmu."


"Yeay, mainan! Aku mau memajangnya di kamar baru!" Derrel membantu kakaknya membawa kotak itu sampai ke depan tempat tidur. Setelah itu ia membuka selotipnya dengan gunting.


"Hmm ... buku-bukuku masih ada di bawah, ya?" tanya Dennis.


"Iya. Kalau mau ambil, ayo aku bantu."


"Oke. Derrel tunggu sini dulu, ya? Aku akan kembali." Dennis menutup pintu.


Dennis dan Rei pun pergi ke lantai bawah untuk mengambil kotak buku Dennis. Sementara itu di kamar, Derrel sedang menyusun mainannya di lemari untuk pajangan.


Lalu tak lama, pintu kamar kembali terbuka. Derrel berbalik badan. "Eh, kak Dennis udah kembali?" Derrel diam karena tidak ada seorang pun yang masuk ke kamarnya. "Mungkin angin."


Ia berusaha untuk tidak memikirkan hal aneh. Jadi ia pun kembali merapihkan barang-barangnya yang lain.


...*******♥*******...


Setelah menuruni tangga, Dennis dan Rei dikejutkan oleh kehadiran Leon yang tiba-tiba keluar kamar dengan tatapan polos khasnya. Seketika itu juga, Dennis bertanya, "Eh, kak Leon udah baikan?"


Leon hanya mengangguk. Di tangannya, ia membawa obat alerginya yang akan ia simpan kembali ke dalam mobil.


"Eh, di mana Azura? Bukannya tadi aku suruh dia jagain kamu, ya?"


Leon tak menjawab. Ia hanya menaikan bahu, lalu pergi ke luar. Ia menyimpan obatnya itu kembali ke kantung belakang kursi mobil. Setelah itu ia kembali ke teman-temannya. Di dekat mobil keluarga Dennis, Leon melihat Rei yang sedang mengangkat kotak kardus yang terlihat berat. Ia pun menawarkan bantuan. Ia menepuk-nepuk pundak Rei, lalu menunjuk ke kardusnya.


Rei menggeleng pelan. "Ga–gak usah. Ringan, kok!" Lalu ia pergi secara perlahan untuk membawa kotak itu masuk. Leon hanya mengangguk, lalu melihat Dennis yang merasa kesulitan membawa kotak lainnya. Leon pun menghampiri temannya yang satu itu.


"Eh, Kak Leon, ada apa?"


Leon nunjuk ke kardusnya, lalu mengangkat kotak tersebut. "Taro di mana?"


"Oh! Itu bawa aja ke kamar aku. Ayo-ayo, aku anterin!"


Leon mengangguk. Lalu ia mengikuti Dennis dari belakang. Rei kembali ke depan. Ia meregangkan badan dan melihat ke sekeliling. Azura dan Dian tidak terlihat di sekitar rumah.


"Ke mana lagi mereka?"