THE RULES

THE RULES
Episode 20



"Bu–Bundaaa!!"


Seketika teriakan Dennis terdengar oleh Rei dan Derrel. Rei langsung pergi ke dapur, sementara Derrel tetap menjaga ayahnya.


"Dennis! Ada ap–" Mata Rei membulat begitu melihat ibunya bersimbah darah di lantai. Ia melihat Dennis yang duduk di sampingnya. Awalnya Dennis ingin menangis, tapi entah kenapa air matanya tidak bisa keluar.


Secara perlahan, Rei ingin menghampiri adiknya. Tapi tiba-tiba ia melihat sosok besar hitam muncul dari langit-langit dapur. Makhluk itu merangkak di atap dan ingin jatuh di atas Dennis dan ibunya. Dengan sigap, Rei langsung menarik tangan Dennis dan memeluknya lalu menjauh dari sang ibu.


Tak lama setelah itu, makhluk itu pun jatuh dan langsung menggigit utuh tubuh wanita itu. Rei yang emosi langsung mengambil pisau di sampingnya. Ia melepaskan Dennis, lalu bergerak menyerang makhluk itu.


Namun usahanya sia-sia. Makhluk itu lebih kuat. Ia menghempaskan tangan dan langsung memukul Rei. Seketika tubuh lelaki itu kembali terdorong ke belakang dan membentur tembok. Lalu setelah itu, sosok hitam tadi menelan utuh tubuh ibu mereka dan pergi menembus tembok lalu menghilang.


"Ugh ...."


"Ka–kak Rei!" Dennis membantu kakaknya berdiri kembali. Lalu mereka berdua pergi ke luar setelah Dennis mendapatkan obat untuk mengobati tangan ayahnya.


Setelah keduanya keluar, seseorang menghampiri Dennis dan langsung menarik kerah bajunya. "A–apa yang lu rencanakan, hah?! Lu mau bunuh kita semua?"


"A–aku ... aku gak berharap hal ini terjadi. Aku tidak tahu apa-apa." Jawab Dennis dengan nada terbata karena ia sendiri juga masih ketakutan.


Tak lama, Rei menjauhkan tangan orang itu dari adiknya untuk membela. "Jangan salahkan dia. Kita gak bermaksud seperti itu. Kita semua juga gak tau apa-apa tentang ini."


"Lalu apa yang telah terjadi di sini?! Kita tidak bisa keluar!"


"Aku juga tidak tahu! Kita cari bersama-sama. Asal semuanya jangan ada yang panik dulu!" tegas Rei. Lalu ia pergi mendekati jendela dan mengintip dari sana. Semuanya gelap, tidak terlihat apa-apa di sekitar rumah. "Kita tidak bisa mengirimkan bantuan. Coba cek ponsel kalian!"


Rei juga mengecek miliknya sendiri. Tiba-tiba ponselnya mati total. Begitu juga dengan yang lain. Saat ada yang berhasil menyalakannya, tidak ada batang sinyal sama sekali. Karena ponsel tidak berguna saat ini, Rei pun pergi menghampiri telepon rumah.


Ia menghubungi polisi, tapi tidak tersambung. Saat ia perhatikan, ternyata kabel teleponnya telah terpotong. "Lah kok bisa?"


"Aaaaah! A–aku mau keluar dari sini. Mama! Mama! Aku mau pulang, hikd ..." Salah satu anak mulai menangis karena ia tak tahan hanya dengan berdiam diri. Tubuhnya gemetar ketakutan. Tapi tak lama, air mata bening itu berubah menjadi darah. Lalu mata gadis itu pun terlempar keluar sama seperti korban yang sebelumnya.


Seketika semuanya kembali panik dan menjauhi gadis itu. Mereka masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Namun Rei memahami sesuatu. Ia membantu gadis itu untuk bertahan, lalu berteriak pada semuanya untuk tetap tenang.


"Stop semuanya! Tolong jangan ada yang dorong-dorongan! Kita cari cara untuk keluar rumah ini. Tapi sebelum itu," Rei melepas kemejanya, lalu menutup mata gadis itu. Ia meminta Dennis untuk menjaganya.


Rei kembali berdiri. "Sepertinya ada yang aneh di rumah ini. Semua anak yang menangis, mata mereka akan hilang. Apa ... di rumah ini tidak boleh ada yang menangis?"


"Apa rumah ini mempunyai peraturan yang mengerikan?" tanya seseorang di dekat meja makan.


"Kayaknya begitu ...."


"Lalu bagaimana cara kita mengetahui peraturan lainnya?"


"Coba makanya semuanya tenang dulu. Kita gak mau ada korban lagi, kan? Jadi tolong jangan banyak tingkah yang membuat beberapa peraturan itu aktif dan bisa saja membunuh kalian." Rei menyentuh dagu, lalu bergumam, "Apa lagi yang tidak boleh kita lakukan di sini?"


"Kalau boker masih boleh gak, ya? Soalnya gw kebelet, anjir!" Kaki Dian rada gemeteran. Kebelet bercampur dengan ketakutan.


"Terserah," ujar Rei. Dian langsung menuju kamar mandi. Ternyata ada orang yang mau masuk juga. Orang itu mendahului Dian. Ia melangkah dengan kaki kanannya. Tapi tiba-tiba kaki kanannya terpotong.


"Aaaaakh!" Orang itu langsung mundur dan terjatuh sambil menyentuh kakinya.


"Anjir, gak boleh boker apa gimana?" Dian mendekat, dia menyingkirkan orang yang sedang kesakitkan karena kakinya terputus.


"Kalo gak salah tadi dia pake kaki kanan." Dian melangkahkan kaki dengan kaki kiri saat memasuki kamar mandi. "Huft ... aman ternyata." Dian lega, dia bisa buang air dengan tenang.


Sementara anak yang kakinya terpotong tadi langsung diberikan pertolongan pertama hanya dengan mengikat kakinya agar tidak terjadi pendarahan hebat. Tapi ternyata, karena luka yang besar, anak itu pun meninggal setelah Dian keluar dari kamar mandi.


...********♥********...


Leon baru saja keluar kamar. Dia melihat pemandangan baru di dalam rumah tiga bersaudara itu. Dia tidak terkejut, seakan sudah tau hal itu akan terjadi.


Leon menghampiri Derrel yang sedang menjaga ayahnya. Tak sengaja dia tersandung tubuh seseorang. Jaket ungu dengan kaos biru. Rambutnya pendek sekitar sebahu.


"Arel?" tanya batinnya. Leon berjongkok, meletakan jarinya di depan hidung Arel, tapi tidak ada napasnya. Lalu ia meletakan jarinya di leher Arel, tidak ada denyutnya.


"Dia sudah meninggal." Leon bergumam. Lalu ia mengangkat tangan dari leher Arel dan melihat noda merah. Saat Leon perhatian leher gadis itu, ternyata lehernya terdapat luka sobek yang cukup dalam. Leon menduga kalau Arel meninggal karena luka tersebut.


Dia kembali berdiri. Lalu melihat ayahnya Dennis sedang kesulitan, ia pun mendekatinya. Di sana juga masih ada Derrel yang berusaha menahan tangis.


"Kak Leon ...." Mata Derrel sudah berkaca-kaca. Lelaki itu benar-benar ketakutan dengan keadaan sekitar. Leon mengelus kepala Derrel untuk menenangkannya. Lelaki itu merasa lebih baik.


Sedangkan Azura. Dia mencoba untuk jalan-jalan keliling sambil mencari jalan keluar. "Duh, gw dimana dah? Lagian rumah gede-gede amat." Azura mengacak rambut. Dia membuka salah satu pintu dan terdapat beberapa teman sekelasnya.


"Ngapain? Eh, lu pada tau gak—" Belum saja menyelesaikan ucapannya, Azura tiba-tiba dipukul.


"Lu ya yang buat hal ini terjadi, hah? Ngaku!" seru orang yang memukulnya itu.


"Apaan sih? Gw aja gak tau apa-apa, anjir!" Azura membalasnya dengan nada tinggi juga.


"Lu kok bisa tenang di keadaan begini? Mencurigakan tau ga?!"


"Kenapa lu pada nuduh gw doang?" Azura mengerutkan alisnya. Dia segera pergi.


"Heh, mau kabur kemana lu!?" Orang itu narik baju Azura. Azura menepis tangan lelaki itu darinya, lalu sedikit menjauh. Tak lama, Dian datang.


"Njir dari kamar mandi gw denger keributan dari sini. Eh, Ra, gw kira lu mati juga sama kayak anak yang di deket kamar mandi." Dian merangkul Azura. Mereka pergi dari orang-orang itu. Dian menoleh ke belakang dan menatap tajam mereka semua. Lelaki itu mengacungkan jari tengahnya.


"Mereka gak akan ganggu lu kalo ada gw," ujar Dian dengan bangganya.


"Pantes gak ada cewek yang mau sama lu, lu galak," ejek Azura sambil tertawa kecil.


"Sialan lu." Dian menampar pipi Azura memakai tangan yang sedang merangkulnya.


3 orang yang berada di ruangan tadi kembali menutup pintu. Mereka akan bersembunyi di sana untuk sementara waktu. Namun tak lama juga, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar.


...********♥********...


Azura dan Dian sampai ke ruang tengah kembali. Mereka menghampiri Ayah Dennis sedang diobati oleh Leon.


"Yuhu~" Dian melambai.


Derrel sedang jongkok sambil memeluk kakinya, di sebelah Leon. Dia menoleh sebentar lalu kembali melihat ke ayahnya.


"Pipi kau kenapa merah begitu?" tanya Rei.


"Ah ini gara-gara orang gak jelas tadi. Untung ada Dian." Azura menjawab sambil mengelus pipinya.


"Kenapa ada yang memisahkan diri?" gumam Rei. Ia tadinya ingin mencari orang-orang yang ada di tempat lain. Tapi sebelum itu ia sempat mendengar suara Dian yang menarik perhatiannya.


"Oh ya, kayaknya gw tau aturan baru yang lain." Dian tiba-tiba masuk dalam pembicaraan. "Jadi kita harus masuk kamar mandi pake kaki kiri. Gak penting sih, tapi konsekuensinya serem."


"Kakinya buntung gitu?" Azura asal menjawab saja. Tapi Dian langsung mencurigai Azura juga. "Ko–kok lu tau? Hmmm...."


"Apaan sih, orang nebak doang." Azura membuang muka.


"Selesai," ujar Leon. Dia membereskan kassa bekas dan kapas bekas.


"Ayah udah merasa baikan?" tanya Derrel setelah Leon menutup kembali kotak obat.


"Iya. Tenang aja." Jawab ayahnya lalu mengelus kepala Derrel. Kini seluruh jarinya yang terpotong telah diperban dan diobati oleh Leon tadi. "Oh ya, di–di mana bunda?"


"Bu–bunda udah ... meninggal." Dennis menjawab dengan ragu dan ia berusaha menahan tangis. "Aku gak tau kenapa. A–aku nemu bunda udah tergeletak di dapur."


"Ugh ... sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Ayah bergumam berat setelah mendengar jawaban Dennis.


Lalu tak lama kemudian, sebuah kertas dan pulpen jatuh ke depan mereka. Semua orang mendapatkan pulpen dan kertas masing-masing. Dua pulpen jatuh di atas kepala Azura dan Dian.


"Duh, sial mulu," ujar Azura dan Dian bersamaan. Mereka semua mengambil kertas itu. Terdapat lima pertanyaan di kertas tersebut, tentang pengetahuan umum dan matematika. Ternyata semua orang di tempat itu mendapatkan pertanyaan yang sama dan mereka harus menjawabnya.


"Ah gak ada yang gw ngerti anjir!" Dian dan Azura berbicara secara bersamaan.


Leon membaca semua soal dengan cepat, lalu menjawabnya. Ia mengisi soal itu sambil berdiri. Tak memakan waktu lama, Leon memberikan kertasnya pada Rei. "Titip."


"Mau kemana?" tanya Rei. Leon hanya menunjuk ke arah dapur. Rei menganggap kalau Leon ingin ke kamar mandi. Lalu Rei tak sengaja melihat kertas Leon yang sudah semuanya terisi.


"Ngasal apa kagak tuh orang ya. Kek dikejar deadline nulis jawabannya," guman Rei yang masih memandangi kertas Leon. Lelaki itu langsung tersadar dan fokus pada soalnya sendiri.


"Satu tambah satu kali nol? Nol, lah," ujar Azura. Dian langsung menepuk kepala Azura.


"Satu, lah! Kan, dikali dulu," ucap Dian.


Azura mengedipkan matanya beberapa kali. "Apa iya?"


Dian hanya menghela napas mendengar ucapan Azura. "Fuh ternyata gw lebih pintar dari Azura." Dian berbangga diri dalam hati. Mungkin kalau Azura mendengarnya, ia bisa kena pukul.


"Jarak umur si A dan si B adalah satu per dua, berarti setengahnya. Umur si A dua puluh tahun, berapa umur si B saat si A berumur empat puluh tahun?" Dennis membaca pertanyaan itu sambil memainkan rambutnya. Dia terlihat bingung dan mencoba untuk menelaah isi soalnya.


"Dua puluh tahun, kah?" jawab Derrel.


"Ah teu ngarti aing mah! Sia ngarti?" Dian melontarkan pertanyaannya untuk Azura. Azura hanya menggeleng.


"Si Leon jawabnya tiga puluh tahun," ujar Rei. Derrel dan Dennis menelengkan kepalanya. Rei sendiri mengkerutkan dahi.


"Karena umur mereka selisihnya sepuluh tahun. Gak mungkin umur si B mengalami kelainan pertumbuhan." Leon menjelaskan. Laki-laki itu tiba-tiba muncul dari belakang Rei.


Rei yang terkejut hampir saja menginjak kaki ayahnya. Tiga bersaudara itu baru paham maksudnya. Sedangkan Azura dan Dian masih tidak mengerti, tapi menulis saja jawabannya sesuai yang dibilang Leon tadi.


"Berapa sudut segitiga sam— INI MANA ANGKANYA ANJIR?" Azura panik sendiri. Sedangkan Dian melempar kertas dan pulpennya dengan kesal.


"Masa bodo dengan pertanyaan!" seru Dian.


Lalu tiba-tiba sebuah suara muncul. Suaranya tidak diketahui asalnya dan terdengar berat serta samar-samar. "Kalau quiznya tidak diselesaikan maka hidupmu yang selesai."


Dian mendengar itu langsung kembali mengambil kertas dan pulpennya. "Canda elah, gw suka quiz." Dian mengucapkannya dengan berat hati sambil tersenyum paksa.


"Si–siapa itu?" gumam Rei sambil melirik ke sekitar mencari asal suara misterius itu.


"Ngeri, ajg." Gerutu Azura sambil menulis jawabannya karena terpaksa.


"Yey selesai!" ujar Dennis dan Derrel bersamaan. Rei pun selesai, dia menutup pulpennya. Mereka menghembuskan napas lega.


"Le, liat dong jawaban lu, ini doang yang belum." Azura menyatukan kedua tangan seperti memohon.


"Itukan pengetahuan umum. Makanya jangan tidur di kelas." Rei melipat tangannya.


"Iya lain kali kagak. Kasih jawaban dong!"


Rei menghela napas. Dia memberikan lembaran punyanya saja. Azura dan Dian langsung menyontek semua dan mengisi kertas mereka. Keduanya merasa lega karena telah menyelesaikan quis-quis tersebut.


Namun baru saja selesai menulis jawaban, lampu tiba-tiba mati kembali. Seketika banyak suara jeritan dari belakang. Lalu tak lama, ada yang memukul mereka sampai pingsan. Entah apa yang telah terjadi saat ini.


*


*


*


To be continued–