THE RULES

THE RULES
Episode 50



Diana membawa Adila ke ruang penyiksaannya. Ia menyeret gadis itu sampai ke ruang bawah tanah. Di sana lah tempatnya. Setelah membuka pintu, Diana mengikat Adila di kursi, lalu menyiram kepala gadis itu dengan air.


"Uhuk Uhuk!" Air itu telah menyadarkannya. poninya yang basah telah menutup setengah matanya. Adila ingin menyingkirkannya, tapi ia tak bisa bergerak. Secara perlahan, kepalanya pun mendongak setelah ia melihat sepasang kaki yang berdiri di hadapannya.


"Kau ...."


Diana menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Adila, lalu menatap sinis. "Apa tujuanmu mendekati kekasihku?"


"Huh, kekasih? Siapa?" tanya Adila.


"Kau akhir-akhir ini suka mendekati Dennis!" bentak Diana. Lalu ia berjalan mengitari kursi dan melipat tangannya ke belakang. "Apa kau suka padanya, hm?"


"Eh, nggak! Kita hanya teman!" tegas Adila.


"Mau teman atau tidak, cewek-cewek yang mendekati Dennis harus mati. Dia hanya boleh dekat denganku saja." Mata merah Diana menyala dalam gelap. Ia menghampiri papan yang tertempel di tembok, lalu mengambil sebuah pisau dari sana.


"Lu ini cewek yang sok-sokan jadi psikopat atau apa? Kalau kau suka sama Dennis, katakan saja! Aku gak bakal ganggu!"


"Gak ... bisa aja kalau kau ngedeketin dia, Dennis bakal suka denganmu dan aku akan dilupakan."


"Lalu apa tujuan lu nyulik gw?" Adila memiringkan kepala, lalu tersenyum. "Hanya gara-gara jadi teman Dennis, hm?"


"Kalau kalian sampai dekat, akan ada rasa yang muncul. Aku gak akan biarin itu!"


"Lalu sekarang apa? Hidup lu cuma ngawasin Dennis, tapi gak berani ngungkapin perasaan lu? Kalau keburu ada cewek lain yang nembak Dennis duluan, bakal kau bunuh, ya?" Adila menaikan sebelah alis, lalu melanjutkan, "Apa kau tidak takut dengan resiko tindakanmu itu? Kalau kau ketangkap polisi, kau bakal dihukum mati, loh~"


Diana tertawa kecil dengan tatapan kosong. Ia menjilat pisau yang dipegangnya, lalu tiba-tiba menusuk paha Adila. Seketika Adila langsung berteriak kesakitan. "Aku tidak akan mati untuk Dennis. Tapi jika aku mati, maka Dennis harus ikut bersamaku. Tidak ada yang boleh memiliki dia selain aku!"


"Ugh ... dasar cewek gila!"


PRANG!


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari luar ruangan. Diana akan pergi ke luar untuk memeriksanya. Ia bahkan belum mencabut pisau dari paha Adila. Diana keluar ruangan dan meninggalkan Adila yang masih meringis kesakitan di dalam sana.


Saat keluar, Diana sempat melihat seseorang lari melewati lorong menuju tangga ke atas. Dengan cepat, Diana pun mengejar orang itu. Saat di depan tangga, ia dapat melihat kalau orang itu adalah Dennis.


Saat mata mereka bertemu, Diana dapat melihat ekspresi ketakutan dari Dennis yang mencoba untuk lari menghindarinya. Walau begitu, Diana tetap mengejar lelaki itu. Dennis menaiki tangganya dan berhasil.


"A–aku harus keluar dari tempat ini." Batin Dennis yang sedikit panik. Saat sampai di atas, Dennis menutup pintu besar menuju ruang bawah tanah itu, lalu lari keluar dari lorong. Ternyata ia dipertemukan oleh lorong lainnya yang membuat ia bingung. "Sial ... tadi aku lewat mana, ya?"


"Dennis ... kenapa kau kabur dariku?"


Dennis menoleh. Ia terkejut melihat Diana berjalan cepat ke arahnya sambil membawa sebuah tongkat dengan tangan yang berdarah-darah.


"Menjauh dariku!" Dennis memilih jalan sesuai instingnya asal ia bisa menjauh dari Diana untuk sementara dan bersembunyi dari gadis itu. "Di mana pintu keluarnya? Rumah ini terlalu besar untukku."


"Dennis~ Di mana kau, sayang?" Sambil berjalan-jalan, Diana mengetuk-ngetuk tongkat yang ia pegang ke tembok. Pendengarannya cukup tajam. Ia juga bisa mendengar langkah kaki Dennis yang sedang berlari. Jadi ia tahu ke mana Dennis pergi.


"Gila. Perempuan itu udah gila!" batin Dennis sambil mencari tempat yang aman. Sampai akhirnya di ujung lorong, ia menemukan sebuah ruangan. Saat dibuka, ternyata itu kamar seseorang.


Dennis masuk ke kamar itu dan melirik ke arah jendelanya. Ia mencoba untuk membuka jendela tersebut, tapi sialnya jendela itu tak bisa terbuka sama sekali. Dennis mengangkat sebuah kursi kayu kecil, lalu melemparkannya ke arah jendela. Kacanya pun pecah.


Dennis mencoba untuk keluar lewat jendela yang sudah pecah tersebut. Tapi saat Kepalanya sudah keluar, ada seseorang yang menarik baju belakangnya. Ia menoleh ke belakang, ternyata itu Diana yang menatapnya dengan senyuman yang mengerikan.


Tubuh Dennis terus ditarik sampai tangan Dennis terluka terkena pecahan kaca di sela-sela jendelanya. Ia berbalik badan, lalu mendorong gadis itu sampai terjatuh. "Ma–maaf, Diana."


Dennis akan meninggalkan ruangan itu. Tapi saat di depan pintu, ia terkejut dengan kehadiran seseorang bertubuh kekar dan besar. Ternyata dia adalah sopirnya Diana sekaligus bodyguardnya yang suka menemani Diana ke manapun.


Dennis mendorong tubuh orang itu, lalu memaksa tubuhnya melewati pintu tersebut. Ia kembali berlari, tapi bodyguardnya Diana berhasil menangkap kerah baju belakang Dennis dan menariknya.


Dari dalam kamar, Diana memeluk tongkat yang ia pegang, lalu bergumam, "Kau ga bisa kabur dariku, Dennis~"


...****************...


"Ung ..." Derrel mengedipkan mata beberapa kali, lalu ia bangun terduduk secara perlahan. Sebelumnya ia tertidur di lantai. Saat melihat sekitar, ia hanya menemukan teman-teman lainnya yang tergeletak tak sadarkan diri. Tempatnya saat ini hanya ruang kosong dan hanya ada sebuah jendela dan beberapa ventilasi.


"Tempat apa ini?" batin Derrel bertanya-tanya. Terakhir ia ingat, dirinya sedang berada di kelas. Tapi sekarang ia bersama dengan temannya yang masih hidup berada di dalam ruangan kosong. Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah meja dan kotak.


Vann mulai bangun. Lelaki itu juga terlihat keheranan dengan tempatnya saat ini. Tak lama, anak-anak yang lain juga mulai sadar. Mereka saling bertanya-tanya tentang tempat tersebut. Salah satu dari mereka mendekati meja dan kotak, lalu diikuti dengan anak lainnya.


Derrel membantu Vann berdiri, lalu mereka berdua juga mendekati meja tersebut.


"Apa ini?"


"Ada beberapa amplop di sini." Ujar seorang gadis bernama Laura. Lalu ia menghitung jumlah semua temannya dan juga amplop di atas meja. "Jumlah amplopnya sama. Apa kita harus ambil satu orang satu?"


"Hmm ... mungkin. Tapi untuk apa?" tanya teman di sebelahnya yang bernama Kina.


Mereka semua tidak tahu harus apa di tempat itu. Sampai tak lama kemudian, sebuah suara dari speaker yang tertempel di sudut ruangan pun muncul. Tak lain, itu adalah suara Farel. Mereka semua mengenalnya.


[ Yo! Apa kalian semua udah bangun? Ini adalah pesan otomatis. Jadi tolong dengarkan baik-baik. Tidak ada pengulangan. ]


"Hah? Jadi kita masih belum dibebaskan??" gumam Simon. Semuanya melirik ke arah speaker tersebut dan fokus mendengarkan.


[ Ini adalah permainan terakhirku. Yang saat ini rada seru dan aku pasti akan suka menontonnya. ]


[ Nama permainan ini adalah Raja dan Rakyat. ]


[ Cara mainnya simpel. Pertama, kalian ambil amplop yang ada di atas meja. Masing-masing satu, ya? ]


"Kan, aku bilang juga apa." Ujar Laura.


Divan mengambil amplop itu duluan, lalu disusul dengan yang lainnya. Mereka belum berani membuka amplopnya karena belum disuruh. Takut terjadi sesuatu, jadi mereka hanya mengambil amplopnya masing-masing.


[ Di amplop itu, ada sebuah nama job yang menjadi peran kalian di permainan ini. Ada tiga peran. Yaitu Raja, Rakyat dan pembunuh. ]


[ Ketiga peran itu dibagi secara acak sesuai kalian mengambilnya yang mana. Cara mainnya adalah kalian harus bertahan hidup dengan peran yang kalian dapatkan. ]


[ Yang menjadi Pembunuh ada 3 orang. Kalian yang menjadi Rakyat dan Raja harus menentukan siapa ketiga si pembunuh itu. Setiap 10 jam sekali, kalian harus memilih satu orang saja yang dianggap pembunuh. Tapi si pembunuh itu juga boleh membela diri. ]


[ Jika ketiga pembunuh itu berhasil dibunuh, maka Rakyat dan Raja akan selamat dan aku bebaskan. Tapi jika Rakyat dan Raja mati, maka Pembunuh lah yang akan dibebaskan. Cukup simpel, bukan? Diskusi, pilih, dan bunuh. Kalian boleh berkeliling bangunan ini, tapi setelah 10 jam kedepan, kalian kembali lagi ke sini untuk berdiskusi. Waktu maksimal diskusi adalah 1 jam. Kalau lewat 1 jam masih belum ada yang kalian bunuh, maka kalian semua akan mati. ]


[ Oh ya satu hal lagi. Kalian tidak boleh memberitahu peran kalian kepada orang lain. Itu dilarang keras! Kecuali sang Raja. Nanti yang mendapatkan Raja, kau harus mengakuinya. Karena tugas raja di sini adalah menentukan siapa orang yang harus dibunuh. Jika dia menunjuk seseorang, maka seseorang itulah yang harus ia bunuh. Keputusan sang Raja tidak bisa dibatalkan. ]


[ Oke! Permainan dimulai!! ]


Setelah suara itu menghilang, ruangan jadi hening. Mereka (para pemain) jadi berwaspada satu sama lain. Lalu tak lama, mereka mulai membuka amplopnya masing-masing dan melihat peran yang mereka dapatkan.


Saat Derrel perhatikan, ekspresi mereka setelah melihat isi amplopnya langsung berubah. Tapi Derrel tak bisa menebak peran yang mereka dapatkan. Saat Derrel melihat amplopnya sendiri, ia terkejut.


"Emm ... singkatnya kita hanya harus mencari si pembunuh itu, kan?" tanya seorang siswa bernama Brian. Ia kembali memasukan isi amplopnya, lalu menyimpannya di kantung jas.


"Pembunuh itu hanya ada tiga diantara kita semua." Kina mengangguk-angguk pelan sambil melirik ke sekitarnya. Semuanya mengamankan amplop mereka agar tidak ada orang yang melihatnya.


"Kita harus menemukannya setelah 10 jam kedepan." Simon merogoh kantung. Ia mengambil ponselnya dan melihat layar. Tidak ada batang sinyal sama sekali. Begitu juga dengan ponsel yang lainnya. Sepertinya di tempat itu juga tidak ada rules yang mengerikan. Jadi mereka bisa aman bermain ponsel, tapi tak bisa digunakan untuk menghubungi siapapun.


"Aku sudah memasang timer untuk 10 jam kedepan." Seorang siswi pendiam bernama Mista akhirnya membuka mulut. Ia memperlihatkan layar ponselnya pada semuanya.


"Lebih baik kita gunakan waktu ini untuk mencari jalan keluar. Katanya kita boleh keliling bangunan ini dan menggunakan fasilitas yang ada." Ujar Brian, lalu jalan duluan memisahkan diri. Tapi sebelum semuanya sempat berpindah tempat, Divan bertanya, "Sebelum itu, coba ngaku, dong. Yang jadi Raja itu siapa, ya?"


Semua orang saling melirik satu sama lain. Tak ada yang mengaku dan mereka juga tidak bisa menebak. Tapi tak lama kemudian, Derrel yang diam saja dari tadi mulai mengeluarkan suaranya. Ia mengangkat tangan juga.


"Aku ... akulah Rajanya."


*


*


*


To be continued –