
–
"Ugh ..." Dennis mengedipkan mata. Pandangannya masih samar dan ia melihat sepasang kaki lewat di depannya. Lelaki itu menyentuh leher belakangnya yang sakit, lalu bangun terduduk. "Ah, apa yang terjadi?"
"Oh, lu udah bangun, Den?" Azura terlihat mengulurkan tangan padanya. Dennis pun meraihnya dan langsung berdiri dengan bantuan Azura. Ia terkejut melihat teman-teman yang lainnya masih tergeletak tak sadarkan diri.
"A–ada apa sebenarnya? Mereka baik-baik aja, kan?"
"Gw juga tidak tahu. Mereka masih hidup. Cuma pingsan." Jawab Azura.
"Eh, apa kak Azura juga mengalami hal yang sama? Trus tadi ... kau jalan-jalan mundar mandir lagi ngapain?"
"Ng ... gw hanya iseng aja karena gabut."
"Hah?" Dennis meneleng.
Azura menggeleng cepat, lalu menunjuk ke arah tembok. Di sana terdapat sebuah tulisan. "Ah, lupakan. Tadi gw menemukan itu. Gw ... mundar mandir karena sedang mencari sesuatu."
Dennis pun menghampiri tulisan yang ditunjukkan Azura. Yang membuat Dennis merinding adalah, seluruh tulisan itu ditulis dengan darah. Dennis bisa mengetahuinya saat ia menyentuh dan mencium baunya.
"Hmm ... 'Cari kertas di sekitarmu'?" Dennis membaca tulisannya. Lalu ia berbalik badan dan melihat Azura masih sibuk mencari sesuatu yang ternyata adalah sebuah kertas. Dennis juga ingin bantu mencarinya, tapi sebelum itu matanya tak sengaja melihat pergerakan dari Derrel.
Akhirnya adik kecilnya itu bangun juga. Tak lama setelahnya, Rei dan Dian juga terbangun. Mereka mengeluh sakit yang sama pada bagian leher. Kemudian Leon dan akhirnya semua orang di sana juga mulai siuman.
"Derrel ... Kak Rei, kalian baik-baik aja?" tanya Dennis. Kedua saudaranya itu mengangguk bersama. Lalu mereka semua mulai berdiri. Beberapa dari mereka termasuk Rei menyadari ada yang berbeda dari ruangan itu.
Mereka semua memang masih berada di ruang tamu. Tapi ada sesuatu yang berbeda aja. Ruangannya jadi lebih rapih dan tidak ada bekas noda darah. Tidak seperti sebelumnya. Mayat-mayat di tempat itu juga sudah tidak ada. Lalu beberapa dari mereka juga melihat tulisan berdarah yang dilihat Dennis dan Azura tadi.
"Apa ini?" tanya Dian sambil memperhatikan tulisan tersebut. Saat Dennis ingin menjawab, tiba-tiba Azura meneriaki keberhasilannya menemukan kertas itu.
"Akhirnyaaa! Ternyata ada di sini, ***!" Azura menemukan kertas itu di atas meja makan panjang. Posisinya terselip di bawah mangkuk. Begitu menemukannya, ia langsung membaca isinya. Ternyata kertas polos dengan tulisan tangan. "Hmm ... Ini ... kayak sebuah peraturan. Apa maksudnya?"
"Eh, di sini ada kertas lagi yang tertempel di depan lukisan." Sang ketua kelas, yaitu Toni, menemukan kertas lainnya. Seketika semua orang langsung menghampirinya. Kecuali Azura dan Dian yang hanya mau mendengarkan dari jauh.
Rei juga memperhatikan tabel di kertas tersebut. "Eh ini seperti ... kertas dari buku absen. Daftar ini seperti dari kelas Dennis."
"Eh, iya." Dennis mengangguk. Ia juga menemukan namanya di sana, lalu semua nama teman sekelasnya. Beberapa dari nama-nama itu ada yang disilang dengan tinta merah dan ada yang diberi stabilo. "Apa maksudnya ini?"
"Hmm ... Ini memang benar nama-nama kita." Ujar Toni. "Tapi kenapa ada Rei juga, ya? Kau kan tidak sekelas."
"Memang tidak. Menurutku ... ini adalah daftar orang yang ada di rumah ini. Lalu yang diberi stabilo adalah nama anak yang tidak datang dan yang namanya dicoret dengan tinta merah ini adalah ..."
"Nama orang yang telah meninggal." Toni melanjutkan. Lalu ia berbalik badan melihat teman-temannya yang masih kelihatan ketakutan. Khususnya dengan anak perempuan. "Sekarang hanya tinggal 20 anak yang masih hidup."
"Hmm ..." Setelah melihat daftar nama itu, Rei kembali melihat kertas yang ditemukan Azura. Ia membaca seluruh tulisan di sana sampai matanya tiba di akhir kalimat. Ia tersentak dan langsung memberitahu sesuatu pada yang lainnya. "Kertas ini berisi peraturan!"
"Eh, apa apa?" tanya Dennis.
"Si pembuat surat ini membuat sebuah permainan petak umpet untuk kita mainkan bersama. Tapi kali ini rada berbeda dan kita dipaksa untuk memainkannya." Rei mulai membacakan isi peraturan permainannya. Semua orang pun mendengarkan.
"Hmm tulisannya kayak gak asing. Tapi lupakan itu, sekarang dengarkan ini. Permainan Hide and Seek atau ya ... indonya petak umpet. Kita cuma disuruh untuk sembunyi di sekitar rumah ini. Lalu peraturan lain ... Kalian diberikan waktu 10 menit untuk mencari tempat persembunyiannya. Kita akan bermain selama sejam.
Catatan, satu orang hanya bisa memilih 1 tempat sembunyi. Setelah menemukannya, orang itu tidak boleh berpindah tempat. Jika waktunya habis dan orang itu belum menemukan tempat sembunyi, maka ia harus berhenti di tempatnya saat itu juga. Jika tetap bergerak, maka ia akan mati. Kita semua memperhatikan kalian."
"Eh, kita?" Dian meneleng.
"'kita' yang dimaksud itu mungkin mereka ... yang merencanakan permainan ini. Aku lanjut dikit. Mereka bisa memperhatikan kita. Jika kita tidak berhenti setelah waktu habis, maka mereka akan membunuh orang itu." Rei selesai membaca dan menjelaskan. Ia sudah paham dengan peraturannya. "Jadi ... apa ada yang tidak paham?"
"Ah, izy pizy ... tinggal cari tempat, ngumpet, tunggu sampai sejam, dah selesai." Azura terlihat meremehkan permainan tersebut. Begitu juga dengan semuanya. Sepertinya mereka menganggap permainan itu sangat mudah, jadi mereka bisa tenang.
"Oy! Kalian pikir, gw akan mengikuti permainan bodoh kalian, hah?!" seorang anak bernama Lilo pun mengeluarkan nada tegas pada siapapun yang membuat peraturan itu. "Gw tidak akan mau mengikutinya!"
"Eh woy! Nanti kalau orang itu marah gimana? Lu bisa dibunuh, loh!" Devin yang merupakan teman dekatnya itu sudah memperingati. Ia sengaja bilang begitu karena ia tidak ingin temannya itu terbunuh. "Kita ikuti aja. Lagian juga permainan ini mudah."
"Tch, serah lah. Begitu gw tau siapa penyebab semua ini, bakal gw habisi orang itu!"
"Oke sudah-sudah. Kita kerja sama saja untuk menyelesaikan permainan ini." Rei kembali menatap daftar nama yang tertempel di lukisan. Ia sudah memastikan saat ini jumlah mereka ada 20 orang. Ditambah ayahnya Dennis, jadi 21.
"Eh, kok?!" Rei melihat satu nama yang telah dicoret, yaitu Arel. Ia baru sadar kalau sedari tadi Arel tidak kelihatan. Ia pun kembali berbalik badan dan menatap semua orang untuk mencari gadis itu. "Eh, ada yang liat Arel?!"
"Oh iya, kak Arel mana?" Dennis juga baru menyadarinya. Ia celingak-celinguk.
Leon yang mengetahuinya pun menghela napas panjang, lalu dengan berat hati ia menjawab, "Dia sudah mati."
"Kok kau gak kasih tau?" Nada bicara Rei sedikit meninggi.
"Kupikir kau gak peduli," jawab Leon dengan tatapan datar. Rei menatap sinis.
"Ya elah, udah takdir kali Arel mati. Jangan galak-galak." Azura memasukan tangannya ke saku celana. Lalu turun dari atas meja.
Saat Rei ingin membalas ucapan Azura, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berteriak dengan suara melengking. Rei melihat jam, ia menduga kalau suara itu adalah alarm untuk memberitahu waktu bersembunyi.
Mereka semua langsung bergegas mencari tempat persembunyiannya masing-masing. Derrel, Dennis dan Rei bersembunyi di lemari baju, di kamar Rei.
Leon menuju perpustakaan pribadi di rumah itu. Dia melihat ada gesekan di lampu tempel yang ada di sebelah rak. Lelaki itu iseng menarik lampu tersebut. Tiba-tiba salah satu rak buku bergeser.
Azura dan Dian melihat ada sesuatu di plafon depan kamar Dennis dan Derrel. Keduanya pun saling berhadapan. "Ayo suit, yang menang digendong."
Azura dan Dian mengepalkan tangan, pada hitungan ketiga, Azura mengeluarkan kertas dan Dian mengeluarkan batu. Azura menyeringai, dia meminta Dian menunduk. Lelaki itu naik ke pundak dian dan menarik tuas kecil. Ternyata itu jalan menuju loteng.
Azura naik ke loteng itu. Tempatnya cukup luas. Saat asik lihat-lihat, kaki Azura tersangkut di sana. Dian di bawah sudah manggil-manggil Azura, dia panik karena waktu terus berjalan. Tak ada pilihan lain, Dian menuju kamar Derrel dan Dennis, lampu di kamar itu cukup redup. Dian memeriksa bawah tempat tidur. "Gelap juga."
Lelaki itu membuka lemari dan mencari kain hitam. Saat mendengar langkah kaki, Dian buru-buru masuk ke kolong tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan kain hitam tersebut. "Salah sendiri pake baju terang," keluh Dian.
Azura yang berhasil meloloskan kakinya segera menuju pintu loteng lagi. Namun Dian sudah tidak ada di sana. "Dih, ya udah." Azura menutup pintunya dan tiduran di lantai.
Di lemari, mendadak Derrel mengalami sesak napas. Karena tempat terlalu sempit. Akhirnya Dennis berkorban, dia keluar lemari agar ada ruang sedikit.
"Ti–tidak ada yang boleh keluar, kalau udah nemu tempat sembunyi. Kau yakin?" tanya Rei. Dennis mengangguk mantap.
"Tenang aja, Kak Rei. Aku akan baik-baik aja." Ia melirik jam di kamar itu. Masih ada waktu 5 menit lagi. Lelaki itu keluar kamar. Ia melirik sekitar, ternyata sudah sepi. "Ngumpet di garasi aja deh." Umpat batinnya. Dennis kembali beranjak. Ia menuju dapur karena pintu garasi ada di sana.
Namun saat di dapur, ia tak sengaja melihat perempuan. Dennis sedikit terkejut. Ia pikir hantu. Saat didekati, ternyata itu Diana. Gadis itu terlihat kebingungan.
"Hey, kau belum sembunyi?" tanya Dennis dengan suara pelan.
"Ah, belum. Aku bingung." Diana menjawab. Dennis melihat sekeliling. Dia mengajak Diana untuk sembunyi bersamanya di garasi.
Saat di garasi, mereka memilih tempat persembunyiannya. Diana memilih sembunyi di tempat sampah, beruntung tidak ada isinya. Dennis melihat kunci mobil tergantung. Dia membuka mobil dan bersembunyi di jok belakang yang sangat gelap.
10 menit berlalu. Alarm berbunyi keras. Permainan di mulai. Rei melihat arlojinya, pukul 22:30. Derrel di depannya dengan cemas melihat keluar melewati sela-sela lemari.
Dia melihat sosok yang besar. Kepalanya seperti buaya, tetapi tubuhnya seperti beruang. Sosok tersebut membawa palu besar. Karena takut, Derrel langsung menutup mata.
"Ggrrr ..." Sang buaya mengeluarkan suara erangannya. Ia berjalan pelan menghampiri tempat tidur dan melihat kolongnya. Tak menemukan apapun, jadi makhluk itu ingin memeriksa lemari.
Derrel kembali membuka mata dan mengintip lagi. Ia terkejut melihat makhluk itu mendekat dan Rei dapat mendengar suara langkah kakinya.
"Kak ... kak Rei ..." Dennis berbisik dengan suara gemetar. Ia nyaris saja panik dan ingin berteriak. Tapi dengan susah payah, Rei berusaha menenangkannya. Lelaki itu melirik sekitar dengan cepat.
BRAK!
Sosok buaya itu membuka lemari dan memasukkan moncongnya ke dalam. Ia mengendus di sana, lalu tak lama makhluk itu kembali menutup lemari dan berbalik badan. Ia pun pergi.
"Hah ..." Derrel bisa bernapas lega. Ia langsung memeluk erat Rei karena ketakutan. Sebelumnya mereka berdua mengumpat di belakang pintunya saat pintu tersebut dibuka. Dibantu dengan baju-baju yang ada di dalam sana untuk menutupi tubuh mereka dan keduanya menahan napas.
"Aku harap yang lainnya baik-baik saja." Ucap batin Rei.
...********♦********...
_
Ayah Dennis bersembunyi di kamar mandi dengan menutup tirai mandi. Samar-samar dia melihat sosok wanita yang berjalan kayang tetapi kepalanya diposisi normal, dia melewati depan bathtub. Wanita itu memiliki cakar yang besar, tidak ada matanya dan senyuman wanita itu sangat lebar.
Wanita tersebut ingin membuka tirai tempat ayah Dennis bersembunyi. Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh di luar kamar mandi. Wanita itu langsung berbalik badan. Ia berteriak dengan suara melengking dan berjalan cepat dengan kaki dan tangannya keluar kamar mandi.
Setelah makhluk itu pergi, ayah Dennis langsung menghembuskan napas lega secara perlahan. Ia berharap anak-anaknya yang lain juga bisa selamat.
–
Sedangkan Dian. Dia melihat sosok kepala buaya itu masuk ke kamar. Ia bisa melihat palu besarnya yang diseret. Saat sosok itu sudah di depan kasur dia langsung menutupi kepalanya. Kain itu cukup tipis jadi Dian bisa melihat keluar.
Kepala buaya itu tiba-tiba menoleh ke bawah tempat tidur. Dian berusaha tenang dan tidak bergerak sedikit pun. Sosok tersebut berdiri tegak lagi dan berjalan keluar kamar. Saat akan melewati ambang pintu. Ada suara dari lemari dekat kasur, "Hachim!"
Sosok kepala buaya tersebut langsung menoleh dan mengerang. Tanpa ragu, lemari dibuka dan orang yang di dalam lemari itu digeprek dengan palu. Tangan Dian seketika gemetar dan jantungnya berdegup cepat saat mendengar teriakan singkat di dekatnya.
–
Leon di ruang rahasia sedang melihat-lihat foto di dinding. Dia sadar itu bukan keluarga Derrel dan Dennis. Lalu tiba-tiba lampu di sana mati. Namun, sebuah lilin menyala. Ada seorang pria duduk di kursi. Saat menoleh ke arah Leon, pria itu terlihat hanya memiliki setengah wajah.
"Kau tidak takut?" tanya pria itu. Leon hanya menggeleng. Dia diminta duduk. Pria itu bercerita tentang kehidupannya saat dulu. Leon mendengarkan saja.
Dulu pria itu memiliki keluarga yang sangat miskin. Akhirnya dia mengikat perjanjian dengan sosok iblis. Dia menjadi sangat kaya, lalu dia ingin hidup abadi. Karena tidak ingin menanggung resiko, pria itu menggunakan putra tunggalnya sebagai percobaan. Ternyata berhasil, tetapi karena tidak bisa memenuhi syarat saat akan mencoba lagi, ada yang terjadi pada rumahnya dan keluarganya.
"Hm." Leon berdeham mengerti. Dari luar banyak sekali jeritan-jeritan yang menganggu suasana tenang Leon.
Sebelum pria itu menghilang, dia mengatakan, "gelang."
Alarm berbunyi lagi. Permainan selesai. Leon keluar dari balik rak buku itu. Dia keluar perpustakaan dan disambut dengan genangan darah serta beberapa potongan tubuh di depan sana.
Dian juga keluar dari persembunyiannya. Dia menarik napas panjang berkali-kali. Baru saja dia melihat daging bercampur darah dari lemari dalam kamar itu. Suasana hatinya langsung berubah saat melihat Azura turun dari loteng. "Pe–pren!" serunya
"Apa weh?" sahut Azura.
"Kenapa lu gak biarin gw ngumpet bareng lu? Hampir aja gw ketauan, njir!"
"Kaki gw kesangkut di atas," ujar Azura. "Gw mau bantu lu, tapi lu udah ga ada."
"Ck, serah."
...********♦********...
Diana keluar dari tempat sampah itu. Dia langsung memanggil-manggil nama Dennis. Gadis itu melihat mobil di hadapannya terguncang, lalu keluarlah Dennis. "Ha, akhirnya. Badanku pegal-pegal."
"Kau baik-baik saja, Nis?" Diana tampak khawatir. Dennis mengangguk sambil tersenyum.
Semuanya kembali berkumpul. Lelaki bernama Devin bertanya, "Eh, ada yang lihat Lilo?"
"Tidak tuh. Kemana dia? Jangan-jangan mati?" ujar Geo dengan santai. Seketika itu juga, Devin langsung memukul lengan lelaki itu.
"Kenapa masih peduli satu sama lain sih? Kita di sini berkompetisi juga biar gak mati," ujar gadis bernama Fani dengan nada sinis.
"Gak salah, tapi gak bener juga." Rei tiba-tiba bicara. Fani langsung menghampiri lelaki itu dan memeluk lengannya.
"Kak Rei, aku takut." Ucap Fani. Gadis itu berlagak manis di dekat Rei. Hampir saja ia menangis.
"Nangis nanti matanya ilang, loh," goda Azura.
"Iya, nanti jadi Azura." Dian menambahkan. Azura menatap Dian dengan tatapan tidak suka.
"Apa? Mau gelud?" Dian menatap balik.
"Sudahlah, sudah. Kita tunggu perintah selanjutnya saja," ujar Dennis. Dia datang membawa sebuah surat yang ia temukan di bawah meja. "Petak umpetnya sudah selesai. Kita ... harus memainkan permainan berikutnya."
*
*
*
To be continued–
*
*
List Pemain 🗿:
Dennis (L)
Derrel (L)
Rei (L)
Leon (L)
Azura (L)
Dian (L)
Geo (L)
Devin (L)
Lilo (L)
Adila (P)
Revan (L)
Fani (P)
Shira (P)
Toni (L)
Olivia (P)
Tania (P)
Siska (P)
Sasha (P)
Lia (P)
Diana (P)
Ayah 3 bersaudara